Layangan Kertas

Layangan Kertas
Menghindar


__ADS_3

"Al, kamu kenapa? sejak pagi tadi selalu menghindar dari kami. Apa kamu ada masalah?" tanya Irfan yang sedang duduk disamping Al ditaman belakang sekolah. Selama pelajaran pertama berlangsung, Al tidak mengikutinya. Ketiga sahabatnya tampak heran karena tidak biasanya ini terjadi pada Al, karena Al adalah siswa teladan.


"Hanya ada masalah kecil dirumah." jawab Al sambil mendesah dan menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.


"Apa masalah perjodohan lagi?" tanya Irfan yang bersandar dipohon ketapang. "Atau ada hal yang lain lagi?" tanya Irfan lagi. Karena seingatnya Al tidak begini saat mengatakan pada mereka bahwa ia akan dijodohkan, ia bersikap tenang-tenang saja waktu itu. Lalu, kenapa ia begitu prustasi sekarang, ada apa dengan Aldebran.


Al menatap ketiga sahabatnya dan mengangguk dengan lemah. Biarlah kali ini ia berbohong untuk menutup semua masalahnya, ia tidak ingin Aldo kecewa padanya apabila ia mengutarakan masalah yang sebenarnya.


Sedangkan Aldo sedari tadi terus saja memperhatikan Al dengan seksama. Ia yakin Al bukan sedang menghadapi masalah itu, tapi ada masalah lainnya lagi yang masih disembunyikannya. Ia hanya bungkam saja sambil sesekali melirik kearah Angga dan juga Irfan. Matanya melebar saat ia mengingat sebuah nama. Ya, pasti sosok itu yang menjadi penyebabnya.


"Kamu tenang saja Al, kita akan selalu ada kok untukmu." ucap Andra kembali.


Al tersenyum dibuatnya, hatinya kembali menjerit karena rasa sakit saat semua sahabatnya perduli namun ia merasa sudah mengkhianati persahabatan ini. Benar kata ayahnya, ia harus menjauhi Alis agar persahabatan yang sudah lama dibangunnya tetap utuh. Tapi, ia memerlukan waktu untuk semua itu. Baginya tidaklah mudah melupakan orang yang selalu membuat dadanya berdebar, orang yang membuatnya merasa nyaman dan menghangat disaat bersamaan.


"Al, kantin yuk. Lapar!" celetuk Irfan sambil tersenyum kearah ketiganya yang serempak menatapnya.


"Kalian duluan aja, nanti aku menyusul." jawab Al.


"Beneran nih kamu tidak apa-apa ditinggal sendiri?" tanya Andra yang terlihat khawatir.


"Apaan sih kamu. Aku akan baik-baik aja, jangan naif deh." Al tampak kesal dibuatnya.


"Hahaha... iya-iya, aku percaya kok." jawab Andra yang melihat Al sudah dapat merubah ekspresinya.


"Ayo Fan, Do!" ajak Andra.


"Aku disini dulu sebentar, kalian aja yang duluan." jawab Aldo memejamkan matanya sesaat.


Irfan dan Andra menganggukan kepalanya dan segera pergi dari sana meninggalkan Al dan Aldo berdua.

__ADS_1


"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Aldo sambil menatap Al dengan tajam.


Al tersenyum sinis kearah Aldo, ia tahu bahwa sumber masalah ini adalah Aldo. Jika saja Aldo menolaknya, maka perjodohan itu tidaklah terjadi dan Alis tetap akan bersamanya. Biarlah kali ini ia terdengar egois. "Tidak ada sangkut pautnya dengan kamu, Do." Al tersenyum getir. Ia menelan liurnya yang terasa pahit.


"Soal Alis, aku... benar-benar minta ma'af Al. Semua ini bukan atas kehendakku. Dan juga kami__"


"Cukup!" Al menyela dan berdiri. Ia menatap dengan tajam kearah Aldo. "Jangan kamu mengungkit gadis sialan itu lagi didepanku. Aku paling tidak suka pada orang yang membohongiku." Al berdesis. Ia sangat marah saat Aldo mengungkit masalah itu lagi, pastilah Aldo akan mengatakan hari pertunangan mereka. Sebelum ia mengucapkannya, terlebih dahulu Al memotongnya, ia tidak ingin mendengar kenyataan yang lebih pahit lagi.


Aldo terperanjat mendengar Al yang terlihat marah saat ia menyebut nama Alis, entah kesalahan apa yang dituduhkan Al pada Alis. Dan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Kemarin dia terlihat baik-baik saja bahkan setelah mereka berbicara empat mata di rooftop, keadaannya masih sama. Tapi hari ini, baiklah ia akan cari tahu sendiri.


"Al, tunggu! Kamu jangan salah paham dulu padaku. Aku tidak___" Aldo menghentikan ucapannya saat Al mengangkat tangannya dan meneruskan langkahnya untuk menjauhi Aldo yang menatapnya dengan menggenggam erat kedua belah tangannya. Ia kecewa pada Al, karena Al yang tidak lagi mempercayainya.


Aldo berlari menuju kearah kelas 12 ipa2, ia menatap kearah dalam kelas Alis untuk mencari keberadaan Alis, namun kelas tampak kosong. "Dimana gadis itu?" gumam Al sambil mengedarkan pandangannya menyapu seluruh area lorong sekolah.


"Eh, kak Aldo. Lagi apa disini?" tanya Jessica sambil tersenyum manis menghampiri Aldo. Ia menatap kearah Aldo dengan mata berbinar kagum. Lelaki didepannya ini terlihat lebih tampan daripada Al dan juga terlihat sangat dingin.


Aldo berbalik dan menatap kearah Jessica dengan tajam. Ia melengos pergi tanpa menjawab pertanyaan Jessica.


Aldo terus melangkah menuju kearah perpustakaan. Ia yakin kalau Alis sedang berada disana. Ia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan saat pertama kali ia masuk keperpustakaan.


Benar dugaannya, gadis itu sedang berada disini dan dia sedang tertidur. Aldo mengerinyitkan dahinya, dengan perlahan ia menghampiri Alis yang sedang tertidur dengan kepala yang menyandar pada kursi yang didudukinya.


"Dasar gadis ceroboh." gumam Aldo sambil membetulkan kepala Alis dan menyibak rambutnya yang menutupi wajahnya. Keinginan Aldo untuk memarahi Alis dan meminta penjelasan darinya kembali urung, ia menatap wajah polos Alis. Aldo menyandarkan kepala Alis pada bahunya, perasaannya seperti menghangat. Ia merasakan perasaan yang berbeda bahkan sudah sejak lama ia memperhatikan Alis bahkan sebelum Al mengenalnya. Namun perhatiannya waktu itu hanya sebatas penasaran saja.


Alis menggerakan kepalanya, tangannya pun tidak tinggal diam. Ia mengubah posisinya dengan memeluk Aldo dari samping. Tangannya meraba dada Aldo. Kok keras dan empuk. Gumam Alis sambil perlahan membuka matanya.


"Eh!" ucap Alis yang terperanjat dengan posisi tidurnya. Ia bergegas menjauh dan menggeser duduknya, matanya kembali melirik kearah Aldo.


"Sejak kapan dia ada disini?" gumam Alis pada dirinya sendiri tanpa menoleh pada Aldo.

__ADS_1


Aldo tersenyum mendengar gumaman Alis tersebut. "Sejak tadi." ucap Aldo dengan senyum jahil.


Alis melotot mendengar kata-kata Aldo barusan, ia menatap kedua belah telapak tangannya. Lalu, apa saja yang diperbuatnya pada orang ini. Ish Alis jadi malu.


"Tenang saja, kamu hanya memelukku dengan sangat erat kok." ucap Aldo kembali tersenyum tipis. Ia terbahak didalam hati saat melihat perubahan raut wajah Alis yang tampak lucu dimatanya.


"Ma'af, aku tidak tahu kalau kamu juga duduk disini." ucap Alis sambil meringis. Tapi sedetik kemudian ia tampak melotot dan mendelik kesal kearah Aldo. "Salah kamu sendiri, kenapa duduk disini, bukannya ditempat lain masih banyak kok tempat kosong disana." tunjuk Alis kembali menyalahkan Aldo.


Aldo menggelengkan kepalanya melihat Alis yang dapat merubah moodnya dalam sekejap, dari yang tadinya malu menjadi kesal. "Tuan putri tidur, ini perpustakaan, bukan tempat tidur pribadimu." ucap Aldo sambil menatap kearah Alis dengan jahil.


Alis kembali menunduk, ia merasa malu karena sudah kedapatan tidur diruang perpustakaan ditambah dengan ia yang membolos dijam pertama pelajaran, dan ini bukan kali pertama baginya.


"Terserah aku sajalah, ini juga bukan tempatmu." ucap Alis yang kembali kesal.


"Iya, bukan tempatku tapi peraturan sekolah mengharuskan setiap siswanya untuk mengikuti pelajaran dikelas, bukannya malah bermalas-malasan dan tidur disini."


Skakmat. Alis menatap Aldo dengan melotot. Ia meringis dan memegang tengkuknya. "Ketahuan ya. Hehe..." ucap Alis dengan cengirannya. Ia mengambil buku yang ada didepannya dan kembali membaca dengan fokus. Ia sudah melupakan keberadaan Aldo yang berada disampingnya.


Aldo menggelengkan kepalanya menatap Alis yang kembali kemode sebelumnya. Ia menyandarkan kepalanya dibahu kursi dan meresapi kebersamaannya dengan Alis. 'Senyaman inikah saat duduk bersamanya?' gumam Aldo didalam hatinya. 'Ma'af Al kalau suatu hari nanti aku tidak bisa lagi menutup hatiku, ma'af kalau suatu saat nanti aku juga mencintai orang yang sama dengan yang kamu cintai.' gumam Aldo sambil memejamkan matanya dengan perlahan.


Alis melirik sesaat kearah Aldo yang memejamkan matanya, ia hanya berpura-pura saja fokus membaca untuk mengusir rasa malunya karena perkataan lelaki disampingnya ini yang blak-blakan.


Wajah Alis kembali sendu saat ia kembali teringat dengan sosok Al pagi tadi, ia kembali merasakan sakit pada dadanya. Ia juga tidak tahu, kenapa ia bisa sesakit ini hanya karena diabaikan. Ia akan mencoba untuk bersikap seperti awal, ya Alis yang tertutup dan tidak perduli dengan hal apapun itu.


Sementara itu diluar perpustakaan, sepasang mata sedang menatap keberadaan mereka dengan sendu. Al menggenggam tangannya erat, ia tampak kecewa melihat semua yang terjadi didepan matanya sejak Alis tertidur dibahu Aldo. Ia yang tadinya bermaksud untuk berbicara sebentar dengan Alis harus menelan pahit semua fakta yang terpampang didepan matanya.


Al benar-benar marah kali ini pada Alis. Ternyata benar, Alis mempunyai rencana agar bisa mendekati keluarganya. Kalau tidak, kenapa ia begitu tidak jujur tentang statusnya dengan Aldo pada dirinya. Mulai sekarang, Al tidak akan perduli lagi dengan keberadaan Alis. Ia adalah orang asing yang hanya singgah sebentar dimemorinya. Ya, Al akan melupakannya, bagaimanapun caranya. Al berpaling dan melangkah menuju kearah ruang kelasnya dengan sebuah tekad yang bulat.


Biarlah untuk sesaat mereka saling menghindar dan menjaga jarak. Setidaknya ini dapat menenangkan hati mereka dan menyadari keberadaan masing-masing.

__ADS_1


💦💦💦


__ADS_2