Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
118


__ADS_3

Meski hanya dengan memiliki seribu pasukan, akan tetapi Kuro dan lainnya berhasil merebut kembali setengah dari daerah kekuasaan Cesire, tak hanya itu saja mereka bahkan mampu menambah prajuritnya menjadi kurang lebih lima prajurit yang artinya kekuatannya kini sebanding dengan Cesire dan memenangkan peperangan ini menjadi tidak mustahil.


Para tetua yang masih setia pada dua saudara itu merasa sangat beruntung karena mereka tidak tergoda dengan penawaran yang Cesire pernah berikan pada mereka.


Tidak di ragukan memang, putra mahkota mereka memang sangat kuat, dia bahkan mampu membalikkan keadaan hanya dalam beberapa hari saja.


Kendati begitu, Kuro merasa ada yang aneh dengan kemenangan mereka secara berturut-turut, rasanya semua kemenangan yang di raihnya ini memang sudah di rencanakan. Apalagi Nala dan Smali tidak terlihat sama sekali seakan-akan mereka tak peduli dengan bawahan mereka serta daerah yang sudah ia rebut bersama bawahannya.


Ada yang aneh? Terutama Niki, seharusnya wanita itu balas dendam padanya atas kematian saudari kembarnya, Nala yang mati di tangannya.


Apa ini sungguh perang? Mengapa rasanya begitu mudah dirinya bahkan tidak perlu kehilangan orang satu pun.


" Kakak! Kakak! Kakak! " Seru Robert dari arah pintu masuk.

__ADS_1


Karena seruan itu, tubuh Kuro sedikit tersentak tersadar dari pikirannya, lalu membenarkan posisi duduknya dan mengambil buku laporan secara acak agar dirinya tidak terlihat sedang banyak berpikir. Ia pun melirik sebentar pada sang adik yang baru saja masuk lalu memfokuskan kembali matanya pada buku laporan di tangannya.


Setelah sang adik sudah berada di depannya, barulah Kuro pun akhirnya menatap Robert dengan tatapan kesal sambil bertanya, " ada apa? Kenapa kamu berteriak seperti itu? Apa kamu lupa bahwa kamu sudah dewasa?! "


Bukannya merasa takut dengan amarah sang kakak, Robert malah mengabaikannya dengan terus memanggil-manggil kakaknya tanpa henti membuat sang kakak menjadi jengkel di buatnya.


Brak!! Kuro memukul buku di tangannya ke atas meja dengan cukup keras, merasa sudah jengah dengan suara sang adik yang begitu berisik mengganggu gendang telinganya. " Sebenarnya apa mau mu?! "Tanya Kuro kembali dengan perasaan marah.


Robert menundukkan kepalanya, raut wajahnya terlihat ragu mengungkapkan apa yang ada di dalam kepalanya.


Akan tetapi ia harus tenang menghadapi adiknya, bagaimana pun dia juga pasti lelah dan stress karena terus berperang, jadi wajar saja jika dia sedang melampiaskannya padanya.


Sebagai kakak dan pemimpin, Kuro pun mencoba untuk sabar menghadapi sang adik.

__ADS_1


Dengan penuh kesabaran, Kuro pun mengajak Robert duduk dan minum teh untuk menenangkan diri. Bahkan dirinya secara khusus menuangkannya sendiri, lalu kembali bertanya pada sang adik tentang tujuannya menemuinya dengan nada bicara setenang mungkin.


" Kakak, Cesire akan menikah. " Kata itu keluar begitu saja dari mulut Robert.


Kuro yang mendengar hal tersebut tertegun terdiam bahkan tanpa sadar cangkir teh di depannya sudah penuh, menatap wajah adiknya dengan tatapan tidak percaya, sejenak ia berpikir bahwa ada yang salah dengan pendengarannya, tetapi setelah sang adik mengulang perkataan itu membuatnya sadar bahwa tak ada yang salah dengan telinganya. Akan tetapi lelucon macam apa ini? Bagaimana bisa pria itu menikah di tengah-tengah perang? Apa yang sedang dia pikirkan? Dan juga setahunya, pria itu adalah pria yang membenci cinta, meski ada banyak wanita di sekelilingnya tapi mereka hanyalah pemuas nafsu sesatnya jadi rasanya sangat mustahil begitu mendengar bahwa dia akan menikah. Ia menjadi penasaran Wanita mana yang bisa menaklukkan hati pria tak berperasaan itu? Dan juga dari keturunan mana.


" Kakak, sebenarnya wanita itu adalah manusia dan wanita itu. . . .


Kuro mengernyitkan dahinya sembari menatap wajah adiknya dengan intens. Entah kenapa dirinya bisa menebak siapa wanita itu tapi di dalam hatinya dia berharap bahwa itu bukan dia.


" Adalah Rania. "


Mendadak Kuro menjadi bodoh, tak mengerti apa yang sedang adiknya bicarakan, Rania katanya? Rania yang mereka kenal maksudnya? Bukankah ini terlalu berlebihan untuk dijadikan sebuah lelucon?

__ADS_1


" Kakak, aku serius. aku juga sama terkejutnya seperti diri mu, tapi setelah menerima surat undangan ini aku terpaksa mempercayainya. " jelas Robert sembari menyerahkan gulungan pernikahan.


Kuro pun dengan segera merebut gulungan tersebut dan membaca isi dari gulungan pernikahan itu. Di detik berikutnya ia kembali mengernyitkan dahinya lalu membakar gulungan pernikahan itu di tangannya, " sebenarnya apa yang sedang pria menyebalkan itu lakukan?! "


__ADS_2