
" Kalian berdua hentikan!! Ini bukan saatnya untuk berkelahi. " Ujar Laura sambil berteriak mencoba untuk melerai keduanya, Namun, baik Kuro mau pun Robert keduanya tidak mendengarkan perkataan wanita itu dan malah bersiap berkelahi dengan mengeluarkan senjata mereka masing-masing dari telapak tangan mereka
Seketika suasana pun menjadi sangat mencekam di iringi oleh Sambaran petir di langit yang berasal dari senjata Robert, karena peristiwa itu, para jendral pun ikut berkumpul menyaksikan pertempuran antara kakak beradik itu yang tak bisa di ganggu gugat atau di hentikan oleh siapapun.
Keduanya pun mulai menyerang satu sama lain, meski perbedaan kekuatan Robert dengan sang kakak cukup jauh, tapi dia mampu mengimbangi kekuatan dari kakaknya itu meski pun dirinya paling banyak mendapat luka.
Kuro tersenyum menyeringai, raut wajahnya terlihat begitu puas, ia kemudian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan menyalurkan semua kekuatannya pada pedangnya hingga api biru menutupi seluruh pedangnya. Begitu pun dengan Robert, ia juga mengikuti pergerakkan kakaknya, mengarahkan pedangnya ke langit dan mengubah pedangnya seperti magnet petir.
Dalam hitungan detik, awan di langit pun berubah menjadi sangat padat nan hitam dengan suara guntur yang menggelegar diiringi kilat yang menyambar hebat.
Di detik berikutnya, keduanya bergerak secara bersamaan dengan mengarahkan pedang mereka masing-masing dan. . . .
Booom!!! Sebuah ledakan besar pun terjadi, banyak prajurit yang tidak siap di buat terbang olehnya.
Asap tebal menutupi keduanya hingga mereka tak melihat siapa yang menang diantara mereka. Lalu perlahan asap tebal itu perlahan menipis dan mulai memperlihatkan sosok dari keduanya.
__ADS_1
Secara tidak sadar, semua vampir yang ada di sana menahan nafas, melihat siapa yang menang di antara mereka.
" Robert!! " Pekik Laura secara tiba-tiba dengan raut wajah yang terlihat horor, dia berlari menghampiri Robert yang hampir tumbang, pakaian pria itu sudah compang camping dengan sebuah luka besar di bagian perutnya. Laura menolehkan kepalanya dan mendelik tajam ke arah Kuro, tak menyangka bahwa pria itu akan melakukan hal keji pada adiknya sendiri demi seorang manusia, ia kemudian berkata pada Kuro untuk segera pergi meninggalkan dan memintanya untuk jangan pernah kembali karena dirinya bersumpah tak akan pernah mengakui atau pun menyukainya lagi seumur hidupnya.
Tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun, Kuro pun pergi begitu saja meninggalkan Robert yang terluka parah.
Sementara itu, Rania terdiam termangu di depan jendela menatap pemandangan di balik jendela itu yang begitu suram, membuat siapapun yang tinggal di sana merasa tidak nyaman dan risih. Terkadang Rania berpikir bagaimana bisa mereka yang sudah lama tinggal di sini bisa bertahan di tempat yang begitu suram ini.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba pintu kamar di ketuk dari arah luar, Rania yang bisa menebak siapa orang itu memilih untuk mengabaikannya dengan berpura-pura tuli dan fokus menikmati pemandangan. ia yakin orang itu tak lain pasti Dokter Alvin, meski pria itu berkata memberinya waktu untuk berpikir akan tetapi setiap kali dia memberinya makan, pria itu selalu mengatakan hal yang sama yaitu menyuruhnya untuk menerima pernikahan itu dengan begitu ayahnya akan tetap hidup.
" Dokter Alvin, jawaban ku adalah tetap. . .
Ucapan Rania terputus ketika menyadari bahwa sosok itu bukan lah Dokter Alvin melainkan pria yang bernama Cesire itu dengan seorang pelayan wanita yang mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
" Tidak. Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Membujuk ku? " Sambungnya.
Pria itu tersenyum simpul lalu berjalan mendekati Rania.
Tanpa sadar, Rania berjalan mundur entah kenapa setiap kali dirinya di dekat pria itu, rasa takut selalu menyelimuti seluruh tubuhnya bahkan bulu kuduknya berdiri dengan sendirinya.
Seakan tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Rania, pria itu lalu bertanya, " apa kamu takut pada ku? "
Dengan cepat Rania menggelengkan kepalanya, menyangkal bahwa dia sama sekali tidak takut padanya meski pun seluruh tubuhnya sedang gemetar hebat, bahkan kedua kakinya terasa mati rasa dan hampir tak bisa menahan berat badannya sendiri, tapi ini bukanlah saatnya takut dan memperlihatkan kelemahannya.
Cesire kembali tersenyum, namun kini dia tersenyum menyeringai, lalu memanggil pelayan di sampingnya dan menyuruhnya untuk berdiri di depannya.
Rania menatap sambil mengernyitkan dahinya, mencoba menebak apa yang akan itu lakukan.
Jleb!! Tanpa di sangka, pria itu tiba-tiba menusuk tubuh pelayan wanita itu dengan tangan kosongnya hingga jantung pelayan itu keluar dari tubuhnya, darah pun bercucuran di lantai.
__ADS_1
Kali ini Rania tak bisa lagi mengatasi ketakutannya, kedua kakinya terkulai lemas menatap mayat pelayan itu yang ternyata merupakan seorang manusia seperti dirinya.
Apa yang baru saja terjadi?