
Seminggu kemudian, di kantin sekolah.
" Ra, gue penasaran ibunya pak Mikael sakit apa yah? Sudah seminggu tapi nggak ada kabar tentang dia sama sekali atau pun kabar kapan dia masuk kembali, apa kita jenguk aja yah? Siapa tahu ibunya sedang sakit keras dan butuh bantuan, " Celetuk Mia saat di tengah menyantap makan siangnya di kantin
Kepala Rania mendongkak menatap Mia, tiba-tiba Ia pun ikut penasaran dengan kabar Mikael, terakhir ia melihat pria itu adalah seminggu yang lalu saat dirinya ingin menanyakan sesuatu, apakah pria itu sedang menghindarinya atau memang ibunya benar-benar sedang jatuh sakit?
" Tapi kita kan nggak tahu kampung halamannya dimana? " balas Rania.
" Iya juga sih, gimana kalau kita minta alamatnya sama kepala sekolah? Siapa tahu beliau tahu? Jadi kita bisa jenguk ibunya pak Mikael dan memastikan bahwa dia dan ibunya baik-baik saja. "
" Untuk apa kamu mencari alamatnya, bukankah kamu seharusnya senang? Karena teman baik mu ini, " menunjuk pada Rania, " tidak di culik lagi oleh guru itu, " ungkap Laura sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya, " dan juga sejak kapan kamu peduli pada pak Mikael? " tambahnya dengan nada mengejek.
Kedua mata Mia mendelik tajam pada Laura, ia heran kenapa Laura begitu menyebalkan dan juga sejak kapan dia dan Robert menjadi begitu dekat dengan Rania, bahkan akhir-akhir ini mereka selalu makan berangkat dan pulang bersama membuat Mia merasa semakin jauh dan terasingkan. Apalagi saat mereka membicarakan sesuatu yang sama sekaki tidak ia mengerti membuatnya merasa berada di dunia dimensi yang berbeda.
Sepulang sekolah
__ADS_1
" Ra, balik bareng yuk? Gue anterin sampe rumah. " Ajak Mia.
" Nggak, dia balik sama aku, " timpal Laura yang kemudian menarik tangan Rania begitu saja tanpa membiarkan Rania berbicara sepatah kata pun.
Mia pun hanya terdiam menatap kepergian temannya, entah kenapa ia merasa dejavu di tinggal dan di abaikan seperti ini. Mungkin Rania sudah merasa bosan berteman dengannya.
Dengan perasaan sedih, Mia memutuskan untuk pergi menghibur dengan mengunjungi pusat perbelanjaan seorang diri, tapi kenapa rasanya begitu hampa dan kosong? Rasanya dirinya berada di ruang kosong seorang diri
" Maaf, nggak sengaja. "
Perempuan kemudian mencoba membatu membersihkan kotoran dari pakaian Mia, akan tetapi Mia yang tidak suka di sentuh orang lain langsung menepis tangan perempuan itu dan memintanya untuk tidak menyentuh atau pun mencoba membantunya.
" Maaf, aku sungguh menyesal, " kata perempuan itu kembali sambil membungkukkan tubuhnya beberapa kali.
Mia yang perasaannya semakin buruk, memutuskan pergi menuju kamar begitu saja tanpa menanggapi permintaan maaf itu. Untung saja tadi ia sempat membeli pakaian baru yang tadinya ingin ia berikan pada Rania, tapi tampaknya ia harus membeli yang baru lagi, tanpa pikir panjang, ia pun langsung membuang pakaian kotornya dan menggantinya dengan pakaian baru itu.
__ADS_1
" Ya ampun, sial banget sih gue hari ini. Udah di tinggal saka temen, jalan-jalan sendiri, dan sekarang gue terpaksa buang seragam gue yang kotor itu karena itu perempuan, kenapa sih hari ini ada banyak orang yang menyebalkan! " gerutunya sambil merapihkan riasannya terutama bagian bibir yang menurutnya terlihat sedikit pucat.
Buk!
" Sorry. "
Seketika mood Mia hancur seketika, menatap pantulan dirinya di kaca dengan lipstik yang berantakan, setelah semua kekacauan yang di alaminya hari ini, kini ia kembali di hadapkan oleh orang yang begitu menyebalkan.
" BISA NGGAK SIH KALAU JALAN ITU SAMBIL LIHAT PAKAI MATA?! LO NGGAK LIHAT APA?! WAJAH GUE JADI BERANTAKAN KAYAK GINI! " Teriak Mia dengan suara lantang, saat berbalik ia terkejut mendapati perempuan yang sama telah mengotori pakaiannya, ia pun mendengus kesal merasa bahwa perempuan di depannya sedang menginginkan sesuatu darinya.
Mia yang tak ingin menambah masalah, memutuskan untuk pergi menjauh dari perempuan di depannya, namun tangannya tiba-tiba di tahan oleh perempuan itu, merasa kesabarannya sudah habis, Mia pun kembali memarahi perempuan di depannya, akan tetapi tiba-tiba ia terdiam setelah menatap sepasang bola mata berwarna merah, seketika kepalanya mendadak pusing lalu kemudian. . .
" Nala? Kamu beneran Nala?! " Dengan perasaan senangnya, Mia memeluk perempuan di depannya.
" Iya, lama tidak bertemu, Mia. "
__ADS_1