Layangan Kertas

Layangan Kertas
Kesepakatan Dengan Alifa


__ADS_3

Aku benci dengan Alis, benci!! Walaupun dia pemilik sekolah ini, seumur hidupku aku tidak akan pernah mau menghormatinya!!" samar-samar mereka mendengar teriakan seorang perempuan dari dalam ruang rapat.


Alis seketika langsung membeku saat ia mengenali suara yang sangat familiar di pendengarannya.


Januar membuka pintunya dengan perlahan. Ia mempersilahkan Alis untuk masuk kedalam terlebih dahulu.


Alis menatap kearah gadis yang kedua tangannya masih di pegang oleh dua orang satpam. Ia terperanjat menatap kearah gadis itu.


Alifa?


Diakah pelakunya yang sengaja mengganti film dokumenter sekolah dengan video adegan ranjang miliknya. Lalu darimana dia mendapatkannya?


"Aku membencimu Alis. Sampai dunia runtuh pun aku tetap akan membencimu!!" Teriak Alifa begitu mendapati Alis yang sudah berdiri dihadapannya.


Alis berusaha bersikap tenang, ia menatap prihatin pada mantan sahabatnya tersebut. Disana sudah ada Rafael, kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Al serta sahabatnya dan juga sahabat Al.


"Darimana kamu mendapatkan video itu!!?" tanya Riyan dengan geram. Ia maju dan menatap Alifa dengan sengit. Seandainya yang berada didepannya bukanlah perempuan, sudah ia pukul sejak tadi.


"Aku tidak akan pernah memberitahu kalian. Video itu memang benar bukan!? Dan bohong kalau Alis sudah menikah dengan tuan Rafael," sahutnya sinis disertai dengan kekehan senang. Ia menantang dan menatap Riyan dengan tajam dan mencemooh.


"Perempuan hina seperti dirinya memang pantas menerima rasa malu. Agar semua orang tahu bahwa dirinya tidak bisa bersembunyi di balik kekuasaan yang dimilikinya!" ucap Alifa lagi sambil mendelik tajam kearah Alis yang sejak hanya diam menatap kearahnya


"Siapa yang kamu bilang hina? Bukankah kamu menyebut dirimu sendiri?" tanya balik Rafael. Ia geram dengan gadis yang tidak tahu malu tersebut. Bahkan ia sudah tidur dengan seseorang yang dianggapnya sebagai penolongnya.


"Bukankah kamu yang lebih hina darinya. Kamu rela di tiduri oleh Maxwell hanya demi sebuah popularitas yang bahkan tidak kamu dan ayahmu dapatkan sama sekali!" bisik Rafael dengan nada rendah di telinga Alifa.


Alifa membelalakkan matanya menatap kearah Rafael yang menatapnya dengan gaya angkuh dan senyum miringnya.


"Apa kamu juga ingin mendekam di penjara seperti ayahmu, bahkan untuk hukuman seumur hidupnya," tambah Rafael lagi masih dengan berdesis.


Alis mengernyitkan dahinya saat melihat wajah Alifa yang terkejut dan memucat setelah Rafael membisikinya. Ia tidak tahu apa yang sedang mereka bahas.


"Tolong tinggalkan kami berdua, hanya berdua saja." Pinta Alis pada semuanya. Ia benar-benar merasa kasihan melihat wajah Alifa yang memucat.

__ADS_1


"Tapi dek, kakak tidak mau kamu kenapa-napa. Dia perempuan licik," sahut Riyan.


"Percaya sama aku kak. Kalau ada apa-apa aku akan teriak. Aku janji." Riyan mengangguk.


"Aku tidak yakin kalau dia tidak hanya diam saja saat bersamamu, jadi aku yang akan menemanimu disini!" sahut Rafael.


"Ada waktunya aku berbicara berdua denganmu nanti. Tapi untuk sekarang, tolong hargai keputusanku. Aku hanya ingin berbicara berdua dengannya," pinta Alis menatap kearah Rafael.


Rafael tidak tega menatap mata Alis yang terlihat sedih dan tidak bergairah. Entah apa yang ada dipikiran Alis sehingga ia terlihat begitu terpukul, apakah tentang video? Ingin rasanya ia merangkulnya, tapi ini bukanlah waktu yang tepat.


Serentak mereka bergegas meninggalkan ruang rapat tersebut setelah Rafael mengangguk dan memberikan ruang dan waktu untuk mereka berdua.


Yang tersisa kini hanya mereka berdua. Alifa menatap Alis dengan sorot benci dan marah. Sedangkan Alis menatapnya dengan sorot datar dan rasa kasihan.


"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak pantas untuk kamu kasihani. Aku masih mampu untuk menjatuhkanmu. Jangan harap setelah ini hidupmu bisa tenang Syasya."


Alis membeku mendengar nama panggilan yang sudah lama tidak pernah disebutkan lagi untuknya. Panggilan masa kecilnya yang sudah dilupakan olehnya.


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?" tanya Alis langsung. Ia tidak ingin berbasa-basi dengan perempuan yang sudah menjahati dirinya hingga melewati batas.


Alis mengangguk, matanya masih menatap Alifa datar. Dimata Alifa yang terlihat hanyalah api kebencian, apakah tidak bermakna persahabatan mereka yang sempat terjalin dahulu.


"Selama aku hidup, aku tidak akan pernah membiarkan dirimu hidup tenang dan bahagia. Aku membencimu!!" Alifa kembali berdesis dengan mata memerah.


"Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu dendam dan bencinya padaku. Tapi aku ingin memberikanmu sebuah pilihan."


Alifa terdiam dan menatap Alis. Ia tampak menunggu ucapan Alis yang berikutnya.


"Lebih baik kita memulai hidup baru dan berdamai," sahut Alis dengan tenang.


Tawa Alifa seketika pecah dan membahana mengisi kekosongan ruang. Ia memegangi perutnya karena saking kencangnya tertawa. Baginya ucapan Alis barusan adalah sebuah lelucon.


"Berdamai?" Tawa Alifa kembali pecah.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak pernah move on dariku dan persahabatan palsu kita dahulu?" tanyanya dengan tawa jenaka.


"Bukan itu masalahnya. Masalahnya ada pada ayahmu. Kalau kamu bisa berdamai denganku maka ayahmu tidak akan divonis mati karena melanggar kasus berlapis. Tapi kalau dirimu tidak bisa, ucapkan selamat tinggal pada ayahmu!" Alis berucap dengan santai sambil melipat kedua belah tangannya di depan dada.


"Kamu mengancamku?" tanya Alifa dengan gertakan giginya. Matanya menatap Alis dengan berang.


"Aku tidak akan mempan untuk diancam. Ingat, masih ada orang hebat yang masih melindungiku!" Ia tersenyum miring kearah Alis.


Alis tampak menyeringai, hingga membuat Alifa bergidik. Penampilan Alis saat menyeringai menyerupai Raja Neraka.


"Benarkah? Apakah kamu ingin melihat kisah kekasihmu selepas ia menaiki pesawat pribadinya?" Alis meraih handphone yang ada didalam tas tangan miliknya. Ia meraih dan membuka video yang di kirimkan oleh anak buahnya.


Alifa membelalakkan matanya menatap penampakkan video yang berdurasi selama beberapa menit tersebut.


Luruh, Alifa luruh dan terduduk di lantai. Ia menatap Alis dengan sendu. Kepalanya kembali tertunduk dalam, ia tidak tahu kalau kemarahan orang yang diam sedahsyat itu.


"Bagaimana?" tanya Alis.


Dengan gerakan lemah, Alifa mengangguk pasrah. Ia tidak bisa lagi berkutik, ia menyerah karena tidak ada lagi tempatnya untuk berlindung.


Setelah keterdiaman mereka selama beberapa menit. Pintu ruangan tampak terbuka. Seluruh yang ada disana menatap kearah Alis yang berdiri dan menatap Alifa yang masih menunduk dan terduduk.


"Alis, kamu tidak apa-apakan sayang?" tanya Shakila sambil meraih tubuh Alis dan memeluknya.


Alis menggelengkan kepalanya. Matanya beralih menatap kearah Aldo yang menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat. Entah apa yang membuat lelaki itu selalu memberikannya tatapan dingin.


"Sayang, sebaiknya kita pulang saja ke rumah. Biarlah pesta sekolah kakakmu dan Januar yang akan mengurusnya," tambah Shakila lagi.


Alis beralih menatap kearah Bastian yang justru memalingkan wajahnya dari tatapan Alis. Ia membuang muka dan terlihat sangat kecewa dengan putrinya. Alis tertunduk dalam, merasa semakin bersalah.


"Sebaiknya kita selesaikan masalah kita yang belum rampung besok. Sepertinya Alisya juga sangat lelah malam ini." Arya menengahi saat melihat tatapan tidak bersahabat yang dilayangkan oleh ayahnya terhadap Alis.


"Biar saya yang akan mengantar Alis pulang!" sahut Rafael sambil meraih tangan Alis dan menariknya meninggalkan seluruh mata yang menatap kearah mereka berdua.

__ADS_1


"Yaska! Urus gadis itu!" tunjuk Rafael pada Alifa sebelum dirinya menghilang dibalik pintu.


💦💦💦


__ADS_2