
Rania yang panik akan kehadiran Mia, Paman Jinu dan Tante Vina bersama dengan keluarga kecil mereka, spontan mengunci rumahnya dalam, mengabaikan teriakan Mia dari luar yang terdengar tampak marah karena dirinya telah melukai hidung perempuan itu.
Namun, semua itu tidaklah penting sekarang, karena dirinya harus segera bergegas menyembunyikan Hedrian, jika sampai mereka tahu bahwa dia membiarkan seorang pria tinggal di rumahnya, maka tamatlah sudah riwayatnya.
Di sisi lain, Hedrian yang tengah asik tertidur tiba-tiba terbangun ketika Rania dan Kuro menyeretnya begitu saja dan memasukkannya ke dalam lemari pakaian, mereka bahkan mengancamnya akan mengusirnya jika dia tidak diam.
" Tunggu, tapi . . .
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, pintu lemari itu langsung di tutup begitu saja.
Hedrian pun hanya tertegun, untuk pertama kalinya ia di perlakukan seperti ini. Awas saja kalian.
Di rasa sudah aman, kepala Rania pun menoleh ke arah Kuro, keduanya saling bertukar tatapan lalu menganggukkan kepala mereka secara bersamaan.
Di detik berikutnya, Rania yang memangku tubuh Kuro, membuka pintu rumahnya dengan senyuman manis di wajahnya. Tapi tidak dengan Mia yang menatap marah kearahnya karena membuat hidungnya terluka.
" Maaf, tadi berantakan, " elaknya sambil tersenyum tersenyum kembali, " dan juga aku minta maaf soal hidung mu, " sambungnya sambil berusaha mengelus hidung temannya yang tampak memerah sepertu buah tomat.
Namun tangannya langsung di tepis oleh Mia yang kemudian berjalan masuk ke dalam rumah dan di susul oleh Jinu dan Vina berserta pasangan dan anak-anak mereka yang masing-masing memiliki satu anak.
Setelah semuanya sudah berada di dalam rumah, Vina langsung memeluk tubuh Rania karena rindu sekaligus minta maaf karena dirinya dan suaminya baru bisa datang menjenguk, karena kesibukan mereka, begitu pun dengan Jinu yang mengatakan hal serupa dengan Vina.
" Tidak apa-apa, aku mengerti. "
Jinu dan Vina pun tersenyum lega, mereka kemudian menyerahkan beberapa makanan ringan yang mereka beli di sisi jalan.
Dengan perasaan senang, Rania menerima semua oleh-oleh itu. Ia pun segera bergegas pergi ke dapur untuk memasukkan makanan itu ke dalam toples.
" Oh iya Tante Vina, gimana kabar tante sekarang? Apa sudah merasa baik? Jika Tante masih merasa sakit, jangan sungkan untuk menghubungi ku, " ucap Mia .
Vina terdiam kebingungan tak mengerti apa yang di maksud oleh Mia, " apa maksud mu? "
" Loh bukannya. .
__ADS_1
Duk! Duk!
Terdengar suara bunyi bising dari arah lemari pakaian Rania, membuat semua orang terkejut sekaligus penasaran asal dari bunyi tersebut.
Rania yang menyadari asal dari suara itu langsung berlari dari arah dapur dan mengatakan bahwa itu adalah bunyi dari barang-barangnya yang tadinya tak sempat menyimpannya dengan rapi karena tergesa-gesa sekaligus karena panik.
Semua orang yang berada di rumah itu hanya Menganggukkan kepala mereka mengerti.
Namun, saat Rania hendak pergi, tiba-tiba suara itu muncul bahkan lebih keras lagi dari sebelumnya.
Tanpa sadar, Rania meneguk salivanya, tubuhnya gemetar, tak tahu harus memberi alasan apa lagi.
" Kalau itu. . .
Mia yang merasa ada yang aneh dengan sikap teman di depannya, langsung mendorong tubuh Rania untuk tidak menghalangi jalannya kemudian bergegas memeriksa pintu lemari pakaian tersebut.
Rania yang semakin panik jika Hedrian ketahuan oleh temannya, ia terpaksa menghadang Mia sembari merentangkan kedua tangannya.
Tanpa membuang waktu, Mia mendorong tubuh Rania kembali untuk membuka isi lemari tersebut.
Spontan, Rania pun langsung menutup kedua matanya dengan jantung yang berdebar dengan sangat kencang.
Sedangkan Kuro tengah mempersiapkan diri untuk menghipnotis Mia. Akan tetapi di detik berikutnya. . .
" Apa-apaan ini?! " Teriak Mia dengan lantang.
" Mia gue bisa. . .
" Ra, lo ko tega banget sih mengurung anjing selucu ini di dalam lemari? " ujar Mia sambil menarik tubuh seekor anjing dari dalam lemari.
Kedua mata Rania mengerjap beberapa kali menatap seekor anjing berjenis Husky, berwarna hitam abu yang berada di dalam dekapan temannya itu. Apa anjing itu Hedrian?!
" Kenapa bengong Ra? " Tanya Mia.
__ADS_1
Tubuh Rania tersentak dan tersadar dari lamunannya.
Mengetahui bahwa di dalam rumahnya ada seekor anjing, kedua keponakannya Roan dan Nesa langsung antusias lalu membawa main anjing tersebut dan mengabaikan Kuro yang sebelumnya mereka ajak main.
" Nggak bukan apa-apa, " timpal Rania sambil menggelengkan kepalanya lalu memberi Hedrian dengan acungan jempol, jika tahu dia bisa berubah seperti Kuro, mungkin dirinya tak akan kebingungan seperti tadi.
Setelah puas bermain dengan Hedrian, Roan dan Nesa pun tertidur akibat kelelahan, begitu pun dengan Hedrian yang sangat kelelahan karena terus berlari tanpa henti.
Mia yang merasa kasihan, menghampiri Hedrian lalu mengelus kepalanya dengan lembut.
Hedrian yang merasa nyaman dan sangat menyukai dengan belaian tangan Mia yang begitu lembut membuatnya merasa damai, ia oun tanpa sadar tertidur di atas pangkuan gadis itu.
Mia yang merasa gemas pun langsung mengambil ponselnya lalu memotret fotonya bersama anjing tersebut, setelah mengambil beberapa gambar dan kemudian bertanya perihal anjing ini, seperti: Kenapa dia Menyembunyikan hewan itu dari dalam lemari dan dari mana asal usulnya.
" Sebenarnya itu. . .
Mia terdiam memperhatikan dengan seksama.
" Itu sebenarnya. . . sebenarnya anjing ini adalah milik Laura, karena gue tahu lo kan nggak suka sama dia, jadi gue mutusin buat ngumpetin dia gitu, " ungkapnya sambil meminta maaf pada Laura di dalam hati karena sudah menjual namanya untuk melindungi diri.
Hatchim! Di waktu yang bersamaan, tiba-tiba Laura bersin. Robert yang berada tak jauh darinya menawarkan tisu padanya.
Di sisi lain, meski dirinya memang tak suka pada Laura karena sikapnya yang sok cantik dan arogan, tapi bukan berati dia juga harus membenci orang-orang di sekelilingnya yang tidak ada kaitan masalah dengannya sama sekali termasuk anjing pintar ini.
Kendati begitu, Mia tetap merasa kesal pada Rania karena akhir-akhir ini dia terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Laura bahkan menjaga anjingnya, padahal dulu saat dirinya pernah sempat ingin menitipkan anak anjing peliharaanya untuk sementara waktu, tanpa pikir panjang temannya ini langsung menolaknya dengan alasan sibuk. Padahal saat itu dirinya sudah akan membayar dengan harga yang cukup besar, tapi dia bersikukuh menolaknya, lalu bagaimana dengannya yang di lakukan oleh temannya ini? Sekarang dia malah mengurus anjing milik orang yang baru saja di kenalnya.
" Maaf, ceritanya panjang. "
" Kenapa? Lo pasti sudah bosan kan temenan sama gue! "
" Mi lo tuh salah paham, gue tuh. .
Tiba-tiba Tante Vina datang menyela pertengkaran, meminta mereka untuk tidak bertengkar lagi karena dirinya dengan kakak iparnya sudah selesai memasak.
__ADS_1