
Dua hari di rumah sakit, Rania hanya terbaring lemah tak berdaya karena dirinya telah kehilangan banyak darah dari insiden dua hari yang lalu. Untung saja Kuro dengan segera membawanya ke rumah sakit, jika tidak mungkin ia sudah mati.
Mia yang ingatannya telah di hapus semuanya oleh Laura datang membawa sekeranjang buah besar untuk menjenguk temannya yang sedang sakit, menurut kesaksian Laura bahwa Rania telah di tusuk oleh orang gila dan orang gila tersebut menghilang menjadi debu.
Awalnya Mia tak percaya, ia merasa bahwa cerita Laura terlalu dilebih-lebihkan, lagi pula orang gila mana yang menusuk temannya itu, jika sampai ketemu, maka dia akan memukul dan memasukkan kedalam penjara. Hingga ia menyadari bahwa temannya tidak masuk kelas selama dua hari ini, tak lama kemudian Mikael yang baru saja kembali ke sekolah mengatakan bahwa Rania saat ini masih absen karena tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung bergegas ke rumah sakit dimana temannya di rawat. Melewatkan kelas Mikael yang telah kembali untuk sekian lama.
Setibanya di sana, Mia langsung menyerbu Rania dengan puluhan pertanyaan, menginterogasinya layaknya seorang penjahat.
" Coba gue lihat luka lo, " pintanya dengan setengah memaksa.
Rania yang pertama kali melihat Mia secemas ini padanya, dengan malu-malu mengangkat pakaiannya setengah badan dan membuka secara perlahan perban yang membalut lukanya itu sambil menutup kedua matanya., akan tetapi. . .
" Lelucon apa yang kalian mainkan ini? Apa kalian berdua sangat senang mengerjai ku? " Kata Mia kesal, " sumpah yah kalian berdua, jahil banget sih sama gue, " sambungnya sambil mencubit kedua pipi Rania dengan gemas, ingin marah tapi dirinya menahan diri karena tak ingin membuat temannya semakin jatuh sakit.
Rania mengernyitkan dahinya heran, kenapa temannya marah? Dan lelucon apa yang dia maksud, jelas-jelas dirinya telah di tusuk oleh dia.
Di detik berikutnya, Rania menundukkan kepalanya untuk melihat luka di tubuhnya, akan tetapi kedua bola matanya terbeliak ketika luka itu tidak ada di sana, bahkan untuk memastikan bahwa dirinya tidak tidur, Rania menampar wajahnya dengan sangat keras hingga membuat Mia terkejut.
__ADS_1
" Ra? Lo kenapa? Sorry, gue nggak bermaksud. .
Rania hanya terdiam mengabaikan temannya, padahal ia mengingat dengan jelas bahwa Mia telah menusuknya cukup dalam. Setelah mendapat pertolongan pertama, dokter mengatakan bahwa luka yang di deritanya akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sembuh, bahkan bekasnya akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa hilang sepenuhnya.
' Apa jangan-jangan yang kemarin itu hanyalah ilusi? ' gumamnya pelan.
" Ra! Kenapa bengong? Lo nggak apa-apa kan? Gue udah maafin kalian berdua kok, jadi please jangan sakiti lo lagi yah? " Kata Mia cemas dengan raut wajah ketakutan.
" Kalau gitu, gue minta satu hal lagi, please rahasiakan ini dari Laura, lo hanya cukup ikuti skenario dia, ok? Dan juga jangan pernah bahas masalah ini, " pinta Rania serius.
Meski tidak mengerti, Mia pun menganggukkan kepalanya, berpikir mungkinkah temannya ini sudah terlalu sakit hingga bersikap seperti ini?
Rania terdiam memikirkan kebohongan apalagi yang harus ia katakan pada Mia, saat hendak menjawab, pintu kamarnya di ketuk dan ternyata orang itu adalah dokter Alvin yang ingin melakukan pemeriksaan rutin.
" Bagaimana dok? Teman saya baik-baik saja kan? " Tanya Mia cemas.
Dokter Alvin tersenyum sambil memasukkan stetoskopnya ke dalam kantung jasnya, ia menjelaskan bahwa kondisi Rania sudah sangat baik dan besok, dia bisa pulang ke rumah.
Mia pun menganggukkan kepalanya, " oh iya dok, boleh tanya nggak? Teman saya ini kenapa? "
__ADS_1
Spontan Rania langsung menatap wajah sang dokter di sampingnya.
" Jadi, teman mu ini belum mengatakannya? " Jawab Dokter Alvin dengan sebuah pertanyaan.
" Kalau sudah, pasti saya tidak akan bertanya pada Dokter. " Jawab Mia dengan nada ketus.
Dokter Alvin terkekeh sejenak, " baiklah, jangan marah, nanti cantik mu hilang, sebenarnya teman mu ini. . .
Seketika suasana ruangan pun berubah menjadi menegangkan layaknya sebuah film horor yang akan menunjukan dimana hantu akan muncul.
" Teman mu ini hanya kelelahan saja, mungkin karena dia terlalu banyak beraktivitas dan hanya memiliki waktu istirahat yang sedikit. " Jelas dokter Alvin.
Mia pun mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan perkataan dokter Alvin, memang benar, temannya ini terlalu banyak bekerja dan di saat libur, bukannya beristirahat, temannya itu malah mengunjungi acara-acara yang selalu di adakan di pusat perbelanjaan.
" Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan? "
" Tidak, terima kasih. Untung saja ada dokter, jika tidak, aku pasti akan menjadi manusia bodoh di dunia, dokter tahu? " Mia pun menjelaskan kronologi bagaimana ia pergi ke rumah sakit, ketika teman satunya lagi mengatakan bahwa ada orang gila yang menusuk temannya ini.
Dokter Alvin pun terkekeh, mendengar cerita lucu dari Mia, hingga tak lama kemudian ia mendapatkan panggilan, dengan perasaan menyesal ia meninggalkan kedua gadis itu dan bergegas pergi.
__ADS_1