Layangan Kertas

Layangan Kertas
Di bawah Umur


__ADS_3

Sudut bibir Al tampak berkedut. Ingin rasanya dirinya tertawa,mentertawakan kebodohan seorang Rafael di telinganya.


"Bagaimana mungkin kamu mencintainya, sedangkan kalian hanya bertemu dalam hitungan hari saja."


"Apa kamu lupa kalau di dunia ini ada banyak cara yang membuat orang jatuh cinta. Salah satunya dengan sikapnya yang mampu mengubah pendirianku. Dan apa kamu percaya cinta pada pandangan pertama itu ada. Jadi, walau bagaimanapun juga, aku tidak akan melepaskannya untukmu!" Rafael berbisik di telinga Al.


Al benar-benar geram mendengarnya. Selama ini ia yang berjuang untuk mendapatkan cintanya, bahkan ia rela menentang setiap perjodohan yang diajukan oleh kedua orang tuanya. Tapi setelah cintanya didepan mata, kenapa justru ada penikung. Semua masih dalam jangkauan matanya tapi sangat jauh dari jangkauan hatinya.


"Al, sudahlah. Kita bisa membicarakannya baik-baik. Tahan emosimu!!" Arya berdiri dan menarik tangan Al untuk kembali duduk disampingnya. Sejak tadi ia hanya menyaksikan semua drama yang terjadi diantara mereka. Dan sekarang, gilirannya yang angkat bicara.


"Bastian, sebaiknya kamu pikirkan sekali lagi mengenai mereka. Kamu boleh membatalkan perjodohan diantara mereka. Tapi apakah kamu tega membatasi perasaan mereka. Karena aku tahu, bagaimana besarnya pengorbanan Al untuk Alis dan bagaimana Al berusaha untuk selalu menentangku demi mempertahankan Alis. Dan juga kita sebagai orang tua tidak bisa membatasi perasaan mereka yang saling menyukai."


"Arya, aku tidak memikirkan semua itu, karena Alis adalah putriku. Ma'af, karena aku terlalu egois. Tapi, walau bagaimanapun, Rafael tetap yang harus bertanggung jawab, apalagi sekarang kita sudah tahu kalau dia juga mencintai Alis. Coba kamu pikirkan, seandainya bayi itu benar-benar tumbuh didalam perutnya dan serupa dengan ayahnya. Apa yang akan dibilang orang pada rumah tangga mereka kelak, tentu saja perselingkuhan. Kuharap kamu mengerti."


Arya tampak masih tidak setuju dengan ucapan Bastian tersebut, ia beralih menatap kearah Al yang tampak sangat kecewa dengan keputusan Bastian. Ia tahu seperti apa perjuangan Al agar mendapat restu dari dirinya. Ia menyesal tidak memberi tahu pada Al secara langsung dulu, dan justru mengujinya dengan berpura-pura tidak setuju dan menjelek-jelekkan Alis. Kenyataannya ia sudah tahu kalau Alis adalah anak sahabatnya, bahkan gadis itu juga mampu membuat dirinya menyukainya dan benar-benar berharap agar menjadi menantunya. Ia mengusap wajahnya frustasi, memandang kearah Rafael yang tampak angkuh didepannya.


"Bagaimana kalau lusa kita bawa Alis ke rumah sakit. Kita akan memeriksa dirinya, siapa tahu kalau Alis tidak hamil. Mereka melakukannya hanya semalam saja bukan?" Shakila angkat bicara, ia tidak tega menatap Alis yang semakin terpuruk karena keputusan ayahnya.


Kali ini giliran Rafael yang terlihat gelisah, namun sebisa mungkin ia menyembunyikan kegelisahannya. Ia melirik kearah Yaska yang sejak tadi hanya berdiri diam di ambang pintu. Yaska tampak mengangguk paham kearahnya.


"Baiklah! Aku setuju dengan saran dari Nyonya Bastian. Bagaimana dengan kalian?" tanya Rafael dengan senyum tipisnya.


Al dan keluarganya mengangguk tanda setuju, mereka terlihat pasrah dan tidak berdaya.

__ADS_1


"Kalau Alis benar-benar tidak hamil, maka kamu harus melepaskannya untuk kami. Dan kami akan tetap melangsungkan perjodohan yang sudah kami rencanakan sejak awal."


Rafael mengangguk setuju dengan ucapan Arya. "Kalian tenang saja, karena semua itu tidak akan pernah terjadi. Aku yakin kalau bibitku sangatlah berkualitas," ucap Rafael frontal dengan gaya sombongnya.


Al menggenggam tangannya erat, ingin rasanya dirinya menghajar Rafael. Lelaki yang sudah merusak gadisnya. Orang yang selama ini sangat dijaga dan dihormatinya sebagai seorang wanita.


"Satu lagi, sebelum keputusan dari pihak rumah sakit belum keluar, kalian tidak perlu dekat seperti tadi dan besok diacara pesta sekolah, tunda dulu rencana pertunangan kalian," ucap Al.


"Baiklah! Aku setuju dengan ucapan Al!" Bastian menyetujui saran Al di ikuti dengan anggukan dari Riyan dan yang lainnya. Membuat Rafael tidak bisa berkutik, ia merasa geram dengan keputusan Al tersebut. Ia tahu kalau Al sedang berusaha mencari celah agar dirinya bisa menghancurkan kedekatan Alis dan Rafael.


Tiba-tiba Alis berdiri. Ia menatap satu persatu orang yang menempati ruang tamu tersebut. Hingga matanya menatap kearah Rafael dan Al bergantian. Tatapannya begitu tidak bersahabatnya, sangat tajam.


"Aku bukan mainan ataupun barang lelang yang sedang kalian perebutkan. Aku bisa dan mampu bertahan selama ini juga bukan karena kalian. Dan harus kalian ingat! aku tidak ingin menikah muda. Aku masih punya cita-cita dan aku juga masih sekolah. Apa pantas anak remaja sepertiku harus berdiam di rumah dan mengurus anak dan suami?"


"Sebaiknya kamu hargai usaha orang tuamu untuk menyelamatkan harga dirimu. Setidaknya kamu cukup diam dan menurut saja! Semua ini juga karena kesalahanmu!"


"Pa, kenapa papa menyalahkanku. Kenapa papa tidak menyadari kalau hidupkulah yang tidak beruntung karena masa lalu papa! Menikah? aku masih dini untuk menikah. Lagi pula aku merasa kalau aku baik-baik saja. Bukankah kalian tahu kalau negara kita sudah mengatur batasan umur bagi mereka yang ingin menikah. Apa kalian mau kena pasal karena sudah menikahkan anak dibawah umur."


"Alis!! Kamu ja__."


Bastian hampir saja melepaskan pukulan tangannya kembali kewajah putrinya yang lagi-lagi membantah dirinya. Ia seperti tidak mempunyai harga diri lagi didepan semua orang setelah putrinya menentang dirinya. Kalau saja Shakila tidak menahan tangannya, mungkin lebam di wajah Alis semakin banyak.


"Sudahlah Bastian, jangan kamu kasari putrimu. Dia masih labil dan tidak mengerti dengan permasalahan yang sedang dihadapinya. Jadi, biarkan saja ia berpendapat sesukanya, suatu saat nanti dia juga akan sadar kalau pendapat orang tua itu selalu benar," sanggah Arya.

__ADS_1


"Alis, dengar sayang. Kamu tidak boleh egois seperti itu. Walaupun menikah, kamu masih bisa sekolah, home scholling. Yang utama sekarang adalah, anak yang ada didalam perutmulah yang terlebih dahulu diberi status." Winda ikut menimpali.


Alis hanya mendengus tidak suka. Disini dialah yang merasa di pojokkan sejak tadi. Bagaimana tidak, sejak tadi mereka berdebat mengenai bayi yang bahkan belum tentu keberadaannya ada didalam perutnya. Ia merasa seperti wanita murahan yang sedang mengandung seorang anak orang ternama dan sedang memperjuangkan hak anaknya. Menyebalkan.


Alis berjalan dan meninggalkan semua orang yang berada di ruang tamu. Ia tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa lagi. Lebih baik dirinya mengobati lebam bekas tamparan ayahnya tadi dan mempersiapkan kejutan untuk besok. Kejutan yang justru membuat dadanya perih.


Alis meraih handphonenya, ia ingin menghubungi Januar dan menanyakan tentang penyelidikan kasus mengenai kejadian itu. Setelah telpon tersambung.


"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan kabar terkini mengenai kejadian itu?" tanya Alis.


"Mereka masih berusaha mendapatkannya, mungkin kamu bisa mendapatkan video aslinya lebih cepat dari hari kamu cek ke rumah sakit."


"Apa? Kenapa lama?"


"Videonya sudah di hapus sebagian, jadi mereka kesusahan dalam mengumpulkan datanya dan memerlukan waktu yang tidak sedikit. Mungkin mereka bisa mempercepat hasilnya sedikit. Paling cepat besok, kita akan mendapatkan hasilnya. Tapi apakah lebih baik lagi kalau kamu melihatnya langsung pada handphone Rafael."


Alis terdiam mendengarnya.


"Baiklah kalau kamu keberatan. Bagaimana kalau kamu minta kirimi video itu ke handphonemu. Juga sebagai bukti. Kamu bisa menontonnya dengan leluasa disana."


Alis mendesah, ia menutup matanya sesaat. Ada banyak hal yang di takutinya seandainya video itu memang benar nyata. Ia mengakhiri panggilannya dan mencoba mengistirahatkan tubuhnya. Mencoba melupakan semuanya. Ia tidak tahu kalau dibalik kejutan miliknya besok masih ada kejutan besar yang sedang menantikannya.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2