
Hedrian pov.
Di atas sofa ruangan tamu, Hedrian terdiam sambil memangku dagunya dengan kedua tangannya sembari memikirkan kejadian yang terjadi beberapa saat lalu, entah itu perasaannya atau dirinya salah mengira bahwa Rania tampak seperti seorang vampir bahkan ia bisa merasakan aura haus darah yang begitu kuat. Tapi bagaimana bisa? Ia sangat yakin bahwa Rania adalah manusia. Apa mungkin saat di lab itu telah terjadi sesuatu? Benar juga, ia ingat dengan betul wajah Kuro setelah kejadian itu yang terlihat begitu sulit diartikan mungkinkah ekspresinya saat kitu berkaitan dengan kejadian tadi?
Tampaknya, memang telah terjadi sesuatu saat itu. Tapi, perasaan aneh apa ini yang menggelitik perutnya? Kenapa ia sangat tidak menyukai kedekatan Kuro dan Rania yang begitu dekat, saking dekatnya mereka tampak tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam hubungan diantara mereka.
Apa dirinya cemburu dengan hubungan mereka, tapi seingatnya dirinya tak memiliki perasaan semacam itu terhadap Rania. Perasaan ini mengingatkannya pada perasaan saat ayahnya lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya. Rasanya terasa begitu menusuk dan juga terasa perih, apa mungkin dirinya juga menyukai Rania sebagai wanita?
Hedrian terdiam cukup lama hingga dirinya menampar kedua pipinya dengan cukup keras, menyangkal bahwa dirinya memiliki perasaan semacam itu karena ia yakin perasaan ini hanyalah rasa terima kasihnya terhadap Rania yang telah menyelamatkan dan memberinya tempat tinggal serta makanan secara gratis.
Benar, perasaan ini bukanlah perasaan semacam itu, ia sangat yakin akan tentang hal itu, mungkin saja dirinya memang cemburu tapi dalam artian lain.
__ADS_1
Untuk saat ini, selama Rania masih baik-baik saja dan Vampir itu tidak akan melakukan sesuatu buruk pada Rania, maka ia tak perlu berpikir yang tidak-tidak mungkin saja, kejadian tadi hanyalah perasaannya saja dan juga dirinya tak boleh tenggelam pada perasaan yang tidak dibutuhkan, karena saat ini dirinya harus melatih diri dan anggota klannya agar semakin kuat dan bisa membalas dendam pada Cesire beserta para vampir yang sudah membantai keluarganya termasuk Kuro dan juga adiknya itu,
Selama ini dirinya telah cukup lama menahan penghinaan yang Cesire lakukan padanya, meski dia yang telah merawatnya selama ini dan Kuro juga pernah menyelamatkan nyawanya, tetapi hal itu tak merubah sebuah fakta bahwa ada nyawa yang harus di bayar dengan nyawa juga.
Seperti biasanya, setelah memakan sarapan serta memastikan Rania pergi ke sekolah seperti biasanya dan vampir itu per ia pergi menemui adiknya, Hedrian pun ikut pergi menemui anggota klannya untuk berlatih dan menyiapkan beberapa strategi membunuh Cesire dan vampir lainnya. Kali ini dirinya tak akan terburu-buru melakukan perlawanan dan akan fokus untuk meningkatkan kekuatan terlebih dahulu agar kejadian sebelumnya tidak terulang kembali.
Setelah mengalami semua ini, Hedrian tiba-tiba teringat dan menyadari bahwa dirinya sungguh tidak berguna. Ayahnya benar, klan manusia serigala akan hancur di tangannya karena ketidakmampuannya dan dirinya mengakui hal tersebut.
" Pangeran ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiran anda? " Tanya Ray, salah satu bawahan Hedrian yang paling setia dan paling diandalkan, meski fitur wajahnya terlihat feminim untuk ukuran seorang pria, namun kekuatan serta kemampuannya sudah sangat di akui dan patut diacungi jempol. Walau sempat berpisah setelah insiden pembantaian itu, tapi ia tak menyangka bahwa mereka akan kembali bertemu dan membangun kembali kepercayaan anggota klan yang sempat menurun.
Tubuh Hedrian sedikit tersentak dan tersadar dari lamunannya, ia menoleh menatap bawahannya itu lalu menghela nafas, berkata bahwa dirinya baik-baik saja hanya saja dirinya sedikit teringat akan masa lalu dan berpikir bagaimana caranya ia bisa bertukar dengan adiknya.
__ADS_1
" Pangeran jangan berkata seperti itu, bagi kami anda adalah penyelamat kami, tanpa pangeran kami mungkin sudah mati dan kehilangan arah. "
" Aku pikir pujian itu lebih cocok padamu dari pada aku yang tidak berguna ini, jika kami tidak bertemu dengan mu saat itu mungkin selamanya kami akan tersesat tanpa arah, menurut mu, bagaimana jika saat ini bukan aku yang ada di depan mu melainkan adikku apakah keadaan sekarang akan berbeda? Aku yakin keadaannya akan jauh lebih baik jika dia yang memimpin kalian dan bukan aku. "
Ray terdiam sejenak, " Pangeran benar, jika pangeran Hary masih hidup, mungkin klan kita tidak akan berada di titik bawah ini dan terus bersembunyi seperti ini layaknya seorang buronan.
" Bukankah kata-kata mu itu sedikit tajam? Meski aku berkata demikian, setidaknya kamu harus menyangkalnya atau. . .
" Tapi, Pangeran Hary mungkin tak akan sebaik anda yang rela berkorban menerima semua hinaan hingga sekarang, anda bahkan harus terpaksa hidup dengan musuh demi kelangsungan hidup klan, " Sela Ray.
Hedrian terdiam, wajahnya sedikit memerah karena malu, ia tak menduga akan mendapat pujian dari bawahannya meski pujiannya itu bukanlah sesuatu yang patut di banggakan.
__ADS_1