
Alis sudah berada dirumah Angga, ia disambut dengan sangat baik oleh Hendri dan juga istrinya. Saat ini ia sedang berada diruang makan keluarga Angga.
"Alis, apa kabarmu sayang?" tanya Ratna.
"Baik tante, seperti yang tante lihat." jawab Alis.
"Ternyata benar ya, kamu gadis yang sangat cantik seperti yang diceritakan oleh mereka berdua."
Alis tersenyum kikuk. "Makasih tante." merasa sungkan sambil melirik kearah ayah dan anak yang duduk dihadapannya.
Januar dan Hendri tampak berbincang ringan seputar pekerjaan. Sedangkan Alis hanya diam saja mendengarkan. Sesekali ia melirik kearah Angga yang menatapnya tidak biasa, ia menatap Alis dengan tatapan hangat. Alis yang merasa ditatap seperti itupun dibuat tidak nyaman.
"Alis, kamu sudah punya pacar belum?" tanya Ratna dengan tersenyum hangat. Sontak Januar dan Hendri menghentikan pembicaraan mereka sesaat dan menatap kearah Alis.
Ekspresi Alis terlihat biasa saja, ia menatap kearah Ratna dengan senyum tipisnya dan menggelengkan kepalanya. Kemudian ia menatap kearah makanan didepannya.
"Masakan tante sangat enak, boleh minta resepnya tante?" tanya Alis sambil menunjuk hidangan didepannya. Ia berharap agar Ratna tidak menanyakan hal privasi yang dianggapnya tidak cocok dibicarakan dalam situasi seperti ini.
Mendengar pujian seperti itu, Ratna tampak berbinar. Ia tersenyum sumringah mendengar pujian dari Alis. "Boleh, boleh banget. Sekalian nanti tante ajarin cara membuatnya." jawab Ratna. Ia sudah melupakan pertanyaan yang sebelumnya dan bermaksud ingin melanjutkan pertanyaan lainnya namun keburu Alis sudah mengubah topiknya untuk menghindar.
"Iya tante." jawab Alis.
Angga kembali menatap kearah Alis, ia menatap Alis yang terlihat lebih pendiam dari biasanya persis seperti awal ia mengenal Alis dulu. Sebenarnya makan malam kali ini bukanlah makan malam pertemuan bisnis ataupun tentang pekerjaan. Namun makan malam kali ini adalah usul dari Angga dan juga keinginan ibunya yang ingin melihat Alis secara langsung.
Sedangkan Alis kembali hanyut dalam pikirannya sendiri mengenai orang tuanya, ia melupakan keberadaan keempat orang disekitarnya, ia juga tidak mendengarkan tentang masalah yang mereka bahas.
Alis tersadar dari lamunannya saat Januar menepuk pundaknya, ia menatap kearah Hendri dan juga Ratna yang sudah selesai makan. Mereka bermaksud ingin mengajak Alis dan Januar untuk berkumpul diruang keluarga, namun Alis yang terlihat bungkam dan diam sehingga membuat Ratna menjadi prihatin menatapnya.
"Alis, kita ketaman belakang yuk, jalan-jalan sekaligus melihat taman kesayangan mama." Angga tersenyum kearah Alis dengan senyum manisnya.
Alis menatap kearah Angga sesaat, kemudian ia mengalihkan pandangannya. Sungguh, hingga saat ini ia benar-benar tidak bisa menerima senyum semanis itu. Rasanya perasaannya seketika berubah menjadi pilu. Ia mengangguk dan mengikuti langkah Angga yang menggiringnya menuju kehalaman belakang.
__ADS_1
"Sepertinya Alis sedang banyak masalah." ucap Ratna yang menatap kearah Alis dan Angga yang sudah melangkah cukup jauh.
"Tentu saja setiap anak remaja seperti mereka lebih banyak dihinggapi masalah apalagi orang yang seperti Alis yang sudah memikul tanggung jawab yang sangat besar dengan kedudukannya sekarang yang sangatlah tidak mudah untuk dilakukan." ucap Januar.
"Iya, anak muda memang begitu apalagi masa-masa seperti mereka adalah masa-masa transisi. Dari remaja yang menanjak dewasa." ucap Hendri membenarkan ucapan Januar.
Sedangkan Angga dan Alis sedang duduk direrumputan ditengah halaman belakang sambil menatap kelamnya malam namun dilangit mulai dihiasi bintang.
"Alis, apa kamu ada masalah? Sejak pagi tadi hingga sekarang kamu terlihat berbeda dari biasanya." ucap Angga tanpa menoleh kearah Alis.
"Hanya masalah pekerjaan." jawab Alis yang sedikit berbohong. Ia tidak mungkin menceritakan semua itu pada Angga, karena Angga bukanlah siapa-siapanya. Dan lagian, Angga terlihat baik akhir-akhir ini dibandingkan dulu yang suka mencubit pada dirinya.
"Bukan karena rumor pagi tadi?" tanya Angga memastikan.
"Aku tidak perduli dengan rumor yang beredar mengenai diriku. Mereka juga akan bosan pada akhirnya nanti dan juga pasti akan merasa bahwa hal itu tidak penting bagi mereka." ucap Alis sambil menatap langit malam. Ia sudah lama tidak melihat bintang.
"Itu bagus kalo kamu merasa seperti itu. Aku pikir kamu akan terpengaruh hingga berdampak seperti tadi diruang makan." Angga terkekeh saat melihat alis yang tidak menanggapi dengan panggilan Januar beberapa kali tadi.
Alis menunduk mendengar penuturan Angga barusan, ia merasa malu karena telah teledor dalam bersikap hingga mempermalukan dirinya sendiri. "Rumor itu tidak benar jadi tidak akan berpengaruh sama sekali bagi diriku."
Alis mendesah saat ia kembali diingatkan masalah ayahnya. Pikirannya kembali mengarah pada perjodohan itu, yang menurutnya sangat dipaksakan. 'Ih menyebalkan' gumam Alis didalam hati.
"Dirumah orang tuaku." jawab Alis sambil menatap kesekeliling halaman yang kebanyakan ditumbuhi oleh tanaman bunga. Ia sengaja tidak menatap kearah Angga yang terlihat serba ingin tahu tentang dirinya.
"Kenapa Lis? Kamu merasa tidak nyaman dengan pertanyaanku." Angga tersenyum tipis, ia merebahkan tubuhnya tepat disamping Alis duduk. Kemudian menatap kearah bintang malam. "Bintang itu terlihat sangat indah namun keberadaannya sangat jauh hingga hanya bisa dipandang mata."
Alis mendelik kearah Angga, ia bingung dengan maksud Angga tersebut.
"Lis, coba kamu rebahan disampingku." pinta Angga pada Alis. Alis kembali menatap kearah Angga dan juga menatap kesekelilingnya. Ia ingin berdiri namun terlambat, Angga sudah menarik tangannya terlebih dahulu hingga Alis terjerembeb tepat disamping Angga. Ia menatap kesal kearah Angga yang main tarik saja tanpa izinnya terlebih dahulu. Namun ia tidak ingin melawan dengan Angga, ia tetap merebahkan badannya tepat disamping Angga. Namun ia memberi jarak yang cukup jauh dari Angga, ia takut kalau orang rumah dan Januar akan salah paham saat melihat mereka.
Alis mencoba memejamkan matanya sesaat, ia merasa tenang dan juga merasa damai. Apa ini karena efek dari suasana malam hari atau efek dari lelaki disampingnya. Alis segera membuka matanya dan menatap kearah Angga yang juga memejamkan matanya. Ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran anehnya. Ia merasa yakin bahwa ini hanyalah efek dari suasana malam yang terasa damai dan juga tenang.
__ADS_1
"Alis, kamu pernah tidak menyukai seseorang?" tanya Angga dengan masih memejamkan matanya, setelah keterdiaman mereka cukup lama.
Alis melirik kearah Angga dan menatap kearah langit. Dipikirannya tiba-tiba melintas wajah pemuda yang akhir-akhir ini selalu menolongnya, namun entah karena apa sepulang sekolah tadi ia mengabaikannya. "Belum pernah." jawab Alis. Ia mendudukan dirinya yang diikuti oleh Angga.
"Mungkin aku percaya dengan kata-katamu itu, tapi bagaimana kalau seandainya ada seorang cowok yang menyukaimu?" tanya Angga menatap dalam kearah Alis.
Alis hanya bungkam saja mendengar pertanyaan dadakan dari Angga, ia tidak dapat menjawabnya karena ia memang belum pernah mengalaminya dan juga tidak pernah membayangkan hal seperti itu akan terjadi.
"Anggap saja itu PR untukmu." kata Angga yang sudah berdiri. Ia mengulurkan tangannya pada Alis. Alis menyambutnya dan ikut berdiri dengan ditarik oleh Angga. "Suatu hari nanti akan kutagih jawabanmu." ucap Angga. Alis menatap kearah Angga yang terdengar serius dalam mengucapkan hal tersebut. Ataukah hanya perasaan Alis saja.
Mereka berjalan memasuki rumah dan juga menuju kearah ruang tamu yang kedatangan Alis sudah ditunggu oleh Januar.
Alis berjalan kearah pintu utama kediaman Hendri, mereka sudah ingin pulang kerumah setelah cukup lama mengadakan pertemuan yang sekedar hanya silaturahmi.
"Alis, nanti kamu datang kesini lagi ya. Main sama Angga atau juga nanti belajar membuat masakan yang tadi." ucap Ratna sambil membelai lembut kepala Alis.
Alis menatap kearah Ratna yang tersenyum kearahnya dengan lembut. Ia hanya mengangguk samar diiringi dengan senyum tipisnya. Ia berpamitan pada Ratna dan juga suaminya. sedangkan pada Angga, ia hanya menatap sekilas saja dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Angga.
Januar membukakan pintu mobil untuk Alis dan ia memutar kearah pintu sebelahnya setelah Alis sudah menduduki kursinya. Ia menghidupkan mobilnya dan menatap kearah Hendri dan keluarganya dengan anggukan kepalanya.
"Ka, antar Alis kerumah tempat biasa." pinta Alis pada Januar.
"Lis, kalau kamu punya masalah. Kamu cerita pada kakak. Kakak pasti akan membantu kamu. Kamu jangan bersikap begitu, kakak jadi merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dirimu dengan benar." ucap Januar sambil tetap fokus menyetir.
"Ga ada masalah kok kak." ucap Alis dengan sedikit berbohong. Ia memang tidak biasa menceritakan masalahnya pada orang lain. Ia merasa nyaman menyimpannya sendiri.
"Tapi buktinya kamu ingin melarikan diri dari orang tuamu." ucap Januar sambil mendelik kearah Alis.
Alis menundukan kepalanya, ia menatap buku yang ada diatas dasboard mobil dan mengambilnya. Ia tidak menghiraukan kata-kata Januar tadi, ia belum siap membaginya pada siapapun. Ia kembali mengingat kakaknya Riyan, ia merindukannya.
Januar mendesah melihat Alis yang tampak tertutup tersebut. Ia takut kalau Alis akan kembali tertekan dan melakukan tindakan diluar batas.
__ADS_1
Ia mengarahkan mobilnya kearah rumah yang dikehendaki Alis. Soal orang tua Alis, biarlah nanti ia yang akan mengurusnya.
💦💦💦