
Sesuai dengan apa yang di dalam surat yang di tulis oleh Dokter Alvin, Rania kembali ke rumah sakit untuk menemui pria itu pada pukul tiga sore dimana pada waktu itu dia memiliki waktu senggangnya.
Setibanya di sana, seorang suster yang dijumpainya saat meninggalkan rumah sakit, mengarahkannya untuk masuk ke ruangan Dokter Alvin yang berada di lantai dua.
Rania pun tersenyum sambil berterima kasih, ia pun bergegas menuju lantai atas.
Tok! Tok! Tok!
" Dok ini saya, Rania. "
" Masuklah, ternyata kamu adalah gadis penurut, aku senang, " kata Dokter Alvin sambil tersenyum tipis, sebelum melakukan inti pembicaraan mereka, Dokter Alvin terlebih dahulu melakukan pemeriksaan pada tubuh Rania, memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
" Bagaimana dok? " Tanya Rania.
" Bagus, semuanya bagus. "
" Jadi. . .
" Jangan terlalu terburu-buru, apa kamu sudah makan siang? Kebetulan aku belum makan siang? Tolong temani aku, " ajak Dokter Alvin sambil melepas kaca mata dan juga jas putih yang melekat di tubuhnya.
Rania terpesona dengan paras dan proporsi tubuh dan wajah Dokter Alvin yang lebih cocok menjadi bintang dunia dari pada seorang dokter, selama ini dirinya tidak menyadari karena pria itu selalu memakai kaca mata bulat dan juga jas putih yang kebesaran.
__ADS_1
Dokter Alvin yang menyadari tatapan Rania hanya tersenyum tipis.
Tanpa menunggu jawaban, Dokter Alvin menarik tangan Rania keluar dari ruangannya, baginya diamnya Rania adalah jawaban, Iya.
Tak lama setelah mereka berdua meninggalkan rumah sakit, keduanya kini berada di depan halaman sebuah gedung pencakar langit yang memiliki seratus lantai.
Rania yang pertama kali di ajak ke tempat mewah oleh seorang pria hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar. Namun di detik berikutnya ia menolak ikut masuk, selain karena pakaiannya yang tidak cocok dengan tempat mewah itu, ia juga merasa amat sayang membeli makanan mahal hanya untuk di jadikan kotoran pada akhirnya.
Dokter Alvin mengernyitkan dahinya, untuk pertama kalinya ada seseorang terlebih lagi orang itu adalah seorang gadis, menolaknya untuk makan di tempat ini. Ia kemudian menghela nafas dan bertanya pada gadis di depannya, " lalu kamu mau makan dimana? "
Rania terdiam sejenak, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dahinya sambil berpikir, hingga kemudian ia pun tersenyum lebar.
Dokter Alvin yang merasa sangat tidak nyaman dengan pemandangan itu hampir memuntahkan isi perutnya, tapi ia harus menjaga image nya di depan Rania.
Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang, berupa makanan tradisional yang terdiri dari ayam bakar, ikan bakar, sambal, lalapan, kerupuk dan beberapa hidangan berat lainnya.
Berbeda dengan Dokter Alvin yang menganggap bahwa hidangan di depannya tidak higienis tapi di mata Rania makanan di depannya itu adalah salah satu makanan paling enak di dunia.
" Dokter nggak makan? " Tanya Rania yang memperhatikan Dokter Alvin yang sejak awal hanya meminum air putih yang ia bawa dari mobilnya.
Dokter Alvin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, ia mengatakan bahwa dirinya masih kenyang dan tidak lapar sama sekali, akan tetapi cacing di dalam perutnya tidak bisa diajak kerja sama, cacing itu berbunyi dengan cukup kerasa hingga Rania terkekeh lalu memasukkan satu suapan nasi bersama lauknya ke dalam mulut Dokter Alvin.
__ADS_1
Awalnya, Dokter Alvin ingin marah karena Rania memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan tangan kosong sekaligus tanpa izin darinya, tapi lambat laun ia menyadari rasa dari makanan tersebut ternyata cukup enak untuk dimakan, mengesampingkan standar higienisnya, ia menyantap sebagian besar hidangan yang ada di atas meja dengan lahap hingga perutnya terasa ingin meledak.
Setelah menyantap semua hidangan itu, keduanya saling terdiam dalam keheningan, hingga Dokter Alvin pun menceritakan sebuah kisah gilanya di masa lalu dengan seorang teman.
Sejak kecil ia selalu memiliki pemikiran berbeda hingga membuatnya lain dari pada yang lain, karena pemikirannya tampak seperti seorang dewasa membuatnya tak memiliki banyak teman, hingga suatu ketika ia menemukan seorang teman yang memiliki satu pemikiran dengannya.
Sejak saat itu mereka selalu bertukar pendapat bahkan melakukan ekperimen yang cukup ekstrim dengan menggabungkan hewan kecil dengan hewan kecil lainnya, hingga mereka pun tumbuh dewasa dan terus melakukan eksperimen yang bertujuan agar umat manusia berevolusi.
Suatu hari temannya itu menikah dan memiliki seorang putri yang terlahir prematur dan memiliki penyakit jantung bawaan. Meski saat itu teknologi belum berkembang, namun mereka berhasil mempertahankan si jabang bayi hingga dia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik.
Kendati begitu gadis itu sama sekali tak bisa menikmati bagaimana rasanya hidupnya dengan bebas karena dia harus hidup dengan alat-alat yang menempel di seluruh tubuhnya agar tetap bertahan hidup. Hingga suatu ketika gadis itu berkata pada ayahnya bahwa dia suah tak ingin lagi hidup dan meminta sang Ayah untuk menyerah dan melepaskan semua benda yang menempel pada tubuhnya itu. Akan tetapi sang Ayah menolak permintaan putrinya dengan alasan bahwa dia tak tahu bagaimana caranya bertahan hidup setelah sang istri meninggal satu tahun yang lalu.
Sejak saat itu, temannya mulai terobsesi dengan keabadian, dia pun meneliti berbagai spesies hingga suatu hari mereka menemukan sebuah objek yang bisa membuat gadis kecil itu menikmati hidupnya seperti gadis pada umumnya.
Temannya pun kemudian membedah objek itu dan memindahkan sesuatu yang bersinar ke dalam tubuh gadis itu dan . . ..
Paw!!!!
Rania terlonjak kaget.
" Gadis itu bisa hidup normal hingga sekarang, " ucapnya di akhir cerita.
__ADS_1