
" Rania apa yang kamu pikirkan? " Tanya Dokter Alvin.
Tubuh Rania pun tersentak , tersadar dari lamunannya, perlahan kepalanya menoleh ke arah dokter Alvin lalu tersenyum, menggelengkan kepalanya sambil berkata, " tidak ada. " Jawabnya singkat.
Dokter Alvin terdiam sejenak, memilih untuk tidak membahas lebih lanjut dengan memilih melanjutkan aktivitasnya mengambil sampel darah Rania untuk dilakukan uji coba untuk kesekian kalinya.
Setelah selesai mengambil sampel darah Rania, Dokter Alvin tak langsung menyuruh Rania pergi melainkan mengajaknya berbicara dengan mengungkit cerita kemarin, bertanya tentang sosok yang mengikutinya.
" Seperti yang dokter katakan, itu hanya perasaan ku saja. "
" Kamu yakin? Tapi kenapa raut wajah mu malah berkata sebaliknya? Apa terjadi sesuatu? "
Rania tersenyum canggung, tangannya spontan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, " Sejujurnya aku sedang mencemaskan nilai ujian ku? Aku takut jika nilai ku tidak cukup untuk masuk ke universitas. "
" Jadi ini bukan tentang sosok yang mengikuti mu? "
__ADS_1
Rania menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
" Syukurlah kalau begitu, Dokter pikir kamu di ikuti makhluk halus, jika itu permasalahan mu, maka kamu jangan khawatir, Dokter jamin, kamu akan lulus. " Kata Dokter Alvin yang berusaha menghibur Rania. Rania pun kembali tersenyum sambil menganggukkan kepalanya
" Oh iya untuk tiga hari ke depan, jagalah kondisi badan dan juga perasaan mu karena kita akan melakukan operasi sesuai yang sudah kita jadwalkan. "
Rania terdiam tak menjawab, tangannya spontan menggenggam ujung pakaiannya, entah kenapa dirinya mulai merasa takut apalagi saat mengetahui bahwa sebenarnya Dokter Alvin tak berniat mengangkat tumor yang ada di dalam otaknya seperti yang dia katakan melainkan dia ingin mengambil sesuatu dari dalam tubuhnya. Meski sebenarnya ia masih ragu mana yang benar dan mana yang salah, entah kenapa dirinya lebih percaya pada ucapan seekor kucing jadi-jadian dari pada ucapan seorang Dokter yang sudah merawatnya selama ini.
" Ada apa? Apa kamu masih takut tentang ujian? "
Dokter Alvin tersenyum tipis, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Rania sambil meyakinkan bahwa operasi ini akan berhasil, meski dirinya bukanlah tuhan atau pun seorang dewa, tapi ia bisa meyakinkan bahwa operasi itu pasti akan berjalan lancar.
Untuk meringankan ketegangan Rania, Dokter Alvin pun mengajak Rania mengendarai sepeda motornya untuk mengelilingi indahnya kota di malam hari. Beberapa kali mereka berhenti untuk membeli makanan atau pun melihat aktivitas anak muda lainnya.
Sepanjang jalan, Rania hanya menikmati pemandangan kota tanpa ia sadari waktu sudah begitu larut malam dan mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.
__ADS_1
Awalnya Rania meminta Dokter Alvin untuk membawanya pulang, namun sang dokter menolak dengan alasan ia tak ingin pasiennya merasa kesepian sekaligus menjaga pola makannya sebelum menjalani operasi.
Menyadari bahwa dirinya tak bisa melawan, Rania pun hanya terdiam tak berkutik, tetapi sebelum mereka sampai ke rumah sakit, Rania bertanya tentang kondisinya yang sebenarnya, jika memang dirinya menderita tumor, tetapi kenapa selama ini ia tak pernah mengalami gejala apapun, seperti pusing, sakit kepala, mimisan dan gejala umum lainnya yang biasa di rasakan oleh penderita tumor lainnya, ia merasa bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya. Apakah tumor itu benar-benar ada atau hanyalah sebuah alasan belaka?
Dokter Alvin membungkam mulutnya rapat-rapat, bersikap dirinya tak mendengar apapun dari Rania, bahkan sesampainya di rumah sakit. Dokter Alvin langsung menyuruh seorang suster untuk mengantar Rania ke kamar miliknya.
Dengan sikap Dokter Alvin yang seperti itu membuat Rania semakin mencurigai pria itu.
Saat malam tiba.
Rania terbangun dan berjalan menyelip keluar dari ruangannya untuk mencari tahu apa yang dokter Alvin sembunyikan darinya.
Malam itu, suasana rumah sakit begitu gelap nan sunyi. Bahkan Rania bisa mendengar deru nafas serta detak jantungnya sendiri.
Pertama, dirinya berniat pergi ke ruang kerja Dokter Alvin untuk melihat catatan kesehatan miliknya, memastikan bahwa ada tumor di dalam kepalanya
__ADS_1