Layangan Kertas

Layangan Kertas
Ancaman Atau Peringatan


__ADS_3

Bel pulang berbunyi dengan nyaring. Bu Marni mengakhiri pelajarannya. Seluruh siswa-siswi serempak berhamburan keluar kelas. Hanya Alis dan Liza yang masih duduk dibangku mereka. Seperti biasa, Alis selalu mengeluarkan bukunya dari dalam tas ransel miliknya untuk dibaca.


"Lis, tidak bosan apa? kamu selalu membaca buku bisnis. Coba dong baca yang lainnya biar hidupmu juga ada warnanya." Liza berceloteh sambil menatap kearah Alis.


Alis hanya diam dan tidak merespon ucapan yang dilontarkan oleh Liza padanya.


"Ck...ck...ck... huh! kamu Lis," decak Liza sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat respon Alis yang datar dan tidak merespon dirinya. "Pulang yuk!" ajak Liza pada Alis, sambil berdiri.


Alis beranjak dari duduknya dan menghampiri Liza yang sudah menunggunya didepan meja Alis. Mereka berjalan bersama menuju kearah parkiran.


"Sepi Lis, jangan-jangan ada setannya lagi." Liza celingak-celinguk memperhatikan suasana sekolah yang mulai sepi. Ia menatap kearah Alis, namun respon Alis tidak pernah berubah. Alis tetap diam dan fokus pada bukunya.


Sesekali Alis melihat kearah depan untuk melihat langkahnya.


Sesampainya Alis dan Liza di parkiran, Liza tampak sangat terkejut melihat pemandangan di depannya. Terlihat sepeda Alis yang berantakan. Bannya yang terlepas dari badannya dan rantai sepedanya yang putus. Juga ban dalam sepedanya yang keluar dari tempatnya. Liza menutup mulutnya yang menganga dan melihat kearah Alis beberapa kali.


Alis hanya diam tenang melihat sepedanya yang tidak berbentuk. Matanya menatap tajam dan tersenyum sinis, dia sudah tahu siapa yang telah berani mengusik hidupnya, setelah mengingat ancaman siswa baru pagi tadi.


"Lis, jangan diam saja. Bagaimana ini!?" Liza melihat kearah sekeliling parkiran tapi tempat itu sangat sepi. Ia begitu geram dengan sang pelaku yang sengaja merusak sepeda Alis dan mengusik ketenangan di sekolah ini.


Alis tidak merespon, ia hanya diam saja dan memikirkan tentang hukuman apa yang pantas untuk anak baru tersebut. Mungkin dia akan melihat dahulu sampai sejauh mana gadis itu berani berbuat onar di sekolah ini. Alis berjalan kearah pintu gerbang sekolah, sementara Liza tampak berdecak melihat kepergian Alis yang diam tanpa sepatah katapun bahkan malaikat lewat saja meninggalkan bau harum. Liza berlari mengikuti Alis.


"Mau kemana Lis?" Liza bertanya dengan mimik heran.


Alis mengarahkan dagunya kearah pos satpam. Liza melihat kearah pandang Alis, ia hanya mengangguk saja.


"Mungkin dia perlu bantuan satpam untuk memperbaiki sepedanya," pikir Liza.


"Ada apa neng?" Pak satpam,mang Usru bertanya sambil mengangguk hormat saat melihat dua orang siswi yang menghampiri pos penjagaannya. Ia sangat mengenal Alis yang selalu tampil sederhana dan apa adanya.


"Sepeda Alis disana itu,rusak Mang," tunjuk Liza. "Mamang bisakan bantu memperbaikinya?" tanya Liza lagi. Sedangkan Alis hanya diam saja namun matanya tidak pernah lepas dari interaksi keduanya.


"Boleh," Mang Usru mengangguk dan mengikuti mereka berdua kearah parkiran.


"Subhanallah neng!" mang Usru sangat terkejut melihat sepeda Alis yang tidak berbentuk. Ia mendekat dan melihat keadaan sepeda tersebut.


"Sepertinya tidak bisa diperbaiki neng, harus beli beberapa peralatan yang baru untuk mengganti yang sudah rusak," ucap mang Usru menatap miris kearah Alis dan Liza. Ia merasa kasihan pada gadis pendiam yang berada didepannya tersebut.


Alis hanya mengangguk setelah mendengar penjelasan Usru. Ia mengucapkan terima kasihnya.


"Sudah! biarkan saja. Kita pulang sekarang yuk! Urusan sepeda biar tukang bengkel saja nanti yang kemari untuk mengambilnya dan memperbaikinya." Liza menatap kearah Alis. Alis mengangguk dan ia melihat kesekeliling parkiran. Ia merasa kembali diawasi oleh seseorang.

__ADS_1


Mereka memasuki mobil Liza dan meninggalkan area sekolah untuk menuju kerumah Alis. Rumah Alis terbilang cukup dekat dengan sekolah, sedangkan rumah Liza agak jauh tapi jalan pulang kerumah mereka searah.


"Kekafe LK saja!" kata Alis sambil mulai membuka buku yang ada ditangannya.


"Oke!" jawab Liza sambil membelokkan arah mobilnya kekanan menuju kafe LK yang tidak jauh dari sekolah dan merupakan salah satu tempat tinggal Alis. Kafe LK terletak diantara gedung perkantoran yang ada dikota Jakarta. Sangat strategis dan di tunjang dengan dekorasi yang sangat pas, maka kafe ini dijadikan oleh kaum anak muda sebagai salah satu daftar list kafe favorit mereka.


💦💦💦


Jessica tersenyum puas saat melihat orang bayarannya yang sudah berhasil merusak sepeda milik Alis. Ia menatap kesekeliling parkiran yang tampak sepi. Bergegas ia masuk kedalam mobilnya untuk pulang. Sementara orang suruhannya tersebut terus memantau Alis, Jessica ingin melihat seperti apa reaksi Alis saat melihat barang berharganya telah rusak tak berbentuk.


"Kamu tidak bisa main-main denganku anak miskin, kamu tidak tahu seperti apa aku!" sombong Jessica sambil tersenyum miring.


Jessica membelokkan mobilnya kearah LK Cafe, kafe yang sangat populer di kalangan anak remaja hingga orang dewasa. Setiap dekorasinya dipenuhi oleh layangan kertas dan di langit-langit atapnya terlihat lukisan 3D dengan lukisan langit biru dan digantungi oleh beberapa layangan dengan bentuk unik dan beragam. Seolah-olah lukisan itu nyata dan hidup.


Setelah sebelumnya ia singgah dibutik untuk mengganti pakaiannya. Ia tidak langsung pulang kerumah karena ia punya janji dengan seseorang.


Jessica memasuki kafe dan mengedarkan pandangannya keseluruh kafe. Ia mencari keberadaan seseorang. Kafe terlihat ramai.


Seseorang tampak melambaikan tangannya pada Jessica, bergegas Jessica menghampirinya.


"Apa kabar kamu, Angga?" tanya Jessica berbasa-basi dengan kakak sepupunya itu. Ia menduduki kursi yang berada di hadapan Angga.


"Baik! kamu mau pesa apa?" tanya Angga sambil melambaikan tangannya pada Waiter.


Angga melihat arah pandang Jessica setelah kepergian waiter tadi. Ia melihat kearah Alis yang sedang menaiki tangga dan kembali menatap kearah Jessica sambil berdehem.


"Jes, kamu tau kenapa kamu sampai aku ajak untuk ketemuan disini?" tanya Angga sambil menatap dalam Jessica.


Jessica mengalihkan tatapannya kearah Angga dengan dahi berkerut. "Mungkin kangen denganku?" jawab Jessica sekenanya sambil tersenyum jahil.


Angga mendesah dan menatap kearah pintu kafe, terlihat beberapa orang masuk kedalam kafe, mereka tampak seumuran dengannya.


"Bukan itu Jess," ucap Angga sambil mengalihkan tatapannya kearah mata Jessica.


Jessica memutar bola matanya malas. Ia berdecak sebal sebab ucapan Angga menurutnya sangat berbelit-belit. "To the point saja!" ucap Jessica sebal dengan tatapan kesal.


Angga melirik pada Waiter yang baru saja datang, ia mempersilahkan Waiter tersebut untuk menyajikan pesanan mereka. Waiter berlalu setelah Angga mengucapkan terima-kasih.


" Oke!" Angga kembali membuka suara sambil menatap serius kearah Jessica. "Jangan membuat onar disekolah barumu, Jes!" peringat Angga dengan tegas pada Jessica.


Jessica terdiam sesaat untuk mencerna ucapan yang dilontarkan oleh Angga, kemudian ia tertawa setelahnya. Tawa mengejek yang diberikannya pada Angga.

__ADS_1


"Aku tidak membuat onar Angga, hanya sedikit memberi mereka pelajaran karena telah berani melawanku," ucap Jessica dengan menekan kata-kata di akhir kalimatnya.


Angga menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Jessica yang menganggap enteng tentang sikapnya yang suka membully beberapa siswa di hari pertamanya masuk sekolah.


"Bersikap yang dewasa Jess! aku tidak ingin ayahku merasa malu kepada pemilik sekolah kita karena memiliki keponakan yang suka merusak citra sekolah." Angga kembali menatap Jessica dalam. Bukan, bukan karena citra ayahnya yang ia khawatirkan. Tapi karena Jessica adalah saudaranya dan ia tidak ingin Jessica mengalami hal yang buruk yang akan menimpanya kelak. Ia seperti punya firasat buruk dan ia mencoba untuk tetap waspada.


Jessica hanya menarik napas panjang. Ia sangat tahu kalau ayahnya Angga, om Hendri adalah salah satu donator disekolah tersebut. Ia menatap Angga dan enggan untuk menjawab. Dia lebih memilih bungkam dari pada harus berdebat dengan Angga. Jessica meminum jusnya dan kembali menatap kearah tangga.


Angga paham dengan arah pandang Jessica. Ia berdehem dan menatap kearah Jessica. Mendengar deheman Angga, Jessica menatap kearah Angga dan memperlihatkan cengirannya.


💦💦💦


Kediaman Surya Hadinata terlihat sangat ramai dengan keberadaan ketiga sahabat Al yang menyambut kedatangan Al dari rumah sakit. Mereka tampak bercengkrama diruang keluarga. Sedangkan ayahnya Al kembali kekantornya. Ibunya Al juga pergi ke butiknya.


"Al, ada gosip baru yang hot nih," ucap Irfan sambil menatap kearah Al.


Al menatap balik kearah Irfan dan juga kearah Andra dengan pandangan bertanya.


"Pahlawanmu sedang di bully disekolah!" kata Andra menimpali.


Al mengerutkan dahinya, ia tampak bingung. Begitukah keadaan sekolah selama 2 hari ia tidak hadir. Ia juga penasaran dengan berita yang dibawa oleh kedua sahabatnya.


"Siapa yang membullynya? Bukankah sekolah kita sekolah yang mendapat predikat sekolah teladan dan selama ini, keadaan sekolah selalu aman?" tanya Al dengan mimik bingungnya.


"Anak baru Al, pindahan dari London," celetuk Aldo yang sedari tadi hanya diam saja.


Al membulatkan mulutnya dan mengangguk-anggukan kepalanya. "Lalu, bagaimana respon gadis aneh tersebut?" tanya Al menatap kearah ketiga sahabatnya dengan mimik penasaran.


"Seperti biasa Al, dia tidak merespon bahkan ia melewatinya begitu saja, seperti dianggapnya angin lalu saja." Andra kembali menerawang mengingat ekspresi Alis saat di parkiran tadi. "Dan kau tau apa berita buruknya?" Andra berucap dengan teka-tekinya. Seluruh mata menatap kearah Andra.


"Apa?" tanya Al, ia terlihat tidak sabar menunggu penjelasan Andra yang selanjutnya.


"Sepedanya si Malaikat Penjaga Neraka telah di rusak oleh seseorang. Dan bentuknya tidak berupa sepeda lagi, tercerai berai dan sulit di perbaiki kecuali ia membeli yang baru," ucap Andra menatap Al dengan serius.


"Aku jadi kasihan dengan gadis itu, dia hanya bekerja disebuah kafe sebagai pelayan, lalu bagaimana ia mengganti sepedanya dengan yang baru? Sedangkan dikafekan gajihnya tidak seberapa," kata Irfan. Ia ikut prihatin dengan keadaan Alis.


"Kamu bantu saja dirinya Al, hitung-hitung sebagai balas jasa," kata Andra memberi solusi tentang masalah sepeda Alis.


Al termenung mendengar penuturan sahabatnya. Ia ingin membantu tapi apakah itu tidak kelihatan aneh. Al mendesah, entah kenapa akhir-akhir ini pikirannya di penuhi oleh Alis saja. Al menatap kearah Aldo yang hanya diam dengan cemilannya.


"Lihat dulu Al, bagaimana Alis bertindak. Dia biasa hidup mandiri dan pasti akan menolak bantuanmu. Bahkan mungkin ia akan merasa heran kalau kamu mempunyai perhatian yang berlebihan. Itu tidak wajar untuk orang yang di rasanya asing. Dia juga punya sahabat yang suka menolongnya, kamu harus tau itu Al," kata Aldo dengan panjang lebar.

__ADS_1


Mereka semua hanya menganggukkan kepala membenarkan apa yang dikatakan oleh Aldo tersebut.


💦💦💦💦💦


__ADS_2