
Sepulang sekolah, Alis benar-benar sudah ditunggu oleh sopir suruhan Januar didepan pagar sekolah. Bergegas Alis memasuki mobil tersebut dan melaju kencang kearah perusahaan Emily's Corp.
Dilain sisi, Al terus memperhatikan Alis yang mengalami banyak perubahan hari ini. Sesuai dengan kata-kata Liza pqgi tadi, mereka akan bicara soal Alis, tapi kenapa Al begitu perhatian. Karena hatinya sudah jatuh pada gadis yang aneh menurut versinya.
"Al, kulihat akhir-akhir ini Alis tuh kalau pulang atau pergi selalu dijemput dan diantar dengan mobil mewah. Padahal dia tuh orangnya sederhana loh, apa menurutmu itu tidak aneh?"
Al melirik kearah Irfan yang sejak tadi ikut memperhatikan kepergian Alis. Ia berusaha untuk berpikir positif mengenai itu semua dan tidak memperdulikan rumor yang dulunya sempat beredar sesaat.
"Iya benar, bahkan bersama cowok tampan juga. Aku rasa Alis mempunyai sesuatu yang disembunyikannya." Andra menimpali.
Aldo tampak berpikir mengenai itu, selama ini ia selalu memperhatikan Alis, jauh sebelum Al mengenalnya, karena ia merasa bahwa Alis bukan gadis yang aneh seperti kebanyakan orang bilang. Karena itulah ia tahu seperti apa Alis saat Al pertama kalinya memperhatikannya.
"Al, cabut sekarang yuk."
Al mendesah dan menatap ketiga sahabatnya. "Aku lagi menunggu seseorang."
"Siapa?" Irfan langsung menyambar dan mengurungkan niatnya yang ingin memasuki mobil Andra.
"Seseorang."
"Cewek?"
Al mendelik saat Irfan mendekatinya dan tersenyum manis. Senyum yang penuh dengan tipuan. Al menganggukan kepalanya. Ia merasa jengah sekarang karena tingkat penasaran seorang Irfan tak terkalahkan.
"Cantik?" Irfan mengguncang bahu Al karena saking penasarannya. Al hanya mengangkat kedua belah bahunya.
"Siapa Al, pacar baru kamu?"
"Bukan, tapi ia ada hubungannya dengan calon pacarku. Udah, sana pulang." Al mendorong tubuh Irfan kearah mobil Andra lalu membuka pintu dan menutupnya setelah Irfan sudah masuk kedalam dengan wajah yang ditekuk dalam.
"Al, aku duluan. Ingat janji kita yang tadi."
Al mengangguk dan menatap kepergian Aldo yang memacu motornya.
Al terlihat gelisah menunggu diparkiran, beberapa kali ia menatap kearah sekitar tempat parkir yang mulai sepi.
"Oy...sudah lama nungguinnya?" Liza menepuk pundak Al.
Al membalikkan badannya dan menggelengkan kepalanya. Ia membukakan pintu mobil untuk Liza dan bergegas melangkah menuju kearah pintu disebelahnya, tepat dibalik kemudi. Mobil Al berlalu dari sekolah menuju kearah tempat yang di janjikan.
"Kafe Lk?" Liza menatap kearah Al yang berada disebelahnya. Ia menatap kearah kafe LK dan memperhatikan dengan seksama. Biasanya Alis selalu berada disini untuk membantu atau sekedar memeriksa laporan keuangan.
"Kenapa, kamu tidak suka?" tanya Al sambil memperhatikan raut wajah Liza sesaat. Ia menatap kearah kafe yang terlihat mulai penuh dengan pengunjung.
__ADS_1
"Bukan, aku suka. Sangat suka malah." Liza tersenyum tidak nyaman, senyum palsu.
Mereka turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju kedalam ruangan kafe. Al mengajak Liza untuk duduk dipojokan kafe yang menghadap ketaman bunga.
"Bunga?" Al menatap bunga-bunga tersebut. Bukankah Alis sangat suka bunga, hingga pekarangan dan belakang rumahnya selalu dipenuhi berbagai macam bunga. Ia memperhatikan dengan seksama bunga-bunga itu, jenisnya sama persis dengan bunga yang ditanam Alis. Tapi, semua orangkan suka bunga termasuk ibunya sendiri, jadi itu adalah hal yang wajar.
"Al, aku kesana dulu sebentar."
Al menganggukan kepalanya dan memperhatikan langkah Liza lyang menuju kearah manejer kafe ini. Al mengerutkan dahinya heran, ada hubungan apa Liza dan pemilik kafe ini. Al terus memikirkan semua itu yang bahkan tidak mendapat jawaban sedikitpun.
"Apa aku lama?"
Al kembali menatap kearah Liza yang sudah duduk dikursi yang terdapat didepannya. "Ada hubungan apa kamu dengan manejer itu?" tunjuk Al sambil memperhatikan Liza yang tersenyum kearahnya.
"Kamu seperti orang yang cemburu Al." Liza terkekeh, beginikah laki-laki yang diidolakan seluruh sekolah, setiap pertanyaannya terdengar posessif.
"Aku hanya bertanya, bukan cemburu seperti yang kamu maksud."
"Aku hanya bercanda, jangan diambil hati."
"Jadi?"
Liza kembali terkekeh melihat Al yang begitu penasaran.
"Pemilik kafe ini adalah salah seorang dari temanku. Aku menanyakan keberadaannya disini."
"Pesan makanan dulu." Liza melambai kearah waiter yang sedang menatap kearah mereka.
Waiter menghampiri mereka dan mencatat semua yang dipesan mereka berdua.
"Jadi, apa yang ingin kamu ceritakan mengenai Alis?"
Liza kembali tersenyum sambil menatap lelaki didepannya ini yang terlihat sangat tidak sabaran.
"Aku hanya memberikan garis besarnya saja. Setelahnya, tinggal kamu yang berusaha untuk mencari tahu sendiri."
Al mengangguk mengerti.
"Alis itu adalah orang yang kuat, bahkan sangat kuat. Ia mampu bertahan dari masalah besar yang menimpanya. Ibunya sudah meninggal saat ia berusia 3 tahun. Umur 10 tahun, ia tinggal bersama neneknya. Tapi saat ia berumur 13 tahun, neneknya ikut menyusul ibunya."
"Lalu, bagaimana dengan ayahnya?" Al begitu penasaran. Ia merasa prihatin dengan kehidupan Alis yang sangat menyedihkan.
"Tentang ayahnya, kamu cari tahu sendiri pada Alis, aku tidak mau berkomentar." Liza tersenyum miring dan menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Al mengerutkan dahinya mendengar kata-kata Liza barusan. "Jadi, Alis sudah berjuang sendirian sejak berumur 13 tahun?" Al mengangguk paham dengan pertanyaannya sendiri.
"Begitulah." Liza menyesap jus yang ada didepannya setelah waiter berlalu dari sana.
"Jadi, Alis hanya tinggal sendirian dirumah itu?"
"Kadang-kadang. Saat kakaknya tidak sibuk, maka ia akan menginap dirumah Alis. Tapi belakangan ini, yang kudengar dari Alis, kakaknya ada tugas keluar daerah. Jadi, dia tinggal sendirian untuk sementara waktu."
"Oh begitu, jadi dia juga punya saudara." Al mengangguk mengerti.
"Aku duluan ya, soalnya ada keperluan." Liza berdiri dan berlalu dari hadapan Al setelah mendapat persetujuan dari Al.
Al mengedarkan pandangan matanya keseluruh kafe, untuk mencari keberadaan Alis. Namun, ia tidak menemukannya.
Apa ia sibuk dirumah, dikebunnya.
Bergegas Al memanggil waiter untuk membayar tagihan mereka, setelahnya ia berlalu dari sana untuk kembali menemui Aldo yang sudah berjanji dengannya untuk menemui ayahnya.
💦💦💦
"Al dan Aldo, ada apa? tidak biasanya kalian menemui ayah sebelum ayah yang menyuruhmu untuk datang kekantor." kata Arya sambil menatap kearah anaknya yang duduk disofa ruang kantornya.
"Hanya ingin menjenguk ayah saja." Al tersenyum kearah Arya. Ia memperhatikan ruangan ayahnya yang sangat besar ini dan menatap ayahnya dengan ragu.
"Katakan saja, tidak usah ragu begitu."
Al melirik kearah Aldo yang sedari tadi hanya diam saja. Tapi, memang seperti itukan seorang Aldo, dingin dan irit bicara.
"Ayah pernahkan ditolong oleh seorang gadis yang bernama Syaiba. Dan ayah jugakan yang mengantarkannya pulang kerumah."
Arya menganggukan kepalanya. "Tunggu dulu, ini kenapa menanyakan gadis hebat malam itu, apa dia pacarnya Aldo?" Arya menatap kearah Aldo yang menatap Arya dengan ulasan senyum tipis dibibirnya.
"Bukan, kebetulan gadis itu mungkin yang dijodohkan dengan Aldo, dia penasaran saja, yah."
Arya merubah raut wajahnya dengan serius. "Kenapa bisa sampai dijodohkan? Apa orang tuamu mengenalnya?" Arya menatap dalam kearah Aldo.
"Ya, mereka sangat mengenalnya. Bahkan sangat mengenal orang tuanya, juga saudaranya." Aldo berkata jujur.
"Siapapun pasti mengagumi gadis itu, dia begitu pemberani dan tulus. Bahkan dia begitu sederhana walaupun sangat pendiam tapi sekali berbicara, dia sangat tegas." Arya mengenang kembali pertemuannya dengan Syaiba.
"Jadi, bisakah saya meminta alamat rumahnya, Om?"
"Bisa. Kamu sangat beruntung nak. Jaga dia baik-baik saat dia sudah menjadi milikmu nanti dan jangan sekali-kali melepaskannya. Gadis sepertinya sangatlah susah untuk dicari."
__ADS_1
Aldo menganggukan kepalanya. Ia merasa lega setelah mendengar kata-kata Arya. Ternyata, orang tuanya memang memilihkan yang terbaik untuknya. Ia yakin sekarang, ia akan berusaha untuk mendekati gadis tersebut dan menerimanya dalam perjodohan nanti. Aldo merasakan hatinya menghangat, lebih hangat dari sinar mentari pagi.
💦💦💦