Layangan Kertas

Layangan Kertas
Kedekatan Alis Dan Angga


__ADS_3

"Tumben Lis kamu mau makan dikantin. Biasanya selalu tidak mau dengan berdalih bawa bekal. Dan yang terakhir kali itu waktu hmmmpppnnm."


Alex yang baru saja duduk merasa jengah dengan kata-kata Liza yang sepanjang gerbong rel kereta api itu. Ia membekap mulut Liza yang berbusa dengan tangan kirinya. Liza melotot dan mencubit tangan Alex.


"Aduh duh, sakit tau!"


"Hahaha... rasain!" Liza tertawa terpingkal-pingkal sedangkan yang lainnya hanya menatap mereka saja.


"Cie... jodoh..." Tunjuk Anto pada Liza dan Alex yang tampak ribut.


"Ogah." Liza dan Alex menjawab secara bersamaan.


"Tuhkan jodoh, cie... huhuy...!"


Beberapa siswa yang ada dikantin menatap heran kearah mereka setelah mendengar keributan kecil tersebut.


"Hemm. Bisa kalian diam dan pesan makanan sana!"


Liza dan Anto langsung mendelik kearah Angga.


"Aku yang bayar semuanya. Kamu mau pesan apa Lis?" menatap kearah Alis.


"Cie... cuma Alis nih yang ada dimatamu." Liza mendramatisir.


"Samakan saja." Alis menjawab datar. Ia tidak suka dengan tatapan penghuni kantin yang menatapnya aneh bahkan ada yang mencibirnya karena bisa duduk bersama Angga.


Liza berdiri dan berlalu untuk memesan makanan mereka. Ia menuju kearah depan untuk ikut mengantri.


"Aduh! Ini pacar kamu yang mana lagi sih Lis, belum cukup apa punya pacar satu saja, ini malah borong yang lain lagi."


Alis hanya diam saja saat tiba-tiba Ifa menghampirinya dan menyindirnya dengan suara keras sehingga semua penghuni kantin menatap padanya.


"Udah pakai cek kerumah sakit segala, ruang dokter kandungan lagi, apa jangan-jangan kamu sedang cek keperawanan."


Terdengar bisik-bisik yang memojokkan Alis, Alis menatap mereka dengan mata melotot tapi mereka semakin menjadi-jadi mencibir Alis.


"Diam! Kalian tidak tahu kebenarannya, jadi kuharap jangan berkata yang bukan-bukan. Bukankah berita sekolah kita hari ini sudah update dan pihak sekolah juga sudah mengklarifikasi bahwa gosip itu tidak benar adanya." Angga menatap seluruh penghuni kantin dengan tatapan mengintimidasi. Sementara Alis tidak terpengaruh sama sekali, ia tidak perduli dengan semua itu karena mereka memang tidak mengetahui kebenarannya.


Mereka yang banyak bicara tadi tampak bungkam, takut Angga akan melaporkan mereka pada pihak komite sekolah, maklumlah Angga adalah salah satu anak donator sekolah ini. Lalu, bagaimana dengan Alis seandainya mereka tahu bahwa Alis adalah sang pemilik sekolah. Ya pastilah mereka akan berbaik hati dan bermanis kata dengan cara menjilat.


"Memangnya kamu tahu apa tentang dia, seorang pembunuh!"


Angga menatap tajam pada Ifa yang mendesis ditelinganya dengan kata-kata yang lebih keji dari yang pertama.


Ini orang kenapa sih, selalu mencari gara-gara, ada dendam apa dia dengan Alis.


Ifa tidak perduli dengan tatapan Angga, ia tidak takut. Alifa tersenyum miring menatap kearah Alis. Alis yang merasa marah dengan tuduhan tersebut berdiri dan menggebrak meja dengan kuat sehingga kembali mencuri perhatian seluruh penghuni kantin. Alis merasa masih sensitif apabila bersinggungan dengan masa lalu, karena ia merasa begitu banyak kehilangan kebahagiaannya hanya karena penghianatan seorang sahabat.


"Jaga, bicara kamu Fa. Apa kamu mau aku tendang dari sekolah ini karena kamu sudah melanggar peraturan sekolah ini." Berdesis tepat disamping telinga Alifa.

__ADS_1


"Apa? apa aku tidak salah dengar? Kamu yang nyatanya bukan siapa-siapa disekolah ini ingin menendangku." Tertawa terbahak-bahak. "Ingat Lis, papaku sekarang sudah kaya lagi, dia adalah salah satu donator disekolah ini. Apa kamu mau, kamu yang aku tendang dari sekolah ini." Alifa merasa diatas angin.


Alis mendelik kearah Alex yang menyuruhnya untuk duduk kembali dan tidak meladeni perempuan didepannya tersebut.


"Kenapa? Takut? Tidak bisa berkutikkan kamu, hahaha..." Berlalu darisana dengan tertawa jahat.


"Lis, kamu tenang saja. Aku akan melindungimu dari apapun juga, aku janji." Angga menatap Alis yang juga menatap kearahnya dan menggenggam tangan Alis dengan hangat.


Alis hanya diam saja dengan sedikit senyum tipis yang diberikannya pada Angga yang menyatakan bahwa ia baik-baik saja. Alis menarik tangannya dan berdehem sesaat untuk menormalkan suasana yang terasa canggung.


"Aku juga bisa menjaga diriku sendiri." Sambil menatap kearah Liza yang memegang nampan ditangannya.


'Lis, walau bagaimanapun juga, aku akan melindungimu. Karena aku memang mulai menyukaimu.' Angga berbisik didalam hatinya dengan memandang wajah Alis.


"Lis, kamu tidak apa-apa?" Liza yang baru saja duduk


dengan membawa pesanan mereka dengan dibantu oleh Nando, menghampiri dan memeluk Alis.


"Aku tidak apa-apa."


"Benar?" sambil melepaskan pelukannya.


Alis mengangguk. "Yaudah, sekarang kita makan. Sayang kalau tidak dimakan, akan jadi mubadzir."


Mereka makan dalam diam sedangkan Alifa dari kejauhan tampak menggenggam tangannya erat karena sangat dendam dengan Alis yang terlihat baik-baik saja walaupun sudah diusir oleh orang tuanya. Alifa tersenyum jahat setelahnya.


💦💦💦


"Yasudah, kamu tetap pantau rumahnya, kalau ada kabar tentang dieinya, segera beritahu aku." Arya mengakhiri sambungan teleponnya. Kali ini ia merasa sangat gelisah karena keberadaan gadis penyelamatnya belum ditemukan juga. Bahkan rumah itu tampak kosong sejak kemarin. "Ada dimana kamu Syaiba?" Mendesah panjang dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kebesarannya.


Tok-tok


Terdengar suara pintu yang diketok dari luar.


"Masuk!"


Pintu terbuka setelah terdengar interupsi dari dalam. Perempuan dengan usia kira-kira 35 tahun masuk dengan membawa laporan ditangannya.


"Ma'af pak, ada tamu diluar yang sedang menunggu bapak."


"Siapa?"


"Bapak Bastian Khalif Muttaqin, kepemilikan atas nama perusahaan Khalif Corp."


"Bagaimana dengan jadwalku?"


"Bapak akan ada pertemuan dengan klien kita dari Emily's Corp jam 2 siang nanti, sekitar 3 jam dari sekarang."


Arya menganggukan kepalanya. "Suruh dia masuk."

__ADS_1


Sekretaris yang bername tag Nazwa itu mengangguk dan segera berlalu dari sana untuk memanggil tamu yang sudah menunggu diluar.


"Arya, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu."


Arya tersenyum senang saat melihat sahabat dekatnya ada dihadapannya. Cukup lama mereka tidak bertemu.


"Aku baik, bagaimana dengan kamu Bastian?" Sambil menyambut pelukan Bastian dan saling menepuk pundak.


"Kita duduk disofa sana saja." Sambil menunjuk kearah sofa yang ada diruangan tersebut.


"Kita sudah lama tidak bertemu. Hey, kemana saja dirimu, cukup lama tidak terlihat."


"Aku tinggal diluar negri, baru-baru ini aku pindah kesini."


"Merindukan kampung halaman?"


Bastian terkekeh sambil menganggukan kepalanya.


"Bagaimana kabar anakmu, pasti dia sudah besar?"


Arya tersenyum senang sambil membayangkan Al yang kini sudah besar dan sebentar lagi memasuki universitas. "Anakku sudah tumbuh mulai dewasa, bahkan beberapa bulan lagi dia akan lulus SMA dan akan memasuki universitas. Pastilah tampuk kepemimpinan perusahaan ini akan berpindah ketangannya."


Bastian menganggukan kepalanya, ia juga ikut senang mendengarnya.


"Bagaimana dengan anakmu?" Arya menatap kearah Bastian yang berubah menjadi sendu.


"Bastian, kamu kenapa? Apa ada masalah?"


Bastian menatap kearah Arya, ia menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin ia menceritakannya sekarang, mungkin nanti diwaktu yang tepat atau tidak sama sekali.


"Anak pertamaku sekarang sudah memimpin perusahaannya sendiri, Fawwas Corp. Sudah beberapa tahun dia tidak tinggal seatap dengan kami karena ia yang tinggal disini bersama adiknya."


"Lalu, yang kedua bagaimana?" Arya masih tersenyum menatap Bastian yang tampak keruh setelah mendengar kata anak kedua. Ia diam sesaat sambil mengingat penyesalannya dan melihat Alis dari jarak jauh tanpa bisa memeluknya.


"Yang kedua, dia masih sekolah. Dia juga tinggal sendiri, bahkan kadang-kadang dia tinggal bersama kakaknya."


"Anakmu perempuan kalau tidak salah, seumuran dengan anakku."


"Ya, mereka seumuran. Karena dia juga akan lulus sebentar lagi."


"Wah, kapan-kapan kita bisakan reuni kecil-kecilan, saling memperkenalkan anggota keluarga. Soalnya sudah sangat lama kita tidak melakukannya, sejak istri pertamamu meninggal."


"Boleh juga, itu ide yang bagus."


"Nanti aku hubungi kontakmu."


Bastian mengangguk dan menatap kearah jam dipergelangan tangannya. "Aku ada pertemuan dengan klien diluar sebentar lagi. Kalau begitu, aku pamit dahulu. Lain kali, kamu yang mampir kekantorku."


Bastian dan Arya kembali berjabat tangan dan saling memeluk. Dan diiringi langkah Bastian yang meninggalkan ruangan Arya.

__ADS_1


💦💦💦


__ADS_2