Layangan Kertas

Layangan Kertas
Tidak Terkecoh


__ADS_3

Matahari hampir terbenam di ufuk barat, Alis bergegas turun dari rumah pohon miliknya. Ia berjalan dengan santai kearah rumahnya yang jaraknya sudah tidak jauh lagi. Ia yakin kalau mereka semua sudah pergi dari rumahnya.


Lalu bagaimana dengan Rafael, akh laki-laki keras kepala itu terkadang membuatnya kesal setengah mati. Tapi di dasar lubuk hatinya Alis berharap agar Rafael segera pergi dari rumahnya. Ia tidak suka pada sifat Rafael yang terlalu posesif padanya. Haruskah dia tertawa geli sekarang karena mentertawakan dirinya yang terlalu berpikir naif. Mana mungkin Rafael akan berlaku seperti itu seandainya mereka tidak melakukannya, pasti semua itu hanya karena ia mengharapkan anak yang ada di rahim Alis, bukan karena sebuah perasaan. Tapi lihatlah sekarang, ia sudah meninggalkan rasa malu pada diri Alis.


Alis membuka pintu rumahnya dengan perlahan, ia dapat bernapas lega setelah tidak melihat seorang pun berada disana.


"Aku tidak akan dapat terkecoh dengan permainan gadis kecil sepertimu. Aku tahu kalau kamu sangat ingin menghindariku bahkan keinginan terdalammu adalah agar aku menjauh dari hidupmu. Tapi itu tidak akan pernah aku lakukan karena aku yakin dia sudah ada disana, mengisi tempat kosong itu," tunjuk Rafael dengan menggunakan dagunya pada perut Alis.


Alis terlonjak kaget saat tiba-tiba Rafael menyalakan lampu bertepatan dengan dirinya yang membuka pintu. Alis menatap kearahnya dengan sorot tak terbaca, ia begitu malas menanggapi ucapan Rafael barusan. Ia terlalu egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan Alis.


Dengan langkah lebar Alis melewati dirinya dan berjalan kearah anak tangga. Ia benar-benar lelah menghadapi lelaki tua yang sayangnya sangat tampan dan arogan tersebut. Ia tidak ingin mendengar celotehan apapun lagi malam ini. Ingin trnang sejenak dari lelahnya menghadapi semua masalah yang datang bertubi-tubi.


Rafael tampak tidak terima dengan sikap Alis yang mengacuhkan dirinya. Ia benar-benar tidak suka dengan sikap gadis itu, sangat tidak sopan. Dan itu sangat merusak imagenya sebagai lelaki berkuasa.


"Alis!" teriak Rafael sambil berjalan mengejar Alis yang sudah mencapai anak tangga teratas. Ia melangkah tergesa-gesa sebelum Alis mencapai kamarnya. Bahkan gadis itu sama sekali tidak ingin berbalik dan menatap kearahnya.


Dengan gerakan cepat ia menangkap tangan Alis dan memutar tubuh Alis dalam sekali sentak. Ia menatapnya dengan tajam.


"Kenapa kamu mengabaikanku, bukankah kamu tahu kalau diriku sangat tidak suka diabaikan!" desis Rafael dengan dingin.

__ADS_1


Alis hanya menatapnya datar, ia tidak membuka suaranya ataupun mengalihkan tatapannya. Rafael tersentak saat tiba-tiba Alis menyentak tangannya dengan kasar. Alis berlari kearah kamarnya, namun belum sempat ia menutup pintu kamarnya, Rafael sudah menahannya dengan sebelah kaki kanannya.


Alis terpaksa mengalah dan membiarkan lelaki tersebut memasuki kamarnya, privasinya. Ia berdiri dan menyibak gorden yang menutup kaca yang ada didepannya. Ia berdiri menghadap balkon. Sementara Rafael mendudukkan dirinya pada sofa single yang ada di kamar gadis itu.


Rafael terkesiap melihat kamar Alis yang di dominan dengan warna hitam gelap, bahkan auranya sepekat gelapnya malam. Ia tidak menyangka kalau seorang Alis hanya mengenal warna hitam saja. Matanya beralih menatap rak-rak buku yang berjejer memenuhi kamarnya, kesemuanya hanyalah berisi buku bisnis. Bahkan bed covernya juga berwarna hitam. Tidak ada satupun foto ysng terpajang di dinding kamarnya.


Kamar ini terasa gelap dan sunyi, seperti pemiliknya. Sangat kontras dengan keadaan kafe miliknya yang dipenuhi dengan warna putih ataupun warna-warna cerah lainnya.


Rumahnya sangat kontras berbeda antara kamarnya dan ruang tamunya bahkan juga halamannya.


Matanya tidak berkedip saat bayangannya jatuh pada seluit Alis yang terlihat mempesona di matanya, bahkan gadis itu terlihat lebih bercahaya dengan sinar matahari senja memantul kearahnya. Helaian rambutnya tampak beterbangan disapu angin.


"Apa yang ingin kamu sampaikan?" ucap Alis dingin. Sejak tadi ia menatap balkon kamarnya dengan tatapan kosongnya.


Alis mengetatkan rahangnya saat Rafael kembali mengingatkan malam laknat tersebut. Tapi tenang saja, ia sudah memerintah seseorang untuk memeriksa CCTV yang ada di klub malam tersebut. Ia berharap agar kehidupannya bisa tenang kembali setelah dia melihat rekaman CCTV tersebut. Ia menyesal tidak melihat adegan itu sampai habis saat semua video itu sudah dikirim ke handphone Rafael.


"Dan kamu jangan coba-coba untuk menghindariku, apalagi lari dariku. Ingat! aku pasti mendapatkanmu walaupun kamu berlari keujung dunia sekalipun."


Alis menggenggam tangannya erat, ingin rasanya ia memukul wajah Rafael yang seenaknya saja dalam berbicara. Dengan gerakan lambat Alis berbalik, tangannya dilipat didepan dadanya. Senyum kakunya terbit di wajahnya. Ia berjalan kearah Rafael dengan gerakan menggoda. Berjongkok tepat disamping telinga Rafael, menghembuskan napasnya disana.

__ADS_1


"Tenang saja, aku pasti akan memenuhi janjiku padamu untuk menikah denganmu. Tapi," Alis menarik napas sejenak. Ia semakin mendekatkan bibirnya kearah telinga Rafael dengan perlahan.


"Tapi kalau aku terbukti hamil anakmu. Kalau tidak, maka kamu tidak ada haknya untuk mengatur hidupku lagi," bisik Alis di telinga Rafael dengan sensual.


Rafael menggeram menahan gejolak yang tiba-tiba menguasai dirinya. Ia melirik kearah Alis yang sudah kembali menegakkan badannya. Dapat ia rasakan harumnya napas Alis, bahkan sama harumnya seperti jeruk manis. Ingin rasanya ia menerkam Alis untuk saat ini juga karena sikap berani gadis ini menggodanya. Tidakkah kalau Alis tahu, Rafael mati-matian menahan hasratnya.


"Apa maksudmu?" tanya Rafael setelah ia dapat menguasai dirinya.


"Aku akan memberikanmu kejutan setelah ulang tahun sekolah nanti, tepatnya lusa." Alis tersenyum mengejek kearah Rafael. Senyum yang membuat Rafael tampak penasaran dengan rencana Alis kedepannya.


Apakah gadis ini sudah tahu kalau dirinya sebenarnya masih perawan dan semua itu hanyalah taktiknya untuk mendapatkan Alis.


"Baiklah! Aku tunggu kejutan itu darimu nona manis," ucap Rafael dengan senyum manisnya. Ia berdiri dan mengacak rambut Alis sesaat. Dengan langkah lebar ia berjalan keluar kamar Alis. Ia ingin memberikan waktu berpikir pada gadis itu. Ia benar-benar kecewa dengan penolakannya tadi walaupun tidak secara gamblang.


Rafael merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya dan menelpon asisten pribadinya agar menjemputnya sekarang juga.


Langkahnya semakin lebar melangkah meninggalkan kediaman Alis yang tampak semakin sunyi.


Sedangkan Alis, dia berada di balkon. Menatap kearah Rafael yang meninggalkan rumahnya. Kini hanya dirinya yang tertinggal sendiri. Mungkin besok dia akan melihat keadaan kafenya ataupun keadaan sekolahnya karena sudah lama ia tidak memantaunya secara langsung.

__ADS_1


Bayangan Al berkelebat dibenaknya saat ia menatap kearah bangku taman yang ada didepan matanya. Alis kecewa dengan sikap posesif Al yang terlalu terburu-buru mengklaim dirinya sebagai milik Al. Ia menarik napsnya sejenak, rasanya ia begitu malu untuk bertatap muka besok dengan semua sahabatnya dan juga sahabat Al atas kejadian hari ini yang menimpanya.


Dengan gerakan cepat ia masuk kedalam kamarnya dan menutup seluruh gorden yang ada disana. Bergegas ia mengambil jubah mandi. Rasanya ia sangat lelah dan ingin berendam dengan air hangat selama beberapa menit kedepan.


__ADS_2