
Tok-tok
Alis menatap heran kearah pintu, tidak seperti biasanya pagi-pagi begini sudah ada yang datang. Apa tukang kebun yang ingin memetik buah ataukah Riyan yang sudah datang dari bisnisnya di Kalimantan. Tapi tidak mungkin, bukankah ia baru sehari berada disana dan besok baru pulang.
Dengan perlahan Alis membuka pintunya, ia tidak terkejut dengan keberadaan Januar didepan pintunya. Pasti ada hal yang penting yang ingin disampaikannya.
"Apa kabar Lis?" Sambil mengacak rambut Alis dan berlalu masuk kedalam rumahnya.
"Baik. Ada apa?"
Januar tersenyum kearah Alis, ia mendudukan dirinya disofa ruang tamu Alis.
"Dinding rumahmu, tetap cantik dengan mural itu." tunjuknya kearah lukisan yang berada dihadapannya. "Seperti dihutan yang indah dengan warna pink." Merentangkan tangannya dan menghirup udara sambil memejamkan matanya.
Alis berdecak melihat semua itu, ia tidak menyukai basa-basi yang diperlihatkan oleh Januar.
"Andika Januar Damanik!!" Alis melotot kearah Januar.
"Iya, sabar sedikit napa? Kamu sangat tidak penyabar rupanya. Cobalah untuk menjadi wanita anggun, yang mempesona dan lemah lembut."
Alis menggertakan giginya mendengar sindiran Januar tersebut. Pagi-pagi sudah mengacaukan suasana yang tenang bagi Alis.
"Apa ini masalah kantor?"
Januar menggelengkan kepalanya melihat gadis didepannya ini yang sangat tidak sabaran.
"Duduk dulu, ini bukan masalah kantor ataupun pekerjaan."
"Lalu?" Alis menatap heran kearah Januar, tidak ada hal yang membuat Januar datang kerumahnya selain urusan kantor ataupun pekerjaan. Baginya, semua itu adalah hal yang terpenting dari segalanya. Namun kali ini sedikit berbeda, apa itu?
"Begini Lis, sesuai dengan pesan dari kakakmu Riyan. Bahwa kamu akan dijodohkan dengan seseorang. Mungkin sahabat dekat ayahmu."
__ADS_1
"Kenapa kak Riyan tidak menyampaikannya secara langsung padaku?" Alis begitu kecewa mendengarnya. Sesuatu yang penting namun disampaikan dari mulut ke mulut, bukannya bertemu secara langsung. Apa maksud dari semua ini.
"Sebenarnya ini pesan ayahmu yang disampaikannya pada Riyan. Karena Riyan baru besok bisa kembali, jadi hari ini kakak yang menyampaikannya. Karena sore nanti seseorang ingin menemuimu."
"Siapa?" Alis menatap kosong kearah depan, pikirannya kembali berkelana tentang ayahnya. Setelah selama ini membuangnya, lalu kini ia muncul dengan keputusan yang sulit untuk diganggu gugat. Seolah keputusannya adalah ketokan palu hakim dimeja hijau, tidak bisa diganggu gugat dan keputusan yang mutlak.
"Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri. Dan sekarang, ayo kita berangkat." Januar merasa iba menatap Alis yang tampak kosong, namun ia tidak bisa melakukan apapun untuk menghiburnya, karena semua yang terjadi ini tidak direncanakan olehnya ataupun oleh Riyan. Ia tahu, bahwa Alis merasa terkekang dengan keputusan orang tuanya yang mendadak tersebut, apalagi setelah kejadian pengasingan Alis, mereka belum pernah menemuinya sama sekali hingga kini.
Apa maksud ayah dengan menjodohkanku. Bukankah selama ini ayah tidak mengakuiku sebagai anaknya, ia sudah membuangku karena kejadian yang lalu. Namun kenapa ia muncul sekarang bukannya untuk memelukku, malah mencampuri urusanku. Mungkin benar, hidupku sepenuhnya hanya milik ayah, walaupun aku pernah tidak diakuinya.
Alis menggenggam jemarinya dan menatap kearah jendela mobil yang perlahan meninggalkan pekarangan rumahnya.
"Alis, sepulang sekolah nanti kamu akan dijemput oleh sopir. Langsung kekantor." Januar melirik kearah Alis sesaat, bukannya ia tidak pernah tahu apa yang ada dipikiran Alis tapi ia berusaha untuk mengalihkannya. Karena hanya itu yang mampu dilakukannya untuk membantu Alis.
Alis menundukkan kepalanya, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan buku bisnis yang sudah lama tidak dibacanya. Ia merindukan semua itu.
Januar kembali diam sambil melirik kearah Alis yang sudah hanyut dengan dunia bacanya. Alis kembali menjadi sosok yang pendiam dan bungkam karena masalah ini. Padahal tadi malam semuanya baik-baik saja bahkan Januar merasa senang karena rumah Alis dikunjungi oleh beberapa temannya. Itu artinya bahwa Alis sudah mengalami kemajuan dalam bentuk pergaulan. Lalu sekarang ia kembali ke mode diam. Mungkin hanya sesaat kemunduran yang diperlihatkannya ini karena berita yang tiba-tiba ini. Ya, pasti hanya sesaat, lihat saja nanti setelah pulang sekolah.
Alis turun tanpa sepatah katapun, ia juga tidak menoleh ataupun melirik kearah Januar, seolah semua yang baru didengarnya tadi hanyalah bisikan angin saja.
Januar mendesah dan segera mengabari Riyan tentang sikap Alis pagi ini setelah mendapat kejutan yang tidak menyenangkan.
"Kenapa ia tidak menolak saja atau memberontak saat dijodohkan. Bukan hanya diam begitu. Selama inikan dia juga sudah mulai akrab dengan dua pemuda." Januar bergumam sendiri sambil terus menatap kepergian Alis.
Sedangkan Alis, ia mengarahkan kakinya menuju kearah bangku taman dan duduk disana sambil membaca buku.
"Alis, kangen kamu!!" Liza setengah berteriak sambil berlari menghampiri Alis yang duduk sendirian.
"Lis, kemarin aku jalan-jalan ketoko buku loh. Disana aku ketemu cowok ganteng bangat dan dia menatapku. Oh... senangnya." Liza menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia kembali membukanya dan menatap kearah Alis yang tidak bergeming dari duduknya.
"Ih Alis! Kenapa cuma diam saja, jawab dong." Kesal dan memberengut.
__ADS_1
Alis mendongakkan kepalanya dan memutar kekiri, kearah Liza. Ia menatap Liza sesaat dan berdiri.
"Yah Alis, apa ada yang salah ya?" Liza tampak heran sambil menatap kepergian Alis yang menuju kearah ruang kelasnya dan meninggalkan dia sendirian.
Alis melangkah dengan tenang. Ia ingin memasuki ruang kelasnya namun dicegat oleh seseorang. Alis menatap dengan dingin kearah Al yang memegang bahunya.
"Ma'af." Al menurunkan tangannya yang ditatap sesaat oleh Alis.
Alis menggerakan dagunya pertanda bertanya ada apa.
"Lis, mamaku mengucapkan terima-kasihnya untukmu. Ia sangat senang mendapatkan bunga darimu." Al tersenyum kearah Alis.
Alis hanya menganggukan kepalanya dan berlalu dari hadapan Al tanpa sepatah katapun.
"Ada apa dengannya, kemarin dia baik-baik saja." Al bergumam dengan keheranannya yang melihat Alis bersikap tidak biasanya.
"Mungkin dia ada masalah."
Al memalingkan wajahnya mendengar suara seseorang dibelakangnya. Ia menatap kearah Liza yang berjalan menuju kearahnya.
"Boleh aku bicara denganmu?"
Al menganggukan kepalanya dan berjalan kearah halaman sekolah untuk mengikuti langkah Liza.
"Alis, orangnya memang pendiam dan sangat tertutup. Tapi belakangan ini, kulihat ia mengalami banyak perubahan. Ia bisa tersenyum walaupun senyumnya tipis, ia bahkan bicara panjang lebar dan sedikit dibumbui dengan candaan." Liza menatap kearah Al yang tetap mendengarkannya. Ia tersenyum sesaat. "Tapi hari ini, ia kembali seperti awal. Orang yang mengalami luka dalam. Dan aku tahu bahwa ia kembali dilanda masalah yang besar." Liza tampak murung setelah mengucapkan kata-kata tersebut.
"Maksud kamu___"
Liza mengangkat tangannya agar Al diam.
"Kuharap kamu yang akan mengobati lukanya. Nanti akan aku ceritakan padamu tentang seorang Alis." Liza tersenyum manis dan berlalu dari hadapan Al, menyisakan tanda tanya besar dikepala Al. Ia berbalik menatap Liza yang sudah menghilang dibalik tembok kelasnya.
__ADS_1
💦💦💦