
Rania berdiri menatap Kuro sambil berkacak pinggang, ia tak habis pikir dengan apa yang Kuro lakukan, untung saja cakarnya itu tidak melukai wajah Luois, jika tidak mungkin teman kelasnya akan panik dan berakhir menyalahkan dirinya dan pertunjukan pasti akan berakhir gagal total.
Sementara itu, Kuro ikut tak terima di marahi oleh Rania mengernyitkan dahinya lalu mengubah wujudnya menjadi manusia lalu menyudutkan Rania di tembok dan berkata bahwa Louis bukanlah pria yang baik dan dirinya berusaha untuk melindunginya. Ia merasa wajah Louis terlihat sangat mencurigakan dia terlihat menyembunyikan niat tersembunyi.
Kepala Rania menunduk, tatapannya mendingin lalu mendengus, melindungi katanya? Melindunginya dari apa? Satu-satunya makhluk yang paling berbahaya adalah Kuro itu sendiri, bukankah ini adalah hari dia akan mengambil barangnya kembali yang ada di dalam tubuhnya?
Tubuh Kuro tertegun sejenak. " Apa maksudmu? "
" Kamu pikir selamanya aku tak akan tahu? Selama ini aku terlalu bodoh dan dengan mudahnya kamu manfaatkan dengan mudahnya, bahkan aku menyesal pernah memiliki rasa lebih padamu. "
" Bagaimana kamu tahu? "
" Kamu tak perlu tahu bagaimana aku bisa tahu tapi yang pasti karena benda ini telah berada di tubuhku maka seharusnya ini adalah menjadi milik ku dan aku tak akan pernah mengembalikannya pada mu. " Kata Rania dengan tegas
__ADS_1
Tiba-tiba kedua bola mata Kuro melotot merah, raut wajahnya terlihat terlihat sangat marah lalu memukul tembok tepat di samping wajah Rania hingga berlubang.
Seketika tubuh Rania mematung, ia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kuro, apa dia begitu sangat menginginkan makhluk di dalam tubuhnya dari pada dirinya? Padahal ia berharap pria itu akan membiarkannya tinggal di tubuhnya meskipun rasanya begitu menyakitkan.
" Sejak kapan dia menjadi milik mu? Sejak awal kamu yang mencurinya aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku dan kamu mengklaim bahwa dia milik mu? Betapa tak tahu malunya dirimu. "
Plak!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Kuro hingga meninggalkan jejak kemerahan. Rania tak percaya dengan apa yang Kuro katakan padanya, apa dia baru saja mengatainya pencuri? Bukankah itu terlalu jahat? Dengan perasaan sedih, Rania pergi meninggalkan Kuro di ruangan itu.
" Rania, dari mana saja kamu kami semu. . . a Kamu kenapa?! " Louis secara spontan menarik Rania ke dalam pelukannya dan berkata semuanya akan baik-baik saja meski ia tak tahu apa yang membuat gadis itu menangis.
Setelah cukup lama menangis Rania pun mulai tenang, Louis pun meminta teman-temannya untuk memperbaiki riasan Rania karena sebentar lagi pentas akan segera di mulai dan memberikan Rania sebuah minuman kotak.
Tanpa berpikir panjang, Rania langsung meneguk minuman itu hingga habis tanpa tahu minuman itu, tapi tak lama kemudian Rania merasa ada yang aneh dengan tubuhnya setelah meminum minuman itu, kepalanya menoleh menatap Luois dan bertanya minuman apa yang dia berikan padanya.
__ADS_1
Louis tersenyum simpul dan berkata bahwa itu hanya jus tomat.
Rania mengernyitkan dahinya, entah kenapa ia merasa ada yang aneh jus tomat ini rasanya seperti darah. " Apa ini sungguh hanya jus tomat? Kenapa rasanya aneh? Dan baunya kenapa mirip. . . "
" Benarkah? Mungkin itu hanya perasaan mu, bukankah bau jus tomat semuanya sama? Aku rasa kamu banyak berpikir. " Kata Louis sambil menepuk pelan bahu Rania dan berkata padanya untuk bersiap-siap.
Rania terdiam sejenak menatap Louis lalu menatap bekas minuman kotak di depannya, mungkin pria itu benar dirinya terlalu banyak berpikir karena perkataan Kuro.
" Rania! Cepat! Acara akan segera di mulai. " Teriak salah satu teman Rania.
Dengan cepat, Rania pun beranjak bangun lalu menyimpan bekas minuman itu di atas kursi
Sementara itu di tempat tinggi, Nala menyunggingkan bibirnya sebentar lagi bulan purnama akan terlihat sempurna, akhirnya waktu yang mereka tunggu akhirnya tiba, ia penasaran kali ini siapa yang lebih cepat mereka atau pangeran Albert?
__ADS_1