
Akhirnya selesai juga ujian akhir sekolah. Suasana masing-masing siswa tampak bernapas lega. Bahkan mereka tidak perlu lagi bekerja keras untuk belajar.
"Alis!" suara Liza membahana mengisi lorong sekolah yang sangat ramai.
Banyak dari anak-anak yang berdiri di lorong sekolah untuk menyaksikan permainan basket yang di mainkan oleh tim Al dan kelas 8, adik kelas. Jam kosong memang di isi oleh para siswa dengan kegiatan lomba ataupun event yang sengaja diadakan oleh pihak sekolah, selama seminggu lamanya.
Alis hanya mendelik saja kearah Liza. Ia menutup wajahnya dengan buku yang ada di tangannya. Matanya kembali fokus dengan bacaannya.
"Ya ampun Alis! Pacar kamu selalu menatap kesini sedangkan kamu selalu menatap kearah buku!" Lagi, Liza berbicara keras. Ia tersenyum geli melihat sikap sahabatnya tersebut.
Alis hanya diam saja tanpa menghiraukan sahabatnya. Ia akui kalau sudah di hadapkan dengan yang namanya buku, maka ia akan lupa diri termasuk pacarnya sendiri.
"Sini! Aku ajarkan cara pacaran yang benar!" ucap Liza lagi, mendekatkan wajahnya kehadapan Alis.
"Berisik!" sahut Alis. Ia berdiri dan berjalan menjauhi Liza yang sangat berisik di telinganya. Rasanya kupingnya mau lepas saja.
"Alis, mau kemana!?"
Alis tetap melangkahkan kakinya meninggalkan Liza yang masih berteriak-teriak memanggilnya. Matanya sempat melirik kearah lapangan. Rupanya Al sedang memperhatikan dirinya.
"Alis!"
Mata Alis mengedar mencari keberadaan seseorang yang memanggil namanya. Rupanya Januar sedang berjalan menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Alis.
"Tuan Bastian ingin bertemu denganmu. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan bersamamu," jawab Januar.
"Masalah apa?" tanya Alis lagi.
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya pembicaraan ini sangatlah penting."
Alis hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya mengikuti langkah Januar untuk menuju kearah kediaman orang tuanya.
Sesampainya disana, Alis mengernyit saat mendapati mobil asing yang terparkir di halaman rumah orang tuanya. Rupanya mereka sedang kedatangan tamu.
"Ayo kita masuk ke rumah!" Ajak Januar sambil membukakan pintu mobil untuk Alis. Ia mengikuti langkah Alis yang berjalan di depannya.
"Alis! Rupanya kamu sudah datang!" Wajah Bastian terlihat sangat gembira, ia seperti baru saja mendapat tiket ke surga.
"Sini duduk di samping papa!" Bastian kembali bersuara dan menepuk-nepuk kursi kosong yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Dengan langkah mantap, Alis berjalan kearah ayahnya. Melirik kearah sepasang tamu yang masih membelakanginya. Ia terperanjat saat berada di depan mereka, rupanya keluarga Arya lah yang datang berkunjung ke kediaman orang tuanya.
"Ada apa, pa?" Alis menatap ayahnya yang masih tersenyum kearahnya. Sepertinya ayahnya terlalu bahagia hingga tidak mampu untuk menutup bibirnya yang selalu tersungging senyum.
"Nanti akan papa sampaikan padamu, tapi kita masih menunggu satu orang lagi," sahut Bastian.
"Siapa?" tanya Alis bingung.
Bastian tidak segera menjawab, ia hanya tersenyum saja. Membuat Alis mengernyitkan dahinya bingung melihat suasana hati ayahnya yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Bagaimana dengan ujian akhir semesternya!?" celetuk Arya.
Alis beralih menatap kearah Arya. Ia mengangguk samar.
"Semuanya berjalan lancar, Om. Dan sekarang masa ujian sudah berakhir, tinggal menunggu hasil kelulusan saja lagi," sahut Alis.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Arya lagi.
Alis kembali mengernyit, ia merasa seperti berhadapan dengan seorang wartawan yang sedang mewawancarainya.
"Tentu saja kuliah Om, sambil mengurus beberapa pekerjaan yang sempat Alis tinggalkan."
"Bagus! Tapi agendamu ada sedikit yang kurang menurut, Om." Arya tampak terkekeh, di iringi dengan tawa yang keluar dari mulut Bastian, juga kedua wanita yang ada disana.
Tangannya bergerak meraih buku yang sengaja di bawanya tadi, membuka dan membacanya. Belum sempat satu paragraf pun ia membaca, buku itu sudah direbut oleh seseorang, ayahnya tepatnya.
"Sayang, orang yang kita tunggu sudah datang!" tunjuk Bastian dengan dagunya kearah kursi yang ada didepan mereka.
Mata Alis memindai ruang tamu tersebut, ia terperanjat saat melihat keberadaan Al yang sudah duduk di samping orang tuanya. Sejak kapan Al berada di situ, ia seperti hantu saja, muncul tiba-tiba. Padahal dirinya tadi di sekolahan masih bermain basket.
"Ehem!! Tatap-tatapannya bisa di lanjutkan nanti setelah acara ini selesai!"
Alis segera menatap buku yang ada di tangannya. Ia merasa malu karena kedapatan menatapi Al dalam waktu yang cukup lama. Pipinya tampak bersemu merah.
"Jadi, untuk apa kita di kumpulkan seperti ini lagi?" tanya Alis untuk mencairkan rasa malunya. Wajahnya kembali datar.
"Tentu saja kita melanjutkan rencana kita yang sempat tertunda dulu," Al yang menyahut disertai dengan kerlingan matanya.
Alis mengernyit mendengar suara Al yang menyahut. Berarti dia sudah tahu semuanya tentang pertemuan ini, lalu kenapa dia tidak bercerita pada Alis.
"Apa?" tanya Alis. Matanya menatap bola mata hitam dan pekat tersebut. Ada rasa tenang dan damai menyelinap kedalam hatinya. Begitupun dengan Al yang juga menatapnya dalam dan penuh cinta.
__ADS_1
"Ehemm!!" Sekali lagi Arya berdehem untuk menyadarkan Alis dan Al.
"Sepertinya mereka berdua sudah tidak sabar lagi untuk melaksanakan rencana kita," ucap Bastian disertai dengan kekehan.
"Iya. Bahkan sejak tadi mereka terus saja bertatap-tatapan, seolah tidak menyadari keberadaan orang lain di sekelilingnya," sindir Harwinda.
Al tersenyum masam mendengarnya. Mereka benar-benar mengganggu baginya.
"Sebaiknya kalian saja yang atur, aku mau ajak Alis jalan-jalan." Al berdiri dan berjalan menghampiri Alis. Dengan tangan kanannya ia menarik lembut tangan Alis dan membawanya pergi.
"Hei. Pembicaraan kita bahkan belum sampai kemana-mana. Kenapa kalian berdua justru pergi!" teriak Arya disertai dengan kekehan dari semua orang yang berada disana.
Al hanya berbalik sesaat dan mengacungkan kedua jempolnya. Ia percayakan semuanya kepada mereka yang lebih tua darinya. Ia yakin kalau mereka pasti akan mengatur yang terbaik untuk anak-anaknya.
"Jadi, apa yang kamu tahu tuan Aldebran," ucap Alis setibanya mereka di taman belakang kediaman Bastian.
Al terkekeh mendengarnya, ia menatap wajah Alis dan membingkainya. Kemudian tangannya bergerak mencubit lembut hidung Alis.
"Anak di bawah umur di larang tau," sahutnya.
"Al!!" teriak Alis yang merasa gemas dengan sikap Al. Tangan Alis menggelitik badan Al hingga mereka berdua terjatuh di rerumputan.
"Ampun! Ampun!!" teriak Al disela-sela tawanya.
"Ayo bilang dulu!" sahut Alis masih menggelitik Al.
"Iya." Al menyeka ujung matanya karena terus tertawa. Ia menatap kearah Alis yang sudah duduk terlebih dahulu. Ia juga memposisikan duduknya tepat disamping Alis.
"Tentu saja membicarakan masa depan kita berdua." Al merangkul pundak Alis dan menyandarkan kepala Alis agar bersandar di pundaknya.
"Maksudnya?" Alis membiarkan saja tangan Al membetulkan anak rambutnya dan menyampirkannya kebelakang telinga.
"Pernikahan kita berdua. Apa kamu mau menikah denganku?" Al menatap Alis dalam, begitupun sebaliknya.
Perasaan Alis menghangat seketika. Detak jantungnya melaju, apalagi setelah melihat keseriusan di mata Al. Sungguh ia sangat bahagia walaupun momennya tidaklah romantis.
Ia memang sangat menyukai Al yang apa adanya, sederhana dan tentu saja tulus mencintainya.
"Tidak perlu di jawab, aku juga sudah tahu kalau kamu sangat tergila-gila padaku. Jadi hal sederhana ini saja kamu katakan romantis."
Alis mendelik mendengarnya, ia mengerucutkan bibirnya dan tersenyum setelahnya.
__ADS_1
Alis kembali menyandarkan kepalanya ke pundak Al. Mereka berdua memejamkan mata sesaat untuk meresapi kebahagiaan yang bakalan mereka reguk kedepannya.
💦💦💦