
" Kakak! " Terdengar suara anak kecil dari kejauhan, Kuro mengernyitkan dahinya, dirinya merasa sangat akrab dengan suara itu. Dan benar saja, saat kepalanya menoleh kebelakang, ia mendapati Robert yang masih kecil berlari melewati dirinya begitu saja, seakan-akan keberadaannya tidak ada di sana.
Robert berlari kecil ke arah pada seorang pria kecil yang tengah membaca buku di bawah pohon, dan sosok pria kecil itu adalah sosok Kuro yang masih kecil.
Sejak dulu, dirinya memang suka membaca di bawah pohon sampai lupa waktu.
" Albert. " Tak lama kemudian, terdengar suara wanita dari kejauhan membuat seluruh tubuh Kuro membeku, perlahan ia menolehkan kepalanya dan mendapati sosok wanita cantik berambut panjang hitam dan mulus, suaranya begitu lembut dan menenangkan hati, dan wanita itu adalah sosok ibunya yang telah lama meninggal.
" Mama? " Gumamnya pelan, sambil berusaha meraih tangan sang ibu, tapi dirinya tak bisa karena sosoknya yang kini transparan.
" Mama aku lapar, " Kata Kuro kecil saat ibunya sampai di depan matanya.
Wanita yang di panggil Mama oleh Kuro kecil pun terkekeh geli, jari telunjuknya mencolek pangkal hidung putranya yang tampak menggemaskan.
" Mama, aku juga lapar, " timpal Robert sambil memegangi perutnya yang berbunyi sejak tadi.
Kuro hanya terdiam menatap aktivitas ketiganya dalam diam, layaknya sebuah film, semua kenangan indah bersama berputar dengan sendirinya hingga tiba-tiba kenangan itu di penuhi oleh darah dan mayat yang berserakan di mana-mana.
Tangisan dan jeritan terdengar dimana-mana, jantung Kuro berpacu dengan sangat cepat, dadanya terasa sesak dan kepalanya terasa sangat sakit melihat pemandangan mengerikan saat Cesire melakukan pemberontakan.
__ADS_1
Kedua bulu matanya bergetar. " Tidak! Bukan ini yang ingin aku lihat! Bukan ini! Hentikan! Hentikan sekarang juga! "Teriak Kuro berulang kali.
Tak lama kemudian terdengar suara tawa seorang perempuan memenuhi isi kepalanya, Kuro pun mengangkat kepalanya pelan, mencoba mencari keberadaan Nala.
" Kenapa? Bukankah anda ini seorang penakluk? Mengapa anda begitu dramatis? Pemandangan seperti ini sangatlah wajar bukan? "
" Tutup mulut mu! Keluar dan hadapi aku sekarang dasar wanita J***ng S****n! " Teriak Kuro dengan suara lantang, namun Nala masih tidak menunjukan dirinya dan malah menyerang Kuro secara diam-diam.
Kuro meringis kesakitan, setiap kali Nala melukai dirinya di tambah dirinya tak bisa melawan wanita itu karena keberadaannya yang begitu transparan, jika seperti ini dirinya akan mati konyol di tempat ini dan membiarkan Rania ikut mati bersamanya.
Rania? Entah mengapa nama itu keluar dari mulutnya begitu saja, rasanya sangat asing tapi juga terasa sangat dekat seperti dirinya sudah lama mengenal nama itu, tapi kenapa ia tak ingat bagaimana rupanya?
" Kuro! "
" Kuro! " Suara itu kembali terdengar dengan begitu jelas, lambat laun siluet wajah gadis itu perlahan terlihat dengan jelas, kenangan hidup bersama gadis itu berputar di dalam kepalanya.
Di detik berikutnya, ingatan Kuro pun kembali pulih, ia pun mengayunkan pedangnya ke depan, seketika ruangan ilusi itu menjadi hancur.
Kedua bola mata Nala terbeliak, ketika Kuro bebas dari ilusinya, kedua tangannya mengepal dengan erat, matanya melotot menatap Rania yang berdiri di samping Kuro.
__ADS_1
Jika saja gadis itu tidak datang, mungkin ia sudah menghabisi Pangeran Albert dan membuat Cesire bangga padanya.
" Kuro, apa kamu tidak apa-apa? " Tanya Rania cemas.
Pletak! Sebuah sentilan mendarat di dahi Rania, hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
" Gadis bodoh! Kenapa kamu kembali? "
" Tentu saja karena aku mencemaskan mu. "
" Seharunya yang kamu cemaskan itu adalah diri kamu sendiri bukan aku. "
" Tapi kan. .
" Kalian berdua stop!!! Hello! Apa kalian lupa? Kita ini sedang berkelahi, bisakah kalian mengesampingkan masalah kalian berdua, setidaknya kalahkan aku terlebih dahulu, baru kalian bisa beradu argumen sepuas kalian, tapi tunggu dulu, kalian kan tidak bisa mengalahkan ku, kalau begitu kalian bisa melanjutkannya di alam baka. " Nala pun kembali mencoba meniup peluit tapi di gagalkan oleh Kuro yang memotong tangan yang satunya lagi.
Nala meraung kesakitan, raut wajahnya di penuhi oleh api kemarahan, kini ia tak bisa lagi meminta bantuan pada saudari kembarnya. Tapi di detik berikutnya, wajahnya menyeringai
Dahi Kuro mengernyit heran menatap ekspresi Nala, ia pun mengikuti kemana arah pandangnya, seketika kedua bola Kuro terbeliak mendapati Mia yang menusuk perut Rania. Ia lupa bahwa Mia sebenarnya belum lepas dari hipnotis Nala.
__ADS_1
" Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Rania, dilain waktu akan ku pastikan membawa mu ke hadapan yang Mulia Cesire " sosok Nala pun seketika menghilang begitu saja.