Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
115


__ADS_3

" Rania!!! " Pekik Frank dari kejauhan, pria itu berlari mengabaikan mayat yang ada di bawah kakinya, keadaannya terlihat mengkhawatirkan dengan pakaian yang sudah di penuhi oleh darah, wajahnya terlihat kelelahan namun semua itu berganti dengan raut wajah terkejut, sedih dan tak terima dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya. Air matanya mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya sambil berusaha keras menghampiri tubuh putrinya.


Setibanya di sana, tangannya mendorong tubuh Kuro dengan tatapan benci, marah dan juga raut penyesalan, menyesal karena membiarkan putrinya hidup dengan jantung pria itu. Meski tahu akhirnya akan seperti ini, tapi dia tak menyangka akan secepat itu. Dengan air mata yang terus mengalir, Frank memeluk tubuhnya erat sambil berkata, " Rania bertahanlah, Ayah akan menyelamatkan mu apapun yang terjadi, jadi tetaplah bersama Ayah jangan pergi. Ayah mohon pada mu, " Tanpa membuang waktu, Frank pun mengangkat tubuh sang anak dan membawanya pergi dengan tergesa-gesa yang kemudian diikuti oleh Dokter Alvin yang baru saja tiba.


Sedangkan Kuro hanya terdiam melihat kepergian Rania, Tangannya tak berani menahan kepergian gadis itu karena merasa bahwa dirinya tak pantas untuk menahannya, jika saja keluarganya tidak dalam bahaya, mungkin ia akan memilih hidup menjadi kucing hitam selamanya.


Meski hatinya merasa sangat sakit melihat kondisi Rania, tetapi Kuro tak punya pilihan karena untuk saat ini keluarganya adalah prioritas utamanya.


Setelah cukup lama terdiam, Kuro pun memutuskan untuk segera kembali ke dunia vampir.


Sementara itu di dunia vampir.


Nafas Robert dan Laura terengah-engah, kedua lutut kaki mereka gemetar, tak sanggup menahan beban tubuh mereka. Jika saja mereka tahu bahwa ada pengkhianat diantara mereka dan membocorkan keberadaan mereka pada Cesire mungkin hal ini tak akan terjadi dan yang paling mengecewakan orang itu tak lain Alvan, paman Laura sendiri


Ingin rasanya, Laura memotong dan mencincang pria itu, bisa-bisanya dia menjual keluarganya sendiri hanya untuk tahta dan harta.

__ADS_1


Sementara itu, Cashe sang pemimpin pasukan, masih berdiri kokoh tanpa terluka sedikit pun. Dia terlihat begitu tenang s terduduk di singgasana tanahnya sambil memainkan kipas di tangannya dengan raut wajah yang terlihat bosan.


' S**l! Apakah perjuangan keras mereka akan berakhir seperti ini? Kenapa kakak masih belum kembali? Apakah dia gagal mengambil inti kekuatannya? ' Batin Robert sambil mengepalkan kedua tangannya, jika kakaknya benar-benar memilih wanita itu maka dirinya tak akan pernah memaafkannya sedikit pun dan berjanji akan terus menghantuinya selama-lamanya.


" Pangeran sampai kapan kita akan bertahan? Dimana putra mahkota sekarang? Kenapa dia masih belum datang? " Tanya Diga salah satu menteri yang masih berpihak pada keluarga raja. Kondisi pria itu tak jauh berbeda dengan Robert ada banyak luka di tubuhnya juga dia sudah mencapai batasnya bahkan untuk menggerakkan tangannya saja sudah begitu kesulitan.


Robert terdiam tak tahu harus menjawab apa, jangankan tahu kapan dia akan datang, bahkan untuk keberadaannya saja dirinya tidak tahu sama sekali jadi ia tak bisa memastikannya. Di situasi seperti ini dirinya merasa sangat tidak berguna sama sekali.


" Aku. . .


Semua orang termasuk Laura, Diga serta Robert spontan melihat keatas, seketika senyum mereka mengembang karena orang yang mereka tunggu akhirnya datang.


" Kakak! Akhirnya kamu datang! " Teriak Robert dengan perasaan senang.


Kuro tersenyum simpul di detik berikutnya tatapannya menjadi dingin lalu mengayunkan pedangnya ke arah tentara musuh, seketika puluhan ribu lawan yang tersisa terbakar hangus menjadi abu hanya dalam sekali serang saja bahkan Cashe pun di buat terhempas olehnya.

__ADS_1


Sorak sorai kemenangan terdengar dari bawah, Kuro pun turun menghampiri sang adik.


Robert pun berlari menghampiri sang kakak.


" Maaf aku terlambat. " Ujar Kuro.


" Memang patut di akui sebagai penakluk kota. " Ujar Cashe, pria itu berdiri di sebuah gundukan tanah dengan kipas di tangannya, " tampaknya anda berhasil mengambil kekuatan anda, sebagai ungkapan selamat atas kembalinya kekuatan anda maka izinkan saya melawan anda, " sambungnya dengan percaya diri.


Kuro mendengus sambil mengeluarkan bilah pedangnya kembali lalu menerjang Cashe.


Salah satu ujung sudut bibir Cashe pun terangkat sebelah, kipas di tangannya berubah menjadi sebuah Tombak panjang, saat pangkal menyentuh tanah tiba-tiba gunungan tanah pun muncul menghantam Kuro.


Namun semua gunungan itu bukanlah apa-apa bagi Kuro, pria itu menghunuskan pedangnya dan menghancurkan semuanya dengan sekali tebasan saja.


Cashe mundur beberapa langkah karena terkena serangan itu. Tangannya memegangi dadanya yang sakit lalu memuntahkan banyak darah dari dalam mulutnya. Kendati begitu dia malah tersenyum lebar merasa sangat senang akhirnya ada seseorang yang memiliki kemampuan yang setara dengannya.

__ADS_1


__ADS_2