Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
81


__ADS_3

Sementara itu, Rania yang tengah mengerjakan tugas bersama kedua temannya merasa ada yang memperhatikannya sejak tadi, saat menolehkan kepalanya, ia tak menemukan siapapun, tanpa sadar menggigit bibir bawahnya.


Kedua temannya, Ersa dan Nadin pun menyadari gelagat aneh dari Rania, kemudian bertanya, " ada apa Ra? " Tanya Ersa.


" Kalian ngerasa nggak sih ada yang ngikutin kita dari tadi? " jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari balik jendela.


Ersa dan Nadin pun saling bertukar pandang, keduanya kemudian dengan kompak menggelengkan kepalanya secara bersamaan, lalu berkata " mungkin itu hanyalah perasaan lo kali. "


Rania terdiam sejenak kemudian berbalik menatap kedua wajah temannya sembari menghela nafas, karena tak ingin membuat kedua temannya cemas, Rania pun memilih untuk tidak mengungkitnya dan memilih melanjutkan kegiatan tugas belajar mereka.


Setelah selesai mengerjakan tugas, Rania pun pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan yang dilakukannya rutin setiap hari. Menurut Dokter Alvin, dirinya mengalami kecelakaan hingga menyebabkan hilangnya semua ingatan miliknya, pria itu juga menyuruhnya untuk melakukan pemeriksaan setiap hari untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.


Setibanya di sana, Dokter Alvin tengah menunggu kedatangannya dan langsung membawanya ke sebuah lab yang berada di lantai bawah rumah sakit.

__ADS_1


Seperti biasa, di tengah pemeriksaannya, Rania selalu bercerita tentang apa yang di alaminya dari mimpi anehnya yang memiliki dua ekor peliharaan hingga perasaannya yang merasa tengah di buntuti oleh seseorang, tapi entah kenapa dirinya tidak merasa takut sama sekali melainkan sebaliknya.


Secara tidak sadar, aktivitas dokter Alvin terhenti sejenak, kedua matanya menatap ke arah Rania kemudian ia menyarankannya untuk meminta seorang bodyguard demi keselamatan.


" Tapi bagaimana jika itu hanya perasaan ku saja? Aku merasa tak enak jika terus merepotkan kak Mia. "


Dokter Alvin tersenyum tipis, " jangan khawatir, aku yakin dia tidak akan berpikir seperti yang kamu pikirkan. "


Setelah pemeriksaan selesai, Rania pun pamit pulang dan seketika senyum di wajah Dokter Alvin berubah menjadi datar, ia pun berjalan lalu menaiki lift menuju lantai teratas di rumah sakit, beberapa menit kemudian, ia pun sampai di sebuah pintu.


Tok! Tok! Tok!


" Masuk. " Terdengar suara wanita dari balik pintu tersebut, tanpa membuang waktu, dokter Alvin pun masuk ke dalam, di sana Mia tengah terduduk di dekat jendela dengan kaca mata yang bertengger di pangkal hidungnya dan sebuah buku bergenre fantasi di salah satu tangannya, kedua matanya begitu fokus membaca isi buku tersebut , bahkan ketika Dokter Alvin masuk ke dalam ruangannya pun dia tak mengalihkan sedikitpun perhatiannya dari buku tersebut, seakan-akan isi buku itu sangat menyenangkan dan sayang untuk di lewatkan walaupun hanya satu detik saja.

__ADS_1


Dokter Alvin yang sudah terbiasa melihat pemandangan tersebut, hanya menunggu membiarkan wanita itu selesai membaca isi buku tersebut.


Setelah lima belas menit kemudian, Mia pun menutup buku di tangannya, menandakan bahwa dirinya sudah selesai membaca. " Bagaimana? Apa ada perkembangan? Dan kapan kita bisa mengekstrak darah Rania menjadi obat? " Tanyanya.


" Tampaknya, Kuro sudah menemukan Rania, apa yang akan ketua lakukan? Mengadu domba mereka lebih dalam lagi? "


Kepala Mia mendongkak, menatap dokter Alvin sambil melepas kaca mata yang melekat di wajahnya. Raut wajahnya terlihat tidak suka dengan jawaban Dokter Alvin tapi di detik berikutnya ia menghela nafas, dirinya tak menduga bahwa Kuro akan menemukan Rania secepat itu, " mau bagaimana lagi, kamu harus segera menjadikan darah Rania menjadi pil keabadian, sebelum pemiliknya datang dan mengambil benda itu. "


" Tapi, jika kita terlalu memaksa dengan mempercepat temponya, aku khawatir dengan kondisi Rania yang mungkin bisa saja mengancam nyawanya. " Ungkap Dokter Alvin.


" Aku tak peduli, lagi pula tanpa benda itu dia sudah mati dua tahun yang lalu. Pokoknya sekarang, aku ingin sebelum para investor itu datang, pil keabadian itu sudah ada. " Kata Mia dengan enteng " Dan aku tidak ingin menerima kata K.E.G.A.G.A.L.A.N untuk K.E.S.E.K.I.A.N K.A.L.I.N.Y.A. PAHAM. " sambungnya dengan penuh penekanan, ia pun bangkit dari posisi lalu mengenakan mantel panjang yang berada di belakang kursi miliknya.


Mia berjalan dengan anggun meninggalkan Dokter Alvin seorang diri, sebelum benar-benar pergi, Mia mengatakan pada Dokter Alvin untuk tidak ambil pusing tentang masalah Rania karena dirinya yang akan mengurus Kuro, jadi dia hanya perlu fokus mengekstrak darah Rania menjadi pil keabadian.

__ADS_1


__ADS_2