
" Alvin mungkin terlalu baik dan sabar pada mu, tetapi perlu kamu ingat aku bukan manusia dan aku tidak menerima penolakan apapun termasuk dari manusia rendah seperti mu. " Kata Cesire sambil mencengkram wajah Rania dengan kuat, membuat Rania meringis kesakitan.
" Besok aku ingin melihat kamu memakai gaun pengantin jika tidak maka kamu akan tahu akibatnya. " Pria itu pun pergi begitu saja meninggalkan Rania yang tengah ketakutan setengah mati.
Rasanya ia tak bisa merasakan apapun kecuali keringat deras yang membasahi seluruh tubuhnya.
Kejam! Pria ini sungguh kejam dan berbahaya.
Di saat seperti ini Rania malah terpikir jika Kuro datang dan menyelamatkannya seperti yang dia lakukan sebelumnya, bolehkah ia berharap? Meski pria itu telah melukainya dengan begitu fatal, tapi Rania masih mengharapkan keberadaannya.
Esok paginya. . .
Seluruh pelayan istana pun di sibukkan oleh acara persiapan pernikahan raja mereka, ada yang sibuk menata makanan ada juga yang sibuk menyempurnakan dekorasi pernikahan.
__ADS_1
Tak hanya para pelayan istana saja yang sibuk menyiapkan acara pernikahan itu bahkan para rakyat pun ikut adil dalam acara itu karena untuk pertama kalinya gerbang istana di buka secara lebar-lebar dan memperbolehkan siapapun datang menghadiri acara pernikahan, meski sebagian Vampir tidak mengerti mengapa pernikahan itu dan menentang pernikahan itu di kala perang tengah berlangsung.
Kendati begitu, Cesire tidak memperdulikannya dan memilih fokus pada pernikahannya, " bagaimana dengan penampilan ku? " Tanyanya pada Nala.
Wanita itu terdiam memperhatikan penampilan pria di depannya dengan seksama dengan memangku dagunya sambil berpikir dengan begitu serius, lalu di detik berikutnya ia mengacungkan jempol dan berkata bahwa ini adalah pengantin pria paling tampan yang ada di seluruh alam semesta.
Cesire pun tertawa puas sambil melihat pantulan dirinya yang begitu luar biasa.
Sambil menghela nafas, Rania sesekali mencubit pipinya untuk memastikan bahwa semua ini bukanlah mimpi belaka. Akan tetapi entah berapa kali dirinya mencubit kedua pipinya dengan kekuatan berbeda tapi rasanya tetap sama yaitu sakit yabg artinya apa yang tengah ia jalani sekarang bukanlah mimpi melainkan kenyataan.
" Yang Mulia, acara akan segera di mulai mari saya antar. "
Tubuh Rania tersentak kaget tak menyadari keberadaan wanita itu. Ia kemudian tertegun sejenak, karena kejadian kemarin membuatnya setiap kali melihat wanita dengan pakaian pelayan itu selalu mengingatkannya pada kejadian yang menimpa pelayan wanita waktu itu.
__ADS_1
" Ada apa Yang Mulia? Apa ada yang salah dengan wajah saya? "
Pertanyaan pelayan itu membuat Rania tersadar dari lamunannya lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata bahwa dirinya hanya sedang merasa gugup hingga membuatnya berpikir untuk kabur saja dan tak akan pernah kembali lagi.
Sang pelayan terdiam tak menanggapi guyonan Rania itu membuat Rania pun merasa sangat canggung, padahal dirinya hanya sekedar bercanda sekaligus mengetes apakah ada yang berniat untuk membantunya, tapi sepertinya dirinya terlalu berharap lebih lagi pula siapa yang berani menantang pria yang kejam dan bengis itu. Tampaknya dirinya hanya bisa berharap pada nasib yang mungkin bisa berubah sewaktu-waktu.
Di dampingi oleh dokter Alvin, Rania berjalan menuju altar dimana Cesire menunggunya, sesekali ia mencengkram tangan Dokter Alvin dengan keras memintanya untuk menghentikan pernikahan bodoh ini.
Namun, Dokter Alvin bersikap seolah-olah dirinya tak merasakan sakit apapun, raut wajahnya terlihat tenang dengan tatapan lurus ke depan.
" Dasar pria tua S*****n! Aku berharap kamu tuli selamanya. " Gumamnya mengumpat pria di sampingnya.
Setibanya di Altar, saat Dokter Alvin menyerahkan tangan Rania pada Cesire, tiba-tiba sebuah api menyambar tangan Cesire dan membuat pria itu terbakar.
__ADS_1