
Salah satu alis Laura berkedut, menatap seorang pria berpenampilan lusuh layaknya seorang pengemis, tengah memeriksa kondisi Hedrian, menggunakan metode jaman dahulu yang memeriksa melalui urat nadi tangan.
Kepalanya menoleh, menatap Rania yang tengah berdiri memperhatikan setiap gerak tangan pria pengemis itu seakan-akan dia sudah percaya bahwa pria itu akan menyembuhkan Hedrian.
Tak hanya itu saja yang membuatnya kesal, tunangannya bahkan tidak mengatakan sepatah katapun dan membiarkan pria pengemis itu bertingkah layaknya seorang dokter.
Apa otak mereka sudah rusak?!
Merasa kesabaran setipis tisunya telah habis, Laura pun menarik tangan Rania begitu saja dan membawanya keluar kamar, ia masih tak habis pikir, alih-alih membawa seorang dokter, mengapa dia membawa orang seperti itu apa otaknya masih ada di dalam kepalanya?
Rania pun merengut sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, merasa tak terima dengan ejekan yang di lontarkan Laura padanya, padahal dirinya sudah sudah payah mencari keberadaan pria itu yang sering berpindah tempat, meski sejujurnya dirinya tak punya pilihan lain selain pria itu, karena hanya dia satu-satunya manusia yang bisa membantunya. Jika saja Hedrian adalah manusia biasa, mungkin dirinya akan memanggil dokter sungguhan atau lebih baik membawanya ke rumah sakit, tapi saya sayangnya Hedrian bukanlah manusia biasa, jadi ia takut jika dokter biasa tak akan bisa mengobatinya.
" Jika dokter biasa tidak bisa menyembuhkannya, lalu kenapa kamu malah membawanya? Apa kamu tak ada kenalan atau apapun? Bukankah teman mu memiliki rumah sakit? Setidaknya dia mungkin memiliki kenalan seorang dokter yang bisa menangani sejenis makhluk seperti Hedrian. "
Tanpa pikir panjang, Rania langsung mengibaskan tangan kanannya, baginya itu sangat lah mustahil, selain dirinya tak ingin melibatkan temannya dalam masalah yang aneh ini, sebelumnya saat dia menceritakan Kuro, dirinya malah di anggap gila dan ingin membawanya ke psikolog, jika saat ini dirinya meminta bantuan Mia tentang Hedrian yang seroang manusia serigala, ia yakin, temannya itu pasti akan langsung menjebloskannya ke rumah sakit jiwa.
Laura pun tertegun sejenak, ia sedikit terkejut dengan penuturan Rania, setahunya Mia sangat menjaga sekali teman bodohnya ini, jadi tidak mungkin dia melakukan hal segila itu jika otak gadis ini benar-benar waras!
" Sebenarnya kehidupan apa yang kamu jalani sebelum bertemu dengan tunangan ku? "
__ADS_1
Rania terdiam sejenak sambil mengetuk-ngetuk dagunya beberapa kali, lalu beberapa saat kemudian pun ia mengungkapkan bahwa dirinya itu adalah seorang Wibu yang menyukai karakter dua dimensi, bahkan dirinya pernah bercita-cita akan menikahi salah satu karakter favoritnya.
" Tenyata otak mu sudah gila sejak lama, " gumamnya dengan pelan, di detik berikutnya ia mengangkat kedua tangannya di udara, menandakan bahwa dirinya menyerah tak ingin terlibat lagi dalam masalah ini karena jika tidak? Ia tak yakin bisa mempertahankan kewarasannya jika terlalu lama dengan Rania, biarlah Hedrian mati di tangan gadis ini.
Tangan Rania menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap kepergian Laura yang pergi dengan kendaraannya.
" Apa yang kamu lihat? "
Tubuh Rania terperanjat kaget ketika pria pengemis itu berbicara tepat di samping telinganya, " Tuan, anda mengagetkan saya. "
Pria pengemis itu tersenyum sambil mengucapkan kata maaf.
Sembari menyilangkan kedua tangannya, pria pengemis itu terdiam sejenak, sebelum menjawab mengenai kondisi manusia serigala di dalam, ia terlebih dahulu ingin mengetahui keputusan Rania memanggilnya ke rumah untuk mengobati yang terluka dan bukannya memanggil dokter.
" Kenapa? Apa anda keberatan membantu ku? Bukankah sebelumnya anda juga telah menyelamatkan Kuro? "
" Bukan, hanya saja aku sedikit penasaran, dari banyaknya orang di muka bumi ini kenapa harus aku yang hanya seorang pengemis dan juga semua itu hanyalah kebetulan saja. "
Kedua mata Rania menyipit, menatap pria itu yang sudah menyelamatkan nyawa Kuro untuk kedua kalinya, apa semua itu sungguh sebuah kebetulan? Tapi di detik berikutnya ia mengangkat kedua bahunya secara bersamaan, sejujurnya dirinya hanya mengikuti insting saja. Mungkin karena sebelumnya dia pernah menyelamatkan Kuro jadi ia pun berpikir hal yang sama saat melihat kondisi Hedrian.
__ADS_1
Pletak! Pria pengemis itu menyentil dahi Rania hingga membuat gadis itu meringis kesakitan dan langsung memegangi dahinya yang sakit.
" Kenapa anda memukul saya?! " Teriak Rania tanpa sadar.
" Karena kamu terlalu bodoh, sudahlah kalau begitu aku pamit pulang, " ujarnya sembari berjalan keluar rumah, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti, lalu mundur beberapa langkah saja, " sebenarnya kondisinya tidak buruk, dia hanya kekurangan makanan, kamu bisa memberinya makanan anjing di toko hewan peliharaan, dan juga sebagai bayaran ku kali ini, aku membawa semua isi di dalam kulkas mu, kalau begitu aku pamit. "
Rania hanya terdiam berdiri menatap kepergian pria itu, lalu berjalan menuju kulkas untuk memeriksanya dan benar saja, pria itu telah membawa semuai isi di dalam kulkas dan hanya menyisakan satu cup mie instan saja.
Tak lama kemudian perutnya berbunyi, menandakan bahwa perutnya minta di isi, sambil menghela nafas, Rania pun mengambil mie instan itu untuk di masak sebagai ganjal isi perut.
Setelah selesai mengisi perutnya, ia bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian kerjanya
Seperti biasa, dirinya bekerja sampai larut malam saat hendak pulang, ia tiba-tiba teringat akan perkataan pria itu yang menyuruhnya untuk memberi Hedrian makanan anjing, karena stok makanannya telah habis, ia pun memutuskan untuk singgah ke supermarket untuk membeli keperluan hidup sekaligus membeli makanan Anjing.
Setibanya di rumah, ia langsung bergegas masuk kedalam kamar, amemeriksa apakah pria itu sudah bangun atau belum? Dan ternyata pria itu masih belum bangun, Rania pun merasa cemas, takut jika terjadi apa-apa pada pria itu, haruskah ia meminta bantuan pada temannya untuk mencarikannya dokter spesialis makhluk gaib? Tapi bagaimana jika temannya itu malah menganggapnya gila seperti waktu itu, yang ada dia akan membawanya ke dokter psikolog untuk di periksa kejiwaannya.
" Kamu tak perlu khawatir, dia sudah baik-baik saja hanya saja dia terlalu malu untuk melihat dirimu, " ucap Kuro.
Rania pun seketika menjadi lega, namun untuk memastikan ucapan Kuro benar seratus persen, ia pun berjalan menghampiri pria itu, kemudian terduduk di samping ranjang, tangannya terulur, mencoba untuk memeriksa suhu tubuh Hedrian, akan tetapi saat tangannya akan menyentuh kulit dahi pria itu, tiba-tiba pria itu terbangun dan hendak mencekik leher Rania jika saja Kuro tidak tepat waktu menarik gadis itu menjauh.
__ADS_1
Kedua mata Kuro menatap tajam pada Hedrian yang mencoba menyakiti Rania, ia kemudian meminta gadis itu untuk berdiri di belakang punggungnya sekaligus memintanya untuk tidak jauh-jauh dengan dirinya.