Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
36


__ADS_3

Pada malam yang begitu dingin nan sunyi, Hedrian berjalan menyelinap keluar rumah, sebisa mungkin ia berjalan pelan agar tidak membangunkan Rania atau pun Kuro yang tengah tertidur pulas.


Sebelumnya. . .


Meski sudah di tolak puluhan kali, Rania tetap bersikeras untuk ikut, dia tak ingin para anjing-anjing itu di siksa, membayangkannya saja sudah membuat hatinya merasa sakit. Bagaimana bisa ada makhluk yang begitu mengerikan seperti Argolo.


Hedrian menghela nafas, dirinya menyesal karena sudah mengatakan yang tidak seharusnya, kepalanya menoleh menatap Kuro, meminta bantuannya untuk membujuk Rania.


Namun, kucing itu hanya mengangkat kedua bahunya secara bersamaan lalu kembali menjilati tubuhnya.


Pada akhirnya, mau tak mau Hedrian pun mengiyakan permintaan Rania itu, tapi dengan syarat, dia harus selamat.


Tanpa ragu Rania menganggukkan kepalanya, dan berjanji bahwa Kuro akan menjaganya dengan baik, jadi Hedrian tak perlu khawatir tentangnya.


" Sejak kapan aku mengatakan akan bergabung dengan kalian? " Sahut Kuro setelah namanya di sebut.


Rania pun hanya tersenyum tanpa memperdulikan tatapan Kuro.


Flashback off.


Meski Hedrian sudah mengiyakan tapi, ia memilih tetap pergi seorang diri, di bawah sinarnya rembulan ia berlari dengan cepat bagaikan angin, menuju ke tempat di mana Argolo berada.

__ADS_1


Dalam waktu tiga puluh menit, Hedrian sampai di depan sebuah gedung apartemen terbengkalai yang berada di dalam hutan yang jauh dari pusat kota dan keramaian.


Perlahan, Hedrian membawa kedua kakinya berjalan masuk ke dalam gedung tersebut menuju lantai tiga, dimana sisa pengikutnya dan Argolo menunggu di sana.


Setibanya di sana, terlihat Argolo tengah terduduk di sebuah kursi sofa singel sembari memegang segelas yang Hedrian tebak, itu pasti darah yang di ambilnya dari keponakannya yang sudah meninggal beberapa waktu lalu, Argus.


Menyadari akan kehadiran Hedrian, Argolo menoleh dengan elegan, senyumnya terpatri di wajah pucatnya, menatap Hedrian dari kejauhan. " Ku pikir kamu akan datang sendirian? " katanya dengan santai sambil menyesap kembali darah di tangannya.


Hedrian mengerutkan dahinya, tak mengerti apa yang di katakan oleh Argolo, hingga Rania muncul begitu saja dan berdiri di sampingnya. Seketika kedua bola mata Hedrian terbeliak. ' Se. . .jak kapan? '


Argolo kembali tersenyum, " tampaknya hidung mu sudah rusak hanya dalam hitungan hari saja, entah kamu memang tidak mencium aromanya atau kau memang sengaja membawa mereka, dengan bersikap bodoh seperti ini.


Dahi Hedrian kembali mengernyit begitu mendengar kata mereka, bukankah hanya Rania saja yang datang? Namun jawaban atas kebingungannya terjawab ketika Kuro muncul tak lama setelah Rania muncul.


" Sejak kau berdiri menatap kami dengan tatapan bodoh mu itu, " timpal Kuro dengan nada sedikit kesal, " rasanya aku ingin muntah setiap kali mengingat wajah jelek mu itu. "


" Lalu kenapa kamu masih datang untuk membantu ku? "


" Huh?! Membantu mu?! Jangan salah paham anjing bodoh, aku ke sini karena dia yang minta, " menunjuk pada Rania yang sedang tersenyum tanpa merasa bersalah sedikit pun.


" Hey ayolah, jika aku mati bukankah kamu juga akan mati? lagi pula Hedrian sudah menjadi keluarga kita sekaligus dia adalah pencetak uang. "

__ADS_1


Hedrian menoleh dengan ekspresi terkejut, sejak kapan dirinya menjadi mesin pencetak uang, padahal selama ini dirinya hanya makan dan tidur.


Tanpa sepengetahuan Hedrian, Laura sudah menjualnya kepada Mia, karena di keluarga gadis itu di larang mengadopsi hewan peliharaan, maka mau tak mau, Mia pun memutuskan untuk menitipkannya di rumah Rania dengan gajih yang cukup fantastis hanya untuk menjaga seekor anjing.


" Saya merasa sangat tersanjung atas kunjungan mu yang mulia pangeran Albert, " ucap Argolo sambil memberi hormat pada Kuro/Pangeran Albert.


Kuro menoleh, menatap pria itu dengan tatapan meremehkan "jangan salah paham, aku di sini bukan untuk mengunjungimu melainkan ingin memenggal kepala mu, " katanya dengan nada santai, seakan-akan kata mati itu hanyalah ungkapan biasa saja.


Argolo tersenyum, " Sungguh saya merasa terhormat, tapi saya ingin meminta maaf sebelumnya, memangnya apa mampu melawan saya? " Jawabnya dengan nada meremehkan.


Kuro pun terkekeh geli namun di detik berikutnya raut wajahnya berubah, ia kemudian mengeluarkan pedang dari telapak tangannya lalu menyerang Argolo dengan kekuatannya.


Hedrian yang melihat pertarungan itu hanya terdiam memperhatikan cara mereka yang bertarung dengan cara mereka masing-masing, namun kedua mata Hedrian tak bisa lepas dari Kuro yang ternyata mampu menyaingi Argolo meski kondisinya belum sembuh.,Tapi kenapa rasanya ada yang berbeda dengan saat melawan dirinya waktu itu, kali ini Hedrian merasa bahwa Kuro terlihat kuat dari sebelumnya.


" Hei cepat bantu aku , kenapa kamu bengong?! " Ujar Rania dengan sedikit berteriak.


Suara Rania menyadarkan Hedrian dari lamunannya, kepalanya menoleh menatap Rania yang sedang berusaha membuka kandang anjing satu persatu.


Hedrian pun terdiam sejenak, lalu membantu Rania mengeluarkan anjing yang telah di kurung oleh Hedrian, membiarkan mereka pergi dengan bebas.


Setelah selesai membebaskan anjing-anjing itu, Rania pun berteriak. " Kuro! Kami sudah selesai. "

__ADS_1


Mendengar teriakan Rania, tanpa membuang waktu lagi, Kuro berhenti menyerang lalu melemparkan bom asap ke wajah Argolo kemudian kabur begitu saja mengikuti Rania dan Hedrian yang sudah berlari lebih dulu.


__ADS_2