Layangan Kertas

Layangan Kertas
Ketetapan Hati


__ADS_3

Dering handphone Al menghentikan perdebatan kecil mereka.


"Aku mengangkat telpon dulu," ucap Al sambil berdiri dan berjalan menjauhi meja mereka meninggalkan Alis dan Rafael.


"Alis, apa kamu tidak memikirkan perasaanku sama sekali?"


Alis beralih menatap kearah Rafael. Matanya melirik sesaat kearah Al yang berjalan keluar kafe.


"Ma'af, aku tidak bisa memilihmu. Karena hatiku sepenuhnya hanya milik Al. Dan kuharap kamu mengerti tentang diriku." Alis tetap pada sikapnya.


"Tapi, jika suatu hari nanti kamu mendapat kesulitan dalam hubunganmu. Aku akan siap untuk membantumu. Maka datanglah padaku." Rafael masih berusaha membujuk Alis untuk merubah ketetapannya.


Tatapan Alis semakin kaku saat mendengar ucapan Rafael barusan. Matanya beralih menatap kearah Al yang masih sibuk dengan telponnya.


"Walaupun suatu hari nanti kita di takdirkan bersama, aku tetap tidak bisa mencintaimu dan tidak bisa menerimamu." Alis menatap Rafael dalam.


"Kenapa?" desis Rafael, ada rasa sakit menghantam dadanya saat mendengar penuturan Alis barusan.


"Karena aku tidak ingin melukai hati yang selalu menjaga hatiku. Jadi kuminta, menyerahlah untuk menyatakan cintamu dan menunjukkan rasa sukamu padaku. Karena semua akan sia-sia." Alis menarik napasnya dalam.


"Ma'af, aku tidak bisa melihat orang lain selain dirinya." Alis melirik kearah Al yang masih berada di luar kafe.


Rafael terhenyak mendengarnya, ia sudah tidak mampu lagi untuk berkata-kata. Penolakan ini begitu sakit baginya, sakitnya bahkan membuat dirinya merasa kebas.


Alis berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Rafael yang menatapnya dengan sendu.


"Katakan pada Al untuk datang keruanganku. Aku menunggunya disana," ucap Alis pada Randy yang berdiri tidak jauh darinya. Alis meneruskan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun pada Rafael.


Rafael masih menatap nanar Alis. Ia meraba dadanya, ada rasa sakit luar biasa saat ia mendengar penolakan dari gadis yang di cintainya.


"Bos, klien kita sudah datang," ucap Yaska yang baru saja datang dan berada di samping Rafael.


"Batalkan acara hari ini!" Rafael berucap tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun. Ada rasa pahit yang tidak dapat ia gambarkan dan tidak dapat ia muntahkan, tapi juga tidak sanggup untuk ia telan.


"Kenapa? Bukankah orangnya sudah ada di depan mata." Yaska terkejut mendengar keputusan Rafael yang tiba-tiba. Ia menatap heran Rafael. Tadi pagi dirinya masih baik-baik saja, bahkan kelihatan sangat senang. Tapi sekarang kenapa begitu cepat berubah.

__ADS_1


"Batalkan dan atur pada hari lain!"


Yaska mengangguk patuh, matanya beralih menatap kearah klien yang tampak sedikit kecewa, tapi ia tidak berani untuk protes.


"Siapkan penerbangan! Sekarang juga kita akan pulang ke negera kita!" perintah Rafael yang kembali membuat Yaska terkejut untuk kedua kalinya.


Ia baru saja datang dan tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dan tidak mungkin ia menjadi cerewet untuk waktu sekarang karena situasi kurang baik dan tidak mendukung.


Rafael melangkah meninggalkan kafe tersebut dengan hati yang terluka luar biasa. Tapi ia tidak ingin menunjukkannya pada siapapun karena ia tidak ingin terlihat lemah di mata siapapun.


***


Alis menatap kearah jendela ruang kerjanya, menatap taman yang tidak jauh dari tempatnya. Ingatannya menerawang saat Al pertama kali menenangkannya pada saat terluka. Sungguh keputusan yang bodoh kalau ia melukai hati yang selalu menjaga hatinya dengan tulus. Hanya demi hati yang hanya terobsesi padanya bahkan hingga menipu dirinya dan sempat mengacaukan hidupnya.


Pintu terbuka dan Al memasuki ruangan, tapi Alis sama sekali tidak menyadarinya. Ia masih hanyut dalam lamunannya, bahkan saat Al selalu bisa diandalkan dalam hidupnya dan betapa ia berjuang untuk mempertahankan hatinya agar tidak goyah. Itulah yang membuat Alis juga jatuh cinta padanya hingga berkali-kali.


"Sayang. Apa yang kamu lakukan disini?" Al menatap heran kearah Alis yang tiba-tiba berada di ruang kerja seseorang.


Alis tersentak dan berbalik. Senyumnya langsung terbit di bibirnya saat melihat keberadaan Al.


Sedangkan Al masih fokus dengan dirinya yang sudah berjalan menghampiri Al.


"Jadi, kamu memang bekerja di kafe ini?" tanya Al. Alis mengangguk.


"Sebagai apa?" Sambung Al.


"Kafe ini milikku Al. Dan juga ada beberapa kafe lainnya."


Al terperangah mendengarnya. Ia baru saja menemukan fakta yang sebelumnya tidak pernah bisa ia tebak. Ia beralih menatap seluruh ruangan yang baru pertama kalinya ia masuki. Ada begitu banyak rak buku yng berjejer di sana. Tapi kesemua buku itu sangat membosankan untuk dibaca.


"Oke. Tidak apa-apa aku di beritahu sekarang," gurau Al. Tangannya terangkat membelai kepala Alis dan mengacak poninya. Membuat Alis merona dan tersenyum manis.


"Sebaiknya kita keluar saja, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat."


Alis mengangguk, tanpa sepatah katapun ia meraih tangan Al yang terulur padanya. Menggenggamnya dengan hangat, hingga perasaan hangat itu menyelinap kedalam hatinya. Entah sejak kapan senyum tak pernah lepas dari bibir keduanya. Mereka berjalan bergandengan tangan.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, akhirnya mobil yang membawa sepasang muda-mudi itu berhenti tepat di wahana pasar malam.


Alis tertegun sesaat, ini yang pertama kalinya ia mendatangi pasar malam dengan seseorang yang spesial.


"Kenapa?" Al membuyarkan lamunan Alis.


Alis hanya tersenyum dan menggeleng. Ia menatap hangat Al yang kembali mengacak rambutnya hingga membuat sedikit berantakan.


"Ayo! Kita kesana!"


Al menggandeng tangan Alis dengan erat, sedikit berlari kecil membawa Alis untuk membeli tiket wahana yang ingin mereka naiki.


"Kamu ingin naik apa?" Al tersenyum menatap Alis, masih menggenggam hangat tangan Alis.


Sedangkan Alis hanya terpaku menatap senyum tulus Al yang baru kali ini ia sempat memperhatikannya. Ada begitu banyak kejutan dibalik senyum itu.


"Sayang! Sayang! Kamu kenapa?"


Alis kembali terperanjat saat ia tersadar dari lamunannya. Ia segera mengalihkan tatapannya, merasa malu dengan sikapnya yang seolah-olah seperti seorang gadis mesum, memandangi bibir Al terus-terusan. Padahal kenyaataannya ia hanya terpaku pada senyum yang menghiasi bibirnya.


Alis menggeleng, kemudian menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona, hingga membuat Al terkekeh dan menggandeng Alis kembali. Kali ini tangannya bertengger tepat di pingganggnya.


Mereka menaiki hampir seluruh wahana permainan yang ada di pasar malam tersebut. Meninggalkan kenangan manis di awal mereka jadian.


"Seperti inikah orang pacaran?" gumam Alis di dalam hatinya. Masih memandangi wajah lelaki yang begitu mempesona. Ia merasa beruntung bisa merajut cinta bersama Al.


"Sayang. Aku harap cinta kita abadi selamanya dan bisa terikat dalam ikatan yang sah nantinya." Al memandangi Alis yang sejak tadi menatapnya dalam. Hati Alis bergemuruh mendengarnya. Ingin ia meneriakkan bahwa ia sangag bahagia, tapi ia tak mampu untuk melakukannya.


"Jagalah hati ini hanya untukku!" Al menunjuk tepat di dada Alis.


"Karena hati ini selamanya akan selalu terjaga untukmu!" sambung Al lagi sambil menunjuk kearah dadanya.


Alis langsung mengangguk. "Aku pasti akan menjaganya hanya untukmu."


Al tersenyum dan seketika langsung memeluk Alis.

__ADS_1


💦💦💦


Beberapa part lagi in syaa Allah akan tamat


__ADS_2