Layangan Kertas

Layangan Kertas
Bertemu Klien


__ADS_3

Bel pertanda pulang sekolah baru saja berbunyi. Tidak seperti biasanya, hari ini Alis terlihat bergegas membereskan seluruh perlengkapan miliknya. Liza yang melihat semua itu tampak menatap heran kearah Alis.


"Kantor Za!" kata Alis tanpa menoleh kearah Liza. Ia mengerti dengan sikap sahabatnya yang menatapnya dengan penuh tanya.


"Naik apa?" tanya Liza.


"Dijemput sama sopir," kata Alis menatap kearah Liza sesaat.


"Oh," Liza hanya mengangguk dan berdiri dari kursinya.


Mereka berjalan bersisian menuju kearah


parkir. Kali ini Alis tidak lagi dengan buku ditangannya. Ia terlihat tergesa dengan langkahnya yang terus disamai dengan langkah Liza.


Alis berjingkat kaget ketika ada seseorang yang tiba-tiba mencubit lengannya. Tanpa melihat pun ia sudah tahu siapa orang yang mencubitnya tersebut, namun ia tidak mau ambil pusing dengan sifat jahil lelaki dingin tersebut.


"Ih Angga, apaan sih!?" Liza menatap berang kearah Angga yang tersenyum miring menatap kearah Alis. Angga memeletkan lidahnya kearah Liza, kemudian ia berjalan meninggalkan Liza yang tampak emosi menuju kearah parkiran.


"Sebel kalau lihat kelakuan Angga. Sudah besar juga, masih saja seperti anak kecil, nakal." Liza bersungut-sungut dan terlihat sangat kesal dengan tingkah Angga tersebut.


Alis hanya menggelengkan kepalanya dan menatap kearah pagar yang terbuka. Pandangannya memindai mobil yang terparkir diseberang jalan. Mobil itu tampak tidak asing baginya, bahkan Alis merasa melihat mobil tersebut setiap saat tapi pikirannya mengenai semua itu dengan cepat dihilangkannya. Mungkin hanya kebetulan saja pikir Alis.


"Lis, aku duluan ya. Kamu terus sana berjalan keluar pagar. Itu ada ka Januar sudah menunggumu," tunjuk Liza.


Alis memperhatikan arahan telunjuk Liza, diluar pagar sana sudah berdiri Januar dengan gayanya yang bersandar pada mobilnya. Banyak dari siswi yang menatap kearah Januar bahkan beberapa ada yang mengajaknya untuk berkenalan.


Januar menatap Alis yang menghampirinya dan memberikan senyum manisnya namun hanya dibalas anggukan oleh Alis. Bisik-bisik para siswi yang melihat adegan itupun bermunculan. Bahkan komentar mereka terdengar aneh. Alis yang mendengarpun tampak merasa jengah. Ia menatap semua siswa-siswi yang ada disana dengan sorot tajamnya. Januar yang melihat tingkah Alis hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Bergegas ia membukakan pintu mobil untuk Alis, setelah Alis menatap kearahnya.


Alis tampak acuh dan masuk kedalam mobil. Ia sangat tidak menyukai menjadi bahan gosipan dari para siswi yang kekurangan berita. Mobil merekapun berlalu dari hadapan sekolah.


💦💦💦


Angga menatap kepergian mobil yang ditumpangi Alis dengan penuh tanya. Satu lagi teka-teki yang harus dicari jawabannya. Namun baru saja Angga ingin masuk kedalam mobilnya, dering handphone menginterupsinya.


"Halo mi ada apa?" tanya Angga.


"Berkas ayahmu ada yang ketinggalan dirumah, dia akan meeting sebentar lagi. Kamu bisakan mengantarkannya pada ayahmu?" tanya ibunya diseberang sana.


"Iya ma, tunggu sebentar lagi." Angga mematikan handphonenya dan bergegas memacu mobilnya untuk pulang.


__________


Sesampainya dirumah, Angga mengambil berkas ayahnya dan bergegas kembali memacu mobilnya kearah kafe LK, tempat pertemuan ayahnya bersama dengan kliennya. Tanpa mengganti seragamnya, ia hanya menutupinya dengan menggunakan jaket miliknya. Hanya memakan waktu 20 menit, Angga sudah sampai ditempat pertemuan ayahnya. Ia bertanya pada resepsionis dan bergegas menuju ke lantai dua.


Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Alis didepan lift persis pada saat Alis baru saja keluar dari lift. Angga menatap Alis sekilas, namun tidak ada respon balik dari Alis, ia hanya menatap kearah bawah, memperhatikan tali sepatunya yang terlepas.

__ADS_1


"Diakan kerja disini," gumam Angga sambil menatap Alis yang membetulkan tali sepatunya, seiring dengan menutupnya pintu lift.


Angga mengernyit bingung menatap kearah lelaki yang duduk tepat berhadapan dengan ayahnya. Sepertinya Angga pernah melihatnya, tapi ia lupa dimana pernah melihatnya. Ia memperhatikan dengan seksama pemuda tersebut sambil berjalan mendekat kearah mereka.


"Em Angga, kamu duduk disini," pinta Hendri, yang menyuruh Angga untuk duduk disampingnya.


Angga menganggukkan kepalanya, tanpa bantahan ia duduk tepat disamping ayahnya. Angga menatap kesekeliling kafe ini, begitu unik dengan pemandangan pantai yang terbuat dari batu mural, persis seperti berada di pantai yang sebenarnya. Ia terperangah dan baru menyadarinya karena sewaktu memasuki ruangan ini, matanya hanya fokus dengan lelaki yaang ada didepannya.


Tunggu dulu. Lelaki ini, bukankah lelaki yang siang tadi menjemput Alis. Ya, Angga baru mengingatnya. Matanya kembali memindai kearah lelaki yang sudah mengulurkan tangannya kearahnya. Sontak membuat Angga tampak tersenyum kikuk saat menyadari dirinya yang tidak memperhatikan pembicaraan ayah dan kliennya. Dengan perasaan malu ia menyambut uluran tangan klien ayahnya.


"Januar dari Emily's Corporation." Januar tersenyum manis kearah Angga.


"Angga," sahut angga dengan senyumnya yang tipis.


Angga kembali memperhatikan pintu ruangan yang tampak terbuka. Alis berdiri didepan pintu di iringi oleh seorang Waiter dibelakangnya. Dengan berjalan hati-hati ia menghampiri meja mereka.


Angga kembali menatap Alis dengan sorot dalam, ia memindai penampilan Alis dari atas sampai bawah, perempuan itu terlihat berbeda, ia terlihat lebih dewasa dengan penampilannya kali ini. Semua itu tidak luput dari penglihatan Hendri dan Januar.


Alis tersenyum kaku kearah Angga dan Hendri kemudian dia mendudukkan dirinya tepat disamping Januar, sambil menatap sekilas kearah Angga yang tampak menatapnya dengan heran. Alis tampak berdehem.


Angga kembali kikuk dibuatnya, karena tidak menyadari bahwa Hendri dan Januar sejak tadi terus menatapnya dengan tersenyum.


"Angga, perkenalkan dia adalah Alisya, pemilik dari perusahaan Emily's Corporation." Januar menunjuk kearah Alis sambil menatap kearah Angga.


Angga kembali dibuat terperangah, berarti dugaannya selama ini tentang Alis adalah salah, semuanya salah. Angga meneguk ludahnya kasar, ia merasa sangat bersalah dengan Alis.


Hendri, ayah Angga tampak menatap Angga dengan tatapan berbeda, ia melihat Angga yang bersikap tidak biasanya. Namun ia kembali fokus dengan meeting kali ini karena perusahaan milik Alis adalah target kerjasama perusahaan milik Hendri. Sebab perusahaan ini adalah perusahaan yang sejajar dengan perusahaan milik keluarga Hadinata. Perusahaan nomor satu di Indonesia dan disusul dengan perusahaan milik mereka.


Angga terus memperhatikan jalannya meeting, ia begitu mengagumi sosok Alis yang terlihat tegas dengan jiwa kepemimpinannya dalam menyampaikan pendapatnya. Ia begitu brilian dimata Angga, wajar saja ia disebut sebagai siswa tercerdas disekolahnya.


Januar tampak sangat bangga dengan keberhasilan meeting pertama mereka dengan klien yang pertama bagi Alis. Ternyata benar kalau Alis memang tidak bisa diragukan lagi, kemampuannya sebanding dengan mereka yang sudah lama berkecimpung didunia bisnis.


Begitu juga dengan Hendri, ia tampak mengagumi sosok Alis yang mengesankan dimatanya. Bahkan cara penyampaiannya pun sangat mudah dimengerti. Ia berjiwa pemimpin diusianya yang masih terlalu muda. Benar-benar mengagumkan.


Mereka tampak berbincang hangat setelah meeting usai dan menikmati hidangan yang sudah ada. Beberapa kali Januar tampak mengacak rambut Alis dan disambut Alis dengan senyum tipisnya yang terlihat sedikit tulus, tidak sekaku tadi. Angga tampak merasakan denyut didadanya saat menyaksikan itu semua bahkan rasa hangat menjalar didadanya.


"Ada apa denganku?" gumam Angga didalam hatinya.


"Pak Hendri, sepertinya Alis dan Angga ini seumuran?" Januar kembali membuka percakapan.


"Oh iya, sepertinya begitu," kata Hendri sambil menatap kearah Angga dan Alis bergantian.


"Kami satu sekolah," sahut Angga dengan terus menatap kearah Alis.


Januar tampak kaget. "Benarkah?" tanyanya sambil menatap kearah Alis yang dibalas Alis dengan anggukan samar.

__ADS_1


"Ma'af Pak, Alis ini memang orangnya sangat kaku, tapi seperti yang Anda lihat barusan, dia orangnya berkualitas," ucap Januar dengan terselip sedikit guraukan. Ia kembali menatap kearah Hendri yang tampak tersenyum mendengar ucapannya.


"Aku mengerti kok, orang pandai dalam berbisnis itu memang kebanyakannya kaku, dingin. Tapi semuanya baik bahkan terkadang ide mereka sungguh diluar nalar." Hendri menatap kearah Alis dan kembali tersenyum.


Alis hanya diam dan menatap kearah makanannya. Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga hidangan yang disajikan sudah habis.


Setelah Hendri dan Angga berpamitan pulang kepada mereka. Januar juga pamit pada Alis untuk pergi kekantor karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan olehnya, tugas yang masih tersisa sedikit lagi. Sedangkan Alis, ia masih bertahan di kafenya untuk memeriksa beberapa berkas. Ia bergegas kearah ruangannya di lantai tiga.


💦💦💦


"Angga, kamu ikut mobil papa saja. Mobil kamu biar Mang Ujang yang bawa."


Angga mengangguk patuh dan segera masuk kedalam mobil ayahnya.


"Kenapa tidak cerita sama papa kalau kamu punya teman yang luar biasa seperti Alisya tadi?" tanya Hendri sambil terus menatap kearah jalanan didepannya.


Angga tampak bingung dengan pertanyaan ayahnya. "Maksud ayah, teman yang mana?" tanya balik Angga.


Hendri menghembuskan napasnya kasar. "Alisya, Ngga yang papa maksud. Memangnya kamu pikir papa membicarakan siapa?" ucap Hendri tampak kesal. Ia melirik sesaat kearah Angga yang tampak menatap kearah samping jendela.


"Oh Alis. Sebenarnya Angga baru tahu sekarang pa kalau Alis itu pemilik sebuah perusahaan besar. Dan rasanya ini kabar yang sangat mengejutkan, sebab di sekolah ia tidak seperti itu, bahkan semua orang tahu kalau hidupnya itu sederhana. Dari kesehariannya menggambarkan kalau dia bukan orang kaya tapi miskin pa." Angga menatap kearah Hendri yang mengerutkan dahinya bingung.


"Maksud kamu apa Ngga, papa tidak mengerti? Coba jelaskan lebih detail lagi. Rasanya ucapanmu itu sangat berbelit-belit."


"Dia sangat sederhana pa, bahkan ia sekolah dengan naik sepeda, naik bus, tidak pernah menggunakan fasilitas mewah. Dia itu terkenal sekolah dengan jalur beasiswa, pa," kata Angga kemudian.


"Wah, dia benar-benar mengagumkan Ngga, kamu harus mencontohnya Ngga. Dia punya sesuatu yang mengejutkan bahkan dibalik diamnya itu tersimpan seribu ide brilian Ngga. Dia juga sangat cantik." Hendri tidak bosan-bosannya terus memuji Alis yang dianggapnya sangat pintar dan juga anak yang cantik.


Angga mengernyit menatap ayahnya yang terdengar ambigu diakhir kalimatnya. Namun begitu, didalam hatinya menyetujui kata-kata ayahnya barusan.


"Pa, ingat umur pa. Mama mau papa kemanakan?" tanya Angga dengan cemberut. Hendri hanya terkekeh saja mendengar pembelaan anaknya terhadap istri yang sangat dicintainya tersebut.


"Kamu tenang saja, mama selalu nomor satu dihati papa."


Angga mengangguk dan kembali teringat dengan dugaan-dugaannya pada Alis. Dugaan yang meleset jauh dari kenyataannya. Ia merasa sangat bersalah dan akan segera meminta ma'af pada Alis. Ya, harus. Tekad Angga.


"Angga, mulai besok, kamu juga harus ikut sama papa kalau sedang meeting dengan klien atau mengadakan kerjasama agar pengetahuanmu terus bertambah Ngga," usul sang papa.


Angga hanya menganggukan kepalanya menerima usul tersebut. Hendri kembali fokus dengan arah jalan yang hampir memasuki halaman rumah mereka.


Sesampainya dirumah, Angga bergegas kekamarnya untuk membersihkan dirinya karena belum sempat mandi sewaktu pulang sekolah tadi. Ia melangkah dengan sesekali tersenyum, ibunya yang melihat dirinya merasa heran dan menatap kearah suami yang justru tersenyum misterius. Ratna tampak menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tingkah dua lelaki yang dicintainya tersebut.


Angga menutup pintu kamarnya dan berjalan kearah balkon kamar. Ia menarik napas dan memejamkan matanya sejenak, namun yang muncul dibenaknya justru senyum tipis Alis. Senyum tipis yang terkesan tulus dan tidak kaku. Angga membuka matanya dan menarik kasar napasnya, ia kembali teringat kata-kata ayahnya tentang Alis. Ia menggelengkan kepalanya karena terpengaruh dengan kata-kata ayahnya barusan.


Namun muncul tanda tanya diotaknya, apa hubungan Alis dan Januar hingga mereka sedekat itu. Bahkan Alis terlihat sangat nyaman saat bersama Januar. Ia bahkan tidak kaku saat bersama Januar seperti di sekolah. Hatinya kembali merasa nyeri memikirkan itu semua.

__ADS_1


Angga bergegas menghilangkan pikiran anehnya dan melangkah kedalam kamar mandi untuk mengguyur otaknya yang mulai tercemar dengan nama Alis yang sudah merebak.


💦💦💦


__ADS_2