Layangan Kertas

Layangan Kertas
Kembalinya Rafael


__ADS_3

"Apa!? Kamu bilang apa!?" Rafael menggebrak mejanya dengan keras, menatap nanar kearah luar dengan telpon berada di samping telinganya.


"Dasar gadis itu, sudah kubilang untuk tetap baik-baik saja. Dia justru membuat ulah," gerutunya setelah telponnya di tutup.


"Ada apa Rafael?" tanya Yaska. Sejak tadi ia hanya menatap sahabatnya yang terlihat kesal dan marah serta mondar-mandir tidak karuan seperti ada berita buruk yang baru didengarnya. Kalau ia tidak salah dengar, pasti karena Alis, gadis mungil dan belia dari Indonesia itu.


"Dia membuat ulah!" Rafael mendesah sambil menyugar rambutnya.


Yaska tertawa mendengarnya. "Kurasa kamu tidak cocok dengan dirinya, lupakan saja dia dan cari gadis yang lebih dewasa darinya." Yaska masih duduk santai di sofa ruang kerja Rafael.


"Apa kamu bilang? Aku pedofil?" Menatap Yaska dengan tatapan tidak suka.


"Aku tidak bilang begitu," Yaska masih terlihat santai walaupun atmosfer sudah mulai mencekam.


"Tadi kamu bilang begitu!" Rafael berucap dengan sangat kesal. Melirik kearah Yaska, seolah ia sedang melampiaskan amarahnya.


"Aku hanya bilang tidak cocok," Yaska masih santai.


"Itu sama saja dengan mengatakan aku pedofil," masih bernada kesal.


"Kamu hanya terobsesi padanya, aku yakin hanya itu perasaan yang kamu miliki untuknya," Yaska berucap dengan mimik serius, membuat Rafael bungkam sesaat. Namun, tawanya pecah seketika, mentertawakan kebodohan sahabatnya. Jelas-jelas ia sangat mencintai Alis, lalu dimana letak obsesinya pada gadis itu? Mustahil!


"Kamu tidak tahu seperti apa perasaanku padanya. Saat aku berada didekatnya dan saat aku berada jauh darinya, sangat jauh berbeda. Dan kurasa itu cinta, bukan obsesi." Rafael.


Yaska masih diam mendengarkan, ia tidak ingin lagi membahas soal perasaan karena memang ia tidak pernah tahu seperti apa perasaan orang yang sedang jatuh cinta.


"Sekarang kamu siapkan keberangkatan kita untuk menuju ke Indonesia!" ucap Rafael dengan tegas, membuat Yaska terkejut dibuatnya.


"Untuk apa kita kesana? Kita baru beberapa hari berada disini!" Seolah-olah seperti orang bodoh, Yaska membeo.


"Aku! Bukan kita. Kalau kamu keberatan maka aku bisa berangkat sendiri." Tekan Rafael.


Yaska kembali dibuat terkejut karena tidak biasanya Rafael memaksakan diri untuk hal seperti ini dan meninggalkan pekerjaannya.


"Tentu saja untuk menjemput gadis itu dan membawanya kemari. Aku tidak ingin dia melakukan sesuatu yang membuatku marah," sambung Rafael dengan berdesis.


"Apa?" Yaska terkejut. "Hei! Itu tidak bisa kamu lakukan. Dia bukan istrimu yang bisa sesukamu mengaturnya. Dia juga masih sekolah dan pekerjaannya juga disana."

__ADS_1


"Hei! Jangan berbicara keras padaku. Disini aku yang menjadi bosmu!" Menatap garang kearah Yaska, membuat Yaska bungkam seketika.


"Dan ingat ini, sebentar lagi Alis akan menjadi istriku. Ingat ini, 'akan'." tekan Rafael diujung kalimatnya.


"Aku hanya tidak ingin kamu kehilangan cahaya lagi seperti yang lalu," Yaska berucap lirih.


"Dan cahaya itu aku dapatkan dari Alis!" sahut Rafael juga dengan lirih.


"Baiklah, aku akan segera menyiapkan penerbangan kita kesana," Yaska mengalah dan segera mengakhiri perdebatan mereka. Percuma ia membantah kalau akhirnya dirinyalah yang kembali kalah dan repot. Ia segera berdiri dan di angguki langsung oleh Rafael.


Bagimanapun keputusan Rafael, kalau menyangkut kebahagiaannya maka Yaska akan selalu berusaha yang terbaik karena baginya Rafael adalah seperti adiknya sendiri.


Yaska berlalu keluar ruangan meninggalkan Rafael yang terpaku menatap kearah sahabatnya. Ada sedikit rasa sesal saat ia memaki dan meluapkan kemarahannya pada Yaska.


Bagaimana ia tidak marah kalau mata-matanya mengatakan kalau Alis dan Al sedang menjalani masa pacaran. Bahkan mereka terlihat sangat mesra.


Lelaki mana yang ikhlas melihat wanita yang di cintainya bersama lelaki lain. Tidak mungkin ia rela berkorban demi kebahagiaan orang lain, tapi justru melukai hatinya sendiri. Tapi yang di inginkannya adalah hidup bahagia bersama orang yang di cintainya.


***


Pesawat yang ditumpangi oleh Rafael sudah mendarat dengan aman di bandara Soekarno-Hatta. Ia berjalan dengan begitu gagahnya saat menuruni tangga pesawat. Dengan setelan baju santai berlengan panjang, ditambah dengan kacamata hitam yang bertengger di wajahnya menutupi matanya yang biru.


Rafael memasuki mobil dan duduk di kursi kedua. Sedangkan Yaska duduk di kursi depan bersama seorang sopir.


Citttt... bruk...


Baru saja mereka menjalankan mobil selama 30 menit, suara tabrakan terdengar.


Rafael hampir terpental kedepan karena mobil yang mereka tumpangi sudah di tabrak oleh seseorang dari belakang. Membuat Rafael yang lelah, harus mengeluarkan makiannya karena kesal.


"Ada apa!?" Rafael melepaskan kacamatanya. Mobil yang mereka tumpangi sudah menepi dan berhenti.


"Ma'af Tuan, mobil yang dibelakang menabrak mobil kita," jawab sopir dengan takut-takut.


Rafael terbelalak dibuatnya, tanpa pikir panjang ia langsung berpaling kebelakang. Beruntungnya mobil tersebut juga menepi.


Tok tok tok

__ADS_1


Seorang wanita mengetuk pintu mobil yang di tempati oleh Rafael, membuat Rafael merasa bising dan menurunkannya sedikit.


"Tuan, ma'afkan saya karena sudah menabrak mobil Anda, saya sedang tergesa-gesa," ucap wanita tersebut.


Rafael tidak menyahut, matanya hanya menatap kearah Yaska yang sudah memeriksa mobil belakangnya. Kerusakannya tidaklah parah, hanya lecet-lecet saja.


"Nona! Makanya kalau menyopir itu jangan mengantuk. Menabrak mobil saya 'kan jadinya. Dan jangan jadikan alasan ketergesaan Anda dalam kelalaian," Rafael berucap dengan dingin.


Wanita tersebut merasa bersalah, sekali lagi ia mengucapkan kata ma'afnya, tapi Rafael hanya mengacuhkannya saja.


"Benar-benar sombong!" Maki wanita tersebut.


"Saya akan ganti kerugiannya!" ucapnya sarkas. Ia menyerahkan kartu nama miliknya, tapi Rafael sama sekali tidak menyambutnya. Bahkan Rafael tidak mengucapkan sepatah katapun.


"Hei! Tuan. Saya sedang tergesa-gesa, mengertilah. Tolong kerjasamanya." Ia melunakkan nada bicaranya saat Rafael menatapnya tajam.


"Oh iya, saya ingat siapa Anda. Anda yang waktu itu memeriksakan istri Anda. Padahal dia masih perawan. Mungkin saja burung Anda yang bermasalah hingga tidak dapat menjeblosnya." Wanita tersebut berbicara tanpa saringan, bahkan dia sangat hapal dengan wajah Rafael, satu-satunya pasiennya yang sedikit aneh.


Berhasil! Wanita itu berhasil memancing Rafael untuk bersuara. Karena sejak tadi hanya dirinyalah yang terus-menerus berbicara. Dan sama sekali tidak di tanggapi olehnya.


"Hei! Aku masih sehat. Apa kamu pikir aku pria yang tidak normal!" ucap Rafael sarkas. Ia begitu kesal mendengar penghinaan yang di lontarkan oleh wanita tersebut. Merendahkan derajatnya sebagai lelaki jantan.


Bukan hanya bermasalah mata, wanita ini juga bermasalah mulut.


Rafael beralih menatap kearah Yaska yang berusaha menahan tawanya. Yaska berpura-pura memeriksa handphonenya.


"Itu benarkan Tuan?" ledek wanita itu merasa menang karena Rafael yang terpojok.


"Kamu urus masalah ini dengan asistenku saja!" Bersikap acuh dan menutup kaca mobil miliknya.


Wanita itu yang tidak lain adalah dr Femi tampak semakin kesal. Ia kesal karena waktunya yang sudah mepet harus terjeda di tengah jalan karena masalah yang berlarut-larut.


Ia semakin kesal saat melihat sikap arogan Rafael. Dengan gerakan cepat ia menendang mobil Rafael dan segera pergi kearah mobilnya, meninggalkan Rafael yang wajahnya tampak memerah.


"Dasar wanita tidak tahu aturan, awas kalau ketemu sekali lagi. Akan kutuntut dirinya," gerutu Rafael.


"Hmmm... lanjutkan perjalanan!" Rafael memberi perintah.

__ADS_1


Ia memejamkan matanya sejenak guna menghalau perasaannya yang semakin kacau karena ulah wanita tadi. Ingin rasanya ia segera melihat Alis untuk menenangkan pikirannya.


💦💦💦


__ADS_2