
Oh iya, aku hampir lupa!!" teriak Liza bersamaan dengan lepasnya pelukan Alis padanya. Bergegas ia berdiri dan berlari kearah luar rumah. Semua itu membuat mereka yang sedang berada di ruangan tamu tampak keheranan dibuatnya.
Namun tidak lama kemudian Liza masuk bersama beberapa orang lelaki lainnya,mereka adalah Al dan ketiga sahabatnya juga Alex.
"Alis!!" teriak heboh Alex yang bergegas berlari kearah Alis. Tadinya dia ingin memeluk Alis namun pergerakannya tertahan karena Al sudah mencengkeram pergelangan tangannya terlebih dahulu.
"Tidak ada yang boleh mendekatinya lebih dari pada aku." Al menatap kearah Alex dengan tatapan dingin. Ia tidak suka kalau gadisnya disentuh oleh lelaki lainnya. Terdengar posesif memang, tapi itu kenyataannya. Ia tidak ingin membiarkan hatinya terluka. Matanya tanpa sengaja menatap kearah Rafael yang juga menatapnya dengan gaya sombongnya, tangannya terlipat didepan dadanya.
Al berdecak tidak suka. Ia tahu kalau lelaki itu sepertinya sangat menyukai Alis, terlihat jelas dari caranya menatap Alis bahkan perhatiannya pada Alis. Hatinya berteriak meronta menolak sikap lelaki yang umurnya lebih tua darinya.
"Sayang, apa kabar?" tanya Al langsung duduk disamping Alis. Tangannya meraih tangan Alis. Ia menggenggamnya erat. Al sengaja melakukan semua itu karena ia ingin memperlihatkan bahwa Alis hanya miliknya seorang. Sedangkan semua sahabatnya yang ada disana tampak melongo. Mereka tidak percaya dengan sikap yang baru saja ditunjukkan oleh Al, terlebih lagi sikap itu diperlihatkan pada semua orang, seolah-olah dirinya baru saja mengklaim bahwa Alis adalah miliknya.
"Hmmm!!" Rafael berdehem keras. "Anak kecil tidak boleh pacaran!" ucapnya sinis. Ia tampak marah melihat sikap Al yang seenaknya saja mengklaim Alis yang nyata-nyata adalah miliknya. Ia berdiri dan berjalan kearah mereka berdua. Dengan sekali sentak, ia menarik tubuh Alis dan mendekapnya. Seketika membuat semua mata yang ada disana semakin melebar dan mulut mereka semakin menganga.
Tidak ada yang dapat berbicara diantara semuanya. Mereka hanya terdiam menyaksikan drama yang baru saja terjadi didepan mata mereka. Bahkan Riyan dan Januar yang tadinya ingin keluar, hanya terdiam menatap mereka. Begitupun Liza yang biasanya sangat lancar berbicara, tiba-tiba bungkam tanpa suara seolah ia sedang gagu.
Alis merasa tidak nyaman, ia berusaha melepaskan genggaman tangan Rafael tetapi gagal. Lelaki itu sangat kuat mencengkeram tangannya.
"Dia milikku dan tidak akan ada yang boleh memilikinya, termasuk juga dirimu!!" desis Rafael dengan nada dingin menusuk. Tatapan matanya sangat tajam, setajam mata elang yang sedang mencari mangsanya.
__ADS_1
Namun Al tidak gentar menghadapinya. Ia akan mempertahankan miliknya walau bagaimanapun caranya.
"Dia hanya milikku jauh sebelum bertemu denganmu," sahut Al dingin. Tangannya terulur meraih tangan Alis yang tampak bebas bergerak.
"Apa buktinya kalau dia milikmu?" tanya Rafael dengan sinis, senyum miringnya terbit dan meremehkan Al. Baginya Al bukanlah apa-apa, hanya bocah ingusan, bocah kemarin sore.
Alis menatap sendu kearah Al, ia merasakan sesak didadanya saat mendengar ucapan Rafael barusan. Ia tahu kalau ia sangat sulit bisa bersama dengan Al setelah apa yang sudah terjadi padanya dan Rafael.
"Kami sama-sama mencintai. Silahkan kamu tanyakan pada Alis kalau kamu tidak percaya," sahut Al tenang. Ia sebenarnya berencana untuk menembak Alis saat ulang tahun sekolah nanti, namun rencananya sedikit berantakan karena kabar yang diterimanya mengenai penculikan Alis. Ditambah lagi dengan kehadiran Rafael diantara mereka.
Rafael menatap kearah Alis dengan lembut. Dari tatapan Alis pada Al, ia tahu kalau gadis itu memang menyimpan sedikit perasaan pada Al. Namun ia tidak ingin mendengarnya. Ia belum siap mendengar penolakan Alis padanya.
Semua yang ada disana terlihat menunggu keputusan yang terucap dari mulut Alis. Sedangkan Alis, ia hanya bungkam saja. Ingin rasanya ia berteriak mengaku kalau memang benar yang diucapkan oleh Al kalau dirinya mencintai Al. Tapi disisi lain ia juga sudah dijodohkan oleh ayahnya dengan seseorang yang tidak diketahui identitasnya ditambah lagi dengan Rafael yang sudah merenggut semuanya darinya. Bahkan lelaki sombong tersebut terus memaksanya untuk menikahinya sekarang.
Ia tidak tahu harus langkah apa yang akan diambilnya. Apakah dia harus mengorbankan cintanya untuk bersama orang yang sudah merenggut semuanya. Ataukah ia bersama Al namun ia harus mengatakan kejujurannya. Lalu bagaimana kalau Al justru menolak dirinya. Ataukah ia harus bersama lelaki yang tidak diketahuinya batang hidungnya tersebut, dan juga akan kecewa saat mendapati dirinya yang sudah tidak perawan lagi.
Alis gamang, ia terlihat rapuh. Ia tidak bisa mengatakan apapun juga. Tangan Al dan tangan Rafael dihempaskannya secara bersamaan. Ia berlari keluar rumah meninggalkan mereka semua yang ada disana, dengan derai air mata yang bercucuran membasahi pipinya.
Dengan langkah seribu ia berlari kearah kebun yang ada dibelakang rumahnya. Rasanya ia benar-benar lelah menghadapi semua ini. Ia begitu sakit hati karena tidak bisa menentukan hidupnya sendiri dan seolah takdir buruk selalu mengikutinya.
__ADS_1
"Aku ibarat layangan, yang hanya bisa dikendalikan oleh sang pemilik," gumam Alis sambil menepuk dadanya yang terasa nyeri.
Ia bergegas naik kesalah satu pohon mangga yang sangat rimbun saat ia mendengar suara yang tampak sibuk meneriakkan namanya dibelakangnya. Ia benar-benar ingin sendiri. Dengan gerakan perlahan ia membuka pintu yang ada dipohon tersebut, rumah pohon tepatnya. Ia bersembunyi sesaat disana.
Ia duduk.berjongkok, kepalanya disembunyikannya disela-sela lututnya. Beberapa kali ia menggigit bibirnya untuk meredam tangisnya. Ia gadis lemah dan tidak berdaya walaupun secara fisik ia kuat.
"Alis!! dimana kamu?" teriak Riyan yang tepat berada dibawah tempatnya berada. Alis semakin meringkuk, ia duduk mengkerut layaknya seekor ulat.
Dalam kesibukan mereka, Rafael dan Al tampak terlihat sangat merasa bersalah. Mereka menyesal karena menekan gadis rapuh tersebut. Al mengusap gusar rambutnya, matanya memindai seluruh area perkebunan yang tampak menghijau.
Mereka tampak berpencar mencarinya, tidak.ingin hal yang tidak di inginkan terjadi. Wajah-wajah mereka dihiasi dengan ketegangan dan kekhawatiran.
Al bergegas berlari kearah pertengahan kebun,ia baru ingat kalau di kebun luas tersebut ada sebuah rumah pohon yang sangat tersembunyi. Bahkan rumah pohon tersebut tertutup dahan pohon yang sangat rimbun.
Degup jantung Al berdetak sangat kencang saat ia membuka pintu rumah pohon tersebut. Tampak kosong, ia kecewa. Dari sana ia berusaha memantau keberadaan Alis namun sama sekali tidak terdapat tanda-tanda keberadaannya.
Sebenarnya rumah pohon yang dimiliki oleh Alis di kebunnya ada 3 buah. Semuanya letaknya diaturnya berdasarkan jarak kebunnya. Diantara awal dan pertengahan, diantara pertengahan dan ujung kemudian dipaling ujung. Dan sekarang ia sedang berada di rumah pohon yang pertama, dekat dengan kediamannya.
Alis meraih ponselnya, ia mengirim pada semua orang yang sedang sibuk mencarinya. Ia hanya meminta mereka untuk pulang karena ia mengatakan bahwa dirinya sudah berada di kamarnya. Ia terpaksa berbohong karena ia perlu waktu untuk sendiri.
__ADS_1
💦💦💦