Layangan Kertas

Layangan Kertas
Berterus Terang


__ADS_3

Sudah siang, bahkan matahari sedang terik-teriknya. Alis baru membuka matanya. Ia benar-benar kelelahan dalam menghadapi hidupnya. Ia menatap kearah perut ratanya, perut yang tidak lama lagi akan menjadi buncit seiring berjalannya waktu. Apa yang akan dijelaskannya pada orang tuanya mengenai itu semua dan bagaimana ia harus menghadapi Al, orang yang selama ini membuatnya sangat nyaman.


Perlahan ia mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala ranjang. Kepalanya berpaling saat pintu kamarnya terbuka. Shakila masuk dengan senyum merekah di bibirnya.


"Sayang, sudah siang. Sebaiknya kamu cuci mukamu dan turun kebawah, kita makan siang," ucap Shakila sambil membelai rambut Alis sayang.


Alis hanya diam saja, matanya menatap kearah gorden yang berkibar-kibar karena ditiup angin, ia terlihat sangat ragu untuk mengucapkannya. Pikirannya berkecamuk, rasanya beban yang dipikulnya sangatlah berat.


"Ayo sayang!" ajak Shakila lagi.


"Ma...." Seketika langkah Shakila terhenti. Ia berpaling dan menatap kearah Alis yang hanya diam saja dengan posisi semula. Dengan perlahan ia melangkah menghampiri Alis. Mendudukkan dirinya tepat dihadapan Alis. Sekali lagi ia menatap kearah Alis yang tampak mematung dengan tatapan kosong. Ia tahu kalau keadaan putrinya tidak baik-baik saja.


"Ada apa sayang? Ceritakan pada mama, jangan kamu sembunyikan sesuatu sendirian," ucap Shakila menarik Alis dalam dekapannya. Ia tahu sejak Alis memanggilnya tadi, Alis sedang ada masalah. Walaupun Alis orang tertutup, ia tetap akan memperlihatkan gelagat yang berbeda disaat dia sedang dalam kesulitan.


Alis tetap diam, dia meresapi pelukan hangat seorang ibu, ibu yang sempat membesarkannya dulu walaupun bukan ibu yang melahirkannya. Ibu yang selalu membelanya walaupun ayahnya selalu memojokkannya. Dadanya seketika sesak saat bayangan masa lalu melintas dibenaknya. Ia ragu, apakah ia harus mengutarakannya sekarang ataukah nanti saja, atau tidak sama sekali. Tapi semuanya akan tetap terlihat dan terbongkar.


"Alis, ada apa? Katakan pada mama. Mama janji akan merahasiakannya dari ayahmu," ucap Shakila sambil melepaskan pelukamnya. Tangannya bertengger dibahu Alis dengan tatapan lembut menatap gadis kaku tersebut.


Alis menarik napas dengan kasar, matanya menengadah keatas, menatap langit-langit kamar. Rasanya mulutnya begitu sulit untuk menyatakan bahwa dirinya sudah tidak perawan lagi.


"Apa ini ada hubungannya dengan tuan Rafael yang ingin menikahimu," selidik Shakila dengan tatapan curiga. Gadis ini terlalu sulit untuk membuka mulutnya walaupun hanya mengucapkan kata ya ataupun tidak.


Dengan perlahan dan terlihat ragu, Alis mengangguk. Ia menatap kearah Shakila yang sejak tadi menatapnya dengan sorot dalam.


"Apa mama akan marah kalau aku akan mengatakan sesuatu yang menyangkut dengan masa depanku?" tanya Alis. Ia terlihat sangat ragu. Haruskah ia percaya dan membaginya walaupun pada ibunya sendiri. Selama ini ia tidak punya tempat untuk berbagi kecuali ia memendamnya sendiri. Ia takut akan dicemooh dan dihina oleh orang lain. Ia sudah merasakan betapa menyakitkannya saat menjadi bahan bullyan, ia merasa diasingkan untuk yang kesekian kalinya. Hidup dalam kesendirian. Baginya kebahagiaan itu semu, nyatanya sepanjang umurnya ia tidak pernah merasa yang namanya bahagia kecuali saat bersama seseorang ia merasa tenang dan nyaman. Tapi apakah pantas kalau dirinya masih berharap pada orang tersebut, sementara dirinya tidak seutuh dulu lagi.


"Katakan pada mama, apa yang terjadi padamu di luar negri sana?" desak Shakila membuyarkan lamunan Alis. Ia menatap Alis dengan perasaan was-was, ia takut Alis akan bersikap seperti beberapa bulan yang lalu, percobaan bunuh diri dan berakhir masuk rumah sakit. Orang pendiam seperti dirinya tidak bisa ditebak, apakah dia sedih ataukah dia bahagia. Semua selalu dikuburnya dan disembunyikannya seorang diri. Wajahnya selalu terlihat datar dan sulit dibaca.


"Sayang, apapun yang terjadi padamu, mama janji tidak akan marah ataupun melaporkanmu pada ayahmu," sekali lagi Shakila membujuknya dan meyakinkannya.


Alis menunduk dalam, ia menggigit bibirnya, tidak berani menatap kearah Shakila dan ia juga ragu untuk meyampaikannya. Namun jika dia hamil, disembunyikan pun percuma karena lambat laun juga akan ketahuan.


"Ma, Alis sudah tidak perawan lagi," lirih Alis disertai airmata yang mengalir deras dipipinya. Shakila terhenyak mendengarnya, ia masih berusaha mencerna kata-kata Alis barusan. Ia menatap kearah Alis, tangannya terulur dan meraih tubuh mungil tersebut, mendekapnya kembali dengan perasaan hangat. Ia begitu sakit mendengarnya tapi ia tidak bisa menghakimi Alis ataupun melakukan sesuatu yang lain. Ternyata apa yang ditakutkannya selama ini terjadi juga, apalagi setelah ia mendapat kabar dari Januar waktu itu. Perasaannya ikut sakit, namun ia berusaha tegar karena dirinyalah tempat Alis bersandar dan tempat Alis berlindung.

__ADS_1


Seperti apapun pintarnya dan pekerja kerasnya seorang Alis, dimatanya Alis tetaplah seorang anak remaja yang perlu bimbingan dan perlindungan dari orang tuanya. Shakila merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Alis dengan benar.


"Apa kamu tahu siapa yang melakukannya?" tanya Shakila.


Alis mengangguk dengan samar. "Rafael ma," lirihnya. Ia terisak dan tergugu, beberapa kali ia menarik napas dalam untuk menenangkan dadanya yang terasa menghimpit.


"Dia lelaki yang bertanggung jawab," sahut Shakila. "Mama sudah menduganya saat ia pertama kalinya mengatakan ingin menikahimu. Sebelum dia pulang tadi, dia kembali menyatakan keseriusannya untuk menikahi dirimu," sahut Shakila yang menenangkan Alis kembali. Ia melepaskan pelukannya, tangannya teralih menangkup wajah Alis.


"Sayang, mama tahu apa yang kamu rasakan, jadi mama akan selalu mendukung apapun keputusanmu."


Alis hanya diam saja, ia hanyut dengan pemikirannya sendiri. Bagaimana ia bisa hidup dengan Rafael, sementara dirinya tidak mencintai lelaki sombong tersebut begitu juga dengan Rafael, dia menikahi Alis hanya karena memiliki rasa tanggung jawab saja.


"Sekarang kita turun, makan siang. Papa dan kakak sudah menunggu dibawah!"


Alis mengangguk dan menatap Shakila. Kakinya terulur dari ranjang. Ia mengikuti langkah Shakila dengan berbagai perasaan yang berkecamuk dibenaknya.


Saat Shakila sudah sampai didepan pintu kamar Alis, ia berhenti dan berbalik sesaat menghadap kearah Alis yang masih larut dalam lamunannya.


"Lusa, kita akan memeriksa dirimu ke rumah sakit. Siapa tahu didalam perutmu sudah tumbuh janin, jadi kamu harus bisa membatasi gerakanmu." Shakila tersenyum menatap kearah putrinya.


Mereka sudah tiba diruang makan, Riyan dan Bastian menatap kearah mereka. Riyan tampak berdecak beberapa kali karena mereka sangat lama menunggu Alis turun.


"Kalian lama sekali. Apa sesusah itu membangunkan putri tidur?" gerutu Riyan sambil menatap kearah Alis yang baru saja mendudukkan dirinya pada kursi yang terletak tepat dihadapan Riyan.


Alis hanya menatap Riyan dengan sorot tajamnya. Kemudian dia menatap kearah piring yang ada didepannya. Tangannya terulur mengambil sendok nasi, ingin menyendoknya namun gerakannya terhenti.


"Alis, besok ulang tahun sekolahmu," ucap Bastian yang menatap kearah Alis.


Alis mengerutkan dahinya samar, ia kembali menatap kearah ayahnya, memperhatikan dengan seksama.


"Kenapa diundur? Biasanya tidak pernah diundur?" tanya Alis bingung. Memang benar biasanya ulang tahun sekolahnya selalu tepat waktu walaupun tanpa dirinya, cukup Januar yang menjadi penggantinya.


"Apa kamu lupa dengan sesuatu yang pernah terjadi padamu waktu itu? Dan juga janjimu pada kakak?" tanya Riyan dengan sorot tidak suka.

__ADS_1


Alis kembali mengernyit, ia berusaha mengingat-ingat yang sudah lalu.


"Memperbaiki namamu dan juga membungkam mulut mereka yang suka membullymu. Apa kamu lupa pada sikap mereka yang keterlaluan padamu, bahkan para orang tua mereka saja sudah beberapa kali menolak dirimu untuk kembali bersekolah di sekolah itu," tekan Riyan mengingatkan.


"Iya, aku tau tapi kenapa kalian tidak mengatakannya sejak awal, sejak aku pertama kali datang tadi?" tanya Alis dingin. Mereka bukannya makan tapi sedang berdebat di meja makan.


"Bagaimana bisa memberitahumu kalau kami sangat terkejut dengan permintaan Rafael, lelaki dingin itu tiba-tiba melamarmu. Ada hubungan apa diantara kalian berdua sebenarnya? Atau jangan-jangan kalian sudah lama menjalin hubungan?" tanya Riyan dengan curiga.


Alis melirik tidak suka pada kakaknya yang luar biasa mulutnya. Ia menunduk dalam, meremas tangannya dibawah meja.


"Kami memang ada hubungan!" ucap Alis, seketika mengalihkan tatapan semua orang yang ada di meja makan kearahnya.


"Tapi hanya hubungan kerjasama antar perusahaan," sahutnya lagi. Mereka semua yang ada disana tampak bernapas lega. Rupanya Alis juga pandai mengaduk-aduk perasaan mereka.


"Ayah juga punya kejutan buat kamu besok, ini sudah papa dan mama rencanakan sejak lama. Semoga kamu suka," ucap Bastian.


Alis melirik kearah ibunya yang tampak bungkam dan terlihat serba salah, ia menatap curiga.


"Apa ini masalah perjodohan yang waktu itu?" tanya Alis kesal.


"Kenapa kalian tidak menyerah saja untuk menjodohkanku!" ucap Alis lagi. Ia benar-benar kesal karena hidupnya selalu diatur semau mereka.


"Alis! Bukankah kamu waktu itu sudah menyetujui untuk menerimanya. Lalu dimana salah kami yang memintamu untuk memenuhi janjimu," ucap Bastian dengan suara yang naik satu oktaf.


Alis menunduk, ia tidak berani untuk membantah apabila ayahnya sudah mengubah volume suaranya, itu pertanda buruk baginya.


"Pa, menurut mama, ada baiknya kita tunda dahulu masalah perjodohan ini, Alis juga masih syok karena penculikan waktu itu. Apalagi sekarang ada Rafael yang melamar Alis, dan kita belum memutuskannya, bukan?" bujuk Shakila. Ia tidak mau suaminya gegabah dalam mengambil tindakan, apalagi dirinya tidak mengetahui kondisi Alis yang sebenarnya.


"Tidak bisa! Ini sudah terlalu lama kami menundanya. Seharusnya perjodohan ini sudah berlangsung sebelum keluarga Subhan meminta Alis dulu!" Bastian terlihat marah, ia menatap kearah istrinya dan Alis dengan sorot tajam.


"Pa, benar yang dikatakan mama, sebaiknya___."


"Papa tetap pada keputusan papa!" sahut Bastian yang memotong langsung ucapan Riyan.

__ADS_1


"Sudah! Sekarang kita makan!" Shakila menengahi. Mereka tampak terdiam dan makan dalam diam, semua diliputi dengan perasaan yang tidak nyaman. Terlebih lagi bagi Alis. Bagaimana seandainya ayahnya tahu kalau dirinya sudah tidak perawan lagi. Habislah dirinya.


💦💦💦


__ADS_2