
Begitu mendengar teriakan Rania, Mia pun tersadar lalu membuang parang yang sudah berlumuran darah itu ke sembarang arah . Mia begitu keheranan dan juga kebingungan, saat ia menolehkan kepalanya mendongkak menatap ke arah temannya, spontan, kedua tangannya menutup mulutnya lalu berjalan ke arah Rania seakan-akan dia tak tahu apa yang baru saja dilakukannya.
" Ra, nenek lo kenapa? " Tanya Mia cemas yang melihat Nenek Rania yang sudah bersimbah darah.
Namun, Rania segera mendorong tubuh Mia menjauh dari jasad neneknya, kedua matanya menatap marah pada temannya itu, "MENJAUH DARI NENEK GUE DASAR PEMBUNUH! "
Tubuh Mia tertegun sejenak mendengar temannya berkata kasar padanya, dia begitu terheran-heran mengapa temannya berkata kasar begitu padanya, tapi setelah melihat kondisi Nenek Rania yang tampaknya sangat memerlukan bantuan, membuat Mia memilih mengesampingkan perasaan herannya, lalu memutuskan untuk memanggil ambulan, akan tetapi pergerakkan tangannya terhenti ketika menyadari bahwa ada banyak bercak darah di pakaian dan juga tangannya. Ia kembali tertegun sejenak menatap penampilannya yang begitu berantakan, hingga di detik berikutnya ia pun menyadari bahwa dirinyalah pelaku yang telah melukai Nenek Rania.
" Ahhhh!!! " Mia pun menjerit dengan begitu keras sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit di iringi dengan ingatan ingatan yang sebelumnya menghilang dari ingatannya.
Rania dan lainnya sontak terkejut dengan sikap Mia itu. termasuk Laura yang menyadari bahwa Mia masih berada di dalam pengaruh hipnotis Nala. ' Tapi bagaimana bisa? Jangan bilang dia masih hidup dengan kondisinya yang parah saat itu? ' Pikir Laura
Di saat dirinya tengah bergumul dengan pikirannya, dari sudut matanya, Laura melihat tangan Nenek Rania yang sudah mati bergerak dengan sendirinya, mengambil sebuah batu berukuran sedang dan mencoba untuk memukul Rania dengan batu itu
" Rania! Awas! " Pekik Laura.
__ADS_1
Kuro yang memiliki refleks yang cepat, segera menarik tubuh Rania sebelum batu itu mengenai tubuhnya.
Rania yang terkejut pun hanya terdiam gemetar ketakutan, " apa yang terjadi? " Gumamnya.
" Tampaknya ini adalah perbuatan dari orang yang sama," ungkap Kuro.
" Maksud mu. . .
" Kuro benar, mereka adalah orang yang menyerang kalian saat di kota barat, " Laura menimpali .
Rania kembali terdiam, ternyata mereka masih belum menyerah.
" Lalu bagaimana dengan Nenek dan Mia? Kita harus membawa mereka. " Kata Rania dengan tegas.
Laura mengernyitkan dahinya, menatap Rania dengan tatapan heran, mengapa dia masih memperdulikan Mia yang telah membunuh neneknya.
__ADS_1
Sadar tengah di perhatikan, Rania pun menatap balik Laura lalu berkata, " meski dia telah membunuh nenek, tapi tidak bisa di pungkiri bahwa dia telah di kendalikan oleh orang lain, jadi, dia tidak bersalah. "
" Terserah pada mu, asalkan kamu tidak menyesali keputusan mu itu. "
Tak lama kemudian orang-orang desa yang telah di kendalikan Niki, datang berbondong-bondong membawa benda tajam. Tentunya Kuro dan lainnya mengetahui bahwa kesadaran mereka yang telah di ambil alih sepenuhnya.
" Kuro, tolong selamatkan nenek dan juga Mia, " pinta Rania dengan tatapan memohon.
Tanpa ragu Kuro pun menganggukkan kepalanya kemudian menyerahkan Rania pada Hedrian dan memintanya untuk menjaga Rania.
Hedrian pun langsung membawa Rania pergi menjauh dari Kuro dan lainnya.
Akan tetapi, baru beberapa langkah, Mia tiba-tiba menghadang mereka dengan ekspresi wajah yang begitu ketakutan.
" Ra, tolong, gue nggak bisa mengendalikan badan bahkan pikiran gue sendiri, please bunuh gue. " ucapnya dengan air mata yang mengalir membasahi pipi namun kedua tangannya terus mengarahkan senjatanya ke arah Rania.
__ADS_1
Rania yang menyadari bahwa Mia telah di kendalikan merasa sedikit menyesal karena mengatainya seorang pembunuh lalu meminta Hedrian untuk menyakitinya.
Namun, nyatanya berbicara lebih mudah dari pada melakukannya karena serangan Mia begitu agresif bahkan dirinya begitu sulit menyeimbangi serangannya karena harus melindungi Rania.