Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
89


__ADS_3

" Apa yang sedang kamu lakukan di sini? " Tanya Kuro sembari menatap Hedrian yang terbaring di sebuah kandang yang setiap sudutnya dialiri arus listrik bertegangan tinggi.


Tubuhnya meringkuk lemas, Kuro menebak pria serigala ini terlalu memaksakan diri untuk menghancurkan kandang yang tampaknya di buat khusus untuk makhluk seperti dirinya dan juga Hedrian. Kuro tak pernah menduga bahwa selama ini pria ini terkurung di tempat yang mengerikan ini. Padahal Awalnya dirinya menduga bahwa pria itu mungkin kembali kepada Cesire, tapi siapa sangka, ternyata dia malah tertangkap dengan begitu mudahnya.


Sungguh bodoh.


Di detik berikutnya, Kuro memutuskan untuk pergi meninggalkan Hedrian untuk menjemput miliknya, tetapi langkah kakinya terhenti, lalu menoleh ke arah Hedrian yang sudah tidak berdaya itu.


Meski dirinya tak peduli jika Hedrian mati atau tidak, itu bukan urusannya dan dirinya tidak berkewajiban untuk menyelamatkannya. Akan tetapi . . . Tampaknya karena terlalu lama tinggal di dunia manusia membuat sisi masa bodohnya perlahan memudar.


Tanpa pikir panjang, Kuro pun mencari remote untuk mematikan aliran listrik sekaligus membuka kandang tersebut. Setelah cukup lama mencari, Kuro pun akhirnya menemukannya dan langsung membuka pintu kandang itu lalu menarik tubuh Hedrian keluar dari dalam kandangnya.


Tak lama setelah Kuro menarik tubuh Hedrian keluar, telinganya menangkap suara derap langkah kaki yang menuju ke arah mereka berdua, tanpa pikir panjang, Kuro segera menarik tubuh Hedrian pergi dari tempat itu.

__ADS_1


" Senior gawat! Makhluk itu melarikan diri! " Kata seorang pemuda.


" Apa?! Bagaimana bisa?! Cepat cari makhluk itu! Sebelum ketua tahu dan memenggal kepala kita! " Teriak marah seorang pria yang di panggil senior tersebut, lalu menyuruh junior tersebut untuk mencari.


Sementara itu Kuro dan Hedrian berlindung di dalam plafon, setelah memastikan tak ada orang di dalam ruangan tersebut, keduanya pun memutuskan keluar dan mencari tempat aman.


" Aku tak tahu apa yang sedang aku lakukan kali ini, tapi aku sarankan padamu pergilah ke tempat pria pengemis itu dan mintalah padanya untuk segera mengobati mu, " jelas Kuro lalu beranjak pergi, tetapi ia kembali terhenti lalu menambahkan, " jangan salah paham, aku menyelamatkan mu bukan karena kasihan atau apapun itu, aku hanya tak ingin fokus ku terganggu, itu saja. "


" Tunggu. "


" Rania tidak bersalah, dia tak tahu apapun tentang tubuh bahkan tentang masa lalunya, selama ini dia di manfaatkan. "


" Lalu? Meski begitu, fakta ini tidak mengubah apapun bahwa di dalam tubuhnya ada barang milik ku yang harus aku ambil kembali untuk melawan Cesire sekaligus membunuh mu. Jangan kira karena kita satu rumah, bukan berarti aku tidak melupakan kesalahan mu, jadi bersiap-siaplah. " Jelas Kuro.

__ADS_1


" Terserah, aku sudah tak peduli lagi dengan nyawa ku, apa kamu yakin ingin mengambilnya? Apa kamu berniat membunuhnya? Jika iya, maka lewati dahulu mayat ku. "


Tubuh Kuro tertegun sejenak, mendengar ucapan Hedrian yang menyatakan bahwa Rania akan mati. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal, dirinya terlalu fokus untuk mengambil inti kekuatannya hingga lupa akan nyawa Rania yang bisa melayang ketika benda itu di keluarkan dari dalam tubuh gadis itu.


Meski dirinya sangat menginginkan inti kekuatannya kembali, akan tetapi, dirinya tak bisa melihat tubuh Rania terbujur kaku tak bernyawa. Membayangkannya saja sudah membuat dadanya sesak.


Sementara itu, setelah mengurangi ketegangan, Rania pun menjadi tenang dan siap di bawa ke ruang operasi untuk melakukan operasi. Dokter Alvin pun tersenyum senang mendengar ucapan Rania sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. Di detik berikutnya, ia kemudian menyuruh para suster untuk segera membawa Rania ke ruang operasi.


Sesampainya di ruang operasi, setelah memastikan semua alat-alatnya sudah siap, Dokter Alvin pun langsung memasukkan cairan bius ke dalam tubuh Rania yang seketika membuatnya tak sadarkan diri.


Dari balik kaca yang berada di sisi lain ruang operasi, Mia tersenyum cerah, ia kemudian memberitahu pada semua tamunya bahwa operasi akan segera di mulai.


Akan tetapi. . ..

__ADS_1


Boom!!!


Tiba-tiba sebuah getaran yang begitu dahsyat, menggetarkan seluruh sudut ruangan itu hingga menimbulkan kepanikan dari para tamu termasuk Mia yang merasa tidak senang sama sekali dengan apa yang baru saja terjadi


__ADS_2