
Sementara itu di gedung departemen penanggulangan bencana, di buat heboh dengan adanya pusaran angin yang mendadak muncul di layar, terlebih lagi ukurannya yang besar, membuat semua orang menjadi panik.
Ketua penanggulangan bencana, Riko. Terdiam menatap layar dengan tatapan fokus yang menunjukan besarnya pusaran angin tersebut yang berpotensi bisa menjadikan kota Versee rata dengan tanah.
Kendati begitu, tatapannya tidak menunjukkan perasaan takut maupun cemas dan khawatir, melainkan tatapan penasaran. Menurutnya ini adalah kali pertama ia melihat pusaran angin yang begitu besar namun tidak memiliki tekanan udara yang kuat, seakan-akan mereka itu di tarik secara paksa oleh sesuatu yang ia sendiri tak tahu dan menjadikannya pusaran angin besar yang hampa.
Jika pusaran angin itu adalah kasus alami, mungkin pusaran angin itu akan maju dan menghancurkan setiap benda yang di lewatinya termasuk rumah para warga. Namun berbeda dengan pusaran angin ini yang hanya diam dalam satu tempat tanpa adanya tanda pergerakkan menuju pusat kota Versee.
" Pak, ada panggilan dari departemen penelitian khusus. "
Fokus Riko pun teralihkan oleh suara panggilan seorang karyawan bernama Anto, anak magang yang baru bekerja dua bulan. Riko kemudian menolehkan kepalanya sambil mengerutkan dahinya, " ada apa? " Tanyanya
Anto tak langsung menjawab, raut wajahnya terlihat pucat pasi dan juga terlihat tidak tenang.
Riko menghela nafas, kedua tangannya menepuk kedua bahu Anto, kemudian menyuruhnya untuk menarik dan menghembuskan nafas secara perlahan agar membuatnya rileks dan santai.
Beberapa saat kemudian, Anto pun akhirnya bisa rileks, " Mereka meminta kita untuk memberitahukan pada warga kota Versee untuk tidak khawatir dan mereka berjanji akan menghilangkan pusaran itu dalam hitungan menit, dan juga. . .
" Dan juga apa? "
" Mereka meminta kita untuk tidak bertanya lebih jauh lagi dan lakukan saja tugas yang seharusnya kita lakukan. "
Riko pun semakin mengerutkan dahinya, menatap bingung pada salah satu bawahan di depannya ini, tampaknya ini bukanlah pusaran angin biasa jika departemen khusus turun tangan, " kalau begitu lakukan seperti yang mereka katakan. " Putusnya tanpa pikir panjang, ia kemudian kembali menatap layar didepannya.
__ADS_1
" Tapi Pak. Pusaran angin itu sangat besar, saya khawatir jika pusaran itu. . .
Anto langsung terdiam ketika atasannya Riko menatapnya dengan tatapan tajam.
" Jika mereka sudah berkata demikian, maka kita hanya perlu mengikutinya, " kata Riko dengan nada tegas.
Di pusat kota Versee, semua orang di buat terdiam membeku, menatap pusaran angin yang memiliki tinggi hampir dua puluh meter yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Dalam hitungan detik, warga kota Versee di buat menjadi membeku sejenak layaknya sebuah patung, hingga suara tangisan seorang anak kecil menangis dengan kencang karena balon yang di pegang oleh tangannya terbang terbawa angin, menyadarkan seluruh warga kota Versee dari lamunan. Seketika mereka pun mulai melarikan diri, takut jika pusaran itu maju dan menghancurkan seluruh kota Versee
Beberapa orang mulai menangis dan mengira bahwa dunia akan segera kiamat lalu mereka tiba-tiba mengakui dosa-dosa mereka, Adapula yang meracau memikirkan nasib ibunya di kampung yang jika dirinya mati hari ini terlebih lagi dia masih memiliki hutang yang masih belum di bayar.
Tak lama kemudian, pemerintah pun mengeluarkan pesan peringatan dan juga himbauan agar seluruh warga kota Versee untuk pergi mengungsi dengan tenang dan damai, tanpa ada kerusuhan atau pun aksi dorong mendorong.
" What the F*ck! Apa mereka sudah gila?! Mereka menyuruh kita untuk tenang dalam kondisi seperti ini, apa mereka menyuruh kita untuk mati! " Ucap salah satu seorang pria yang merupakan seorang pebisnis yang baru saja mendapat kesuksesannya selama tujuh tahu berkarir di bidang tersebut. Tak ingin usahanya selama ini menjadi sia-sia, ia pun menerobos antrian dan masuk secara paksa ke tempat pengungsian.
Sebuah tembakan peringatan pun di lepaskan oleh Darian yang bertugas menjaga ketertiban dari divisi departemen penelitian khusus, " selanjutnya, peluru ku akan bersarang di kepalamu. "
Pria itu pun bergidik ngeri, lalu berlari ke belakang barisan paling ujung.
Di sisi lain, Rania dan Kuro masih bisa bertahan dengan berlindung di bawah perut Hedrian
Argolo yang melihat ekspresi ketakutan yang tersirat di wajah mereka semakin bersemangat, ia kemudian menarik pohon di dekatnya dan mengubahnya menjadi benda tajam, lalu menerbangkannya ke arah Hedrian.
Kuro yang menyadari akan serangan itu langsung berdiri dan memblokir serangan itu dengan menebas semua benda itu dalam satu kali tebasan.
__ADS_1
Argolo tersenyum menyunggingkan bibirnya, dalam hitungan detik ia menarik ratusan pohon dan mengubah mereka menjadi benda tajam seperti sebelumnya.
Seluruh tubuh Kuro membeku, menatap puluhan benda tajam yang melayang di udara. Tangannya tanpa sadar menggenggam erat pedang di tangannya, dengan kemampuannya yang sekarang, sangat mustahil untuk menghancurkan semua benda tajam itu, tapi jika dia tidak berusaha untuk menghancurkannya maka mereka semua akan mati di sini.
Menyadari akan kesulitan yang Kuro rasakan, Hedrian mencoba menawarkan diri untuk membantu, namun Kuro menolak dengan tegas, jika dia yang turun tangan, siapa yang akan menjaga Rania.
Hedrian kembali terdiam begitu pun Rania yang merasa menjadi beban di antara mereka berdua.
Serangan pertama, Kuro masih mampu membakar semua benda tajam itu
Serangan Kedua, ia hampir kehilangan keseimbangannya.
Serangan ketiga ia sudah mulai tak sanggup lagi menahan serangan yang berikutnya, selain dirinya sudah hampir menggunakan seluruh kekuatannya, waktu yang ia punya pun sudah mau habis.
" Ada apa Pangeran? Mengapa anda sudah kelelahan begitu? Apa saya terlalu berlebihan? m Bukankah serangan ku ini sangat mudah bagimu untuk menghancurkannya? Ah, maafkan atas kelancangan saya, saya lupa kalau kekuatan anda sudah melemah, kalau begitu izinkan saya untuk mengakhiri hidup anda dengan kedua tangan saya. "
Kedua tangan Kuro mengepal dengan erat, meski dirinya memang lemah tapi ia tak ingin di katai lemah oleh orang seperti Argolo.
Argolo tertawa terbahak-bahak, ia merasa bahwa ini adalah hari terbaiknya, karena ia bisa melihat wajah terhina dari sang pangeran Albert yang dulu pernah memiliki gelar sang penakluk kota berubah menjadi sang Vampir lemah.
Ia pun menghentikan pusaran anginnya kemudian mengubah anginnya menjadi sesuatu yang runcing nan tajam. Kedua kakinya berjalan menghampiri Kuro, namun dari arah samping kiri, Hedrian tiba-tiba menyerangnya dengan berusaha menggigitnya, tapi hal itu tidak cukup untuk mengalahkannya, dengan mudah ia membanting tubuh Hedrian ke samping hingga membuat pria itu tak mampu berdiri lagi.
" Sekarang apa? " Tanya Argolo saat melihat Rania berdiri melindungi Kuro.
__ADS_1
" Tak akan kubiarkan kamu melukainya sedikit pun. "