
" Ada apa dengan wajah mu? " Tanya Laura yang melihat raut wajah Rania yang begitu berantakan dengan dua kantung mata yang berlapis-lapis membuatnya tampak seperti seorang Zombie.
Rania mendongakkan kepalanya, menatap Laura dengan tatapan yang begitu lelah karena semalam ia tak bisa tidur hingga pagi, setelah Kuro masuk ke alam bawah sadarnya, dia dan Hedrian memutuskan untuk tidur satu ranjang dengannya.
Awalnya ia tak keberatan sama sekali dan malah menyuruh mereka untuk tidur lebih dekat dengannya, tapi di detik berikutnya ia menyesal dengan keputusannya saat tahu bahwa mereka berdua memutuskan tidur dengan menggunakan wujud manusia mereka. Seketika otaknya menjadi blank, tak bisa berkata-kata lagi saat mereka menariknya dan memeluknya layaknya bantal guling. Jika tahu akhirnya akan seperti ini, Rania tidak akan membiarkan mereka tidur di ranjangnya, pada akhirnya ia tak bisa memejamkan kedua matanya sama sekali hingga menjelang pagi.
Kuro yang melihat penampilan Rania yang begitu berantakan tak seperti biasanya, sedikit merasa menyesal kemudian memintanya untuk mengambil cuti. Akan tetapi, Rania dengan tegas menolaknya karena dirinya sudah banyak mengambil cuti akhir-akhir ini, apalagi tahun ini adalah tahun terakhirnya di bangku SMA, jadi ia tak ingin menyia-nyiakan waktu lagi. Di tambah, dirinya pasti tidak akan bisa tidur sama sekali ketika mereka berdua masih mempertahankan wujud manusia mereka.
Entah apa yang sedang mereka rencanakan, tapi hanya satu hal yang Rania yakini, yaitu mereka sedang memberinya hukuman sekaligus peringatan.
Mendengar bahwa mereka tidur di satu ranjang yang sama, Laura terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja di ceritakan oleh Rania, hingga di detik berikutnya ia spontan berteriak dengan cukup lantang hingga membuat seisi kelas memperhatikan mereka. " Apa?! Jadi semalam kalian bertiga. . .
__ADS_1
" Bukan seperti itu, " sela Rania, seakan tahu kemana arah ucapan Laura yang bisa membuat siapapun salah paham mendengarnya, " kami sungguh hanya sekedar memejamkan mata, tidak melakukan seperti yang kamu bayangkan, " sambungnya.
" Memangnya kamu tahu, apa yang sedang aku bayangkan sekarang? " Tanya Laura
" Berhenti mengatakan sesuatu yang membuatku berpikir yang tidak-tidak, " balas Rania yang mulai merasa tak nyaman dengan pembicaraan mereka yang mulai menyimpang dari jalannya.
Brak! Laura tiba-tiba memukul meja, kepalanya menunduk menatap kedua mata Rania yang terduduk di depannya, mencoba melihat ingatan di dalam kepalanya, tapi sayangnya usahanya gagal ketika sekelompok gadis remaja beranggotakan tiga orang yang berasal dari kelas sebelah, berjalan masuk ke dalam kelas dengan wajah sombong terpatri di wajah mereka.
Ingin rasanya Laura memukul mereka bertiga, tapi ia urungkan karena Rania meminta untuk tidak melukai mereka.
Salah satu dari mereka yang merupakan pemimpin kelompok itu yang bernama Aria, berjalan menghampiri dan mulai menggertak Rania dengan mengatainya, bawang, anak sial dan sebagainya, mereka juga menghina Rania karena beranggapan Mia telah membuangnya.
__ADS_1
Aria juga mengungkapkan bahwa selama ini dia sangat tidak menyukai Rania yang menurutnya dia terlalu tebar pesona dengan wajah yang terbilang biasa saja tapi mampu menarik perhatian pria tampan di sekolahnya, dari si murid pindahan Albert, Riko, bahkan guru paling tampan di sekolah mereka, Mikael, yang terlihat begitu memperhatikan dan memperlakukan Rania begitu berbeda dengan siswi lainnya.
Sedangkan Aria yang menurutnya memiliki wajah spek bidadari, tak ada satu pun dari mereka bertiga yang menatap maupun meliriknya sedikit pun, padahal dirinya sudah susah payah terlihat lebih cantik dari siswi lain.
Jika saja bukan karena keberadaan Mia yang mengganggu, Aria pasti sudah melakukan ini sejak lama. Sayangnya ia terlalu segan dengan keluarga Mia yang terlalu kaya itu, meski dirinya juga kaya, tapi sayangnya keluarganya tidak sekaya itu.
Karena sekarang Mia sudah pergi dan mungkin tak akan kembali untuk waktu dekat ini. maka Aria berpikir bahwa dirinya bebas melakukan apapun pada Rania.
Di detik berikutnya, kedua sudut bibir Aria terangkat ke atas, ia pun mendekatkan bibirnya ke telinga Rania, kemudian membisikkan sesuatu pada Rania untuk menemuinya di atap sekolah, setelah itu ia pun pergi meninggalkan kelas.
Laura kembali mengernyitkan dahinya, menatap ke tiga punggung gadis itu, " ada apa dengan mereka? Apa mereka seorang bayi?! " melirik pada Rania, " dan kamu, kenapa hanya diam saja? Apa kamu akan membiarkan mereka begitu saja? Meski aku masih tidak menyukaimu, jika kamu mau aku bisa membereskannya untuk mu. "
__ADS_1
Rania langsung menggelengkan kepalanya, menolak bantuan Laura, sejujurnya dia sudah tahu bahwa Aria tidak menyukainya, seperti yang dikatakan sebelumnya, selama ini Mia adalah pelindungnya dari anak-anak yang tidak menyukai dirinya, tapi sekarang karena Mia pergi entah sampai kapan, mereka mulai menunjukkan sikap asli mereka.