
Hari ini adalah hari kepulangan Alis ke Indonesia. Ia pulang tidak sendiri karena Rafael ikut bersamanya. Sepertinya lelaki itu tidak mau melepaskan Alis begitu saja. Sebab lelaki sombong tersebut sangat khawatir padanya, kesehatan Alis juga menurun. Entah apa yang sedang direncanakan olehnya sehingga dia mau bersusah payah mengantar Alis hingga ke Indonesia.
Saat ini mereka sedang berada didalam pesawat pribadi milik Rafael. Pesawat mewah yang hanya dimiliki oleh segelintir orang kaya di dunia ini. Pesawat airbus yang dirancang khusus untuk dirinya dan dilengkapi dengan 4 buah ruangan VIP suite dan juga satu ruang kerja yang dilengkapi dengan sarana-sarana elektronik canggih, satu garasi khusus untuk menyimpan mobil Roll Royce miliknya. Didalam jet ini juga terdapat kamar mandi dengan shower. Di pesawat ini juga ada ruang makan yang sekaligus bisa dijadikan sebagai ruang pertemuan.
Saat ini mereka sedang berada di ruangan bersantai dengan televisi falt screen didepan mereka dan ada rak buku mini yang menempel di dinding tepat diujung sofa yang sedang mereka duduki. Alis hanya bungkam saja walaupun mereka duduk saling bersisian. Sejak tadi Alis tidak membuka suaranya, bahkan sejak kemarin saat dirinya bangun tidur di ruang pribadi kantor Rafael. Ia merasa kecewa dengan Rafael yang tidak mau meminjamkan handphone ataupun telpon rumahnya untuk menghubungi keluarganya yang ada di negaranya. Juga dengan keputusan sepihak Rafael mengenai pernikahan mereka. Ia yang seumur hidup tidak pernah menggerutu, bahkan pada hari itu hampir uring-uringan dan menggerutu seharian. Ia benar-benar sangat kesal pada Rafael karena menurutnya, belum tentu mereka melakukannya. Ia sudah meminta bukti terlebih dahulu pada Rafael baru dia akan memutuskan untuk menikah atau tidaknya dengan Rafael.
Walaupun Alis bungkam, Rafael tetap tidak perduli padanya. Bahkan lelaki itu tampak sibuk dengan berkas yang ada ditangannya dan sesekali ia memanggil asisten pribadinya. Ia menganggap pesawat ini adalah kantornya. Huh... lelaki membosankan.
Bahkan Rafael juga sudah mengusir pramugari yang sejak tadi berdiri dengan setia menanti perintah dan permintaan Rafael. Ia juga sudah mengusirnya dari hadapan mereka, karena dianggapnya sudah mengganggu kesibukannya.
Yaska meletakkan beberapa buah buku bacaan yang diambilnya dari rak buku, tepat dihadapan Alis. Sedang Rafael terus memperhatikan pergerakan Alis disela-sela kesibukannya dalam bekerja. Sesekali ia mencuri pandang kearah Alis yang tampak bungkam sejak kemarin. Ia tahu kalau gadis itu sedang marah padanya. Senyum samarnya terbit saat melihat Alis yang meraih buku bacaan tersebut. Gadis itu semakin manis saat dirinya sedang serius membaca seperti itu.
"Bos, ada sesuatu yang penting yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Yaska dengan pelan. Ia menatap Rafael sejenak yang sejak tadi hanya terfokus pada Alis, dan melirik kearah Alis sekilas namun ia justru mendapat deheman dari Rafael dan juga pelototan mata Rafael kearahnya.
"Kita keruanganku!" ucap Rafael yang sudah berdiri dan meninggalkan Alis yang tenggelam dalam dunia bacanya. Bahkan Alis tidak melirik sedikitpun padanya saat dirinya meninggalkan Alis. Gadis itu benar-benar hanyut dalam dunianya.
"Ada apa?" tanya Rafael saat mereka sudah tiba di ruang kerja milik Rafael. Ia mendudukkan dirinya di kursi empuk yang ada disana sambil fokus kearah Asra yang masih berdiri dihadapannya.
"Kaki tangan penculik Alis di Indonesia sudah tertangkap dan saat ini pihak kepolisian disana sedang melakukan pengejaran pada pelaku utamanya, setelah menginterogasi para suruhannya. Dan kami juga sudah menemukan siapa pelaku sebenarnya yang sudah menjebak dirimu."
"Siapa?" tanya Rafael dengan sorot dingin dan tidak terbaca, ia menegakkan badannya.
"Tuan Maxwell dari perusahaan Summit's Corp."
Rafael hanya tersenyum sinis mendengar fakta yang disampaikan oleh Yaska. Ia tidak heran pada perusahaan itu, karena hanya Summit's Corp lah yang menganggap bahwa Rafael adalah saingan terberat mereka dalam dunia bisnis. Bahkan Rafael juga tahu kalau mereka juga menjalankan bisnis gelap dan juga senjata api ilegal. Tapi semua itu tidak berpengaruh sama sekali pada perusahaan milik Rafael karena perusahaannya jauh lebih hebat dari milik Maxwell.
"Kamu urus saja mereka dan kamu juga beritahukan pada keluarga Alis bahwa kita akan berkunjung ketempat mereka!" perintah Rafael yang diangguki oleh Yaska.
"Baik," jawab Yaska sambil mengangguk.
"Kalau kamu sudah tahu dalang dari penculikan Alis, segera tangkap dia dan seret kehadapanku. Aku ingin kita yang terlebih dahulu mendapatkannya dari pada mereka!" desis Rafael tajam dengan rahangnya yang tampak mengeras.
"Tenang saja, semua sudah diatur seseuai dengan keinginanmu," jawab Yaska.
"Kalau begitu, urus semua pekerjaanmu. Aku ingin kembali pada Alis!"
"Oke, Bos!"
Rafael mengangguk puas, ia berdiri dan berjalan keluar ruangan pribadi tersebut dan kembali menghampiri Alis yang sedang minum jus leci. Rupanya gadis ini sedang bersantai bersama beberapa cemilan dihadapannya dan juga jus buah. Alis masih sibuk dengan buku ditangannya.
__ADS_1
"Bagaimana perjalanannya, apa menyenangkan?" tanya Rafael semabil menatap kearah Alis yang masih sibuk dengan bukunya.
Alis hanya melirik sesaat kearahnya tanpa merubah gerakan kepalanya sama sekali, dan dia mengedikkan bahunya acuh. Ia kembali kedunia bacanya dan tenggelam disana. Alis benar-benar tidak ingin berbicara sama sekali dengan lelaki dihadapannya ini.
Sedang Rafael berusaha menentramkan hatinya yang merasa terkejut dengan sikap Alis yang terlalu cuek padanya. Baru kali ini ia tidak ada harganya didepan seorang wanita. Apalagi wanita ini sudah ditolong olehnya, bahkan wanita ini juga sudah pernah tidur dengannya. Ah, bicara apa dirinya, pikirannya kembali kemasa itu.
Perjalanan yang mereka tempuh selama 12 jam 13 menit dengan kecepatan 900 km/jam benar-benar membuat Alis merasa bosan. Bahkan ia baru duduk sekitar 5 jam, ia sudah merasa mengantuk. Sebisa mungkin ia menahannya tapi ia sudah tidak bisa menguasai dirinya lagi hingga buku yang dipegangnya jatuh kebawah.
Dengan ekor matanya, Rafael melirik kearah Alis. Senyum tipis muncul disudut bibirnya. Dengan gerakan perlahan ia mendekat kearah Alis, tangannya melambai-lambai didepan wajah Alis untuk memastikan Alis tertidur dengan nyenyak atau tidak.
Tangan Rafael kembali bergerak dengan perlahan kearah bawah lutut Alis dan juga belakang lehernya. Dengan hati-hati ia mengangkat Alis dan berjalan kearah ruangan yang tidak jauh dari hadapan mereka. Rupanya itu adalah ruang kamar, pintunya pun terbuka secara otomatis. Rafael meletakkan Alis dengan perlahan diatas ranjang ukuran king size, ia menatap cukup lama wajah Alis yang tampak tertidur pulas. Senyumnya seketika mengembang saat melihat Alis tidur tanpa pergerakan sama sekali. Dia benar-benar gadis keras kepala, bahkan mampu membungkam mulutnya selama itu pada Rafael.
Tangan Rafael terulur menyibak rambut hitam yang menutupi sebagian wajah Alis. Ia meraih selimut dan menutupinya hingga sebatas dada. Dengan perlahan ia ikut merebahkan dirinya tepat disamping Alis, namun sebelum itu ia sempatkan untuk mengecup kening Alis sesaat. Entah kenapa ia merasa sangat nyaman berada disisi gadis pendiam ini walaupun dirinya tidak seperti gadis lainnya, walaupun dirinya secuek itu padanya.
***
Alis membuka matanya dengan perlahan sambil matanya memindai ruangan asing yang ditempatinya sekarang. Seingatnya, terakhir kali sebelum ia tertidur tadi ia masih membaca di ruang santai. Tanpa diberitahupun ia sudah dapat menebak kalau Rafael lah yang membawanya kesini. Walaupun ruangan ini seperti ruangan pribadi milik Rafael, ia masih bisa menduga kalau mereka masih berada didalam awak pesawat dan belum sampai ditujuan. Dengan gerakan lambat ia mendudukkan dirinya. Alis menoleh kearah pintu saat tiba-tiba pintu terbuka. Rafael muncul dengan tatapan manisnya sambil membawakan Alis makanan.
Tatapan terkejut Alis tampak diraut wajahnya saat melihat pemandangan didepannya. semua itu membuat Rafael tertawa, tawa renyah namun hanya sesaat karena setelah ia menyadari ada orang lain dibelakangnya, dengan cepat ia merubah raut wajahnya seperti semula.
Yaska tampak melongo bersama seorang pramugari dibelakangnya. Bagaimana tidak, seorang Rafael yang terkenal dingin, tak tersentuh, sombong dan ketus tiba-tiba tertawa renyah tanpa sebab. Ia juga merasa heran karena seumur hidupnya belum pernah melihat Rafael membawa nampan, bahkan untuk dirinya sendiripun juga tidak pernah, apalagi untuk orang lain. Berbeda dengan kali ini, rupanya Alis mampu mengubah sedikit sosok Rafael menjadi sedikit hangat walaupun sikap Alis sendiri juga tidak tersentuh. Mata Yaska menatap kearah Alis, namun belum sampai sedetik, pintu kamar yang ada dihadapannya segera tertutup.
"Aku membawakan makan siang untukmu, sebaiknya kamu segera makan dan setelah itu minum obatmu!" perintah Rafael.
Alis melirik kearah makanan yang dibawa Rafael. Makanan Eropa, sangat menggugah selera dengan tampilannya yang cantik. Ia melirik kearah Rafael yang masih menatapnya dengan tatapan hangat. Alis sebenarnya lapar tapi ia diam saja dan semua itu membuat Rafael mengerutkan dahinya. Kemudian ia meletakkan nampan tersebut dan berjalan kearah pintu kamar. Pintu kamar kembali terbuka secara otomatis, pramugari tampak menghampirinya, mereka berbincang sesaat.
Setelah pramugari tersebut pergi, Rafael kembali masuk kedalam kamar. Ia tersenyum samar kearah Alis yang sejak tadi memperhatikan dirinya dengan sorot tak terbaca.
"Aku tau kalau kamu tidak bisa makan kalau tidak ada nasi." Gerakan tangan Rafael berhenti tepat diatas puncak kepala Alis. Ia mengacak dengan pelan kemudian melepaskannya. Matanya masih menatap wajah Alis yang merasa risih dengan sikapnya.
"Aku tidak sengaja melakukannya," ucap Rafael lagi. Ia masih menantikan Alis membuka mulutnya. Namun Alis masih bungkam hingga pintu kamar yang mereka tempati terbuka dan menampilkan sosok pramugari yang terlihat cantik tersebut.
"Ini nasi yang Tuan minta. Apakah masih ada lagi yang Tuan inginkan?" tanyanya sopan sambil mengulas senyum manisnya.
Rafael hanya menggerakkan ekor matanya agar pramugari itu secepatnya meninggalkan ruangan yang sedang mereka tempati. Kemudian Rafael kembali menatap kearah Alis dengan pandangan hangatnya setelah pramugari tersebut keluar.
"Ayo, makan. Biar aku yang menyuapi dirimu," ucapnya lembut.
"Tidak usah. Aku masih bisa sendiri. Lagi pula, kamu juga belum makan siangkan?" tanya Alis sambil melirik kearah nampan yang berisi 2 porsi duck poie gres, makanan khas Prancis.
__ADS_1
"Biar aku yang menyuapimu!" ucap Rafael sekali lagi tanpa ingin dibantah. Ia menyorot Alis dengan tatapan datar. Alis mengangguk dan mengalah karena ia tidak ingin berdebat dengan lelaki angkuh didepannya ini dan juga keadaan perutnya yang meronta-ronta, tidak sabar lagi minta di isi.
Dengan cepat Alis membuka mulutnya saat Rafael mengarahkan sendok ke mulutnya. Dahinya mengernyit saat merasakan makanan yang super lezat terasa dilidahnya. Ia mengunyahnya dengan perlahan untuk meresapi semua citarasa yang ada di masakan tersebut.
"Bagaimana rasanya? Apa ini enak?" tanyanya pada Alis.
Alis melirik sesaat kearahnya dan kembali mengernyitkan dahinya. Ia merasa heran dengan sikap Rafael kali ini, terlalu sering bertanya dan juga terlalu perhatian padanya. Dengan perlahan Alis mengangguk, menyatakan bahwa makanan tersebut memang sangat lezat.
Senyum kembali tercetak dari bibir Rafael dan itu kembali membuat Alis merasa heran, hingga membuat dirinya kesulitan menelan makanannya dan menyebabkan dirinya tersedak.
"Makannya pelan-pelan," ucap Rafael sambil menyodorkan segelas air mineral kehadapannya. Bahkan gelas tersebut sudah menempel dibibir Alis. Dengan gerakan refleks Alis merebut gelas tersebut, ia merasa sangat tidak nyaman dengan perlakuan Rafael terhadapnya, terlalu berlebihan menurutnya.
"Aku bisa makan sendiri," ucap Alis datar sambil merebut piring yang ada di tangan Rafael. Ia menatap kearah Rafael yang tampak mengedutkan bibirnya. "Sebaiknya kamu juga makan, tuh! masih ada satu piring lagi," tunjuk Alis pada piring yang ada disamping Rafael.
Mata Rafael mengikuti arahan Alis, ia mengambilnya dan menatap sesaat kearah Alis.
"Rupanya kamu ingin makan bersamaku, padahal tadinya aku ingin makan sepiring denganmu," ucapnya acuh sambil memasukkan potongan hati bebek tersebut kedalam mulutnya. "Kamu juga tidak menjawab pertanyaanku tadi," ucapnya lagi setelah ia menelan makanan yang ada di mulutnya. Ia meraih gelas milik Alis dan meminumnya dengan perlahan. Semua itu membuat Alis mengerutkan dahinya dalam karena merasa heran dengan sikap Rafael yang tidak biasanya.
"Kamu tahu. Gelas bekas minummu ini ada bekas bibirmu yang tertinggal. Kemudian aku meminumnya, jadi secara otomatis artinya kita sedang melangsungkan ciuman," ucapnya santai sambil menatap kearah Alis. Bibirnya sedikit berkedut saat Alis mengalihkan tatapannya kearah makannya.
Entah kenapa Rafael sangat suka menjahili Alis, walaupun respon yang didapatnya hanyalah respon datar. Ia tahu kalau Alis sebenarnya adalah gadis yang hangat.
Mereka meneruskan makan mereka dalam diam sambil sesekali Alis melirik kearah Rafael yang sesekali menatap kearahnya. Rasanya ia benar-benar ingin sampai kekediamannya dan meninggalkan lelaki sombong dan berubah menjadi usil yang sedang berada dihadapannya ini.
Yaska masuk setelah Rafael memanggilnya melalui intercom yang ada didalam kamar tersebut.
"Ambilkan berkas-berkas milikku dan bawa kesini. Juga beberapa buku untuk Alis!"
Yaska mengangguk dan bergegas keluar kamar untuk mengambil semua yang diminta oleh bosnya. Setelah beberapa menit kemudian, ia sudah kembali bersama barang yang di inginkan Rafael.
"Kamu keluar, jangan ganggu kami!" ucapnya.
"Tunggu! aku ingin keluar, aku bosan disini!" ucap Alis yang menahan kepergian Yaska.
Yaska berbalik dan ia mendapati Rafael yang menatapnya dengan tajam seolah-olah mengisyaratkan agar dirinya tidak memenuhi keinginan Alis dan segera keluar dari kamar tersebut. Kemudian Rafael beralih menatap kearah Alis dengan tatapan dingin, ia mengisyaratkan agar Alis tetap pada tempatnya.
Sekali lagi Alis mengalah dan mengangguk. Ia kembali bungkam dan meraih buku yang belum selesai dibacanya tadi saat di ruang bersantai.
💦💦💦
__ADS_1