Layangan Kertas

Layangan Kertas
Percaya Sepenuhnya


__ADS_3

Pagi ini Alis sudah siap dengan seragamnya. Ia berencana untuk kembali meninjau sekolah miliknya. Rasanya sudah sangat lama ia tidak pergi kesana.


Tin-tin


Bunyi klakson mobil yang berhenti tepat di halamannya membuat Alis bergegas berdiri dan segera menghampirinya. Ia meminta pada Januar untuk menjemputnya pagi tadi karena Riyan belum juga kembali setelah ia keluar dari rumah Alis tadi malam.


Senyum manis Januar tampak mengembang saat Alis sudah membuka pintu rumahnya. Ia keluar dan kembali menutupnya. Tidak lupa ia menguncinya, tanpa menghiraukan sosok Januar yang sejak tadi selalu memperhatikannya. Dengan langkah lebar ia berjalan kearah mobil yang sudah terbuka pintu mobilnya. Alis masuk dan duduk di kursi belakang. Keadaan tampak sunyi, tidak ada seorangpun dari mereka yang membuka suara. Bahkan ia sibuk dengan buku yang ada di tangannya.


Tidak berapa lama mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolah yang menjulang. Alis segera turun tanpa menghiraukan tatapan-tatapan siswa lain padanya. Ia hanya acuh saja saat beberapa dari mereka tampak berdesas-desus membicarakan tentang dirinya. Bahkan yang lainnya justru menatap sinis kearahnya. Ia tetap tidak perduli dengan keberadaan mereka semua.


Langkahnya semakin dipercepatnya agar cepat sampai ke kelasnya. Bukannya ketenangan yang didapatnya, melainkan gunjingan dari semua teman sekelasnya mengenai keberadaannya hari ini di sekolah.


"Aku pikir dia sudah keluar dari sekolah ini setelah sekian lamanya kita tidak melihatnya." Desy, teman sekelasnya tampak menatap tidak suka kearahnya. Bahkan mereka menatapnya dengan tatapan jijik.


"Ternyata dia berani kembali kesini setelah dengan tidak tahu malunya mencoreng nama baik sekolah. Seandainya aku menjadi dia, mungkin aku tidak akan berani lagi untuk datang kesekolah ini atau juga aku sudah bunuh diri." Dewi menyahut.


"Sudahlah, dia memang tidak punya urat malu. Hal sememalukan apapun juga, dia akan tetap terlihat biasa saja. Coba lihat sana, acuhkan?," kali ini Andin yang berucap.


Alis sama sekali tidak perduli dengan ucapan mereka. Ia tetap melangkah masuk menghampiri bangkunya yang sudah lama kosong. Ia duduk tenang sambil menunggu Liza yang belum datang.


Alis meraih buku yang sengaja dipersiapkan olehnya untuk dibaca. Seandainya Alis tidak menjaga harga dirinya sebagai gadis bermartabat, maka ia pastikan mereka semua dikeluarkannya dari sekolahnya dengan cara tidak terhormat. Ia sangat geram dan berusaha menahan hatinya semampunya.


Pembicaraan semakin memanas dan cemoohan semakin tajam tertuju pada Alis setelah siswa dikelasnya semakin banyak berdatangan. Bahkan ada beberapa siswa dari kelas sebelah yang sengaja datang ke kelasnya hanya untuk mencemooh dirinya.


"Eh teman-teman, coba kalian lihat deh di mading. Ada sesuatu yang baru mengenai si Alis!!" teriak Sandra saat ia pertama kali masuk kedalam kelas. Matanya menatap kesekeliling kelas hingga menjatuhkan pandangannya pada Alis yang sibuk dengan buku ditangannya. Matanya membulat melihat sosok dingin yang hanya bisa sibuk dengan dirinya sendiri seperti sebuah patung es.


"Berita apa memangnya?" tanya salah satu temannya yang lain karena saking penasarannya.


"Biasalah gadis panggilan akan selalu berhubungan dengan berita buruk!" Winda menimpali.


"Maksudnya?"


"Apalagi kalau bukan tentang hotel, dan juga trmpat hiburan." Sandra melirik kearah Alis. Ia merasa senang saat Alis benar-benar dipojokkan oleh semua orang.


"Padahal diakan baru hari ini muncul, justru membawa berita buruk lagi untuk sekolah kita. Huh gadis tidak tahu malu, tebal bangat tuh muka," cibir yang lainnya.

__ADS_1


"Hei Alis, sebaiknya kamu keluar saja dari sekolah ini!!" teriak Sandra yang sudah menggebrak meja didepan Alis.


Alis tidak bergeming, matanya mendongak menatap kearah Sandra dengan tajam.


"Jaga matamu ya, tidak perlu menatapku dengan cara seperti itu. Aku tidak takut padamu!!" ucapnya lantang.


Alis berdiri dari duduknya saat mendengar suara riuh yang semakin memojokkan dirinya. Ia berjalan dengan acuh meninggalkan Sandra yang melongo dibuatnya menuju kearah luar kelas. Sandra tsmpsk kesal karena diacuhkan, mukanya merah padam menahan marah. Namun salah satu temannya justru sengaja menyenggol bahu Alis. Ia kembali mencibir dan menatap Alis dengan sinis.


Alis berusaha untuk tidak perduli dengan berita apapun itu mengenai dirinya. Semuanya terasa sangat menyentil harga dirinya sekarang. Apalagi berita itu selalu berbau tentang dunia orang dewasa. Yang justru sekarang kenyataan itu sudah ia alami. Ironis sekali.


Langkahnya menapaki tangga yang menuju kearah rooftop sekolah. Sudah sangat lama sekali dia tidak pergi kesana. Ia pikir dengan dirinya datang ke sekolah maka pikirannya bisa teralihkan,namun justru sesuatu yang lain menambah sesak pikirannya.


Dengan perlahan ia membuka pintu yang menghubungkan rooftop dengan tangga yang dipijaknya. Dengan langkah pelan ia berjalan ke tengah rooftop. Menarik napasnya sejenak sambil memejamkan matanya. Rasanya ia tidak ingin berbaur dengan dunia luar.


"Alis...."


Alis seketika mendadak kaku saat mendengar suara yang coba untuk dihindari olehnya. Ia berbalik dengan perlahan menatap kearah sumber suara yang ada dibelakangnya.


"Apa benar berita ini!!" tunjuk Al pada layar handphonennya. Ia menatap Alis dengan tatapan dingin. Mata Alis melirik sesaat kearah foto yang terpajang di berita online sekolah tersebut. Disana dia sedang bersama Rafael yang menggandeng tangannya di sebuah hotel.


"Memangnya apa yang diberitakan oleh wartawan sekolah?" tanya Alis santai sambil berjalan kearah bangku yang ada di tengah rooftop.


"Apa kamu percaya dengan semua berita itu?" tanya Alis tanpa berpaling kearah Al.


Al menggeleng dengan cepat, ia ikut menatap kearah depan.


"Aku tidak percaya karena aku tahu kamu tidak seperti itu."


Alis terdiam mendengarnya. "Seandainya itu benar, apa kamu akan tetap yakin dengan keputusanmu?" tanya Alis lagi.


Kini giliran Al yang terdiam, ia tampak berpikir sejenak. Senyumnya kini mengembang.


"Kalaupun itu benar terjadi padamu, maka aku akan tetap berada didekatmu. Karena aku tahu semua itu pasti bukan kemauanmu."


Alis terhenyak mendengarnya. Setulus itukah perasaan Al padanya. Lalu bagaimana seandainya Al tahu tentang kebenarannya. Alis tiba-tiba merasakan kegelisahan yang selama ini tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Ia tidak ingin berada jauh dari Al.

__ADS_1


"Apa kamu tahu sesuatu yang bakalan kita hadapi kedepannya? Tentu tidak bukan." Alis berusaha mematahkan semangatnya agar tidak berharap pada makhluk yang berada disampingnya. Dia tidak ingin sakit hati karena jelas-jelas ia tidak akan pernah bersatu dengan Al.


Al meraih tangan Alis, menggenggam dengan perasaan hangat. Ia menatap bola mata Alis yang hitam dan pekat, bola mata yang juga menatap kearahnya. Tatapan mereka semakin dalam seolah-olah mengeluarkan isi hati masing-masing.


"Eheemmm!!"


Sontak Al melepaskan tangan Alis dari grnggamannya. Ia menatap kearah sumber suara yang ada dibelakang mereka. Ketiga sahabatnya tampak tersenyum jahil kearahnya. Matanya beralih menatap kearah Alis yang menunduk dengan wajahnya yang memerah. Sangat menggemaskan. Ia tampak sedikit salah tingkah.


Al tampak kesal karena momennya bersama dengan Alis diganggu oleh mereka. Padahal hampir saja ia menyatakan perasaannya pada gadis yang dianggapnya istimewa.


"Uuhhhuuuuyyyy jadian tidak bilang-bilang!! Pakai berduaan disini lagi, janjian ya?" ledek Irfan yang berjalan mendekat kearah mereka.


Al tampak salah tingkah dibuatnya, ia menggaruk kepalanya beberapa kali sambil menatap kearah Alis yang ekspresinya sudah kembali seperti semula, datar. Segala rasa kekesalannya langsung sirna setelah mendengar pertanyaan manis dari Irfan.


"Bukan. Kebetulan pas aku mau keatas, ternyata Alisnya juga ada diatas," sahut Al.


"Bukannya kamu ya yang mengikuti Alis sewaktu kita berada di lapangan tadi," ledek Andra.


Skakmat! Al ketahuan. Al mengubah ekspresi wajahnya menjadi jutek saat kedua teman-temannya sekarang sangat suka menggodanya.


Alis melirik kearah kedua sahabat Al yang sangat usil tersebut. Matanya beralih menatap Aldo yang menatapnya dengan dingin. Alis terkesiap dibuatnya, pemuda yang satu itu tidak pernah sedikitpun memberikan dirinya tatapan hangat ataupun tatapan bersahabat.


"Alis, benarkan kalau kalian sudah pacaran. Mesti dirayakan ini, traktir kita makan di kantin ya," pinta Irfan


Alis melirik kearah Andra dan juga Irfan yang sangat cerewet menurutnya. Ia melirik kearah Al yang melotot kearah keduanya, ia terlihat tampak sangat kesal dengan permintaan keduanya, ditambah lagi mereka sudah mengganggu waktunya bersama Alis.


"Ayolah Al, jangan terlalu pelit. Kita juga seringkan membantu kamu termasuk kemarin saat mencari keberadaan Alis," ucap Irfan menyerocos. Andra tampak menimpuk kepalanya dengan buku yang ada di tangannya. Seketika Irfan langsung menutup mulutnya saat ia keceplosan. Matanya beralih menatap Alis yang tampak sedih dan menunduk.


"Iya-iya, akan aku traktir kalian semua. Sekarang kita ke kantin."


Irfan bersorak senang bersama Andra. Mereka bertos ria sambil menggoyangkan kakinya.


"Lis, kantin yuk!!" Ajak Al. Ia menatap kearah Alis yang tampak mengangguk dan berdiri. Mereka berjalan beriringan menuju kearah kantin.


Suasana koridor sekolah tampak dipenuhi oleh seluruh siswa. Jam pelajaran hari ini memang dibebaskan karena semua guru tampak sibuk mempersiapkan untuk acara besok sekaligus penyambutan pemilik sekolah yang baru pertama kalinya mereka untuk melihat dan mengenalnya.

__ADS_1


Seluruh mata menatap kearah Alis. Bahkan banyak dari mereka yang tidak setuju kalau Al bersama Alis. Karena mereka yakin, Al sudah dibodohi oleh Alis dengan semua tipu dayanya.


💦💦💦


__ADS_2