Layangan Kertas

Layangan Kertas
Diam


__ADS_3

Pagi ini Alis sama sekali tidak ingin keluar kamar miliknya. Bahkan ia meninjau pekerjaannya hanya dari kamarnya saja, menerima email dari kantornya dan juga dari kafe miliknya. Ia masih bisa mengontrolnya dari jauh.


Sarapanpun juga hanya diantarkan kekamarnya. Dia terlihat sibuk tapi kenyataannya ia sedang menghindari ayahnya. Ada banyak hal yang masih dipertimbangkannya karena pikirannya yang tidak sejalan dengan ayahnya.


Sejak tadi malam, ia masih memikirkan semua saran dari Januar. Apakah ia harus meminta dan melihat video itu dari Rafael ataukah tidak. Rasanya untuk mewujudkan semua saran Januar itu sangatlah susah, apalagi ia harus bertatap muka dengan Rafael secara langsung, rasanya membuatnya jengah dengan sosok tersebut. Rasanya pertimbangannya pada kasus ini sangatlah sulit, namun ia harus bisa mengambil keputusan.


Tok tok


"Alis! buka pintunya. Ini mama sayang!" teriak Shakila didepan pintu kamar Alis.


Alis berjalan kearah pintu kamarnya, ia membukanya dan mendapati sosok ibunya dengan sebuah gaun pesta di tangannya. Alis menyingkir dari depan pintu untuk mempersilahkan Shakila masuk.


"Kamu masih kerja?" tanya Shakila menatap tumpukan dokumen dan juga laptop yang masih menyala diatas meja kerjanya yang ada didalam ruangan tersebut.


"Ada banyak pekerjaan yang mesti Alis selesaikan, Ma!" sahutnya sambil menutup pintu kamarnya. Ia berbalik dan berjalan kearah Shakila yang sudah duduk ditepi ranjang miliknya.


Shakila mengangguk. "Oh iya, ini mama bawakan kamu gaun untuk pesta nanti malam. Sebaiknya kamu bersiap dari sekarang karena kita akan berangkat bersama."


Mata Alis beralih menatap kearah jam dinding kamarnya, rupanya waktu terlewati begitu saja tanpa terasa. Karena terlalu banyak pekerjaan yang sudah di handlenya kerumah membuatnya lupa waktu dengan gila kerja. Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang dan pesta akan dimulai pukul 7 malam.


"Tapi ma, aku masih bisa berangkat sendiri. Sebaiknya mama berangkat saja lebih dulu sama papa."


"Alis, turuti kata-kata mama, kita akan berangkat bersama. Sudah sangat lama kita tidak berkumpul dan berangkat bersama. Yasudah, sebaiknya kamu bersiap dulu. Bersihkan dulu badanmu!"


Alis menarik napasnya dengan berat. Ingin rasanya ia menolak tapi ia tidak ingin mengecewakan perasaan wanita yang ada dihadapannya ini. Lagi pula, kemarin yang terjadi antara dirinya dan ayahnya hanyalah sebuah kesalah pahaman saja. Ada baiknya ia mencoba untuk berdamai dengan ayahnya.


"Baik ma." Alis berbalik dan ingin pergi kekamar mandi namun langkahnya tertahan kembali.

__ADS_1


"Sayang, kamu lupakan saja tentang kata-kata kasar ayahmu kemarin. Dia hanya terlalu emosi saja. Dia tidak bermaksud untuk menyakitimu, percaya sama mama kalau semuanya akan baik-baik saja." Shakila masih melihat perubahan yang besar pada diri Alis, dia seperti terlihat sangat menghindari untuk bertatap muka dan berkumpul bersama mereka. Bahkan ia juga tidak pergi makan ke ruang makan. Makanan hanya diantar kekamarnya saja oleh asisten mereka. Dalihnya pun sangat masuk akal, dengan beralasan banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


Alis berbalik dan menatap kearah Shakila yang menatap dirinya dengan sendu. Ia mengangguk dan kembali meneruskan langkahnya untuk memasuki kamar mandi dan melangsungkan ritual membersihkan dirinya.


Bohong kalau dirinya tidak sakit hati dan sedih karena ucapan ayahnya. Mana ada seorang anak yang terlahir ke dunia ini hanya ingin disakiti oleh orang tuanya tanpa kesalahan dan wajar saja kalau manusia itu terdapat salah dan khilaf karena mereka tidak sesempurna pencipta-Nya.


Apalagi semua tuduhan bersalah itu dilayangkan ayahnya padanya. Dan yang lebih sakitnya lagi, Bastian mengucapkannya tepat dihadapan semua orang. Alis yang memang orang sangat tertutup merasa dipermalukan habis-habisan hingga ia merasa sedikit sakit hati. Perasaannya memang benar-benar sensitif akhir-akhir ini.


Selama ini ia sudah mati-matian mengangkat derajat keluarganya dan menjadi orang yang tidak akan pernah membuat orang tuanya malu seperti beberapa tahun silam. Namun nyatanya, masa silam itu kembali terulang lagi, walaupun dengan kasus yang berbeda. Dia tetaplah membuat nama baik keluarganya tercoreng.


Tanpa terasa, Alis sudah memakan waktu selama 30 menit di kamar mandi, ia terlalu banyak berpikir dan melamun. Ia segera mengakhiri ritual berendamnya dengan membilas seluruh busa yang menempel di tubuhnya.


Alis segera berbenah untuk mengenakan gaun pesta yang simple miliknya, setelah ia keluar dari kamar mandi miliknya.


Gaun pesta long dress berwarna biru pastel dengan berbahan satin dan terlihat elegan. Dengan sentuhan gold payet pada beberapa sisi, membuat sisi sensual yang terlihat anggun. Untuk terlihat membentuk lekuk tubuh, Alis menambahkan aksesoris ikat pinggang gold metal dengan warna yang senada.


Ia juga mengenakan sepatu Strapy shoes warna kulit. Dengan anting emas berbentuk simetris kecil ditelinganya. Serta clucth bag yang juga sewarna dengan gaunnya untuk menunjang penampilannya.


Riasan wajahnya juga dibuatnya senatural mungkin untuk menambah kesan anggunnya.


"Sayang! Apa kamu sudah siap?" Shakila masuk kedalam kamar Alis tanpa permisi. Ia terpana melihat penampilan Alis yang terlihat lebih dewasa dari kesehariannya dan mempesona, benar benar sempurna.


"Wah kamu sangat cantik sayang. Perfect!!" Teriak Shakila setelah sadar dari keterpanaannya.


Alis berbalik dan menatap ibunya yang juga terlihat sangat cantik dimatanya, dengan gaun kebaya modern berwarna biru pastel yang menjuntai hingga mata kakinya. Dengan atasannya berbahan brokat yang dikombinasikan dengan kain sifon yang sedikit menerawang. Dengan bordiran yang di aplikasikan pada bagian tengah serta sedikit bordiran pada area lengan atas.


Pada ujung lengan dibuat lonceng menumpuk, yang semakin menunjukkan sisi modern dan istimewa. Lalu pada rok kain batik yang digunakan tidak terlalu ramai bordiran untuk menyeimbangkan bagian atasnya.

__ADS_1


Rambutnya di sanggul rapi. Dan juga juga menggunakan sepatu hak tinggi guna menunjang penampilannya.


"Mama juga sangat cantik!" sahut Alis. Ia menatap penampilan mamanya dari atas sampai bawah, bahkan Shakila seperti wanita yang berumur 5 tahun dibawah umurnya.


"Ayo! kita berangkat sekarang. Ayahmu sudah menunggu dibawah."


Alis mengangguk dan mengikuti langkah ibunya yang sudah keluar dari kamarnya dan sedang menuju kearah tangga.


"Ma, kakak Riyan mana?" Alis menutup pintu kamarnya.


"Dia masih di kantornya, katanya ia berangkat dari kantornya saja."


"Oh."


Mereka meneruskan langkah mereka hingga sampai didepan pintu. Rupanya Bastian sudah menunggu mereka didalam mobil. Alis segera masuk kedalam mobil dan duduk di kursi belakang sedangkan ibunya duduk di kursi depan disamping ayahnya.


Tidak ada percakapan diantara Alis ataupun ayah ibunya, ia tetap asyik dengan dunia bukunya. Ia memang sengaja meraih sebuah buku kesayangannya dan membawanya untuk menghilangkan rasa bosannya.


Berkali-kali Bastian melirik kearahnya melalui kaca spion namun Alis tetap tidak bergeming dengan bukunya. Bahkan ia tidak menyapa ayahnya sendiri sewaktu pertama kali bertemu tadi. Rupanya masih ada perang batin diantara mereka.


"Alis, bagaimana dengan pidatomu nanti saat di pesta, apakah kamu sudah mempersiapkannya?" Shakila mencairkan suasana yang terasa tegang. Ia menanti jawaban yang akan terlontar dari mulut Alis.


Ia merasa sangat tidak nyaman dengan aura yang diperlihatkan ayah dan anak ini.


"Sudah." Alis tetap sibuk dengan buku yang ada ditangannya. Ia tetap pada posisinya. Hingga mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki gerbang sekolahnya, Alis tidak pernah mengalihkan tatapannya walau sedetikpun dari buku yang ada ditangannya.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2