Layangan Kertas

Layangan Kertas
Seperti Orang Asing


__ADS_3

Bel berbunyi dengan nyaring sebanyak 6 kali yang pertanda bahwa waktunya istirahat telah usai. Kelas ipa1 dan 2 kali ini digabung dalam pelajaran kimia. Mereka diharuskan keruangan laboratorium yang terdapat disamping aula sekolah.


Alis dan Liza sedang berdiri didepan loker mereka untuk mengambil pakaian laboratorium. Mereka sekaligus mengenakannya dan segera berjalan kearah laboratorium.


"Za, materinya yang mana?" tanya Alis sambil membuka buku yang dipegangnya, ia melangkah berbaur bersama teman-teman sekelasnya.


Liza mengerutkan dahinya, ia mendelik kearah Alis. "Biasanya kamu yang kasih tau aku soal itu, tapi kok sekarang malah kamu yang nanya sama aku." ucap Liza acuh.


"Aku lupa."


"Ih... belum tua udah pikun."


Alis melotot mendengar kata pikun yang diucapkan Liza. Ia kembali diam saat mereka sudah tiba didepan laboratorium.


Anak-anak kelas 12 ipa1 kelihatannya sudah berkumpul didalam ruangan, Tanpa menoleh kemana-mana, Alis sudah berbaur berdiri untuk mendengarkan materi yang akan disampaikan oleh ibu Marlina.


"Anak-anak, seperti yang ibu sudah beritahukan sebelumnya, hari ini kita mengadakan praktikum gabungan antara kelas 12 ipa1 dan 12 ipa2. Hari ini kita akan mempelajari tentang titik beku. Jadi, tujuannya adalah untuk mengetahui titik beku dibeberapa larutan. Alat dan bahannya sudah tersedia dimasing-masing tempat. Dan pembagian kelompok akan ibu bagi menjadi 6 kelompok. Kelompoknya berbaur ya antara kelas ipa1 dan 2." ucap Merlina menjelaskan diawal pertemuan mereka.


Alis hanya diam saja mendengarkan apa saja yang dijelaskan oleh guru mereka. Kini tibalah giliran pembagian kelompok. Alis berada dikelompok 5 dengan 3 anggota dari kelasnya dan 3 anggota dari kelas ipa1.


"Alis, senangnya aku bisa satu kelompok sama kamu." ucap Liza dengan sorakan sambil memeluk Alis.


Alis hanya diam saja dan menatap kearah Liza sesaat sebelum ia menatap kearah Aldo dan Al yang juga satu kelompok dengannya. Aldo tampak menatap kearahnya sedangkan Al hanya bersikap acuh dan terlihat dingin. Dengan sikapnya itu, Alis mengerti bahwa Al sedang menghindarinya.


"Hai... kita ketemu lagi putri tidur." ucap Aldo yang tampak menggoda Alis. Ia menatap Alis yang terlihat sangat canggung pada dirinya. "Udah, ga usah canggung-canggung begitu, aku juga tidak akan memakan gadis kaku kayak kamu." Aldo menarik tangan Alis agar bergabung bersama kelompoknya.


Al yang melihat semua itu tampak memanas, ia menggenggam kedua belah tangannya dengan erat disisi tubuhnya. Ia berusaha untuk tidak melihat kearah mereka.


"Al, kamu yang memasukkan bahannya kedalam tabung, sementara itu Alis yang mengaduknya." ucap Aldo tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


Baru saja Alis dan Al ingin protes, yang lainnya sudah tampak setuju dengan usul Aldo tersebut.


Apa maksudmu Aldo, mendekatkan aku dengan Alis. Apakah kamu sengaja ingin melihat aku hancur dan cemburu karena kemesraan kalian. Aku akui kalau aku kalah.


Ucap Al didalam hati sambil mencoba bersikap tenang.


Alis hanya diam saja mendengar persetujuan mereka, ia mengangguk dan menatap kearah Al dengan acuh walaupun sebenarnya ia ingin menyapanya. Namun Al terlihat tidak perduli sama sekali padanya. Mereka bagaikan orang asing yang baru bertemu.


Al memasukkan bahan yang di intruksikan oleh Merry padanya sedangkan Liza menakar bahan tersebut. Alis yang bertugas mengaduknya. Aldo hanya mencatat hasilnya sedangkan yang lainnya memperhatikan reaksi kimianya.


Tidak ada percakapan yang terjadi antara Al dan Alis, bahkan setelah selesai dengan tugasnya, Al segera menjauh dari kelompoknya. Ia merasa tidak dapat mengontrol emosinya dan sakit secara bersamaan saat mereka berdekatan. Al begitu merasa kecewa pada Alis, apalagi bayangan Alis dan Aldo saat diruang perpustakaan terus-menerus menari dikepalanya.


Aktingmu dan juga Aldo sangat hebat Lis, kalian pura-pura tidak ada hubungan sama sekali hanya untuk menipu semua orang. Bahkan Aldo juga terlihat sangat manis dan perhatian saat didepanmu.


Al segera melangkah keluar ruangan laboratorium untuk pergi ketoilet, ia merasa sangat gerah, mungkin dengan mencuci muka maka pikirannya dan hatinya bisa tenang dan sedikit dingin.


"Kamu menanyakan hal itu padaku. Seharusnya kamu tanyakan hal itu pada dirimu sendiri." ucap Al sambil menatap Aldo dengan dingin. Ia benci pada Aldo yang selama ini berpura-pura baik padanya. Pantas saja, setiap kali mereka bertemu dengan Alis, sikap Aldo selalu berubah menjadi lebih dingin dan selalu memandang Alis dengan tatapan tajamnya. Inikah sebabnya.


"Maksud kamu apa?" tanya Aldo yang juga menatap Al dengan lebih dingin lagi. Ia tidak terima dengan tuduhan Al yang tidak berdasar tersebut dan tanpa bukti.


"Tidak usah pura-pura Do, aku sudah tau semuanya. Apa yang ingin kamu sembunyikan dariku?" tanya Al dengan berdesis.


Aldo tampak terperangah dengan sikap Al yang baru kali ini bersikap dingin padanya. Bahkan dari wajahnya terlihat aura kemarahan yang besar.


"Al, ma'af. Ini bukan keinginanku. Dan ma'af kalau aku melukaimu. Tapi ini bukan keinginanku. Aku mengucapkan janji itu sebelum aku mengetahui semuanya.Seandainya aku tahu bahwa Syaiba adalah Alis, maka tentu saja aku akan menolaknya Al. Ma'afkan aku Al." ucap Aldo dengan lirih. Aldo tidak bisa memungkiri, setelah kebersamaannya tadi diruang perpustakaan, hatinya lebih menghangat dan ia merasa tidak ada ruang kosong lagi. Tapi ia yakin bahwa itu bukanlah perasaan cinta.


Al menatap Aldo dengan tajam, ia mengepalkan kedua belah tangannya disisi tubuhnya. Tanpa sepatah katapun, ia berbalik dan berjalan menjauhi Aldo yang menatapnya dengan sendu.


Sementara itu, Andra dan Irfan tampak menganga dibuatnya, karena mereka mendengar semua yang telah diucapkan oleh Aldo barusan.

__ADS_1


"Jadi, Alis yang selama ini dijodohkan denganmu?" tanya Irfan yang mendekat pada Aldo. Aldo membalikkan badannya, ia menatap Irfan dan Andra yang tampak menatap penuh kecewa padanya. "Kenapa kamu tidak bilang lebih awal, Do pada kita? Apa kamu sudah tidak mempercayai kita lagi?" tanya Irfan lagi.


Aldo menundukkan kepalanya, ia tidak dapat menjawab pertanyaan Irfan, ia merasa sangat bersalah kini. Tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.


"Aku kecewa padamu,Do!" ucap Irfan dan berlalu dari hadapan Aldo yang menatapnya hingga menghilang dibalik tembok.


"Do, aku mengerti keadaanmu. Itu juga bukan kehendakmu. Ma'afkan Irfan ya yang berbicara kasar padamu." ucap Andra sambil menepuk bahu Aldo.


"Dra, sebenarnya aku juga baru tahu kemarin kalau Alis adalah Syaiba. Itupun setelah beberapa kali aku meminta alamatnya pada om Arya. Awalnya aku ragu, namun setelah aku bertemu ayahnya, aku baru tahu bahwa keraguanku hanyalah sia-sia."


"Kamu tenang saja, Al hanya perlu waktu sendiri dahulu untuk memikirkan semua ini. Ia pasti akan menerima kenyataan ini lambat laun. Al tidak akan berubah, percaya padaku. Ia hanya terkejut karena semua kenyataan ini begitu mendadak ." Andra melangkah meninggalkan Aldo yang menatap kearah punggung Andra yang semakin jauh.


Aldo menyugar rambutnya kasar, ia menghembuskan napasnya dengan kasar. Aldo berbalik menatap kearah ruangan laboratorium yang tampak sepi dari luar. Ia berjalan kearah taman belakang sekolah, biarlah kali ini ia tidak mengikuti lebih lanjut kegiatan praktikum tersebut.


Sementara itu Al mencoba menenangkan dirinya, ia tidak mau emosi lagi dan melakukan hal yang sia-sia yang akan merugikan dirinya sendiri. Al membasuh wajahnya diwastafel beberapa kali. Ia menengadahkan kepalanya keatas sambil memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya.


"Al, kamu ga pa-pakan?" Irfan yang baru masuk menatap kearah Al dengan cemas.


Al mengerinyitkan dahinya dan menatap kearah Irfan dengan penuh tanya.


"Al, aku sudah tahu semuanya." Irfan menjawab kebingungan Al. "Aku mendengarnya tadi, sewaktu kalian bertengkar dilorong sekolah." sambung Irfan lagi.


"Udah, lupain aja. Aku juga tidak kenapa-napa." jawab Al sambil mengajak Irfan untuk kembali keruangan laboratorium.


"Al, kamu tidak akan marahkan pada Aldo?" Andra mencecar Al setelah ia keluar dari toilet. Al hanya diam saja dan langsung bersikap dingin pada Andra dan juga Irfan. Melihat hal itu, Andra merasa sangat bersalah karena menanyakan tentang Aldo disaat pikirannya sedang kusut dan disaat Aldolah yang menjadi tersangka utamanya.


Al segera berkumpul kembali dengan kelompoknya, namun sebisa mungkin ia memberi jarak pada Alis dan ia bersikap lebih dingin lagi seolah-olah mereka adalah orang asing yang baru pertama kali bertemu. Sedangkan Alis yang melihat sikap Al seperti itu hanya bisa bertanya-tanya sendiri didalam hati. Karena memang ia tidak tahu dimana letak kesalahannya. Namun ia paham bahwa Al tidak menginginkan dirinya lebih dekat seperti hari-hari sebelumnya.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2