Layangan Kertas

Layangan Kertas
Kehilangan


__ADS_3

Riyan yang mendengar kabar dari anak buahnya tampak sangat marah dan menggebrak meja kerjanya dengan kasar hingga semua anak buahnya yang berada didepannya tampak terkejut dan menunduk takut. Auranya begitu gelap sekarang hingga menghembuskan napas pun rasanya mencekik leher. Bagaimana tidak, Riyan selama ini terkenal dengan auranya yang ramah justru saat sedang marah sangat menakutkan. Ia seperti raksasa yang sedang kelaparan.


"Beraninya mereka ingin membunuh adikku, tidak tahukah mereka siapa aku dan juga Alis." Desisnya sambil menggertakan giginya hingga terdengar bunyi gemeletuk mengisi seluruh ruangan ini. "Cepat! cari tahu siapa saja yang terlibat dalam semua ini dan juga yang paling penting adalah cari tahu siapa orang yang sudah memerintah mereka, bawa kehadapanku! Kalau perlu hajar dahulu ia sampai babak belur. Aku tidak akan memberinya ampun!" desis Riyan tajam dengan tatapan mengintimidasi di iringi dengan seringainya yang sekali lagi membuat anak buahnya tampak bergidik ngeri.


"Baik, bos!" ucap serempak anak buahnya yang berjumlah 8 orang tersebut. Mereka segera keluar setelah mendapat isyarat tatapan dari Riyan.


Tanpa pikir dua kali, Riyan meraih kunci mobilnya dan bergegas meninggalkan kantornya. Ia begitu khawatir dengan keadaan Alis karena selama beberapa hari ini ia tidak ada kontak dengan Alis. Sungguh, ia tidak bermaksud mendiamkan Alis karena perjodohan waktu lalu. Ia hanya terlalu sibuk hingga harus menginap dikantornya sendiri.


"Kamu! aku ada urusan diluar dan pulang sekarang. Kalau ada urusan penting, segera hubungi aku dan handle semua pekerjaan," perintah Riyan pada asisten pribadinya. "Oh iya, jadwalku hari ini tidak padat jadi kamu bisa pergi memantau proyek yang belum rampung yang baru saja kita bicarakan pagi tadi."


"Baik, aku akan segera kesana. Kamu hati-hati dijalan."


Riyan meraih handphone yang ada didalam saku celananya, ia menekan tombol dan mencari nomor kontak seseorang. Terdengar dering dari seberang sana.


"Segera kerumah Alis sekarang, ada urusan yang sangat penting," ucapnya yang kemudian menutup telpon tanpa mengizinkan seseorang diseberang sana untuk menjawabnya terlebih dahulu.


Pikirannya benar-benar kalut sekarang, percuma saja ia mengirim orang untuk memantau Alis kalau ternyata Alis tetap dalam keadaan bahaya, tapi setidaknya keempat pemuda itu sudah melindungi Alis dan mampu menangkap pelakunya walaupun bukan pelaku utama. Tapi setidaknya dari merekalah ia bisa menemukan pelaku utama.


Riyan tiba dikediaman Alis bersama dengan sebuah mobil lainnya yang sangat dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Januar.


"Yan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Januar yang sudah berada tepat dihadapan Riyan. Mereka melangkah bersama kearah rumah Alis yang tampak sepi. Setahu Januar, tadi siang Alis meminta lebih cepat pulang dari kantor karena ia ada kesibukan dirumah dengan kebunnya. Tapi tadi Riyan mengatakan kalau Alis baru saja diserang oleh orang tak dikenal dikebunnya.


"Sebaiknya kita tanyakan pada orangnya, aku hanya tahu dari anak buahku yang berada ditempat kejadian, kalau Alis diserang oleh orang yang tidak dikenal. Sepertinya suruhan seseorang karena preman itu mengatakannya walaupun tidak secara langsung. Jadi, kuharap kita bisa menemukan dalangnya sebelum kejadian yang lainnya menimpa Alis."


"Apa motif dari semua ini?" tanya Januar.


Riyan hanya mengedikkan bahunya saja. Ia memang benar-benar tidak dapat menebak semua ini. Setahunya Alis tidak mempunyai musuh kecuali beberapa minggu belakangan, Alis seperti sangat tidak disukai beberapa orang, bahkan ia mendapatkan bullyan disekolahnya. Tapi itu tidak cukup kuat dijadikan sebagai dalang dari semua ini.


"Bagaimana dengan perusahaan Alis, kafe dan juga panti asuhan miliknya? Apa kalian memiliki rival? Atau mencurigai seseorang?" tanya Riyan sesaat, ia menghentikan langkahnya dan menatap kearah Januar.


Januar tampak terkejut mendengar pertanyaan Riyan tersebut. Seingatnya semua baik-baik saja.

__ADS_1


"Semuanya baik-baik saja, tidak ada kekacauan bahkan setelah Alis terjun langsung saat meeting dengan klien dan juga para investor, perusahaan semakin maju, meningkat. Kecuali untuk sekolah yang dimiliki oleh Alis. Kamu sendiri tahukan, para orang tua juga mengadakan protes tentang keberadaan Alis disekolahnya. Mereka memintanya untuk diberhentikan, karena mereka pikir kalau Alis akan membawa dampak buruk bagi anak mereka terlebih lagi akan merusak citra sekolah."


Riyan hanya mengangguk saja, ia selalu ikut memantau sekolah milik Alis. Ya benar, ada beberapa kasus yang sulit diselesaikan tapi semuanya pasti akan baik-baik saja dan terkendali setelah pesta ulang tahun sekolah nanti diadakan.


Ceklek


Tanpa permisi Riyan langsung membuka pintu rumah Alis yang tidak terkunci. Suasananya tampak lengang, hanya ada kotak P3K yang tergeletak diatas meja ruang tamu, yang berserakan dan belum dimasukkan kewadahnya. Seketika tampak diwajah mereka berdua rasa kekhawatiran.


Dengan langkah cepat, Riyan menaiki tangga dan membuka kamar Alis yang pintunya juga tidak dikunci. Kosong, ranjangnya masih rapi dan tidak ada bekas orang bangun tidur. Ia membuka pintu kamar mandi, sama masih kosong.


Tak terasa keringat sudah membanjiri pelipisnya, rasa khawatirnya semakin meningkat. Ia memeriksa seluruh ruangan yang ada dilantai dua. Semuanya masih dalam keadaan baik-baik saja tapi kosong. Bahkan mulutnya tidak berhenti memanggil-manggil nama Alis.


Dengan gerakan cepat ia menuruni anak tangga, bahkan langkahnya lebih lebar hingga ada beberapa anak tangga yang hanya dilewatinya. Dengan isyarat mata ia menatap Januar. Sama, Januar juga menampakkan rasa khawatirnya, bagaimana tidak. Hampir disemua lantai dasar ia mencari Alis namun tidak terdapat tanda-tanda keberadaan Alis.


Tadinya Januar pikir kalau Alis sedang memasak karena hari sudah hampir sore, namun justru yang didapatnya keadaan dapur sangat bersih dan juga kering. Tidak terdapat tanda-tanda bahwa Alis baru saja selesai memasak.


"Kemana anak itu?" tanya Riyan gusar karena kali ini ia tidak sempat menempatkan beberapa anak buahnya untuk berjaga dan memantau Alis. Ia dihinggapi rasa bersalah kini.


"Coba kamu hubungi nomor handphonenya dulu. Siapa tahu ia masih berada disekitar sini." Perintah Riyan yang sejak tadi tampak diam terpaku menatap meja tamu tersebut. Ia seperti mencari-cari sesuatu.


Dengan cepat Januar mengeluarkan handphone yang berada disaku celananya. Ia menekan tombol hijau pada layarnya setelah menemukan kontak Alis. Pada deringan pertama tidak diangkat, deringan kedua juga tidak diangkat hingga deringan ketiga, sama masih tidak diangkat.


Riyan menatap kepenjuru ruang tamu, ia berjalan kearah sofa yang ada disana dan memeriksa sofa disana. Ternyata benar dugaannya kalau Alis tidak membawa handphonenya. Handphone Alis yang berkedip-kedip menyala karena ada panggilan masuk tertutup bantal sofa. Benar-benar seperti tidak kebiasaan Alis sama sekali. Tidak mungkin kan Alis menjadi teledor gara-gara perjodohan waktu itu.


Januar mengakhiri panggilannya, ia menatap kearah Riyan yang memperlihatkan handphone Alis ditangannya. Riyan tampak semakin resah. Bagaimana tidak, mereka sama sekali tidak mengetahui keberadaan Alis untuk saat ini. Bahkan untuk melacaknya pun sangat sulit.


"Telpon anak buahnya sekarang, suruh mereka mencari keberadaan Alis di seluruh kafenya. Siapa tahu ia sedang berada disana. Tapi rahasiakan berita ini terlebih dahulu dari pihak luar."


Januar hanya mengangguk dan segera menelpon keempat kafe milik Alis. Setelah panggilan terhubung, yang didapatnya adalah kekecewaan karena mereka sama sekali tidak melihat Alis yang berada dikafe hari ini.


"Dia sama sekali tidak ada disana." ucap Januar yang hampir terdengar seperti bisikan.

__ADS_1


"Sudah kuduga. Alis tidak mungkin akan meninggalkan handphonenya begitu saja. Bahkan dalam keadaan terburu-buru pun ia juga pasti akan menyempatkan meletakkan barang ketempatnya semula."


"Jadi, maksud kamu kalau Alis menghilang?" tanya Januar dengan wajah tegang. Bahkan mukanya tampak memucat. Ia yakin kalau kehebatan Alis dalam bela diri sangat sulit untuk dikalahkan, kecuali orang yang benar-benar ahli dan sepadan dengannya.


"Itu hanya menurut dugaanku saja."


"Tunggu dulu Yan, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Sebaiknya kita cari dia dikebun belakang terlebih dahulu. Mungkin saja ia masih berada disana. Aku akan menyuruh anak buahku untuk segera membantu kita mencarinya."


Riyan hanya mengangguk saja, pikirannya sejak tadi selalu dipenuhi dengan berbagai praduga-praduga. Rasanya ia tidak mampu membayangkan apa yang bakal terjadi dengan Alis seandainya benar bahwa Alis menghilang. Ia benar-benar merasa tidak becus menjaga adik perempuan satu-satunya.


"Yan, kamu harus yakin kalau Alis baik-baik saja, buktinya selama ia diusir oleh om Bastian, ia baik-baik saja hingga sekarang. Bahkan ia bisa menjaga dirinya sendiri, bukan hanya itu. Ia bahkan sering menolong orang lain bahkan menyelamatkan nyawa orang lain." Hibur Januar pada Riyan.


"Tapi dia tetap anak gadis Januar, dia tetaplah lemah. Tetap membutuhkan seorang pelindung, dia hanya gadis remaja."


"Aku tahu kekhawatiran kamu seperti apa tapi kamu harus yakin dia akan baik-baik saja."


Terdengar bunyi handphone milik Riyan sedang berdering. Ia segera melihatnya, nomor tidak dikenal. Riyan tampak heran dengan nomor baru tersebut, setahunya anak buahnya tidak pernah mengganti nomor mereka tanpa mengkonfirmasikan padanya terlebih dahulu melalui pesan dan juga beberapa hari ini ia tidak pernah dihubungi oleh nomor baru. Walau begitu, ia tetap mengangkatnya.


Januar hanya diam mendengarkan.


"Halo,"


"Apa kamu bilang!! Siapa sebenarnya kamu!!?"


"Halo."


"Brengsek!!" maki Riyan dengan kasar ia membanting handphone keatas sofa hingga melambung tinggi, untungnya handphone mahal tersebut tidak sampai retak.


"Ada apa?" tanya Januar yang terkejut melihat respon Riyan saat berbicara dengan seseorang ditelpon tadi. Ia tampak sangat marah dan terlihat tidak sabaran.


"Ayo kita pergi!" ajaknya tanpa menghiraukan pertanyaan Januar sebelumnya. Walau begitu Januar tetap mengikutinya menuju kearah mobil mereka yang terparkir dihalaman rumah Alis.

__ADS_1


****


__ADS_2