
"Kenapa kamu tidak jujur pada kakak Alis, kenapa kamu tega menyembunyikan hal sebesar ini dari kakak!!" teriak Riyan didepan wajah Alis. Ia tidak menyangka bahwa adik yang paling di sayanginya tega menyembunyikan semua fakta yang dihadapinya. Seandainya dirinya tidak mendengarkan percakapan mereka tadi, entah kapan dirinya tahu tentang semua ini.
Riyan menatap Alis dengan penuh kecewa. Ia bahkan merasa gagal menjadi seorang kakak karena tidak dapat menjaga adiknya dengan benar.
Alis hanya bisa menunduk saja tanpa bisa berucap. Tangannya sibuk meremas-rrmas ujung bajunya. Mulutnya bergetar ingin dia mengelak semua tuduhan itu tapi tidak mungkin. Ujung matanya mulai berembun, dengan sekali kedip maka aliran itu akan mengalir deras bak air terjun yang terjun bebas.
Saat ini mereka sedang berada di ruang dapur. Tadinya Alis ingin memasak untuk makan malam dirinya namun ia dikejutkan dengan suara Riyan yang menggelegar bak petir bahkan suaranya syarat dengan amarah dan kekecewaan.
"Kak, ma'afkan Alis karena tidak bisa menjaga diri," Alis berjalan dan berlutut di kaki Riyan. Tangisnya pecah, ia tergugu. Riyan yang menatap semua itu merasa kasihan dan tidak tega untuk kembali memarahi adiknya. Ia mengusap rambutnya prustasi.
Dengan gerakan lambat Riyan berjongkok dan meraih Alis untuk berdiri. Ia mendudukkan Alis pada meja makan kemudian berjalan mengambil gelas dan menuangkan air putih. Menyerahkannya pada Alis.
Gerakan gelengan kepalanya pada Alis membuat Riyan semakin prustasi. Bahkan gadis kecil itu hanya diam dan menunduk namun terdengar sesekali tarikan napasnya yang berat. Bahkan bunyi hidungnya yang beringus.
"Jadi ini alasan Rafael ingin menikahimu?" Riyan kembali membuka suara setelah lama keterdiamannya. Ia menatap kearah Alis yang terlihat mulai tenang.
Gerakan anggukan kepala Alis membuat amarah Riyan kembali naik. Ingin rasanya ia memecahkan sesuatu dan juga meninju sesuatu sampai hancur.
"Kapan?"
"Sewaktu Alis di luar negri. Waktu itu Alis tidak tahu karena Alis tidak sadar selama beberapa hari. Menurut dokter Marcel, Alis dalam pengaruh obat bius."
"Jadi kamu juga pernah dirawat disana oleh seorang dokter?"
"Iya. Hanya memulihkan tenaga dan juga menghilangkan pengaruh obat bius."
Riyan meremas jemarinya kuat, ia sangat benci terhadap sang pelaku yang sudah merusak masa depan adiknya dan juga memberikan obat bius untuknya. Bahkan hingga sekarang pelakunya sulit ditangkap karena keberadaannya yang sulit terlacak oleh pihak polisi.
__ADS_1
"Menurut Rafael, kenapa itu bisa terjadi? Apakah dia pernah menceritakannya padamu?" tanya Riyan lagi.
Alis mengangguk dengan gerakan halus, ia merasakan kerongkongannya kering. Dengan cepat ia meraih segelas air yang berada dihadapannya dan meneguknya dengan perlahan. Ia sudah merasakan tenang pada dirinya.
"Dia juga dijebak dan diberikan obat oleh seseorang. Setelah itu, dia dibawa oleh seseorang kedalam kamar yang aku tempati di sebuah klub malam waktu itu. Setelahnya terjadi hal yang tidak kami inginkan," lirih Alis diujung kalimatnya.
"Kakak tidak tau kalau hal sebesar itu menimpa dirimu. Kalaupun kakak tidak .mendengar pembicaraan kalian tadi, mungkin selamanya kakak tidak akan pernah tahu bahwa Rafael sudah menidurimu. Kalian berdua akan tetap menikah walaupun tidak ada cinta diantara kalian. Nanti akan kita bicarakan dengan papa tentang semuanya. Perjodohan yang papa rencanakan harus kita gagalkan."
"Maksud kakak apa?"
"Kamu harus menikah dengan Rafael untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kalian, walaupun tidak kalian sengaja namun efeknya besar. Bisa-bisa dia hadir didalam perutmu."
"Tapi Alis takut papa akan murka dan mengamuk, Alis tidak mau diusir seperti dulu lagi."
"Selama ada kakak, kamu tidak akan kenapa-kenapa. Percayalah." Riyan meraih tubuh Alis kemudian mendekapnya dengan sayang. Beberapa kali ia menciumi puncak kepala Alis.
"Selain kakak, siapa lagi yang tahu tentang semua ini. Apakah mama?" tanya Riyan, tangannya masih sibuk membelai rambut Alis. Ia teringat dengan gelagat mamanya yang berbeda dari biasanya, bahkan kemarin ia sempat mendengar pertengkaran ibunya dan ayahnya hanya karena berdebat soal perjodohan yang sebentar lagi akan dilakukan.
"Ya sudah, sekarang kita makan dulu. Kamu tidak perlu memasak karena kakak sudah memesan makanan dari luar." Alis hanya mengangguk dan melepaskan dekapannya terhadap Riyan. Ia kembali duduk di kursi yang ada di ruang makan tersebut.
Tidak berapa lama bel berbunyi pertanda pesanan mereka sudah datang. Bergegas Riyan berjalan kearah luar untuk melihat siapa yang datang.
Benar. Pengantar makanan yang dipesannya sudah berada didepan pintu. Ia mengambil pesanannya setelah memberikan uang sebagai tips untuk gojek tersebut.
Dengan langkah lebar, ia membawa makanan yang ada didalam kantong plastik tersebut. Membawanya kehadapan Alis yang sudah duduk dengan tenang di meja makan. Riyan mengeluarkan kotak makanan dan menyerahkannya kehadapn Alis. Ia mengambil piring dan menuangkannya kedalam piring.
Matanya menatap kearah Alis yang hanya diam saja. Ia tahu seperti apa tekanan batin yang dihadapi oleh Alis.
__ADS_1
"Sekarang kamu makan dan setelah ini istirahat. Kakak akan keluar sebentar karena ada kesibukan," ucap Riyan sambil kembali menatap Alis yang mengangguk saja.
•••
Alis sudah berada di kamarnya. Ia berusaha untuk memejamkan matanya. Melupakan sejenak masalah yang tidak berujung.
Sedangkan Riyan, dia pergi keluar kerumah ayahnya lebih tepatnya. Ingin rasanya ia melabrak Rafael namun seperti yang Alis bilang tadi bahwa Rafael juga dijebak. Ia merasa semakin prustasi apalagi setelah mengingat perjodohan yang akan dilaksanakan bertepatan dengan ulang tahun sekolah Alis.
Tin-tin
Beberapa kali Riyan mengklakson mobil yang berada didepannya. Mobil itu berjalan sangat lamban menurutnya. Bahkan menghalangi jalannya. Dengan langkah gusar ia menghampiri mobil yang tertutup rapat tersebut. Mengetok pintunya dengan sangat keras.
Wajah Riyan seketika langsung mengeras saat pintu mobil tersebut terbuka. Rupanya dia yang selama ini dicari-cari polisi namun tidak pernah ketemu dan dia juga yang sudah menculik Alis dan membuat keluarganya dalam kesulitan.
"Keluar kamu Munawir!!" teriak Riyan ingin meraih tubuh Munawir namun dicegah oleh anak buahnya. Ingin rasanya ia merobek-robek dan mencabik-cabik bagian tubuh Munawir hingga tidak berbentuk.
Terdengar tawa jahat membahana mengisi kekosongan udara dimalam itu.
"Kamu ingin mengalahkanku, coba kamu lihat.dirimu sendiri. Bahkan kamu lebih pantas untuk dikasihani. Kamu bukan lawanku, kamu masih bocah!!" ucapnya dengan seringaian.
"Oh iya, kamu tidak.perlu mengurusi diriku, cukup urusi saja adikmu yang sudah ternoda!!" tawanya kembali membahana meninggalkan amarah yang meledak-ledak di diri Riyan.
"Brengs*k," umpat Riyan. Ia melepaskan dirinya dari orang-orang yang sejak tadi memegangnya. Matanya berkilat marah menatap kepergian Munawir, namun senyumnya sedikit terbit setelahnya.
"Kali ini kamu tidak akan pernah bisa lari lagi dariku," desis Riyan tajam meninggalkan tempat tersebut.
Munawir adalah sahabat ayahnya di masa lalu. Orang yang menebar dendam pada keluarganya hanya karena usaha yang dijalankannya dahulu bangkrut. Bahkan dialah yang dahulu memisahkan Alis dengan ayahnya membuat romur tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Alis. Bahkan karena dia jugalah Bastian harus berpura-pura tidak menyukai Alis.
__ADS_1
Riyan memukul setir mobilnya beberapa kali, ia sudah menelpon polisi dan mengkonfirmasikan bahwa dia sudah menemukan Munawir. Dengan berbekal pelacak yang di letakkannya di mobil Munawir tadi secara diam-diam, Riyan mengirimkan lokasi keberadaannya. Biarlah semua urusan tentang Munawir diserahkannya pada polisi, ia hanya perlu berbicara dengan ayahnya terlebih dahulu.
💦💦💦