
Alis baru saja menapaki teras rumahnya, dibelakangnya sudah terdengar bunyi mobil yang berderu dan berhenti tepat di pekarangannya. Alis menoleh dan mendapati Riyan yang sedang menatapnya dengan tatapan mengejek.
"Mau kemana dek? Apa kamu lupa kalau malam ini papa ingin menyampaikan sesuatu yang penting pada kita?" tanya Riyan yang sudah menghampiri Alis terlebih dahulu.
"Memangnya apa lagi sih ka? Alis ingin masuk dulu." Alis membuka pintunya dan berlalu masuk kedalam rumahnya. Ia langsung menuju kearah kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang masih agak basah.
Riyan hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat tingkah Alis yang tidak sopan padanya. Tapi, kenapa baju Alis terlihat basah, apa dia baru saja kehujanan? bisik hati Riyan sambil menatap kearah langit yang masih tampak berwarna biru. Riyan mengerutkan dahinya dan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.
Tap tap tap
bunyi langkah Alis saat menuruni tangga. Ia sudah rapi dengan kaos oblong lengan panjang abu-abunya dan celana jeansnya.
"Ayo, sekarang kita kerumah papa," ajaknya langsung pada Riyan.
Riyan berjalan mengikuti langkah Alis yang sudah keluar rumah.
"Memangnya apa yang ingin papa sampaikan?" Alis membuka percakapan tanpa menoleh sedikitpun pada Riyan. Ia meraih buku yang ada didasboard mobil tersebut. Membukanya lembar demi lembar dan mulai melupakan keberadaan Riyan yang sesekali sedang meliriknya.
"Kaka juga tidak tahu, papa hanya bilang kalau sesuatu ini sangat penting dan menyangkut masa depan kita."
Alis menghentikan bacaannya dan melirik kearah Riyan. Kenapa perkataan Riyan terdengar ambigu, ada apa ini sebenarnya. Alis mulai terlihat gelisah, selama ini ia tidak pernah merasakan firasat buruk ataupun hal-hal yang tidak mengenakkan.
"Memangnya kakak sama sekali tidak ada bayangan mengenai itu?" tanya Alis memastikan.
"Tidak. Tapi sepertinya sesuatu yang besar bakalan terjadi."
Hening setelahnya, tidak ada lagi percakapan yang terlontar antara Riyan dan juga Alis. Keduanya tampak sibuk menduga-duga hingga perjalanan yang mereka tempuh sudah sampai.
__ADS_1
"Alis! kamu tidak kenapa-kenapakan sayang?" Shakila menghambur memeluk Alis. Ia memeriksa setiap bagian tubuh Alis, ia tahu apa yang sudah dialami Alis disekolahnya.
"Mama, Alis baik-baik saja. Mama tenang saja, masih ada kak Riyan yang menjaga Alis."
Shakila merasa tenang sekarang setelah mendengar penuturan putrinya tersebut. Ia menatap kearah Riyan yang dibalas Riyan dengan anggukan.
"Sebaiknya kita makan dulu sayang, papa sudah menunggu diruang makan."
Alis mengangguk saja sambil mengikuti langkah ibunya yang menggiringnya keruang makan. Disana, ayahnya sudah duduk tepat dikepala meja makan, ia menatap kedatangan anaknya tanpa ada senyum sedikitpun.
"Makan yang banyak ya sayang," Shakila memasukkan beberapa menu kedalam piring Alis. Ia menatap Alis dengan senyum cerah saat Alis mengangguk patuh.
"Pa, memangnya apa yang ingin papa sampaikan pada kami?" tanya Riyan langsung.
"Sebaiknya kalian nikmati dulu makanan yang ada, setelah makan baru kita akan membahasnya."
"Alis, papa ingin kali ini kamu menurut pada kemauan papa dan mama." Bastian menatap dalam kearah Alis. Saat ini mereka sudah selesai makan dan berkumpul diruang keluarga seperti yang direncanakan sebelumnya.
"Memangnya masalah apalagi pa? Apa tentang masalah di sekolah Alis atau tentang kelanjutan pendidikan Alis?" Riyan bertanya langsung mewakili perasaan Alis.
"Bukan. Bukan itu masalahnya," ucap Bastian menarik napas. Ia terlihat begitu berat untuk mengatakannya, namun semua ini justru untuk kebaikan anaknya, putrinya satu-satunya.
"Papa sudah menjodohkan Alis dengan anak sahabat papa."
"Lagi?" tanya Riyan yang sudah membelalakan matanya. Ia begitu terkejut dengan keputusan yang diambil oleh papanya tanpa menanyakan pada yang bersangkutan terlebih dahulu.
"Ya, ini atas dasar kehendak papa dan sahabat papa. Bukan atas kemauan mereka saja. Dan ini juga merupakan amanah kakekmu." Bastian menatap kearah Alis yang hanya bungkam saja tanpa mengeluarkan ekspresi apapun diwajahnya. Ia terlihat begitu tenang, namun justru itu yang ditakutkan oleh Bastian. Putrinya ini begitu tidak bisa ditebak, ia penuh dengan tanda tanya.
__ADS_1
"Pa, perjodohan yang papa rencanakan yang pertama saja sudah gagal, lalu papa masih ingin menjodohkan Alis lagi. Apa papa tidak belajar dari pengalaman? Pa, Alis sudah dewasa pa, sudah besar. Dia bisa menentukan kemauannya sendiri, tujuan hidupnya sendiri."
"Riyan, justru ia yang semakin besar dan semakin dewasa itu papa ingin agar ada orang yang menjaganya. Agar ia tidak salah dalam memilih pergaulan."
"Pergaulan mana yang papa maksud? Bukankah selama ini papa tau kalau Alis itu selalu dikucilkan karena kejadian dulu. Bukankah ia dikucilkan karena papa. Papa yang sudah mengusirnya dari rumah. Apa papa lupa tentang itu!?" desis Riyan yang sedikit marah dengan sikap egois yang dimiliki oleh ayahnya.
"Riyan! jaga bicaramu!!" bentak Bastian yang tersulut emosi setelah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh anaknya. Matanya memerah menatap tajam kearah Riyan. Ia memang tidak bisa mengelak mengenai masa lalu itu tapi ia punya alasan untuk itu semua.
"Pa, apa ini yang papa rencanakan dari kami, papa tidak pernah tahu seperti apa Alis sebelumnya tapi setelah papa mengetahui keberadaannya, papa justru menariknya dan mengambil keuntungan darinya!!" Riyan tampak kesal dengan keputusan ayahnya. Bagaimana tidak, ayahnya memutuskan sesuatu tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu, bahkan disaat semua masalah yang dihadapi Alis sedang kacau.
Bastian menarik napasnya beberapa kali untuk menghalau amarahnya yang bersarang didadanya. Ia tidak menghiraukan Riyan lagi, percuma karena justru yang ada ia akan memukul anaknya yang lancang tersebut.
Alis menunduk dalam, ia merasa sangat bersalah setelah melihat pertengkaran ayah dan kakaknya yang ada didepan mata. Ia tidak dapat lagi berbuat apa-apa. Ia ingin menolak karena ia sudah mencintai seseorang yang dapat menghangatkan hatinya. Orang yang sangat perduli padanya. Haruskah ia kembali menuai luka demi menutup luka orang tuanya.
"Alisya, apa kamu mendengar apa yang papa katakan?" tanya Bastian mengubah inotasi suaranya yang kembali melembut namun tegas.
Alis menatap semua orang yang ada disana. Riyan yang menatapnya dengan penuh luka dan belas kasihan, ayah dan ibunya yang menatapnya dengan penuh harap. Alis hanya mengangguk saja dan segera berdiri dari sana. Ia melangkah meninggalkan mereka semua yang terpaku menatapnya tanpa suara.
"Pa, coba papa lihat Alis. Dia menurut sama papa tapi apakah papa pernah melihat isi hatinya. Apakah papa pernah menanyakan keinginannya. Apakah papa melihat luka dimatanya pa!!?" Riyan berdiri dan berjalan meninggalkan orang tuanya. Ia sungguh tidak tega melihat kehidupan Alis yang terus dikekang.
Dikamarnya, Alis berdiri menghadap kearah kaca jendelanya, menatap langit malam yang bertabur seribu bintang. Ia menggugurkan air matanya setelah mengingat kebahagiaan yang baru saja direguknya. Belum berumur kebahagiaan yang dirasakannya, kembali direnggut dan digantikan dengan kebahagiaan semu.
Inikah hidup, harus berdiri sendiri diatas batu yang dikelilingi oleh lautan. Bertahan hidup sengsara, mati pun tiada guna.
"Aku tetap bagai layangan kertas, kemanapun aku terbang, setinggi apapun aku mengangkasa tetap dikendalikan oleh pemiliknya. Sekali aku terlepas, maka bentukku tidaklah sempurna lagi."
^^^^^
__ADS_1