
Pagi ini Alis bangun seperti biasanya, namun kali ini suasananya terlihat berbeda. Ia melakukan pekerjaannya tidak hanya seorang diri, namun juga dibantu oleh kakaknya Riyan.
"Lis, katanya ada yang ingin dibicarakan sama kakak. Apa?" tanya Riyan yang sudah duduk dimeja makan dengan secangkir teh ditangannya.
Alis menghentikan pergerakan tangannya yang sedang memotong kacang panjang untuk ditumisnya sebagai bekalnya nanti. Ia menatap kearah Riyan yang juga menatapnya sedari tadi. Alis menarik napasnya dengan perlahan, namun hingga beberapa menit kemudian kata-kata itu belum juga diucapkannya.
"Ya udah, nanti saja kalau kamu sudah siap untuk mengutarakannya pada kakak." Riyan memaklumi Alis yang terlihat sangat berat saat ingin mengutarakan keinginannya.
"Tunggu." Alis menatap kakaknya yang bergerak ingin berdiri meninggalkannya. Sejak tadi malam ia sudah menyiapkan semuanya untuk membicarakannya pada Riyan, namun hingga pagi ini ia masih belum bisa untuk mengucapkannya.
Alis menatap kearah Riyan yang juga sudah menunggunya sedari tadi. Ia meremas tangannya beberapa kali.
"Aku ingin bertemu dengan ayah dan juga ibu." Alis mengucapkannya begitu lirih hingga terdengar seperti bisikan saja. Ia menundukan kepalanya, rasanya gemuruh didadanya begitu hebat hingga ia merasakan sesak yang luar biasa. Dengan gemetar Alis meraih air putih yang ada dihadapannya dan meneguknya dalam sekali teguk. Bahkan peluh sudah memenuhi pelipis wajahnya.
"Apa kamu yakin?" Riyan menatap Alis dengan khawatir. Ia tahu bahwa sekarang Alis sedang mencoba melawan rasa traumanya. Riyan mengalihkan pandangannya pada jari-jarinya kemudian kembali menatap kearah Alis yang sudah tampak tenang.
Alis menganggukan kepalanya menatap kearah Riyan yang menghampirinya. Riyan memegang kedua belah pundak adiknya tersebut.
"Baiklah, tapi kamu harus berjanji pada kakak bahwa kamu tidak akan melakukan hal yang aneh lagi setelahnya." Riyan menatap kedalam mata Alis yang tampak berwarna kehitaman tersebut. Ada semacam harapan dan ketakutan disana.
Alis kembali menganggukan kepalanya. Ia mendekap kakaknya dengan erat untuk menyalurkan rasa khawatirnya. Sebisa mungkin Alis meredakan degup jantung yang menggila, karena ia merasa menghadapi tantangan yang sulit dalam hidupnya.
"Ya udah, nanti kakak akan mengaturnya, tapi kita selesaikan dulu acara memasak yang tertunda." Riyan tersenyum menatap kearah Alis. Ia berharap setelah ini semuanya akan baik-baik saja dan Alis kembali tersenyum seperti dulu. Senyum yang manis dibalik sifat pemalunya.
Mereka berkutat didapur selama 45 menit, setelahnya mereka membersihkan diri terlebih dahulu kemudian bergegas untuk sarapan dan berangkat bersama.
💦💦💦
Al sedang sarapan bersama ayahnya dan juga ibunya. Arya menatap Al beberapa kali, ia mengerutkan dahinya pertanda bingung dengan tingkah Al sepagi ini. Ia menatap kearah istrinya yang juga memperhatikan Al sedari tadi, istrinya hanya mengedikan bahunya pertanda tidak tahu dengan yang terjadi pada Al.
"Al, kamu kenapa? Senang amat." Winda menatap kearah Al dengan senyumnya.
Al menatap kearah ibunya dan juga ayahnya, ia menggelengkan kepalanya, kemudian sebisa mungkin ia mengontrol mimik wajahnya senormal mungkin.
__ADS_1
"Bagaimana dengan perjodohan yang papa utarakan semalam? Apa kamu sudah memikirkan ulang?" Arya bertanya kepada Al, ia terus saja memperhatikan pergerakan Al yang terhenti dan menatapnya balik.
"Belum pa." Al menjawab dengan tanpa semangat. Rasa laparnya perlahan menguap entah kemana. Ia menatap kearah ibunya yang juga menatap kearahnya.
"Sebenarnya Al sudah punya pilihan sendiri pa." Al menarik napasnya saat mengucapkannya. Dengan penuh keberanian, ia menatap kearah ayahnya namun tidak ada perubahan apapun disana.
"Yang seperti apa pilihanmu?" Arya bertanya dengan datar, sebisa mungkin ia menahan emosi yang bergejolak didadanya.
"Dia hanya gadis sederhana dimata semua orang, tapi bagi Al dia adalah gadis yang luar biasa." Al tersenyum setelah membayangkan Alis yang tampak sibuk dengan tali layangan ditangannya. Ia kembali menerawang pada ekspresi Alis yang terlihat berbeda.
"Bawa dia kerumah. Papa ingin melihatnya." Final, Arya berdiri dari makannya dan melangkah kearah ruang tamu meninggalkan Al yang menatapnya begitu dalam.
Al tahu bahwa meyakinkan seorang Arya tidaklah mudah, apapun itu semua harus dinilai dan melalui sebuah proses. Al tahu bahwa ia memang sangat menyukai Alis tapi untuk membawanya kerumah itu adalah hal yang mustahil, apalagi harus bertemu dengan ayahnya. Apa alasan yang akan diutarakannya nanti, sedangkan ia dan Alis baru memasuki tahap awal sebelum pertemanan. Al mendesah pasrah, ia berdiri dan pergi keluar untuk berangkat sekolah seperti biasa.
Sepanjang jalan Al terus dibayang-bayangi oleh kata-kata ayahnya tadi pagi hingga ia tidak menyadari telah memacu mobilnya dengan cukup kencang. Saat jalanan terlihat sepi, Al menepikan mobilnya dan menginjak remnya hingga mobilnya berhenti tepat didepan gerbang sekolah. Ia memukul setir mobilnya beberapa kali, bahkan ia tampak gusar.
Tanpa sengaja matanya melihat Alis yang sedang turun dari mobil Riyan. Bahkan Alis tampak tersenyum tipis saat mendapatkan perlakuan yang manis dari Riyan. Al terus menatap pergerakan Alis dan juga Riyan, rasa marahnya kembali menguap. Dengan bergegas ia memacu mobilnya kearah parkiran dan segera berlari menghampiri Alis yang sedang membaca bukunya. Bahkan teriakan dari ketiga sahabatnya tak dihiraukannya.
Al berjalan kearah Alis dan menggenggam tangan Alis dengan erat, ia membawanya kearah bangku kosong yang terdapat ditaman.
"Lis, siapa sebenarnya lelaki yang bersamamu itu?" Al menatap Alis tepat dibola matanya. Ia begitu terbius dan tenggelam dalam kelamnya bola mata pekat itu.
Alis menatap Al bingung, ia tampak berpikir sejenak. Namun belum sempat ia membuka suaranya, ia sudah mendapatkan bentakan dari Al.
"Jawab Lis!! Jangan hanya diam saja!" Al membentak Alis dan berdesis diujung kalimatnya. Ia mencengkeram kedua belah pundak Alis.
Alis meringis kesakitan, ia tampak bingung dengan arah pembicaraan ini.
"Lepaskan Alis, dia kesakitan!" Angga datang dan menghampiri Al dan juga Alis. Ia menghempaskan tangan Al yang berada dipundak Alis.
"Apa-apaan kamu Al, kamu tidak malu menyakiti dan membentak seorang perempuan didepan umum." Angga menatap mata Al tajam, ia begitu emosi saat melihat Al yang sudah menyakiti Alis.
Al yang menyadari hal tersebut pun menatap kearah sekeliling mereka. Ia tidak menyadari kalau mereka sudah menjadi bahan tontonan anak-anak lainnya.
__ADS_1
"Ini urusanku dengan Alis, kamu tidak berhak untuk ikut campur." Al kembali menatap kearah Angga dan menatapnya tajam. Telunjuknya sudah berada didada Angga.
"Ini juga akan menjadi urusanku, selama kamu menyakitinya dan selama kamu bukan siapa-siapanya Alis." Angga berdesis tepat disamping Al. Ia menarik tangan Alis dan membawanya kearah kelas Alis.
Alis yang menjadi pusat perhatianpun merasa sangat malu, ia terusmenundukan kepalanya. Hingga mereka tiba didepan ruang kelas Alis.
"Kamu ga pa-pa Lis?" Angga menatap kearah Alis yang menganggukan kepalanya dengan perlahan.
"Ya udah, kamu masuk kelas sana." Angga menatap Alis yang hanya mengangguk dan berjalan menuju bangkunya dengan menundukan kepalanya. Ia mengakui bahwa rasa ini terasa merombak dadanya. Ya, Angga mengakui bahwa Angga merasa sakit saat Alis juga merasa kesakitan dan ia juga merasa cemburu dengan kedekatan Al dan Alis saat bermain layangan kemarin dilapangan hijau. Ia yang melihat semuanya hanya bisa meredam emosi yang memuncak namun ia tidak berdaya untuk mencegah kebersamaan mereka. Biarkan ia egois sesaat untuk mempertahankan orang yang disayanginya.
Alis menatap kearah Liza yang menghampirinya. "Kamu tidak apa-apakan?" Liza menatap Alis dengan hati was-was. Ia tak menyangka bahwa Al akan membentak sahabatnya didepan umum untuk sesuatu yang tidak diketahuinya.
Alis tersenyum kearah Liza, ia membuka bukunya untuk menormalkan rasa kagetnya sekaligus rasa herannya terhadap sikap Al yang tidak biasanya.
"Lis, tidak usah dipikirkan, mungkin dia sedang dalam masalah. Jadi pelampiasannya ada padamu." Liza menepuk pundak Alis dengan perlahan. Ia merasa kasian dengan keadaan Alis yang terus diterpa berbagai masalah. Namun ia yakin kalau Alis mampu untuk menghadapinya dan juga menyelesaikannya.
Alis kembali mengangguk dan tersenyum tipis kearah Liza. "Tenang saja, aku tidak apa-apa, aku kuat kok. Itu hal yang biasa."
💦💦💦
Berbeda dengan Al, ia tampak gusar dan menyesal dengan sikapnya pada Alis tadi. Ia tidak bisa mengontrol emosinya saat melihat Alis dan Riyan yang bersikap begitu manis. Al sedang duduk dibangkunya dengan dikelilingi ketiga sahabatnya.
"Al, kamu kenapa sih, tidak biasanya kamu bersikap seperti itu. Apalagi itu pada Alis, Al. Seorang perempuan." Andra menatap Al yang hanya diam saja.
"Kalau kamu ada masalah, berbagi sama kita. Jangan melampiaskannya seperti tadi. Sekarang kamu sedang menjadi trending topik terhangat Al." Irfan ikut menimpali.
"Aku hanya emosi kok, aku juga menyesal. Itu semua diluar kontrolku. Bukan keinginanku bersikap seperti itu pada Alis." Al menyanggah semua yang diucapakan oleh Andra dan juga Irfan.
"Apa kamu mencintai Alis?" Aldo membuyarkan seluruh perhatian mereka. Al tampak bungkam mendengar pertanyaan Aldo tersebut.
"Tidak usah dijawab Al, aku sudah tahu jawabannya." Aldo menepuk pundak Al beberapa kali. "Segera minta ma'af pada Alis." Aldo menatap Al yang sedang memikirkan sesuatu. Al menganggukan kepalanya.
Sementara Andra dan Irfan tampak melongo, mereka tidak mengerti dengan arah pembicaraan Aldo tersebut. Cukup lama mereka berpikir hingga bunyi bel pertanda pelajaran dimulai berbunyi. Bergegas mereka berjalan kearah meja mereka dengan penuh teka teki dibenaknya.
__ADS_1
Berbeda dengan Al, ia tampak semakin tidak tenang karena menyadari kesalahannya pagi tadi. Ia bertekad akan meminta ma'af pada Alis dan ingin memenuhi janjinya kemarin sewaktu mereka berada dilapangan hijau.
💦💦💦