Layangan Kertas

Layangan Kertas
Keributan Diruang Kelas


__ADS_3

Al menatap Alis dari kejauhan, ia melihat Alis baru saja turun dari mobil Aldo. Biasanya Aldo selalu memakai motornya, namun kali ini agak berbeda. Al memalingkan wajahnya saat ia melihat Aldo yang berjaalan bersisian dengan Alis dan tampak terlihat akrab. Ia begitu kecewa melihat kenyataan itu, Al meraba dadanya yang terasa begitu sakit. Ia menggenggam jemarinya dengan kuat. Apalagi Al teringat dengan kejadian tadi malam yang dengan tanpa sengaja ia melihat Aldo dan Alis sedang berpegangan tangan ditaman restoran. Ia dan keluarganya yang memang berencana untuk makan malam bersama, kembali gagal karena alasan Al yang berpura-pura sakit. Padahal ia hanya tidak ingin melihat kemesraan Alis dan Aldo ditaman restoran tersebut.


"Al, dia bukan gadis yang tepat untukmu." ucap Andra sambil menepuk bahu Al.


Al mendelik kearah Andra, ia kembali menatap kearah Aldo yang terlihat lebih hangat. Seperti apapun ia menyangkal perasaannya, tetap hatinya bersikukuh tidak ingin lepas dari Alis. Disisi kemarahannya pada Alis, ia tetap berharap agar Alis dan sahabatnya bahagia.


Rumor tentang kedekatan Alis dan Aldo lebih cepat merebak keseantero sekolah dibandingkan dengan rumor sebelumnya.


Aldo menghampiri ketiga sahabatnya, ia ingin menjelaskan kesalah pahaman ini namun mereka hanya diam saja, bahkan tidak ada sapaan seperti biasanya. Bahkan Al sudah terlebih dahulu pergi masuk kedalam kelas mereka.


"Do, yang sabar, mereka hanya tidak memahami situasimu yang sulit saja kok. Al sengaja menghindarimu agar emosinya tidak meledak." Setelah mengucapkan itu, Andrapun berlalu dari hadapan Aldo.


Aldo mendesah lelah, ia hanya ingin mengatakan tentang batalnya perjodohan ini, tapi kenapa begitu sulit.


Dengan langkah gontai ia masuk kedalam kelas dan duduk dibangkunya. Pandangannya jauh lebih menyeramkan dengan tatapan mengintimidasi setiap lawannya.


Sedangkan Alis dikelasnya malah mendapat cibiran pedas dari teman-teman sekelasnya.


"Lis, udah aku bilangkan padamu, menunggu ulang tahun sekolah itu kelamaan. Bilang aja sekarang, biar wajah-wajah mereka yang sok berkuasa itu malu." ucap Liza dengan berbisik keras.


"Udahlah Za, aku tu baik-baik aja. Kamu tidak usah khawatir."


"Tapi Lis, aku yang khawatir sama kamu." Liza menatap Alis dengan tatapan memohon. Ia berharap agar Alis mau mendengarkan yang disarankan olehnya. "Tidak usah deh kamu memakai topeng begituan, lebih baik kamu katakan aja yang sejujurnya." Liza tampak gemes dengan Alis.


Alis mengambil bukunya dan membacanya. Ia begitu acuh pada Liza. Sedangkan Liza menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia tampak lelah menasehati Alis yang sedikit bandel.


"Hai Alis, berapa banyak bayaran yang kamu dapat dalam sehari dari menjerat cowok-cowok kaya?" tanya Nadin, teman sekelas Alis. Ia berdiri tepat didepan meja Alis dengan gaya angkuh.


"Apaan sih, tidak jelas. Jaga bicara kamu ya, kamu tidak tau apa-apa tentang siapa Alis." Liza melotot kearah Nadin, ia tampak geram mendengar kata-kata Nadin yang tidak sopan sama sekali.

__ADS_1


"Siapa bilang tidak jelas, jelas-jelas semua orang melihatnya berganti pasangan setiap hari. Dan apa tadi kamu bilang, siapa Alis? tentu saja gadis murahan yang suka menjual tubuhnya."


"Mana buktinya kalau Alis suka gonta-ganti pasangan?" tanya Liza dengan lebih keras.


"Buktinya sudah nyata. Coba kamu lihat setiap pagi dipintu pagar sekolah sana. Bahkan pagi ini ia sudah berhasil menggait cowok populer sekolah kita." Ucap Nadin dengan sarkas.


"Jaga mulut kamu ya kalau bicara!" Liza berdiri dan mengarahkan telunjuknya kearah Nadin.


"Udah, stop!! apa-apaan kalian berdua. Sudah dewasa tapi masih bersikap layaknya anak kecil!!" Alis menggebrak meja dengan kasar. Ia tampak geram dengan keributan didepan matanya menyangkut tentang dirinya yang jelas-jelas ada didepan hidung mereka.


Liza dan Nadin tampak bungkam, begitu juga dengan seisi kelas. Mereka malah berkerumun melihat adu mulut yang terjadi diantara sesama mereka.


"Nadin, jaga bicara kamu. Tidak perlu kamu menilai diriku seperti apa, kamu juga tidak cukup mengenal siapa aku. Jadi, kuingatkan sekali lagi, jaga sikapmu!" ucap Alis dengan penuh penekanan diujung kalimatnya. Alis menatap dengan tajam kearah Nadin.


"Buat apa aku menjaga sikap, toh kamu lebih buruk dari kenyataan yang kami tahu. Kami tidak sudi punya teman seperti kamu. Sebaiknya kamu pindah dari sekolah kami!!" Nadin tersenyum miring menatap kearah Alis dan Liza.


Liza tampak semakin geram melihat kekompakan satu kelas yang mengusir Alis. Ia menatap Alis yang hanya diam dan menatap mereka satu persatu.


"Dengar ya, Alis ini adalah pemilik sekolah ini!!" ucap Liza dengan lantang. Ia sudah tidak tahan lagi melihat sikap mereka yang meremehkan Alis. Begitu juga dengan Alis, Liza merasa heran, kenapa ia begitu sabar menghadapi hal seperti itu. Berapa banyak sih stok kesabaran yang Alis punya hingga ia tidak mengambil sikap sama sekali.


Satu kelas langsung bungkam mendengar pernyataan Liza tersebut, mereka menganga dan kemudian tertawa terbahak-bahak, mentertawakan apa yang barusan disampaikan oleh Liza. Mereka menganggap apa yang diucapkan oleh Liza adalah sebuah lelucon.


"Menghayal boleh aja, tapi jangan tinggi-tinggi. Ntar ga bisa balik lagi." ledek Nadin diiringi derai tawa oleh yang lainnya.


"Sok kepedean, malah ngaku-ngaku. Malu-maluin, orang miskin tapi berlagak kaya. Sekolah disini aja pakai bantuan beasiswa." sambut yang lainnya dengan masih mencibir kearah Alis.


"Za, udah. Biarkan saja mereka berbicara sepuas mereka. Kamu bilang apa aja juga bakalan tidak mereka percaya." Alis membujuk Liza agar duduk kembali pada kursinya. Ia sudah memprediksi ini, kalau Liza hanya mereka katakan membual saja.


Alis berusaha menguatkan hatinya agar tidak kembali marah dengan berusaha fokus dengan bacaannya dan mengabaikan sindiran-sindiran mereka.

__ADS_1


"Tuhkan, coba lihat deh. Buku bacaannya saja buku bisnis. Apa sih yang dia bisa selain jual diri. Bisnis apa juga, semua pasti tidak lepas dari jual tubuh." Nadin kembali menyerang Alis dengan kata-kata yang lebih menohok.


Alis menggenggam tangannya, ia tampak geram mendengar kata-kata Nadin yang berlebihan. Namun ia tetap bersabar, ia ingin tahu sampai sejauh mana mereka akan meminta ma'af padanya saat tahu tentang dirinya yang sebenarnya.


Alis berdiri dan berjalan keluar kelas, ia ingin menenangkan pikirannya sejenak. Sekuat apapun perasaan dan hatinya, ia tetap sakit saat mendengar tuduhan mereka yang tidak berdasar itu. Ia kecewa pada teman-teman sekelasnya, yang bisa mereka lihat didunia ini hanyalah harta, pangkat dan kedudukan sosial tanpa memandang seseorang dari hatinya ataupun kebaikannya.


Alis berjalan dipinggir lapangan, ia tidak melihat kalau kelasnya Al sedang berolahraga. Mereka sedang bermain basket. Tatapannya begitu kosong, dengan pikiran yang curat-murat memenuhi benaknya, ia berjalan dengan tak tentu arah.


"Alis hati-hati!!" teriak seseorang. Saat Alis menoleh.


Buggg...


Bola basket terjatuh tepat mengenai kepalanya, Alis tersungkur jatuh. Alis memegang kepalanya yang terasa sakit, sekuat tenaga ia bertahan agar tidak pingsan. Ia mendengar langkah kaki yang perlahan mendekat kearahnya. Alis menatap mereka satu persatu, namun buram. Ia tidak dapat melihat dengan jelas.


Al dan Aldo menghampiri kearah Alis, melihat Alis yang tersungkur jatuh. Dengan cekatan Al langsung mendudukan Alis dipinggir lapangan.


"Alis, dimana yang sakit? Kita kerumah sakit aja gimana?" tanya Al yang sudah berjongkok didepan Alis. Ia menatap Alis dengan penuh kekhawatiran.


Alis hanya menggelengkan kepalanya, ia menatap Al dengan mata melotot. Hatinya begitu tenang saat ia mendapati Al yang masih perduli padanya. Tiba-tiba hatinya terasa berdesir, ia menatap Al dengan sendu. Sedangkan Al menatap kearah Alis dengan penuh rindu, dadanya masih berdebar saat berada didekatnya seperti ini. Al memang memperhatikan kelas Alis sejak tadi, terdengar sedikit keributan. Bahkan saat Alis keluar kelas, tak ada sedikitpun luput dari pandangan Al.


"Bawa keruang UKS aja dulu, wajahnya kelihatan pucat." ucap Aldo yang ikut berjongkok didepan Alis.


Al yang menyadari keberadaan Aldo didekatnya, segera melepaskan Alis. Ia berdiri dan menjauh darisana. Ia juga tahu diri bahwa Alis sekarang adalah milik Aldo. Sedangkan Alis, ia menatap Al dengan sendu, hatinya berdenyut sakit saat Al pergi meninggalkannya.


"Ayo, kita keruang UKS. Aku bantu jalan." ucap Aldo mengulurkan tangannya.


Alis mengangguk dan menyambut uluran tangan Aldo. Dengan perlahan ia memapah Alis hingga keruang UKS. Semua itu tak pernah lepas dari pandangan Al.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2