Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
26


__ADS_3

Dari balik jendela, terdengar suara cuitan burung yang bertengger di ranting pohon samping kamar Rania. Suara cuitan itu kemudian membangunkan Rania dari tidur panjangnya, perlahan ia membuka kedua kelopak matanya untuk melihat dunia, tapi saat mencoba bangun, kepalanya berdenyut nyeri di sertai dengan perasaan pusing yang cukup kuat.


Ia pun memutuskan untuk diam sejenak untuk meredakan rasa pusingnya, setelah di rasa telah hilang, dirinya memutuskan mencoba turun dari ranjang untuk mencari air minum karena tenggorokannya terasa sangat kering.


Dengan kondisi jalan yang sempoyongan, Rania akhirnya sampai di depan lemari dingin dan langsung mengambil sebotol air, lalu meneguknya hingga habis, seketika dirinya merasa jiwanya telah masuk ke dalam tubuhnya lagi.


Akan tetapi, beberapa saat kemudian, ia baru menyadari bahwa rumahnya terasa sangat sepi. " Kemana Kuro pergi " gumamnya sambil berjalan keberadaan kucingnya itu dari Kamar tidur bahkan sampai ke tong sampah, Rania berpikir bisa saja pria itu masuk dan terjebak di tong sampah. Tetapi langkahnya tiba- tiba terhenti ketika kepalanya mengingat suatu kejadian semalam.


Seketika Kepalanya menunduk lemas menatap sela diantara kedua kakinya, entah bagaimana dirinya bisa lupa, tapi semalam, saat sadar, telinganya secara tak sengaja mendengar percakapan antara Robert dan Kuro yang membahas soal pindah rumah yang telah jatuh pada hari ini.


Meski tidak bisa mendengar terlalu jelas, tapi Rania bisa mendengar bahwa Kuro menjawab dengan jawaban terserah, bukankah kata itu sama dengan kata setuju?


Saat itu dirinya Sangat ingin mencegah pria itu untuk pergi dari rumahnya, tapi hak apa yang di milikinya untuk mencegah pria itu pergi? Dirinya sungguh tak punya hak sama sekali untuk melarang dia pindah atau pergi dari rumahnya, meski pun begitu setidaknya dia harus mengucapkan selamat tinggal atau pun mengabarinya bahwa dia sudah sampai di rumah barunya. Tapi, pria kejam itu tak memberinya satu pun kabar padanya, apa dia sebenci itu padanya setelah dirinya berkorban cukup banyak untuk menyelamatkan pria itu, dari bolos sekolah hingga bolos kerja , tapi balasannya, pria itu malah pergi tanpa berbicara sepatah kata pun bahkan tak meninggalkan pesan apapun untuknya.


Jika tahu begini, seharusnya ia bangun lebih awal untuk melihat pria itu pergi, setidaknya untuk yang terakhir kalinya.


Selama dua tahun ini, dirinya telah hidup dan berjuang seorang diri tanpa membutuhkan siapapun, namun setelah Kuro datang rumahnya terasa kembali hidup, meski pria itu tak banyak bicara tapi dengan kehadirannya di rumah membuat dirinya mengeri apa itu kesepian, sedih dan juga menyesal.


Tanpa di sadari, air matanya mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya lalu terisak menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lamanya, Rania merasa hatinya terasa sangat sakit.


Apa seperti ini rasanya di campakkan oleh orang yang di sukai? Kenapa begitu sakit dan juga perih? Bahkan saat di khianati oleh Argus pun rasanya tidak sesakit ini.


Tiba-tiba sepasang tangan besar, melingkar di tubuhnya lalu merengkuhnya ke dalam pelukan.

__ADS_1


Rania terdiam sejenak, ia sangat kenal betul aroma ini yang tak dan tak bukan adalah Kuro.


Seketika, Rania pun tersentak, lalu berbalik menatap pria itu, " kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu akan tinggal bersama Robert? "


Salah satu alis Kuro naik ke atas, menatap tak mengerti ke arah Rania, " apa maksud mu? Aku tak pernah bilang bahwa aku akan pindah? "


" Bukankah semalam kalian membahas soal pindah rumah?! "


" Memang, tapi aku yang akan pindah ke samping rumah mu, karena aku merasa bahwa kalian membutuhkan setidaknya dua penjaga untuk menjaga kalian, " sela Robert yang baru saja datang dengan membawa bingkisan di tangannya.


" Kenapa? Apa akan terjadi sesuatu? "


" Soal itu. . .


" Karena kamu sudah bangun, jadi lebih baik kita isi mengisi perut terlebih dahulu, " Kuro pun langsung menarik dan membawa Rania ke meja makan, di sana sudah tersaji berbagai menu mewah yang terlihat sangat enak dan menggugah selera itu.


Melihat sikap bingung Rania yang terlihat lucu dan menggemaskan , membuat Robert terkekeh pelan tanpa ada niat untuk menjelaskan fenomena tersebut.


Setelah selesai mengisi perut, Robert memutuskan pergi untuk mengurus kembali barang-barangnya ke rumah barunya.


Di sisi lain, setelah selesai makan, Kuro langsung melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya sebelum tubuhnya kembali ke wujud kucingnya sedangkan Rania hanya duduk manis sembari melihat pria itu melakukan pekerjaan rumah.


Dirinya sama sekali tidak mengerti, mengapa Kuro masih mau tinggal bersamanya dan menjadi pembantu pribadinya, padahal jika dia memilih hidup bersama adiknya, setidaknya kehidupannya pasti akan terjamin nyaman.

__ADS_1


" Karena aku bukanlah tipe vampir yang suka berhutang budi pada vampir lain termasuk pada seorang manusia seperti mu, kamu pasti sudah berpikir bahwa aku adalah pria kejam yang pergi tanpa memberitahu mu kan? "


" Ti. . . tidak! Aku tak pernah berpikir seperti itu. " Jawab Alona dengan terbata-bata.


Kuro pun menghentikan aktivitas dirinya mencuci piring, lalu berjalan menghampiri Rania dan memojokkannya di atas kursi.


Tanpa sadar, rania meneguk salivanya ketika jarak wajah mereka yang begitu dekat, detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat setiap kali Kuro memperpendek jarak di antara mereka.


Mungkinkah pria itu akan menciumnya?


Secara spontan, Rania menutup kedua matanya, hingga dahinya mendapat sebuah pukulan yang cukup keras hingga membuatnya meringis kesakitan dan langsung memegangi dahinya dengan tangannya, di detik berikutnya , kedua matanya menatap tajam, lalu bangkit dari posisi duduknya berniat memberi pria itu pelajaran.


Namun, tiba-tiba pria itu malah menarik tubuhnya kedalam pelukan, meski tak bisa melihat wajah Kuro, tapi Rania tahu bahwa pria itu sedang menangis


Meski tak tahu apa alasan pria itu menangis, tapi Rania langsung membalas pelukan pria itu sembari berkata, " tak apa, kami sudah bekerja keras. "


" Maaf, karena sudah melukai mu dan juga terima kasih karena kamu masih mau menerima ku dan juga. .


Kuro tiba-tiba mendorong sedikit tubuh Rania lalu memukul dahi gadis itu sekali lagi dengan pelan " gadis bodoh! Seharusnya kamu jangan pernah mencari ku lagi setelah apa yang ku lakukan pada mu, apa kamu sudah bosan hidup dan menggali kuburan mu sendiri?! "


Bukannya merasa sakit hati, Rania malah tersenyum dan memeluk Kuro kembali, dirinya tahu bahwa dia tak akan pernah membunuhnya.


" Kenapa kamu begitu yakin? "

__ADS_1


" Tentu saja, karena aku adalah sumber tenaga mu. "


Kuro pun Tersenyum kecil sembari menatap wajah Rania


__ADS_2