
Setelah selesai bercerita, Dokter Alvin langsung mengakhiri pertemuan mereka dengan alasan bahwa dirinya harus ke rumah sakit untuk melakukan operasi. Pria itu bahkan menawari Rania tumpangan yang kemudian di terima baik oleh Rania.
Selama perjalanan, mereka tak banyak bicara karena ponsel Dokter itu terus berdering tanpa henti, Rania bisa melihat bahwa semua panggilan itu berasal dari rumah sakit yang tampaknya sangat penting. Tapi pria itu tidak mengangkat satu pun panggilan tersebut, seakan tahu alasan mereka memanggilnya.
Melihat Dokter Alvin yang begitu sibuk, membuat Rania merasa menyesal karena menerima tawarannya itu.
Dokter Alvin yang menyadari perubahan sikap Rania, mengatakan bahwa dirinya sudah biasa dengan semua panggilan itu, dia juga meminta Rania untuk tidak menyalahkan dirinya karena ini adalah keinginannya, setidaknya dia bisa bernafas sejenak untuk menghirup udara segar dari aroma obat rumah sakit dan laboratorium.
" Jika kamu ingin mengetahui kisah gadis itu, kamu bisa menghubungi kapan pun kamu mau, maka aku mengatur jadwal khusus untuk mu, " katanya sebelum meninggalkan Rania.
Kedua mata Rania menatap laju kendaraan itu hingga menjauh dan menghilang.
Setelah selesai melakukan beberapa pengiriman, Rania memutuskan untuk beristirahat sejenak di toko, ia terduduk di salah satu kursi sambil memakan jatah makan malamnya sembari memikirkan cerita Dokter Alvin yang belum sempat terselesaikan karena sebuah panggilan dari pihak rumah sakit yang menyuruhnya untuk kembali.
Namun, karena hal itu, Rania menjadi tak bisa melupakan cerita itu dan penasaran dengan sosok gadis itu, meski entah mengapa Rania merasa bahwa gadis yang ada dalam cerita dokter Alvin itu adalah dirinya sendiri. Tapi, ia juga merasa bahwa gadis itu bukan dirinya karena mendiang Ayahnya bukanlah seorang dokter atau pun ilmuan, melainkan seorang arsitek.
Sebenarnya apa yang ingin di sampaikan oleh Dokter Alvin padanya?
__ADS_1
Tapi jika dugaannya mengenai gadis itu adalah dirinya, setidaknya itu menjelaskan bagaimana lukanya bisa sembuh hanya dalam dalam hitungan hari saja, lalu siapakah dirinya sekarang? Apa dirinya masih seorang manusia atau apa? Dan benda bersinar apa yang dia bicarakan? Dirinya tidak masuk ke dalam isekai ( Dunia animasi) kan?
" Kamu lagi mikirin apa Ra? Pacar yah? " Tanya Ryola sambil menepuk bahu Rania dengan cukup keras.
Rania pun tersentak kaget, tanpa ia sadari dirinya sudah melamun sejak tadi bahkan nasi yang tadinya panas sudah berubah menjadi dingin dan es dalam minuman soda nya sudah menyatu dengan soda.
" Nggak kok kak, aku mana punya pacar, " jawab Rania santai sambil mengemas makanannya kembali untuk di bawa pulang, lalu beranjak pergi untuk melanjutkan kembali aktivitasnya karena waktu istirahatnya sudah habis.
Namun, Ryola menahan tangan Rania dan meminta gadis itu untuk menghabiskan makanan sekarang juga.
Rania menggigit bibir bawahnya, ia merasa tak enak dengan pekerja lain yang menatapnya dengan tatapan iri, " aku udah kenyang kak. "
Kedua matanya menatap Rania sambil menghela nafas, ia pun menghampiri gadis itu dan memaksa gadis itu untuk kembali duduk dan memintanya untuk menghabiskan jatah makan malamnya.
" Tapi kak, waktu istirahat aku. . .
" Kakak bilang, habiskan sekarang juga atau gajih kamu kakak potong. "
__ADS_1
Mendengar gajihnya akan di potong, Rania pun menjadi panik dan langsung menuruti ucapan bosnya, ia pun memakan makanannya dengan lahap.
Dalam hitungan lima menit, Rania berhasil menghabiskan jatah makan malamnya itu, ia pun langsung bergegas untuk melanjutkan kembali jam kerjanya.
Akan tetapi, tangannya kembali di tahan oleh bosnya itu.
" Ada apa lagi kak? " Tanya Rania dengan cemas.
" Duduk. " Jawab Ryola dengan nada tegas.
Rania yang semakin ketakutan pun langsung menurut sambil menundukkan kepalanya sambil menatap kedua kakinya, ia yakin tak lama setelah ini bosnya ini akan memarahinya, tetapi. . . .
" Liburan semester nanti, kamu pergilah berlibur ke rumah nenek mu, bukankah kamu sudah merindukannya. "
Kepala Rania langsung mendongkak dengan tatapan terkejutnya, meski dirinya memang berniat pergi untuk mengunjungi kakek dan neneknya sekaligus menanyakan masa kecilnya yang selama ini tumpang tindih. Meski sebelumnya dirinya tak peduli dengan masa kecilnya, tapi setelah mendengar cerita dari Dokter Alvin membuatnya penasaran dengan jati dirinya dan juga masa lalunya.
Tapi siapa sangka bosnya ini sangat perhatian dan memberinya jatah libur yang sebelumnya ia sudah menyusun berbagai alasan agar wanita itu memberinya izin karena padahal biasanya dia sangat galak dan juga tegas.
__ADS_1
" Anggap saja, kamu sedang dalam masa pemulihan, jangan memaksakan diri, " katanya lalu pergi meninggalkan Rania