Layangan Kertas

Layangan Kertas
Langkah Awal


__ADS_3

Sepulangnya dari sekolah Al hanya uring-uringan dikamarnya. Ia berharap agar semua ini hanyalah mimpi saja. Perlahan ia bangun dari tempat tidurnya untuk menuju kearah pintu kamarnya yang baru saja diketok dari luar.


"Al, jalan-jalan keluar yuk. Anak-anak sudah pada nungguin dibawah." Irfan muncul dengan senyum jenakanya. Ia memperhatikan keadaan Al yang tampak kusut dan wajah bantalnya.


"Kamu kenapa sih, kaya orang frustasi aja."


"Memangnya aku kelihatan begitu?"


Irfan menatap kearah Al dan memegang dahinya dengan telapak tangannya, seperti memeriksa suhu tubuh.


"Hemm benarkan, kamu lagi ditolak gadis." Irfan terbahak dengan lawakannya. Ia berjalan memasuki kamar Al dan duduk disofa pojok ruangan.


Sementara Al tampak mendelik kesal, ia menimpuk Irfan dengan bantal yang ada ditangannya.


"Sialan! memangnya aku begitu? Banyak loh gadis-gadis yang mengantri untuk menjadi pacarku. Bahkan banyak dari mereka yang menyatakan cintanya." Al membanggakan dirinya sendiri.


"Narsis!!!" Irfan mencibir panjang. "Tapi adakan diantaranya yang luput, kamu tidak menarik menurut penglihatan matanya."


"Siapa?"


"Alis, gadis aneh versimu itu." Irfan yang keceplosan menutup mulutnya sendiri dan menatap kearah Al dengan rasa bersalahnya. Tergambar jelas perubahan raut wajah Al setelah Irfan mengungkit nama Alis.


"Lagi apa sih? Kenapa lama? Kita karatan loh menunggu dibawah. Katanya cuma 5 menit tapi nyatanya sudah 15 menit." Andra mencecar panjang terhadap Irfan yang duduk santai didalam kamar Al.


Irfan yang mendelik kearahnya dan memberi kode agar Andra menutup mulutnya.


"Ember." Irfan mencibir.


"Gayung." Balas Andra yang juga mencibir.


Sedangkan Al segera berlalu menuju kearah ranjangnya dan ia merebahkan tubuhnya yang loyo. Ia kembali uring-uringan dan mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.


Aldo yang sedang menunggu dibawah bergegas kekamar Al untuk menghampiri mereka. Ia menatap kearah Al yang sedang rebahan. Dan tidak menghiraukan perselisihan antara Irfan dan Andra.


"Al, kamu ada masalah? Sejak disekolah tadi kulihat kamu banyak perubahan. Apa ini menyangkut Alis lagi?" Aldo menatap dan mengharap-harap Al membuka mulutnya.


Al menghembuskan napasnya gusar, ia menatap Aldo dengan sendu.


Irfan dan Andra yang semula ribut mendadak diam mendengar Al yang berbicara, mereka saling melirik dan ikut bergabung bersama Al dan juga Aldo.


"Ternyata benar, kalau Alis dan Riyan ada hubungan." Al menjawab dengan lesu.


"Kamu tahu darimana?" Irfan yang memang dasarnya selalu ingin tahu, terus menggali informasi.


Aldo mengerinyitkan dahinya, ia merasa asing dengan nama tersebut. "Tunggu, Riyan itu siapa? sepertinya namanya asing ditelingaku."


"Aku mendengarnya dari percakapan antara Angga dan Alis ditaman belakang sekolah tadi." Al menceritakan kejadian yang disimpannya saat dipergoki oleh sahabatnya tadi. Ia menatap kearah Aldo.


"Aku tidak tahu siapa itu Riyan, yang jelas aku pernah bertemu dengannya sewaktu makan dikafe waktu itu bersama dengan Alis. Bahkan aku juga sempat mendengar kalau Alis sudah dijodohkan dengan seseorang. Tentu saja aku yakin kalau pemuda yang dimaksud tersebut adalah Riyan."


"Kamu yakin?" Irfan menatap prihatin dengan nasib tragis Al yang tidak sebaik rupa wajah tampannya.

__ADS_1


Al menganggukan kepalanya. "Laki-laki yang difoto dan bersamanya tadi pagi adalah Riyan."


Andra dan Irfan tampak melongo mendengar penjelasan Al.


"Apa kamu yakin Al dengan semua dugaanmu itu? Itu bukan fakta loh yang hanya kamu kumpulkan dari pendengaran dan juga penglihatanmu. Bisa sajakan semua itu tidak seperti itu. Ada hal yang lain maksudku. Coba kamu tanyakan secara langsung pada narasumbernya Al, jangan putus asa seperti ini apalagi kamu bersikap uring-uringan begini." Aldo menjelaskan secara panjang lebar, ia meyakinkan Al untuk semua itu.


"Semua akan baik-baik saja, percaya sama kami Al. Kami selalu ada untukmu." Andra berkata bijak sambil menepuk punggung Al.


"Artinya apa dari semua ini?" Irfan kembali merubah suasana yang semula tampak buram menjadi cerah kembali dengan gaya bercandanya.


"Apaan sih, merusak suasana saja." Andra menatap kesal pada Irfan.


"Artinya Al sedang jatuh cinta." Irfan tampak bersorak senang, berbeda dengan ketiganya, mereka saling menatap dengan pikiran masing-masing.


"Benar begitu Al?" Andra memastikan.


"Aku hanya menyukainya saja, tidak lebih." Al mempertahankan mimik wajahnya agar terlihat normal.


"Tuhkan benar dugaanku kalau Al menyukai Alis, kita akan membantumu kok, tenang saja." Irfan menepuk-nepuk bahu Al dengan bangga.


"Jadikan kita pergi, nongkrong ditempat biasa." Andra teringat dengan tujuan awal mereka mendatangi Al kerumahnya.


"Jadi, aku siap-siap dulu." Al tampak kembali bersemangat setelah mendapat sedikit suntikan semangat dari teman-temannya. Ia kembali tersenyum dengan tipis untuk menghalau rasa senangnya.


💦💦💦


Kali ini Harwinda dan Arya sedang melakukan pertemuan bisnis dengan klien perusahaannya dikafe milik Alis. Mereka sedang berada di ruangan privat room dilantai 2. Sejak awal masuk hingga sekarang Harwinda begitu kagum mengamati desain dekorasi dinding kafe yang tiap ruangannya selalu berbeda. "Benar-benar desain yang hebat." Ia berdecak kagum.


"Iya, bahkan kita selalu memasuki ruangan berbeda dan dekornya pun juga ikut berbeda." Arya ikut menimpali pembicaraan istrinya.


"Benarkah? Wah pasti sangat pintar pemiliknya ini." Harwinda kembali menyahut. "Dia laki-laki atau perempuan, Pak?"


"Yang kudengar itu dia seorang perempuan tapi sayangnya ia tidak bisa ditemui secara langsung, selalu diwakilkan kepada manejernya."


Harwinda hanya membulatkan mulutnya dan mengangguk-anggukan kepalanya.


Sedangkan istrinya Julian, Ayudia hanya diam saja mendengarkan percakapan mereka.


"Makanannya juga sangat lezat, pokoknya kafe ini sangat komplit." Ayudia akhirnya ikut menimbrungi percakapan mereka. Seolah-olah mempromosikan sesuatu kepada konsumer.


Mereka tampak santai karena sudah melakukan meeting sejak 15 menit yang lalu. Duduk-duduk sebentar untuk menghabiskan hidangan yang ada didepan mereka sekaligus bermaksud untuk saling mempererat hubungan bisnis yang terjalin diantara mereka dengan obrolan ringan diluar topik pekerjaan.


Harwinda menganggukan kepalanya membenarkan apa yang telah diucapkan oleh Ayudia.


Pertemuan mereka berakhir setelàh hidangan yang tersedia dimeja mereka habis. Sebelum mereka keluar ruangan, terlebih dahulu mereka berjabat tangan sebagai tanda perpisahan.


Karena terlalu asyik melihat dekorasi dinding kafe dilantai pertama tersebut, Harwinda sampai lupa memperhatikan arah jalannya. Ia menabrak seseorang yang sedang menyajikan minuman dimeja pelanggan hingga minuman itu tumpah dan gelasnya pecah karena terjatuh.


Hening.


Harwinda tampak sangat kaget, ia menatap kearah seorang gadis yang tampak sedang meminta ma'af pada pelanggan yang terdapat dimeja tersebut.

__ADS_1


"Aduh... ma'afkan saya ya, saya tidak sengaja." Harwinda ikut meminta ma'af pada 2 orang pelanggan tersebut yang keduanya masih berusia remaja. "Nanti akan saya ganti semua kerugiannya."


"Iya tante tidak apa-apa." Salah satu dari mereka menjawab.


"Kamu tidak apa-apa?" Harwinda berbalik menatap kearah waiter tadi, ia terkejut setelah melihat gadis tersebut.


"Alis! Kamu Aliskan?" Harwinda tampak senang dan ia memeluk Alis dengan erat.


Alis mengerutkan dahinya bingung melihat respon wanita paruhbaya tersebut. Ia merasa familiar namun ia lupa entah bertemu dimana.


"Nanti akan saya ganti rugi semua ini, kalian tenang saja." Harwinda kembali berbicara kearah 2 remaja tadi yang seumuran dengan Alis.


"Tidak usah tante, kami baik-baik saja. Mba ini saja yang diganti rugi." Salah satu dari mereka menatap prihatin kearah Alis.


"Iya, makasih banyak ya." Harwinda menarik tangan Alis kearah meja lain yang masih kosong. Sementara itu, kekacauan sudah dibereskan oleh karyawan Alis dan minuman serta makanan yang dipesan pelanggan sudah diganti dengan yang baru. Anto sebagai manejer yang pastinya dia yang membereskan semuanya sebelum pelanggan komplain.


"Alis, kamu sedang apa disini? Apa kamu bekerja disini?"


Alis menatap Harwinda dengan tersenyum tipis. "Iya tante, saya bekerja disini."


"Kamu tenang saja, semuanya akan saya urus dengan manejernya agar kamu tidak dipecat."


Alis menganggukan kepalanya. Ia menatap kearah Anto dan memberi kode tertentu yang hanya ia dan beberapa karyawannya yang mengetahui artinya.


"Kamu tidak lupakan sama tante?" Harwinda menatap Alis dengan ragu. "Jidat kamu kenapa, sayang?" Harwinda yang baru menyadari perban yang menempel dijidat Alis, merabanya dengan perlahan.


"Ma'af Tante, sepertinya saya agak lupa deh dengan Tante." Alis tampak meringis, ia merasa tidak nyaman karena sudah lupa terhadap wanita didepannya ini. "Ini hanya luka kecil karena terbentur lantai sewaktu terpeleset." Alis ikut meraba jidatnya.


"Tidak apa-apa kok, Tante maklum kok dengan kamu." Harwinda tampak terkekeh. "Panggil tante Winda, mamanya Al yang kamu tolong waktu itu."


Alis tampak memutar memorinya kekejadian beberapa waktu lalu. Ia mengingatnya, Alis menganggukan kepalanya.


"Iya, saya ingat Tante, Tante apa kabar?" Alis berusaha untuk beramah-tamah dengan Harwinda.


"Tante baik, kebetulan kita bertemu kamu disini. Sesekali kalau kamu libur, main kerumah Tante, pasti Tante sangat senang loh."


Alis menganggukan kepalanya, "iya tante, kapan-kapan."


Harwinda tampak sesekali mengarahkan pandangannya mengitari kafe ini untuk melihat keberadaan suaminya yang mengurus kerugian yang sudah ditimbulkan oleh istrinya.


"Apa tante ingin minum sesuatu, biar saya ambilkan."


"Oh, tidak Lis. Tante sudah kenyang karena baru saja dari atas, menemani suami tante bertemu kliennya. Soal yang tadi, kerugiannya sudah diurus oleh suami Tante, jadi kamu tenang saja."


"Iya, Tante." Alis menganggukan kepalanya.


"Kalau kamu sibuk, silahkan. Tante juga ingin pulang." Harwinda berdiri dan memeluk Alis sesaat.


"Kamu selalu berhati-hati ya sayang." Harwinda kembali meraba jidat Alis yang terluka.


Alis tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Harwinda menatap suaminya yang menghampirinya selepas kepergian Alis.


💦💦💦


__ADS_2