Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
55


__ADS_3

Begitu Mia tersadar, ia langsung melepaskan pisau yang melekat di tubuh temannya, Rania. Bulu matanya bergetar, menatap kedua tangannya yang di telah di penuhi oleh darah temannya sendiri, " A-aku . . . Tidak. .


" Rania! " Teriak Kuro sambil menangkap tubuh Rania yang hampir jatuh ke tanah, " tolong bertahanlah, jangan tidur, " sambungnya dengan perasaan cemas, sesekali tangannya menepuk kedua pipi gadis di pangkuannya, berharap gadis itu kembali tersadar.


Sedang kan Mia, tubuhnya jatuh terkulai lemas ke tanah sambil menatap tubuh temannya yang masih tak sadarkan diri, kedua matanya menatap fokus pada pisau yang menancap di tubuh temannya itu, ia sejujurnya tak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba menusuk tubuh temannya sendiri dan juga dari mana asalnya pisau itu?


Tak lama kemudian, Rania membuka kedua kelopak matanya secara perlahan, sambil tersenyum ia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan meminta mereka untuk tidak mencemaskan dirinya.


Namun, Kuro tak menanggapi guyonan Rania, ia pun langsung mengangkat dan membawanya ke rumah sakit terdekat, mengabaikan Mia yang masih terdiam sambil menitikkan air mata yang sejak tadi tidak berhenti


Tak lama kemudian, Hedrian dan yang lainnya datang. Mereka terdiam kebingungan, karena mendapati Mia seorang diri dengan kedua tangan yang bersimbah darah.


" Apa yang terjadi? Kenapa kamu tadi tiba-tiba menghilang? " Tanya Hedrian.


" A-aku baru saja menusuk teman ku, ' ungkapnya dengan suara lirih.


Hedrian mengernyitkan dahinya, ia tak bisa mendengar suara Mia dengan begitu jelas, ia pun berjalan dan menghampiri gadis itu dan kembali bertanya, " apa yang kamu bicarakan aku tidak mengerti? Dan dimana Rania dan Kuro? "

__ADS_1


" . . . "


" Kenapa kamu diam? Dimana mereka sekarang? " Tanya Hedrian kembali, namun Mia masih tetap tak diam dengan air matanya yang mengalir semakin deras membasahi kedua pipinya.


Laura yang baru saja datang menyusul, langsung menatap Mia yang tampak tak biasanya, ia pun bisa mencium darah yang begitu familiar, tak lama kemudian ia pun mengerti dan meminta Hedrian untuk berhenti bertanya lebih lanjut lagi, ia pun berjongkok membersihkan darah yang ada di telapak tangan Mia, seketika ia mengerti kemana perginya Kuro dan Rania.


" Mia, kamu ingat aku? " Tanya Laura.


Perlahan, Mia menolehkan kepalanya ke arah Laura, ia pun langsung menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban, " Laura. "


" Baguslah kalau begitu, sekarang, lihatlah kedua mataku, "


Sebelumnya, karena dirinya cemas meninggalkan tunangannya lebih dulu, Laura memutuskan untuk kembali kedua manusia lebih dulu seorang diri, setibanya di dunia manusia, ia tertegun sejenak karena tidak mendapati siapapun di rumah Rania, padahal biasanya tunangannya selalu ada di rumah. Untungnya saat itu membeli alat pelacak jadi dia tahu dimana keberadaan pria itu.


Namun di detik berikutnya, dahinya mengernyit heran ketika alat itu menunjukan bahwa tunangannya berada jauh di bagian barat kota Versee." Apa yang dilakukannya di sana? " Gumamnya pelan.


Seketika pikiran liarnya pun berkerja dan memikirkan sesuatu yang tidak-tidak, seperti: Tunangannya tengah berkencan dengan Rania atau jangan-jangan mereka sedang melakukan hubungan untuk membuat keturunan.

__ADS_1


Tak ingin sampai apa yang ada di dalam pikirannya terjadi, Laura memutuskan untuk menyusul mereka dan mencegah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, tapi setibanya di sana, hidungnya mencium sesuatu yang tidak beres, ia pun segera bergegas masuk ke kota, dan benar saja dugaannya. tak lama setelah dirinya masuk ke dalam kota tersebut, ia langsung di sambut oleh boneka manusia yang terdiri dari mayat dan juga manusia yang masih hidup.


Dengan indra penciumannya yang tajam, melawan boneka manusia bukanlah sesuatu yang sulit, sebab dirinya bisa membedakan mana yang masih hidup dan mana yang telah meninggal, hanya dalam hitungan detik, ia berhasil mengalahkan dua puluh mayat hidup dan membebaskan manusia yang masih hidup, ia membiarkan mereka tergeletak begitu saja.


Tak jauh dari tempatnya berada, Laura bisa mencium keberadaan Rania dan lainnya, ia pun dengan segera menuju ke sana dan menyelamatkan mereka.


" Ku pikir kalian berguna, ternyata kalian hanyalah sampah. " Ejek Laura pada Mikael dan juga Darian " sungguh bodoh, kalian pikir dengan senjata kalian bisa mengalahkan mereka? Ku akui, peradaban manusia telah berkembang tapi kalian terlalu sombong karena mengira bisa melawan senjata kami dengan benda murahan kalian. " Kata Laura lalu memotong semua benang transparan itu dengan menggunakan tombaknya hanya dalam sekali serang saja.


" Perlu kamu ingat, Argolo mati di tangan kami dan juga kami pernah menyudutkan kalian, " timpal Mikael yang tampak tidak ikhlas dengan ucapan Laura yang begitu menyakiti hatinya.


Laura mendengus, " Itu karena dia lebih bodoh dari pada kalian dan juga saat itu aku hanya menahan diri, karena aku telah berjanji tak akan menyakiti manusia. "


" Kamu! . .


" Sudahlah, ucapan dia memang ada benarnya, seharusnya kita berterima kasih padanya, " timpal Darian.


Laura pun tersenyum puas, ia kemudian melanjutkan mengomeli Hedrian dan mengatakan bahwa pria itu terlalu ragu dalam serangannya, " bukankah kamu seekor serigala? Seharusnya membedakan mereka adalah suatu yang mudah. '

__ADS_1


" Maaf, tapi aku sedang flu. "


" Dasar tidak berguna, " ujarnya, tak lama kemudian Laura pun baru menyadari bahwa sejak tadi ia tidak menemukan keberadaan Mia dan juga Rania, hingga suara teriakan Kuro mengejutkan mereka.


__ADS_2