
Alis dan Al berjalan menelusuri kebun bunga tersebut, sesekali Alis menatap dan mencium bunga yang dilaluinya. Ia terlihat begitu hidup bahkan sangat ringan. Sedangkan Al tampak bersusah payah mengontrol debar dadanya yang menggila, ia merasa hangat dan sangat nyaman saat berada didekat Alis walaupun dalam kebisuan. Beberapa kali Al meraba dadanya bahkan meremasnya karena merasa euforia kebahagiaan ini.
Alis tetap bungkam dan asyik dengan kegiatannya tanpa tahu keadaan seseorang yang tampak gelisah disampingnya.
"Kita mulai dari bunga dahlia dulu." Alis mengambil sekrup yang ada ditangan Al, kemudian ia berjongkok untuk memperhatikan anakan bunga dahlia yang ada didepannya. Sangat banyak, ia mengambil anakan yang agak besar tersebut menggunakan sekrup mini tersebut. Dengan perlahan ia mencungkilnya dan memasukannya kedalam polybag yang ukurannya kecil dan terakhir ditambahnya dengan sedikit tanah. Ia sengaja mengambil anakan yang sudah ada bunganya agar ibu hamil tersebut merasa puas dan tidak kecewa.
"Selesai." Alis tersenyum manis menatap bunga yang sudah berpindah tempat itu. "Semoga kamu bisa tumbuh dengan baik dihabitat barumu nanti." gumam Alis sambil memperbaiki tanah bekas galiannya tadi kemudian membelai kelopak bunga dahlia.
Al mengedipkan matanya beberapa kali melihat senyum Alis yang sangat manis, ia ikut tersenyum sambil mendengarkan Alis yang berbicara pada tanamannya sendiri.
"Pantas saja bunga dan pohonnya cantik dan subur, kalau ternyata pemilik bunganya sangat menyayangi mereka."
Alis terkesiap mendengar Al yang berbicara, ia menepuk jidatnya karena merasa malu. Ia tidak mengingat keberadaan Al karena saking asyiknya dengan bunga-bunga miliknya.
"Kamu bawa bunga yang sudah diwadahi itu dan letakkan disitu, nanti kita kumpulkan." Tunjuk Alis pada pohon mangga yang dibawahnya terdapat kursi.
"Siap bos." Al bertingkah layaknya bawahan pada atasan. Bergegas ia melaksanakan seperti yang diperintah oleh Alis tersebut.
Alis menggelengkan kepalanya melihat tingkah Al tersebut.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Al kembali menghampiri Alis yang menatap kearah kebunnya. Kebun yang selama ini menemaninya dari rasa kesepian dan kebun yang bisa menghidupi beberapa pekerjanya.
"Lis, boleh tanya?" Al menatap hamparan berbagai bunga tersebut sebelum ia menatap kearah pemiliknya.
Alis menganggukan kepalanya.
"Bagaimana caranya kamu menyirami mereka?" tunjuk Al pada seluruh hamparan bunga tersebut.
"Coba kamu perhatikan selang-selang yang berdiri tinggi itu, itu alat untuk menyiram bunga. Tinggal tekan saklarnya dirumah, maka air akan mengalir dan menyembur seperti hujan."
Al memperhatikan arahan telunjuk Alis, benar disetiap beberapa meter persegi terdapat selang tersebut.
"Lalu, buah-buahan itu kemana kamu menjualnya? Maksudku pelanggannya darimana saja?"
Alis menganggukan kepalanya. "Sebenarnya yang membeli buah padaku adalah pihak yang mempunyai usaha rumah makan atau juga kafe-kafe."
Benar, buah yang ada dikebun ini dikirim oleh Alis kekafe miliknya bahkan ada beberapa bunga yang dikirimnya juga sebagai pewarna makanan alami. Buah-buahan itu begitu berkualitas dengan penanganan yang benar.
Al mengangguk paham.
__ADS_1
"Untuk bunganya?"
Alis merasa kurang nyaman dengan pertanyaan Al tersebut. Rasanya itu terdengar seperti mengorek hal yang pribadi.
"Bunganya, sebenarnya aku tidak menjualnya. Hanya sebagai koleksi saja." Alis terlihat ragu untuk menjawabnya.
"Itu bagus Alis, diusiamu yang seperti ini, kamu sudah mandiri. Yah walaupun penghasilanmu tidak seberapa, tapi kurasa itu lebih banyak daripada gajihmu bekerja dikafe sebagai pelayan."
Alis menganggukkan kepalanya membenarkan kata-kata Al barusan sambil terkekeh.
"Yaudah, bunga apalagi selanjutnya?" Al menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 16.05 sore yang artinya sudah 1 jam mereka berada disini. Ternyata waktu berjalan begitu cepat saat Al bersama Alis dan rasanya semuanya dilalui dengan begitu mudah dan ringan.
"Petunia, melati, mawar Lilac dan Aster." Alis menyebutkan semua nama bunga yang ada didaftar tersebut.
"Ayo kita berpetualang." Al mengacungkan tangannya senang. Sepulangnya ia dari sini, ingatkan dia untuk mengucapkan terima-kasihnya pada ibu hamil tersebut yang sudah memberi jalan padanya.
Mereka mengumpulkan setiap anakan dari bunga yang disebutkan. Kecuali untuk mawar dan melati, Alis akan mengambilnya nanti dari pot yang ada didepan rumahnya. Mereka mempersingkat waktu mereka dengan Al yang membantu Alis dan juga ketiga sahabatnya yang menggotong polybag tersebut kedepan rumhah
"Ini bunga apa sih Lis?" Irfan menunjuk pada bunga yang menyerupai daun bawang namun terdapat bunga yang ungu yang cantik dan unik yang cukup besar. Dengan mahkota berwarna orange.
Irfan tersenyum nyengir dan menganggukan kepalanya. Ia begitu tertarik dengan bunga itu, sangat unik.
Alis memberikan yang sudah ada didalam polybag, bahkan ia juga memberikan pada keempat orang didepannya. Benar-benar murah hati.
Bahkan Al juga meminta bunga morning glory, tumbuhan yang menjalar dengan bunga berwarna ungu dan pink dengan bentuk terompet. Untuk diberikannya pada ibunya sebagai tambahan koleksi bunga milik ibunya, pasti dia sangat senang.
"Kalau yang itu?" tunjuk Andra pada rumpun bunga yang kecil-kecil dan mungil berkelompok berwarna biru langit dan biru indigo. Terlihat sangat cantik.
"Forget me not." jawab Alis singkat.
"Hah, kenapa kedengarannya aneh sekali." Irfan menatap penuh tanya pada Alis, ia merasa lucu dengan nama bunga itu.
"Bunga itu memiliki kisah tersendiri dahulunya dalam penciptaannya." Alis menghembuskan napasnya, mengingat kisah bunga itu yang hampir menyamai kisah hidupnya.
"Oh, begitu. Aku jadi penasaran dengan kisahnya." Gumam Irfan kemudian.
"Lis, makasih banyak ya kamu sudah membantu kami dengan cuma-cuma bahkan memberikan buah juga pada kami." Aldo mewakili ketiga sahabatnya untuk mengucapkan terima kasihnya dengan menunjuk kantong kresek yang sudah terisi penuh dengan buah-buahan yang mereka petik bersama tadi.
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Kalau ada perlu, jangan sungkan untuk meminta padaku." jawab Alis sambil menatap keempat pemuda didepannya.
Mereka mengangguk dan berpamitan pada Alis dengan sangat banyak bunga yang dipetik Alis untuk mengisi pot didalam kamar ibu hamil sebagai pengharum, kalaupun dia suka.
Mereka meneruskan perjalanan mereka untuk pulang kerumah Al.
Sesampainya disana, Harwinda tampak berada dihalaman depan rumahnya sedang duduk pada bangku yang ada disana sambil membaca majalah.
"Wah Al, darimana saja kalian? Sesore ini baru pulang sekolah?" menatap kearah mereka yang menuruni mobil satu persatu.
"Dari rumah teman tante." jawab Irfan sambil menyodorkan tangannya pada Harwinda dan disusul oleh yang lainnya.
Harwinda mengerinyitkan dahinya saat Al mengeluarkan buah dari dalam mobil dan membuka bagasi belakang mobil untuk mengambil bunga miliknya.
"Itu apa, kenapa kalian membawa banyak bunga bahkan banyak buah." Harwinda tampak heran menatap mereka. "Apa itu tugas sekolah?"
"Bukan tante, tapi tugas dari rumah Andra, permintaan ibu hamil." Irfan kembali menjawab dengan terkekeh sambil melirik kearah Andra.
"Oh, darimana kalian mendapatkannya?"
"Dari rumah Alis ma. Ini bunga untuk mama." Al menyerahkan bunga yang diberikan Alis tadi padanya.
"Wah, ini bunga morning glory. Bunga yang sedang hits untuk sekarang dan banyak diburu oleh orang." Harwinda tampak berbinar senang.
"Inikan bunga yang sangat mahal, kenapa ada padamu Al?" tunjuk Harwinda pada bunga saffron.
"Itu juga dari kebunnya Alis ma."
"Oh, lalu buah itu."
"Itu juga dari kebun Alis."
Harwinda menganggukan kepalanya mengerti. Kemudian ia masuk kedalam rumah untuk meninggalkan keempat remaja tersebut.
"Al, aku ingin cepat-cepat pulang, takut bumil ngamuk."
Al menganggukan kepalanya dan menatap kepergian ketiga sahabatnya.
Hari ini benar-benar berkesan dan menyenangkan. Bergegas Al mengambil bunga tersebut untuk menanamnya ditempat yang pas. Al benar-benar bahagia tanpa dia tahu entah apa yang akan terjadi kedepannya.
__ADS_1
💦💦💦