Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
59


__ADS_3

" Bisakah kamu langsung memberi ku jawabannya dari pada harus berbelit-belit seperti ini? " Tanya Niki yang mulai kesal dengan sikap saudari kembarnya yang terus berputar-putar membuat kepalanya pusing dan ingin memukul kepala saudari kembarnya itu.


Namun, tampaknya sikap jahil Nala kembali kambuh, rasanya harinya tidak akan lengkap tanpa membuat saudari kembarnya kesal, " hey ayolah, tidak seru namanya jika kamu langsung mengetahuinya, cobalah tebak sekali saja, " ungkap Nala sambil menaikkan kedua alisnya.


Niki memandang Nala sejenak lalu menghela nafas sambil memejamkan kedua matanya, ia kemudian memberi tatapan ingin membunuh pada saudari tirinya, " haruskan aku memotong tangan mu itu agar dirimu bisa berbicara dengan baik? " ungkapnya sambil menunjuk kearah tangan Nala yang baru saja tumbuh kembali.


Seketika Nala pun menjauhkan diri dari saudarinya sambil menelan salivanya lalu menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya, tanpa membuang waktu waktu lagi, di detik berikutnya ia pun akhirnya menjelaskan bahwa sebenarnya Argolo tidak berbohong tentang kondisi Pangeran Albert yang tidak stabil dan ia menyadari saat mereka bertarung. Awalnya ia terkejut saat Pangeran Albert mengeluarkan kekuatan yang begitu dahyat tapi setelah melihat ingatannya, ia menemukan sesuatu yang menarik.


" Apa itu? " Tanya Niki yang semakin penasaran.


" Apa kamu sangat ingin mengetahuinya? "


" Tentu saja, cepat katakan atau aku akan membunuh mu jika kamu berniat untuk mempermainkan aku lagi, " jawab Niki dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Begitu mendengar ucapan saudarinya yang begitu menakutkan membuat Nala yang berniat untuk menjahili saudarinya lagi, langsung mengurungkan niatnya tersebut, karena kali ini saudarinya benar-benar akan membunuhnya jika dirinya kembali mempermainkannya lagi, di detik berikutnya Nala pun langsung mendekatkan bibirnya ke telinga saudarinya kemudian membisikan sesuatu.

__ADS_1


Kedua bola mata Niki terbeliak, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, " Apa kamu sangat yakin? Jika kamu benar, Tuan Cesire pasti akan sangat bangga pada kita karena menemukan sesuatu yang akan membuatnya sangat bahagia, tapi jika kamu salah maka tamatlah riwayat kita, " jelasnya.


Nala pun terkekeh sambil merangkul bahu saudarinya dan mengatakan bahwa penglihatannya tidak salah, karena yang ia lihat itu adalah apa yang sebenarnya terjadi.


Niki mengangguk-anggukkan kepalanya, mengakui bahwa kemampuan saudarinya ini tidak perlu diragukan lagi.


Sementara itu. . .


Keesokan paginya


Setelah banyak beristirahat semalam, Rania terbangun dengan kondisi tubuh yang sangat bugar, ia meregangkan tubuhnya sejenak lalu kemudian turun dari ranjangnya untuk melakukan aktivitas selanjutnya seperti mandi, berganti pakaian, sarapan lalu pergi ke sekolah seperti biasanya. Rasanya seperti terlahir kemarin.


Rania yang merasa sikap temannya terlalu berlebihan dalam memperlakukannya membuatnya merasa sangat malu lalu memintanya untuk berhenti, tapi tampaknya Mia memutuskan untuk menulikan pendengarannya dan tidak menggubris ucapan temannya itu.


Di kantin, banyak pasang mata yang mengarah ke meja makan dimana Rania, Mia, Laura dan Albert makan siang. Bagaimana tidak? Mereka tak bisa memalingkan wajah mereka ketika melihat restoran bintang lima memasak di kantin sekolah mereka.

__ADS_1


Rania yang merasa jengah pun menjadi sangat kesal lalu memutuskan untuk meninggalkan kantin, namun Mia segera menahannya.


" Kenapa Ra? Lo nggak suka sama kokinya? Atau perlu gue ganti sama koki baru? " Tanya Mia tanpa wajah berdosanya.


Rania menghela nafasnya frustasi, dengan sabar dirinya menjelaskan bahwa ia tak menginginkan semua ini yang ia inginkan hanyalah menjalani kehidupan sekolah seperti biasanya bukan layanan restoran pribadi.


Menyadari akan kesalahannya, Mia pun menundukkan kepalanya menyesal, lalu memutuskan untuk menyuruh pulang para chef itu, dengan perasaan menyesal, Mia meminta maaf pada teman-temannya karena tak nyaman dengan sikapnya sebagai tanda penyesalannya, ia akan membagi semua hidangan chef itu ke semua orang yang ada di kantin secara gratis.


Saat bel jam pulang, Mia kembali meminta maaf atas sikapnya hari ini yang berlebihan. Dia juga berjanji tak akan melakukan hal serupa, meski awalnya itu hanyalah bentuk perhatiannya, tapi dia tak pernah menduga bahwa tindakannya membuat orang di sekitar merasa tak nyaman dengan hal itu.


Rania tersenyum tipis lalu memeluk sahabatnya dengan erat.


" Oh iya Ra, Lo hari ini langsung pulang ke rumah kan? " Tanya Mia.


Rania terdiam sejenak, lalu menjawab, " nggak deh kayaknya, soalnya gue ada jadwal kontrol hari ini. "

__ADS_1


" Mau gue anterin? "


" Nggak perlu, terima kasih. "


__ADS_2