
"Sayang, kita akan masuk ke universitas yang sama. Kamu memilih jurusan manajemen bisniskan?" tanya Al di sela-sela keterdiaman mereka. Ia merasakan pergerakan kepala Alis yang mengangguk.
"Aku tidak mau terpisah sama kamu, nanti kamu dilirik lelaki lain." Tangan Al bergerak mencubit hidung Alis pelan hingga membuat Alis tersenyum sangat manis. Senyuman itu bagaikan seringaian di mata Al.
"Benarkah?" Alis mengalungkan kedua belah tangannya di leher Al. Menggoda Al dengan gerakan tangannya, hingga wajah Al tampak merona. Alis tertawa setelahnya, membuat Al terkesima melihatnya. Ini pertama kalinya ia melihat tawa Alis membahana dan yang lebih membuatnya bahagia lagi adalah tawa tersebut tercipta karenanya dan untuk dirinya.
"Kamu ternyata suka iseng ya," Al langsung sigap menangkap pinggang Alis dan memeluknya erat. Kemudian tangannya bergerak mengangkat Alis ala bridal style, kemudian berputar-putar. Tawa mereka semakin membahana mengisi kekosongan lahan di samping rumah tersebut.
"Yan! Sejak kapan kamu ada disitu?" Januar berdiri tidak jauh dari halaman tempat Alis dan Al berada. Mereka juga menyaksikan semua itu.
"Ternyata kami tidak salah memilih pendamping hidup untuk Alis. Ia bisa membuatnya tertawa, padahal selama ini gadis itu sangatlah kaku." Sahut Riyan, ia tersenyum sambil menyeka ujung matanya yang sudah berembun. Ia benar-benar terharu setelahnya.
"Iya. Kamu benar. Hati tidak akan pernah menjatuhkan pilihan yang salah," Januar ikut menyaksikan semua itu.
"Dan ini pertama kalinya aku melihatnya tertawa sejak sekian lamanya. Dan aku berharap Alis dapat mempertahankan tawa itu." Riyan kembali menyeka ujung matanya. Ia benar-benar terharu.
"Hmmm. Kamu terlalu cengeng Yan, sejak tadi aku lihat kamu selalu menangis," sahut Januar. Membuat Riyan mendelik kearahnya.
"Hei! Aku juga manusia. Tidak hanya wanita yang bisa mengeluarkan airmata, lelaki juga bisa." Riyan tampak kesal karena momennya sedang di ganggu oleh sahabatnya.
"Emm. Apa kamu tidak iri melihat kemesraan mereka berdua?" Januar menunjuk kearah Alis dan Al dengan dagunya, membuat Riyan terdiam.
"Aku kedalam dulu," Riyan bergegas masuk dan meninggalkan Januar yang terdiam menatapnya. Ada sedikit rasa sesal karena ia sudah menyinggung soal pasangan dihadapan Riyan.
"Hei, tunggu! Padahal umurmu sudah tua!" Januar masih mengekori Riyan.
Membuat Riyan berbalik. "Apa kamu bilang? Tua!?" Riyan terkekeh setelahnya.
"Seperti kamu anak remaja saja berbicara seperti itu. Kamu juga tua Januar!" geram Riyan kemudian meneruskan langkahnya.
Januar hanya mampu mengumpat didalam hatinya karena secara tidak langsung ia sama saja dengan mengatai dirinya sendiri.
__ADS_1
***
Al sudah pulang dari kediaman keluarga Bastian dengan perasaan senang. Rencana pertunangan mereka akan segera di langsungkan, mungkin dalam waktu dekat. Sedangkan acara pernikahan mereka akan berlangsung setelah umur mereka cukup, 20 tahun, mungkin.
"Al, apa kamu yakin akan menikahi Alis?" Aldo menatap dingin kearah Al. Mereka sedang berada di kafe milik Alis.
Al mengangguk dengan mantap dan tersenyum manis setelahnya.
"Tidak ada kebahagiaan terbesarku selain aku menikah dengan Alis," sahut Al.
"Cie... yang sudah sampai umur, omongannya soal menikah saja," ledek Andra.
Al mengangguk, "Iya benar. Aku sudah dewasa, sedangkan kalian masih TK!"
Andra melotot mendengarnya. "Aku tampan begini kamu katai anak TK, aku tidak mimisan loh! Wajahku juga bersih."
"Aku tidak bilang begitu," sahut Al lagi.
Andra mendesah, ia kesal tapi ia hanya mampu menatap Al yang sedang berbahagia.
"Apa yang membuatmu berkata begitu?" Al menatap Aldo dengan serius.
"Tidak ada. Aku hanya bertanya. Biasanya dalam percintaan, yang namanya perempuan itu tidak pernah lepas dari keserakahan soal kekayaan dan juga kesetiaan yang selalu diragukan." Aldo juga bersikap tenang.
"Biasanya wanita akan setia apabila lelakinya memiliki banyak harta. Tapi kebanyakan hubungan selalu di dahului dengan perempuan yang selingkuh!" sahut Aldo lagi.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan. Sebaiknya kamu langsung saja keintinya, jangan bertele-tele seperti itu!" Al masih menatap dingin Aldo, begitupun sebaliknya. Ia tahu kalau Aldo tidak mempercayai Alis dari nada pembicaraannya.
Sedangkan Andra dan Irfan hanya diam menyaksikan perdebatan mereka berdua. Dan ini adalah pertama kalinya mereka berdebat.
"Tunggu. Tunggu. Jangan katakan kalau kamu tidak ikhlas Alis dan Al akan tunangan. Atau kamu masih menyukai gadis aneh tersebut?" Irfan ikut bertanya. Lidahnya sudah terasa sangat gatal sejak tadi.
__ADS_1
"Iya. Apa kamu menyesal sudah melepaskan Alis?" Andra ikut menimpali.
"Bukan itu masalahnya. Aku hanya kasihan saja pada Al, kalau seandainya dia diselingkuhi oleh Alis dengan lelaki lain." Aldo masih tetap bersikap tenang.
Al langsung tersenyum mendengarnya. Ia tahu maksud dari Aldo. Bukan karena cemburu pada Alis, tapi karena mereka adalah sahabat. Dan sudah sepatutnya sahabat itu saling memperdulikan dan saling merangkul.
"Rafael maksudmu?" Al kembali tersenyum.
"Dia sudah diusir oleh Alis. Aku percaya pada Alis. Dia pasti akan selalu menjaga hatiku." Al menunjuk tepat di dadanya.
"Aku sengaja tidak menekan Alis, ingin melihat sejauh mana ia menjaga perasaanku. Ternyata benar, dia adalah gadis yang tepat untuk berada disisiku." Al sedikit terharu.
"Baguslah kalau begitu. Sekarang aku yakin kalau kalian adalah pasangan yang romantis dan bahagia." Aldo ikut merasa lega setelahnya. Pantas saja ia tidak melihat lagi keberadaan lelaki bule tersebut yang selalu mengekori Alis.
"Aku akan selalu mendukung hubungan kalian dan aku juga akan menjaga Alis seperti saudarku sendiri," sahut Aldo kemudian.
Yang lainnya ikut mengangguk, mereka bertos ria bersama. Kemudian memesan minuman.
"Aku rasa setelah ini kita akan sangat jarang berinteraksi." Andra mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Kamu benar. Setelah lulus dari sekolah ini, kita akan masing-masing mengejar impian kita," Irfan ikut menimpali dengan senyum sendunya.
"Beda dengan Al. Kita sibuk mengejar cita-cita. Dia justru mengejar masa depannya," seloroh Irfan. Membuat mereka yang ada di meja itu tertawa bersama.
"Aku pasti akan merindukan kalian semua, dan juga merindukan momen-momen seperti ini," celetuk Al. Membuat seluruh mata yang ada disana menatapnya dengan sendu.
"Hei. Kita masih bisa berkumpul seperti ini sesekali. Bahkan kita bisa menjadwalkannya," sahut Irfan.
"Boleh juga, setiap kali kita libur. Tapi bagaimana dengan Al yang pergi jauh?" Andra menatap Al.
"Kalian tenang saja. Sebisa mungkin aku akan mengatur jadwalku agar dapat berkumpul kalian seperti ini," sahut Al.
__ADS_1
"Ok, itu bagus!" timpal Andra.
💦💦💦